Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Menemui Janda Permaisuri Yang Tertutup


__ADS_3

DI MANA KAISAR Mu bisa berkata tidak puas? Pria paruh baya itu hanya mengerang dan mengangguk kecil. Dia tentu sangat puas. Setidaknya, gadis yang ditakdirkan oleh gelang naga perak tidaklah lemah. Ini seperti ibunya, janda permaisuri. Di dunia ini, hanya ibunya yang selalu dia hormati.


Sayangnya sejak pensiunan kaisar menghilang bersama saudara laki-lakinya, dia menyesalkan hal itu semua. Kaisar Mu telah mengerahkan banyak orang untuk mencari keduanya. Tapi tidak menemukan hasil. Sebaliknya, perkembangbiakan binatang mutasi lebih besar.


Semua negara telah bekerja sama untuk membasmi para binatang mutasi yang memasuki wilayah perbatasan. Dan perang yang selalu berada di perbatasan tidak dikategorikan sebagai kemenangan. Musuh mati di tangan serangan gelombang binatang mutasi. Dan itu adalah netral di antara para prajurit.


Sebagai pembela negara, mereka memiliki keyakinannya masing-masing. Karena itu para jenderal diutus untuk memimpin mereka dan memberi semangat prajurit. Kaisar Mu ingin berkata lebih banyak. Namun dia bukan seorang wanita. Untuk pernikahan, harus bicarakan dengan janda permaisuri.


Setelah Li Chang Su keluar dari ruang belajar, Mu Xianzhai telah lama menunggunya, bersandar di salah satu pilar. Pria itu mengajaknya untuk bertemu janda permaisuri. Tapi dia tidak memaksa. Jika Li Chang Su tidak mau, ia tidak akan membawanya.


"Apakah kaisar memperlakukanmu dengan buruk?" tanya pria itu.


"Tidak. Dia cukup menyenangkan."


"..." Ayahnya pasti berbasa-basi lagi, pikirnya.


"Seperti apa nenekmu itu?" tanya Li Chang Su seraya berjalan di halaman belakang secara rahasia.


"Dia orang yang aneh. Tapi juga baik. Su'er pasti akan menyukainya."


Mu Xianzhai pergi ke halaman istana yang lain. Tempatnya cukup sepi. Halaman yang bersih serta beberapa pelayan sedang mengerjakan tugas-tugasnya, terutama menyingkirkan tumpukan salju yang menggunung. Janda permaisuri ada di sisi halaman lain. Li Chang Su dan Mu Xianzhai harus berjalan cukup jauh lagi. Sungguh merepotkan jika memiliki halaman seluas ini.


Halaman istana ini sepertinya cocok untuk menjadi tempat latihan. Karena terlalu luas. Orang-orang zaman dulu memiliki halaman rumah yang luas. Apalagi orang-orang istana kekaisaran.


Mu Xianzhai dan Li Chang Su berhenti di salah satu pintu geser sebuah ruangan. Dua pelayan yang menjaga pintu itu terkejut ketika melihat sang raja. Belum lagi membawa seorang gadis.


"Beri tahu nenek tentang kedatanganku. Katakan padanya, ada sesuatu yang harus dibahas." Mu Xianzhai meminta kedua pelayan itu untuk menyampaikan pesan.


Salah satu pelayan segera pergi dan menyampaikan pesan. Di dalam ruangan itu, seorang wanita setengah baya duduk rapi di atas bantal empuk. Kedua tangannya memegang tiga batang dupa yang mengepul, lalu membungkuk ke arah patung Buddha di atas meja. Beberapa barang berdoa lain diletakkan terpisah.


Janda permaisuri mengerutkan keningnya dan mengangguk kecil seraya memejamkan mata. Tangannya yang memegang tiga batang dua itu pun segera melakukan postur menyembah.


"Biarkan mereka masuk." Dia memberi ijin.

__ADS_1


Pelayan itu kembali dan meminta mereka untuk masuk.


Mu Xianzhai menggandeng Li Chang Su ke dalam. Dia melihat janda permaisuri sedang melakukan upacara doa untuk keselamatan pensiunan kaisar dan juga ayahnya Mu Hongzhi. Berharap jika kedua pria itu baik-baik saja dan akan segera kembali ke Negara Bingshui.


Li Chang Su mengerutkan kening. Upacara doa seperti ini, dia belum pernah melakukannya. Dia tidak merasa jika dewa ini benar-benar ada. Tapi bukan berarti seorang ateis. Setelah berdo'a, janda permaisuri meminta pelayan untuk menyiapkan teh. Wanita setengah baya itu melihat cucunya yang berharga, lalu tersenyum senang.


"Zhai'er, kemarilah ..." Janda permaisuri memanggil.


Mu Xianzhai mendekat dan memberi hormat kepada neneknya. Wanita setengah baya itu mengangguk puas. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah gadis berjubah yang kini hanya diam tanpa berniat untuk memberi hormat atau menyapa. Janda permaisuri tidak menganggap ini ketidaksopanan, tapi tersenyum ramah.


Dia telah hidup di istana sejak muda, mengetahui berbagai rencana licik para selir di masa lalu. Tapi pada akhirnya, pensiunan kaisar setia padanya. Dan tidak memiliki anak dari selir lain. Semuanya karena gelang naga perak. Kesetiaan pada pasangan seumur hidup.


Namun kedua putranya telah tumbuh dengan baik. Sayangnya gelang naga perak tidak diwariskan kepada keduanya. Pensiunan kaisar ingin ayah Mu Hongzhi menerima gelang naga perak itu untuk mendapatkan jodoh, tapi ditolak begitu saja. Ayah Mu Hongzhi mencintai wanita dari negara asing. Yang sangat disayangkan.


"Apakah gadis ini adalah takdir gelang naga perak?" tebaknya.


Janda permaisuri mungkin sudah tua. Rambutnya memutih, kulitnya tidak lagi segar dan berisi seperti dulu. Tapi kecantikan alaminya masih ada.


Mu Xianzhai mengalihkan pandangannya pada gadis itu dan tersenyum hangat. "Su'er, datanglah dan sapa nenek."


Gadis itu berjalan dan berlutut di depan wanita tua itu, tapi tidak mengatakan apapun. Dia berpikir jika janda permaisuri ini kejam dan jahat seperti yang selalu dia lihat dalam drama. Intrik licik istana selalu dimainkan. Namun setelah melihatnya hari ini, rasanya aneh.


Janda permaisuri tidak terlihat licik atau kurang senang dengannya. Layaknya kaisar, wanita tua itu tersenyum sembrono. Seolah-olah berpikir jika semua orang sama saja. Apa yang ditakutkannya mungkin berlebihan?


Janda permaisuri melihat kecantikan kecil di depannya itu gugup dan sangat puas. Akhirnya, cucu kesayangannya ini mampu memiliki takdirnya sendiri.


"Cucuku akan sibuk dengan takdirnya. Nenek hanya menunggu untuk menggendong cicit." Janda permaisuri terkekeh malu. Dia sangat ingin menggendong seorang cicit dari cucunya yang satu ini.


Dia mungkin memiliki cicit dari cucunya yang lain. Yaitu istana pangeran pertama. Pangeran pertama telah menikah dan memiliki takdir gelang naga peraknya sendiri. Dan kini sibuk mengurus pekerjaannya. Selain itu, ada anak kembar di rumah pangeran pertama. Sehingga jarang menghabiskan waktu di istana kekaisaran.


Sikap janda permaisuri pun juga baik. Dia menyukai dua cicit tampannya itu yang kini telah berusia tiga tahun. Kali ini, Mu Xianzhai juga tidak muda lagi. Li Chang Su juga cocok untuk mengambil pernikahan.


Janda permaisuri yang jarang tersenyum dan tertawa pun akhirnya pecah. Dia senang hari ini karena bisa melihat cucunya membawa calon istri dari takdir gelang naga perak.

__ADS_1


"Siapa namamu?" tanya janda permaisuri perlahan. Dia khawatir menakuti gadis ini.


"Namaku Li Chang Su."


Janda permaisuri mengangguk kecil, lalu bertanya lagi. "Apakah kamu dari negara ini?"


"Bukan."


"Ini tidak masalah." Janda permaisuri tidak merasa ada yang aneh.


Jujur saja, dirinya juga bukan dari Negara Bingshui. Waktu itu, ketika tahu dirinya adalah takdir gelang naga perak, cukup terkejut. Janda permaisuri masih seorang anak jenderal dari negara jauh. Lalu dijemput oleh pensiunan kaisar sebagai wanita yang terpilih. Tanpa basa-basi, pensiunan kaisar pergi ke rumah sang jenderal dan meminta ciuman (lamaran).


Awalnya pensiunan kaisar tidak begitu mudah mendapat janda permaisuri dan sempat menerima tongkat dari sang jenderal. Tapi kemudian menyerahkan putrinya dengan enggan. Sebagai takdir gelang naga perak, janda permaisuri cukup terkejut waktu itu. Dia tidak berpikir jika hidupnya akan ada di istana, sebagai ibu negara yang dihormati orang-orang.


"Dari manapun asal mu, Ai Jia tidak peduli. Tapi berharap bisa mencintai cucuku dengan baik. Anak ini telah kesepian sejak masih kecil. Kalian memiliki takdir yang telah ditetapkan para dewa," kata janda permaisuri agak bernostalgia.


...----------------...


NOTE: Ai Jia berarti Keluarga Cinta, atau biasanya disebut Keluarga Ai.


...----------------...


"Neneknya memberkati." Mu Xianzhai berterima kasih. Lalu melirik Li Chang Su


Gadis itu terkejut dan hanya memikirkan hal lain sebelumnya, lalu juga mengucapkan hal yang sama. "Gadis ini berterima kasih kepada janda permaisuri."


"Oke, oke. Anak baik. Panggil aku dengan Nenek."


"Ya, Nenek ..." Li Chang Su tidak ada ruang untuk membantah saat ini.


Janda permaisuri mengangguk lagi dan puas, lalu memberikan sebuah gelang giok padanya sebagai lalu perkenalan. Li Chang Su tidak terlalu sopan untuk menerimanya dan mengucapkan terima kasih kembali.


"Jadi, kapan kalian akan menikah?"

__ADS_1


__ADS_2