
Waktu terus berjalan hingga akhirnya menunjukkan hari yang sebentar lagi akan malam.
Pada bangunan Arena Pertandingan yang megah, beberapa tiang penyangga mengeluarkan cahaya yang menerangi para penonton dari hari yang mulai gelap. Sementara di lapangan, tidak ada satu alat pencahayaan pun yang terlihat.
Cahaya dari tiang penyangga lah yang membantu menerangi lapangan arena yang luas. Tiang-tiang penyangga itu telah disusun mengelilingi arena pertandingan, sehingga cahayanya mampu untuk menjangkau seluruh lapangan sekalipun.
Tapi meski begitu, cahaya yang sampai tidaklah terlalu terang, pada bagian tengah lapangan, cahaya itu hanya tampak remang-remang saja.
Inilah yang ditunggu-tunggu oleh beberapa peserta, terutama mereka yang berspesialis dalam pembunuhan. Mereka bekerja di dalam kegelapan, sehingga situasi seperti ini akan sangat membuat mereka leluasa.
Di atas lapangan, Zu Zhang melayang dan masih fokus menatap setiap pertarungan para peserta yang masih berlangsung.
Terlihat dia seperti sedang duduk di atas udara sambil menikmati secangkir teh hangat yang entah dari mana datangnya.
Srupp....
"Turnamen Beladiri Bebas memiliki dua tujuan utama, yang pertama adalah untuk menentukan seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh para Praktisi Beladiri yang sedang naik daun dan mengikuti turnamen ini. Contohnya seperti Wudi Ge, belum ada yang melihat kekuatan penuhnya. Dengan dirinya mengikuti Turnamen Beladiri Bebas ini, kemungkinan kita bisa mengetahui seberapa besar kekuatan yang dia miliki.
Tujuan yang kedua adalah untuk mengetahui para Praktisi Beladiri yang selama ini belum pernah kita lihat sebelumnya. Contoh saja seperti gadis kecil bernama Yue yang telah berhasil membunuh Ratu Pembunuh, Lengxue itu. Kita sama sekali belum mendapatkan informasi pribadi miliknya, tapi dilihat dari kekuatannya seharusnya dia punya latar belakang yang tidak bisa diremehkan," jelas Zu Zhang yang menyeruput tehnya.
Di belakangnya sosok seorang pria yang terlihat berusia pertengahan lima puluhan berdiri dengan tegak di atas udara dan perlahan mendekatinya. Sosok pria itu berhenti di samping Zu Zhang sebelum kemudian ikut duduk di udara seperti yang dilakukan oleh Zu Zhang.
Pria itu mengenakan pakaian yang bisa dibilang sangat mewah, terbuat dari campuran beberapa material langkah, pakaian yang dikenakan olehnya ini memiliki harga yang cukup mahal jika dihitung secara kasar.
Dengan wajah yang sedikit berkeriput pada ujung matanya, pria ini tampak memiliki suatu aura misterius darinya. Rambutnya yang panjang, lebih dari setengah telah berubah menjadi putih karena usia, sementara jenggotnya dan kumisnya juga seperti itu.
"Kenapa kau yang bertanggung jawab tahun ini?" tanya pria itu tanpa menoleh sedikitpun pada Zu Zhang.
Terlihat senyum tipis pada ujung bibir Zu Zhang, dia kemudian mengeluarkan secangkir teh dari dalam ruang penyimpanannya dan memberikannya pada pria itu. Pria itu diam sejenak sebelum kemudian menerimanya.
__ADS_1
"Aku tau anda pasti datang tahun ini, Yang Mulia. Bukankah tidak sopan jika orang yang menyambut Anda adalah salah satu bawahan saya?" balas Zu Zhang yang kembali menyeruput tehnya.
Pria yang bersamanya itu terdiam dan akhirnya tertawa pelan.
"Tidak kuduga kau bisa menebak bahwa aku akan datang kemari, Zu Zhang...srrupp.... Bahkan asisten ku tidak kuberi tahu bahwa aku akan pergi menonton Turnamen Beladiri Bebas di Kota Hundan ini, hahaha...."
"Aku hanya secara asal menebaknya Yang Mulia, tapi dilihat dari kehadiran saudara anda di turnamen tahun ini, seharusnya sudah sewajarnya anda akan datang dan menontonnya."
"Hahaha.... sebenarnya aku sendiri terkejut saat mendapat kabar bahwa dia ikut berpartisipasi dalam Turnamen Beladiri Bebas ini. Dia sudah lebih dari sepuluh tahun tidak meningkatkan tingkat praktik miliknya. Kurasa dirinya sudah mencapai batasnya, dan sebentar lagi dia akan mencapai Penerobosan Paksa," ucap pria itu yang menatap salah satu bagian arena dimana terlihat sosok pria yang sebelumnya telah dihadapi oleh Weng Ning saat seleksi pertama.
Zu Zhang pun ikut menatap ke arah bagian arena tersebut.
Di bagian arena itu, terlihat pertarungan cukup sengit antara pria yang dilihat oleh Zu Zhang dan pria yang bersamanya, melawan sosok peserta pria yang mengenakan pakaian hitam ungu dengan lambang api di belakang pakaiannya.
Pria yang mengenakan pakaian hitam ungu itu terus melakukan serangan menggunakan serangan tapak mengandung Qi pada lawannya, sementara lawannya hanya terus menangkisnya dengan tapaknya.
Pertarungan itu terus berlangsung selama beberapa menit, hingga kemudian pria yang mengenakan pakaian hitam ungu itu berhenti melakukan serangannya karena kelelahan dan Qi miliknya telah terkuras hingga lebih dari setengah. Lawannya yang menyaksikan itu pun langsung memberikan serangan balasan padanya, dan tak lama dia pun keluar sebagai pemenang.
"Caranya bertarung berbanding terbalik dengan anda, Yang Mulia. Tapi meski begitu, dia bisa terus bertarung sampai sekarang tanpa satu pun kekalahan berkat cara bertarung nya itu." Zu Zhang ikut memberikan tanggapannya.
"Ngomong-ngomong, Anda bisa menyempatkan waktu untuk datang ketempat ini, apakah tugas Anda sudah selesai?" tanya Zu Zhang yang menatap pria di sampingnya itu.
Pria itu hanya diam, tidak menjawab sama sekali, sementara Zu Zhang yang mengerti arti dirinya diam pun menghela napas. Jelas sekali dia belum selesai melakukan tugasnya, yang merupakan orang terpenting di Wilayah Tengah Pulau Pasir Hitam ini.
Ya, pria yang bersama Zu Zhang saat ini adalah Raja yang memimpin Kerajaan Wilayah Tengah Pulau Pasir Hitam tempat Turnamen Beladiri Bebas diselenggarakan.
***
Di sudut arena pertandingan, dimana perhatian banyak penonton tidak terlalu terfokus pada tempat itu, terlihat pertemuan tak terduga antara Weng Lou, dengan sosok pemuda yang mengenakan pakaian berwarna merah gelap dengan lambang Lotus Emas di belakang punggungnya.
__ADS_1
Keduanya hanya diam pada bagian arena keduanya berada, tidak ada salah satu dari mereka yang berniat untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.
Selang satu menit, keduanya masih tetapi jam berdiri dan saling menatap, hingga akhirnya secara serentak, mereka berdua berjalan maju dan saling mendekati satu sama lain. Baik tatapan mata Weng Lou, atau pun pemuda dengan pakaian merah itu, keduanya sama-sama memasang tatapan tajam.
Tak lama, mereka berdua sampai di tengah bagian arena, dan masih tetap saling menatap satu sama lain.
"Nak....pemuda ini....." Terdengar suara Ye Lao di dalam kepala Weng Lou.
"Aku tau.....dia kuat," ucap Weng Lou yang terlebih mendahului Ye Lao.
"Jangan ambil resiko, muridku. Kita sama sekali tidak mengenalnya. Kau bahkan tidak menemukan informasi tentang pemuda ini setelah tiga minggu mengumpulkan informasi, aku yakin dia tidak berasal dari Pulau Pasir Hitam ini," Qian Yu ikut bebicara.
"Tidak berasal dari Pulau Pasir Hitam....? Aku tidak berpikir sejauh itu, guru."
"Yah...yang manapun, dia adalah peserta terkuat sejauh ini yang telah kau temui. Bahkan kekuatan yang ada dalam dirinya jauh lebih besar dari Wudi Ge si Pemuda Terkuat itu," ucap Ye Lao dengan suara seriusnya.
"Jadi pilihannya?"
""Tidak perlu menanyakan hal itu, kau sudah tau dengan jelas apa yang terbaik untukmu,"" ucap Ye Lao dan Qian Yu bersama-sama.
Terlihat Weng Lou menghela napasnya pelan, lalu kemudian memilih untuk berbalik dan berjalan keluar dari bagian arena yang berarti dia menyerah sebelum bahkan pertarungan keduanya bisa dimulai.
Namun apa yang tidak diduga oleh Weng Lou adalah, pemuda itu ternyata juga ikut berjalan keluar bersama-sama dengan dirinya, yang menandakan keduanya seri.
"Orang ini...." Weng Lou tidak bisa berkata-kata, dia tidak mengerti jalan pikirannya.
"Jangan pernah menyerah terhadap lawanmu, itu adalah kata-kata yang aku jalani. Menerima kekalahan karena dirimu mengalah padaku, itu sama saja dengan meremehkan dan menghina kata-kata yang aku jalani itu. Kita akan bertemu di babak semifinal, saat itu terjadi ku harap kau tidak melakukan hal sebodoh ini lagi." Pemuda itu tiba-tiba berbicara kepada Weng Lou sebelum kemudian melangkah pergi lebih jauh meninggalkannya.
"Ada yang mengerti maksud dari ucapannya?" tanya Weng Lou pada Ye Lao dan juga Qian Yu.
__ADS_1
Dia sama sekali tidak paham dengan maksud perkataan dari pemuda tersebut.