
"TEBAK, APA yang akan dilakukan Raja ini?" bisik Mu Xianzhai sengaja menjual kata-katanya.
Li Chang Su memiliki beberapa jenis pikiran tapi pikiran yang terakhir merupakan yang terburuk. Dia tidak menginginkannya. Namun Mu Xianzhai menurunkan gadis itu di dekat bak mandi dan mulai membuka pakaian.
Gadis itu sedikit membelalak dan tidak menyangka Mu Xianzhai akan bertindak tak tahu malu di hadapannya. Membuka pakaian di depannya dengan santai, apakah begitu menyenangkan?
"Xian Xian, kenapa kamu membuka pakaian di depanku? Bisakah aku keluar dulu?"
Bak mandi yang ada di dalam tenda Mu Xianzhai terhalang oleh tirai dan orang lain tak akan bisa melihatnya dengan mudah.
Mu Xianzhai tampaknya tidak merasa malu saat membuka pakaian di depan istrinya sendiri. "Su'er, tubuh bagian mana yang belum dilihat Su'er pada Raja ini? Bukankah kita sudah saling tahu?" tanyanya langsung tersenyum.
Gadis itu hanya ingin memuntahkan sesuatu di hatinya dan wajahnya langsung memerah. "Kamu ... Kamu Hooligan!" Dia ingin melarikan diri dari sana tapi Mu Xianzhai sudah menangkap pergelangan tangannya.
Gadis itu ditarik kembali dan jatuh ke dada Mu Xianzhai. "Ah, kamu—umph!"
Tiba-tiba Mu Xianzhai mencium bibirnya sebentar dan menjatuhkan Li Chang Su ke bak mandi. Suara percikan air langsung terdengar dan gadis itu pusing untuk sementara waktu. Ketika jatuh ke air hangat, Li Chang Su ingin meledakkan kemarahan di hatinya.
Namun Mu Xianzhai masuk ke bak mandi dan keduanya berendam bersama. Untungnya pria itu tidak melakukan apapun dan mandi dengan jujur. Meski beberapa kali Li Chang Su merangsangnya secara tidak sengaja, namun Mu Xianzhai memiliki beberapa hal untuk dilakukan pagi ini.
Setelah keduanya mandi, sarapan sudah siap. Li Chang Su masih linglung dengan mimpi anehnya tadi malam tapi tidak berniat untuk menceritakannya pada Mu Xianzhai. Masalah ini mungkin tidak sederhana, dia ingin mengirim surat kepada Bell dan Orange untuk menanyakan apakah tubuh asli Yin Long ada di balik pintu gerbang baja atau tidak.
__ADS_1
Namun Li Chang Su masih ragu ....
"Ada apa?" tanya pria itu tiba-tiba.
Li Chang Su yang linglung pun segera terbangun dari pikirannya dan menggelengkan kepala. Lupakan saja, dia tak akan berpikir keras untuk masalah itu saat ini.
"Jangan terlalu dipikirkan." Mu Xianzhai menyelesaikan sarapannya dan memakai topeng peraknya kembali. Dia bangkit dari kursi dan menggosok kepala gadis itu seperti hewan peliharaan lalu pergi ke luar tenda untuk menyibukkan diri.
Sementara Li Chang Su yang rambutnya sedikit berantakan pun hanya bisa merapikannya kembali. Dia juga harus melatih sepuluh prajurit khusus andalannya.
Selama seharian penuh, keduanya sibuk. Li Chang Su berada di tempat latihan hingga sore dan kembali ke tenda ketika hari mulai gelap. Adapun Mu Xianzhai yang kini masih sibuk, tidak ada waktu untuk makan malam dengannya. Namun dia akan kembali sebelum larut malam.
Di malam hari, Li Chang Su menulis surat untuk Bell dan Orange yang ada di pegunungan dewa. Biarkan elang gunung mutasi mengantarkan surat tersebut besok dan sampaikanlah beberapa makanan mentah untuk dimasak.
Li Chang Su selalu merasa bahwa dia lemah dan tidak berdaya. Dia bahkan terkejut ketika melihat rambut putih keperakan Mu Xianzhai yang sama persis seperti di dalam mimpinya.
Setelah menulis surat, dia melipatnya dan memasukkannya ke bambu khusus, lalu bersiap untuk membuat makan malam. Dia akan membuat beberapa hidangan pedas yang disukainya.
Li Chang Su pergi ke dapur barak militer dan para koki militer tidak sibuk. Setidaknya, makan malam sudah disiapkan sebelumnya sehingga dapur dibiarkan kosong. Akhirnya dia memanfaatkan hal tersebut untuk memasak sendiri.
"Putri, haruskah kami membantu dengan beberapa hal di dapur?" tanya salah satu koki berbadan agak gemuk, ekspresi menyanjungnya sangat tulus.
__ADS_1
Sang Putri yang mengenakan gaun bersih dan elegan menginjakkan kakinya di dapur, sangat enggan. Belum lagi, dapur tidak terlalu bersih, pasti akan mengotori pakaiannya. Namun gadis itu terlihat baik-baik saja menggelengkan kepala.
"Aku akan melakukannya sendiri. Kalian beristirahat," jawab Li Chang Su enteng.
Para koki militer pun saling memandang dan akhirnya keluar tenda dapur dengan perasaan campur aduk. Adapun Li Chang Su yang sedang menyiapkan bahan, tidak bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh mereka.
Li Chang Su memotong lobak, bawang bombai, cabai merah besar, daun bawang serta beberapa bahan lainnya. Dia ingin membuat acar buah, acar sayuran dan juga acar bawang bombai. Selain itu juga, sediakan bahan untuk hot pot serta barbeque. Tidak perlu khawatir jika makanan yang dibuatnya tidak habis, dia bisa membagikannya pada para koki yang telah bekerja keras memasak untuk semua tentara.
Dia melihat beberapa panci besar yang biasanya digunakan untuk membuat bubur dan juga memanaskan air, serta beberapa wajan yang masih menyisakan beberapa sup. Li Chang Su mengeluarkan beberapa buah dan sayuran segar yang cocok untuk dibuat acar lalu mulai memasak.
Selama lebih dari satu jam, Li Chang Su menghabiskan waktu di dapur dan para koki di luar begitu penasaran namun tidak berani untuk mengintip. Yang pasti, mereka mencium aroma yang sangat enak dari dalam dapur, aromanya seperti hot pot yang kaya akan rempah-rempah pedas.
Li Chang Su yang hampir menyelesaikan segalanya pun memasukkan semua acar ke ruang artefak naga perak dan hanya menyisakan hot pot sebagai gantinya. Akan merepotkan jika dia keluar membawa banyak piring ke tenda dan tidak nyaman juga jika memerintah koki untuk membantunya. Jadi anggap saja da memasak lama hanya untuk membuat hot pot pedas.
Ketika keluar tenda dapur yang besar, Li Chang Su memegang panci berisi hot pot dan berterima kasih pada koki karena telah mengizinkannya menggunakan dapur. Isian hot pot di panci yang dipegang Li Chang Su sungguh terlihat enak dan para koki tanpa sadar menelan saliva. Sepertinya sangat enak!
Li Chang Su sepertinya tahu apa yang mereka pikirkan dan tersenyum diam-diam seraya meninggalkan tenda dapur dengan langkah ringan. “Masih ada di dalam, kalian bisa mencicipinya,” kata gadis itu.
Sosoknya terpantul oleh obor yang terpasang di beberapa sudut. Para koki baru saja pulih dan segera masuk ke tenda dapur dengan tergesa-gesa. Mereka tidak sabar untuk makan lagi. Benar saja, ada panci yang masih berisi hot pot. Para koki segera mengambil mangkuk dan mencicipi hot pot berisi sayuran dan beberapa irisan tipis daging sapi.
Saat pertama kali pertama mencobanya, rasa pedas dan gurih pun langsung menggoyang lidah, ditambah sedikit asam dari cuka, ini hanya perpaduan sempurna. Salah satu koki paruh baya yang memiliki perut agak buncit pun meneteskan air mata karena merasa terharu.
__ADS_1
“Masakan sang putri, kenapa bisa seenak ini, aku benar-benar gagal jadi koki militer,” katanya seraya mengusap air mata dengan punggung tangan kanannya. Sementara yang lain hanya diam.
“...” Tidak bisakah kamu sedikit lebih dewasa, pikir koki yang lain.