
Setelah memberikan pil penyembuh itu pada semua peserta yang tidak lolos ke babak semifinal, Zu Zhang pun memperbolehkan mereka semua untuk pulang dan menyisakan para peserta yang lolos ke babak semifinal saja di arena bersamanya.
Saat peserta terakhir keluar dari lapangan arena, Zu Zhang pun mendekati kedua puluh peserta tersebut sambil memasang senyum kecilnya.
Dia sibuk menatap satu persatu dari mereka sambil tidak berhenti mengangguk-anggukan kepalanya. Kedua puluh peserta menatapnya dengan bingung dan rasa ingin tahu, kira-kira apa yang diinginkan oleh Zu Zhang sehingga menyisakan mereka berdua puluh di arena pertandingan.
"Kalian semua, jangan menatapku seperti itu, aku sama sekali tidak memiliki niat buruk pada kalian. Aku hanya ingin melihat lebih dekat saja para peserta yang berhasil lolos ke babak semifinal besok, itu saja. Ah, dan juga aku akan memberikan kalian ini. Itu agar kalian bisa mengikuti babak semifinal besok, jika kalian tidak membawanya, maka kalian tidak akan bisa mengikutinya besok. Jadi jagalah baik-baik."
Zu Zhang mengayunkan tangannya di udara, dan dua puluh gelang yang terdapat kristal biru sebagai hiasannya muncul di hadapan mereka semua. Gelang-gelang ini tidaklah berasal dari ruang penyimpanan miliknya, melainkan berasal dari balik bajunya. Dengan memanfaatkan kekuatannya, dia mampu memindahkan suatu benda dalam sekejap mata layaknya teleportasi.
Tanpa ragu mereka semua langsung mengambil gelang itu dan berusaha memasukkannya ke dalam cincin penyimpanan mereka. Namun sesuatu yang aneh terjadi. Gelang dengan hiasan kristal biru itu tidak dapat mereka masukkan kedalam ruang penyimpanan mereka.
"Hahaha....tidak mungkin aku akan memberikan sesuatu yang biasa saja pada kalian. Gelang itu tidak akan bisa kalian masukkan kedalam ruang penyimpanan apapun. Ini adalah salah satu bentuk ujian untuk kalian, jadi jaga baik-baik gelang itu, jangan sampai hilang. Baiklah, kalian boleh bubar!" seru Zu Zhang yang kemudian melayang kembali ke atas arena dan memandangi satu persatu dua puluh peserta itu yang mulai melangkah pergi meninggalkan lapangan arena sambil membawa gelang pemberiannya.
"Tidak kuduga kau akan sebaik itu pada para peserta, Zu Zhang. Kau ternyata banyak berubah setelah tidak berjumpa denganmu selama 10 tahun."
Dari atas atap arena, sosok Yi Chen melompat turun, dan kemudian terbang di samping Zu Zhang.
Zu Zhang tersenyum mengejek melihatnya sebagai balasan atas ucapannya.
"Jangan mengejekku, Yi Chen. Aku bisa merasakan pusaka pribadi milikmu yang telah kau berikan pada tiga murid dari sekte mu itu," ucap Zu Zhang yang kemudian terbang bersama dengan Yi Chen ke sebuah ruangan yang ada di Arena Pertandingan tersebut.
Keduanya duduk bersama di ruangan itu, dan Zu Zhang menghidangkan teh hangat padanya.
"Aku sempat merasakan keberadaan 'orang itu' di sini beberapa saat yang lalu, kemana dia pergi?" Yi Chen bertanya sambil mengambil teh yang telah diberikan oleh Zu Zhang padanya.
Sruuppp...
"Ah..."
"Heh, seperti yang kau tau, dia sangat sibuk. Bahkan dia harus meninggalkan beberapa pekerjaan nya sebagai raja untuk menonton pertandingan ini sebentar," balas Zu Zhang yang juga ikut meminum tehnya.
"Apakah dia belum merasa bosan juga? Mengerjakan banyak pekerjaan tak berguna seperti itu setiap harinya, aku bahkan menyerah setelah memimpin Sekte ku selama 50 tahun dan menyerahkannya pada anakku."
"Itu sebabnya Sekte Langit Utara mengalami penurunan kualitas, bodoh! Kau lihat sendiri bukan? Hanya beberapa tahun berselang semenjak anakmu, Yi Han perkembangan dari Sekte Langit Utara menurun, bahkan hampir berada di bawah Sekte Awan Petir yang merupakan rival abadi kalian.
Kau mengerti? Memberikan suatu tanggung jawab tidak bisa seenaknya saja seperti yang kau lakukan itu. Yang Mulia sendiri juga ingin segera lepas dari status nya sebagai penguasa Wilayah Tengah. Hanya saja sampai sekarang, belum ada yang pantas menduduki tempatnya itu sebagai orang terkuat di Wilayah Tengah," jelas Zu Zhang sambil menghela napasnya.
Bukannya merasa tersinggung karena anaknya dihina, Yi Chen malah tertawa terbahak-bahak. Dia sebenarnya juga tidak ingin memberikan jabatannya sebagai Patriak Sekte Langit Utara pada Yi Han, putranya, taoi karena itu adalah permintaan terkahir dari mendiang istrinya, dia tidak bisa menolaknya.
Lagi pula, setiap masalah besar yang terjadi di Sekte tetap dia yang menyelesaikannya bersama dengan Tetua Besar Ziao terkadang.
__ADS_1
Bisa dibilang Yi Han hanya lah sekedar Patriak pajangan saja di Sekte Langit Utara, karena Yi Chen lah yang selalu melakukan pekerjaan Patriak selama dia menjabat. Hal ini yang terkadang membuat para anggota sekte sering membanding-bandingkan Yi Chen dan Yi Han dalam masa jabatan mereka, yang membuat Yi Han sering merasa kesal sendiri.
"Apa kau berniat tinggal di sini malam ini?" Zu Zhang bertanya pada Yi Chen ketika melihat dia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapannya sebelumnya.
Yi Chen segera menggelengkan kepalanya dan kemudian meletakkan cankir di tangannya pada meja di depannya.
"Aku hanya ingin menonton pertarungan ketiga muridku saja, sambil melihat siapa saja setan tua yang ikut datang menonton acara ini," jawab Yi Chen cepat. Dia pun bangkit berdiri dan segera keluar dari ruangan tempat keduanya berada.
"Besok aku akan datang lagi, jadi jangan melakukan sesuatu yang tidak perlu pada ketiga muridku, ingat itu." Yi Chen berbicara sambil melambaikan tangannya pada Zu Zhang.
Detik berikutnya sosoknya pun sudah menghilang dari tempat itu tanpa menyisakan setitik hawa keberadaannya.
Zu Zhang memejamkan matanya sejenak selepas kepergian Yi Chen. Dirinya tertawa pelan mengingat masa-masa mudanya saat baru pertama kali mengenal Yi Chen.
"Dia sama sekali tidak berubah," ucapnya yang kemudian sosoknya ikut menghilang dari ruangan tersebut.
***
Di jalan kota Hundan dekat bangunan Arena Pertandingan.
Situasi disekitarnya sangatlah ramai. Orang-orang berjualan di pinggiran jalan, dan para penonton Turnamen Beladiri Bebas yang telah selesai menonton melanjutkan aktivitas mereka dengan singgah dan membeli sesuatu dari para pedagang tersebut.
Baik itu anak-anak hingga orang dewasa, bisa dilihat mereka semua berlaku lalang di jalan.
Dengan rasa lelah yang telah menggerogoti mereka semua, tidak ada rasa minat sedikitpun mereka untuk singgah sebentar dan membeli sesuatu.
"Ayo, jalanlah lebih cepat lagi! Kelompok kalian menghalangi jalan, sialan!"
Dari arah belakang, seseorang pria bertubuh gempal memaki kelompok Weng Lou karena berjalan terlalu pelan, menurut pria gempal itu.
Tapi meski begitu, kelompok Weng Lou sama sekali tidak mempedulikan ucapan dari orang itu, dan terus berjalan dengan kecepatan yang sama. Pria bertubuh gempal itu pun tampak marah dan langsung mempercepat langkahnya, dan berniat menyerang kelompok Weng Lou yang terdiri dari anak-anak remaja berusia belasan tahun dan 3 orang dewasa itu.
Kekuatan dari pria bertubuh gempal itu terlihat berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 2 puncak. Qi mulai menyelimuti tangannya, dan kemudian dia meninju ke arah punggung Weng Wan yang berjalan paling belakang.
Weng Wan terlalu malas untuk menyambut serangan dari pria bertubuh gempal itu. Tanpa membalikkan badannya, dia pun membentuk Qi nya menjadi sebuah perisai berduri yang melindungi belakangnya.
PAM!! Krack!!!
Suara keras terdengar begitu pukulan pria gempal itu mengenai pelindung berduri milik Weng Wan. Dia memasang senyum lebar karena mengira serangannya berhasil melukai Weng Wan namun kemudian saat melihat yang sebenarnya terjadi ekspresi nya langsung berubah menjadi pucat.
Terlihat tangannya yang memukul Weng Wan kini telah tertusuk oleh duri dari pelindung Qi milik Weng Wan hingga mencapai sikunya. Karena benturan keras tadi, pria gempal itu sama sekali tidak merasakannya.
__ADS_1
Buck.....
Dia berlutut di tanah dan memegangi tangannya yang telah terluka parah itu sambil menatapnya dengan pucat. Dia ingin berteriak kesakitan, namun dirinya tidak bisa merasakan apapun lagi dari tangannya yang terluka itu.
"Kau sebaiknya memotong tangannya saja, Wan. Pria gendut sepertinya itu hanya akan membuat masalah lagi jika tangannya bisa pulih kembali," ucap Weng Hua dengan nada malas.
"Tidak apa-apa, duri pelindung Qi ku telah menghancurkan syaraf di tangannya, dia tidak akan bisa lagi menggunakan tangannya itu. Pilihan terbaik baginya adalah memotongnya sendiri dari pada membusuk," balas Weng Wan dengan wajah sama malasnya.
Pria bertubuh gempal yang masih berlutut di tanah itu menatap punggung Weng Wan dengan mata memerah dan menahan amarah.
"BAJINGAN!!!! Tunggu saja kalian!!!!! Aku akan memberitahukan ini pada bos ku!!! Kalian tidak akan bisa pulang dengan selamat!!! LIHAT SAJA!!!" Dia berteriak seperti orang tidak waras di tengah jalan.
Orang-orang yang ada di situ hanya memasang senyum mengejek mereka sambil menggelengkan kepala.
"Bodoh, jelas-jelas mereka adalah para peserta yang berhasil lolos ke babak semifinal pada Turnamen Beladiri Bebas hari ini. Berani menyerang mereka seperti itu, sudah sangat beruntung dia tidak mati malam ini," ucap salah satu orang yang merupakan penonton turnamen hari ini.
"Hahaha...kau benar. Kalau aku jadi dia, aku sudah berlutut di tanah dan meminta ampun pada mereka semua." Seorang lainya berbicara.
"Pssh! Jangan terlalu keras berbicara! Apa kau tidak melihat tatto pada leher pria gendut itu?! Dia adalah anggota Kelompok Ular Pencuri! Pemimpin mereka adalah seorang Praktisi Beladiri yang berada di ranah Penyatuan Jiwa, jika dia mendengar ucapan mu sebelumnya kau juga akan ikut mati!" bisik seorang lagi sambil menunjuk tatto ular pada leher pria gempal itu.
Sementara itu, kelompok Weng Lou terus berjalan melewati jalan dengan langkah pasti, dan selang beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di penginapan.
Begitu mereka masuk ke bangunan penginapan, tercium aroma makanan yang memenuhi semua ruangan.
Ekspresi wajah Weng Lou, Weng Ying Luan, dan juga Weng Wan serentak berubah menjadi bersemangat. Ketiganya pun dengan cepat melangkahkan kaki mereka dan kemudian sampai di ruang makan dimana terlihat sudah terhidang berbagai macam jenis masakan di atas salah satu meja.
Tidak jauh dari situ, pria tua yang merupakan pemilik penginapan berdiri dan tersenyum pada mereka semua.
"Kalian semua telah jauh melampaui ekspetasi ku hari ini. Tidak menduga hampir dari kalian semua berhasil lolos ke babak semifinal besok. Sekarang makanlah ini, ini adalah makanan yang aku siapkan untuk kalian semua," ucapnya sambil memberi tanda untuk segera duduk dan makan.
Pria tua itu kemudian memandang Pang Baicha yang berdiri di pinggir dari kelompok sambil memasang wajah tersenyum mengejek. Pang Baicha yang melihat senyum pemilik penginapan pun memasang wajah jelek.
"Yah...meskipun ada juga yang tidak lolos ke babak semifinal, tapi tidak apalah! Toh kalian semua sebelumya telah berusaha semaksimal mungkin. Kalian sudah membuktikan bahwa selama tiga minggu ini, kalian memang telah meningkatkan kekuatan kalian semua, sekarang ayo kita makan, kalian pasti sudah sangat lapar."
Senyum kecil menghiasi sudut bibir Pang Baicha, dia cukup tersentuh dengan perkataan pemilik penginapan. Dia cukup lama mengenalnya dan cukup tau sifatnya. Meski dia sangat perhitungan soal uang, tapi dia tidaklah pelit.
Mereka semua pun segera duduk dan makan makanan yang telah disiapkan oleh sang pemilik penginapan.
Arak dikeluarkan, dan Jian Qiang Shan Hu, Pang Baicha, serta pemilik penginapan pun minum bersama.
Malam itu mereka semua berpesta ria dan melupakan segala rasa lelah yang ada pada diri mereka semua. Senyuman menghiasi wajah mereka semua.
__ADS_1
Namun mereka tidak menyadari, ini adalah malam kebahagiaan terakhir dari kelompok mereka sebelum sebuah kejadian besar menimpa mereka.