
Hilangnya Ye Lao dan Qian Yu di tengah-tengah pembantaian yang mereka lakukan, membuat para prajurit yang masih bertahan bisa menarik napas lega.
Mereka memanfaatkan waktu tersebut dengan kabur keluar dari istana dan meninggalkan ibukota sejauh mungkin tanpa menoleh kembali untuk melihat tubuh rekan-rekan mereka yang masih tergeletak di tanah. Sementara itu, para prajurit yang sebelumnya diberi tugas oleh Weng Lou untuk mengumpulkan para pelayan dan pekerja yang ada di dalam istana tidak berani melarikan diri sebelum menyelesaikan pekerjaan mereka.
Dan untuk prajurit yang sebelumnya memilih untuk membunuh para prajurit lainnya, mereka tidak memberi kesempatan kepada para rekan-rekan mereka yang mencoba melarikan diri dan menghabisi mereka tanpa segan sedikitpun.
Lima jam kemudian berlalu setelah menghilangkannya Ye Lao dan Qian Yu, akhirnya, para prajurit yang dilepaskan oleh Weng Lou menyadari menghilangkannya Weng Lou dan mereka pun segera pergi meninggalkan istana setelah meninggalkan para pelayan dan pekerja yang tidak sadar kan diri di ruang takhta bersama dengan Shengshi Huangdi yang masih tak sadarkan diri.
Seiring waktu, sore hari pun tiba, dan kelompok Liu Ning telah sampai di ibukota.
Pasukan pengintai segera memberi kabar pada Liu Ning tentang situasi di ibukota, dan dengan arahan darinya, kelompok mereka pun memasuki kota dengan ekspresi serius yang terlihat di wajah mereka semua.
Orang-orang yang tinggal di kota, telah bersembunyi di dalam rumah mereka masing-masing setelah peristiwa pembantaian pada semua prajurit di kota terjadi. Ini merupakan arahan langsung dari para prajurit yang berasal dari istana yang memerintahkan mereka segera bersembunyi di tempat yang aman karena telah terjadi serangan.
*Tap....Tap.....Tap....*
Suara langkah kaki terdengar di dekat gerbang masuk ibukota dan membuat beberapa orang yang sedang bersembunyi di dalam rumah mereka menjadi penasaran.
Pasalnya, setelah berjam-jam berlalu, namun tidak ada satupun serangan yang dikatakan eh para prajurit yang terjadi.
Sekarang, telinga mereka mendengarkan suara langkah kaki yang ramai dari luar, dan dengan memberanikan diri mereka mengintip lewat sela-sela jendela dan melihat kelompok Liu Ning yang tanpa takut berjalan masuk ke dalam kota.
"I-Itu bukannya?!" Seorang pria gendut hampir menjerit kaget dari dalam rumah mereka, namun segera dihentikan oleh istrinya yang menutup mulut nya rapat-rapat.
"Kau gila, huh?! Apa kau tidak melihat semua senjata mereka itu?! Kau mau mati?! Mereka jelas sekali berusaha melakukan kudeta kepada kaisar! Kau pikir apa yang akan mereka dapatkan hanya dengan jumlah seperti itu?! Kaisar akan membunuh mereka semua, kita juga akan ikut terkena hukuman jika ada yang menyadari mu!!" Istri pria gendut itu memarahinya dan segera berusaha membawa suaminya itu masuk ke dalam rumah, tapi pria gendut itu tidak bergerak sama sekali dari tempatnya.
"Apa? Apa lagi yang kau mau perbuat? Jangan bilang kau mau keluar dan ikut bersama mereka. Kau lupa apa yang terjadi pada saudaramu yang bekerja di bawa kaisar yang sebelumnya? Dia mati dengan mengenaskan tanpa satu tubuhnya tersisa untuk kita makamkan! Kau mau berkahir seperti itu juga?" omel istirnya tanpa menyadari bahwa pria gendut itu memiliki tatapan yang penuh tekad dan balas dendam.
"Maafkan aku, tapi ini keputusan ku. Kau bisa mengambil semua tabungan kita untuk dirimu sendiri seandainya aku tidak kembali," ucap pria itu tanpa menatap mata istrinya itu.
Dia mengambil sebuah tombak dari sebuah ruang kecil di balik lantainya dan segera keluar dari rumah dan bergabung dengan kelompok Liu Ning yang tampak tidak terkejut dengan tindakan pria gendut itu.
Tindakan pria gendut itu seperti menyulut api yang telah lama padam di hati orang-orang di dalam kota, dan satu persatu dari mereka segera keluar dari rumah mereka dan bergabung dengan kelompok Liu Ning yang sedang bergerak menuju ke istana.
"Putri-" Li Min ingin memberitahu kepada Liu Ning tentang masalah yang terjadi jika seandainya ada mata-mata diantara salah satu orang-orang yang bergabung bersama mereka itu, tapi segera dihentikan oleh Liu Ning.
"Tidak perlu, aku percaya kepada mereka semua dan juga kepada Pahlawan Lou. Lagi pula jika ada yang berani macam-macam, monster besar itu akan menghabisinya untuk kita," ucap Liu Ning yang berusaha sekeras mungkin untuk menyembunyikan rasa bahagianya sambil menunjuk ke satu arah dimana Kera Hitam Petarung bersama dengan Du Zhe sedang melesat cepat tanpa menimbulkan suara sedikitpun menuju ke arah istana.
Li Min pun mengangguk setelah mendengarkan Liu Ning. Saat mereka berjalan menyusuri jalan kota, mereka tidak melihat satu pun anggota tubuh para prajurit yang sebelumnya berserakan di jalan karena dibunuh oleh Weng Lou. Para penduduk sudah mengumpulkan mereka semua dan mengubur mereka secara masal di lapangan barak. Tak berapa lama, mereka pun tiba di depan gerbang masuk istana, dimana kondisinya masih sama dengan sebelum menghilangnya Ye Lao dan Qian Yu.
Tubuh para prajurit yang ada di depan gerbang masih ada, dan hal itu membuat kelompok itu merasa ngeri setelah melihat tubuh-tubuh yang terpotong itu.
"Seperti yang diharapkan, Pahlawan Lou sudah menyerang istana lebih dulu dari kita." Liu Ning berusaha untuk tidak menghiraukan tubuh-tubuh itu dan segera memimpin semua orang memasuki istana.
Begitu mereka masuk melewati gerbang, aroma amis dan hawa kematian segera dirasakan oleh mereka semua.
Sensasi seperti tercekik oleh sesuatu yang tak terlihat bisa dirasakan semua orang tanpa terkecuali. Bahkan ada yang memiliki mental yang lemah dan segera tak sadarkan diri begitu merasakan sensasi itu.
Di sisi lain, Liu Ning dan Li Min saling berpandangan satu sama lain dan berkeringat dingin.
Apa yang ada di hadapan mereka saat ini adalah sebuah pembantaian besar-besaran dan paling mengerikan yang pernah mereka lihat. Bahkan ketika kudeta yang dialami oleh ayah Liu Ning, serangan yang dilakukan oleh Shengshi Huangdi tidaklah separah ini.
"I-Ini....ini semua....." Liu Ning tidak bisa berkata-kata sama sekali.
Li Min mengerti perasaan yang dialami oleh Liu Ning dan segera melajukan tindakan.
Dia segera memilih beberapa orang kepercayaannya dan mereka yang masih baik-baik saja untuk mengumpulkan tubuh-tubuh para prajurit yang berserakan di tanah.
Orang-orang yang ditunjuk oleh Li Min hanya bisa menelan ludah berat saat ditunjuk, dan dengan hati terpaksa mulai mengumpulkan tubuh para prajurit yang menghalangi jalan mereka.
"Ugh....aku....aku sudah tidak tahan! Uueekk!!!!"
Salah seorang pria yang ditunjuk oleh Li Min muntah saat mengangkat tubuh seorang prajurit yang organ tubuhnya terlihat mencuat keluar dari bekas luka sayatan besar di perutnya.
Li Min tersenyum kecut melihat itu, bahkan dia saat ini sedang mengangkat sebuah kepala yang terbelah dua dan memperlihatkan isi otaknya dan berusaha sekeras mungkin untuk tidak memuntahkan isi perutnya.
Beberapa orang yang melihat ini saling pandang satu sama lain dan berkeringat dingin. Tanpa perintah sama sekali dari Liu Ning atau pun Li Min, mereka mulai bergotong-royong membantu Li Min dan orang-orang yang dipilihnya. Mereka mulai mengumpulkan satu demi satu mayat prajurit yang ada di sekitar istana dan membukakan jalan bagi mereka untuk masuk ke dalam bangunan istana.
Liu Ning yang melihat mereka semua memejamkan matanya dan mengigit bibirnya. Dia segera maju ke depan dan mulai ikut dengan mereka mengumpulkan mayat-mayat prajurit. Tak lama setelah Liu Ning ikut turun tangan, semua orang di kelompok itu pun ikut juga.
Mereka mengumpulkan mayat-mayat prajurit yang ada di lingkungan sekitar bangunan istana, entah itu yang dalam kondisi tubuh lengkap atau pun tidak lengkap. Mereka mengumpulkan semuanya di satu titik dan berhasil selesai dalam waktu setengah jam.
"Putri, apa yang akan kita lakukan pada mayat para prajurit ini?" Li Min bertanya pada Liu Ning.
Liu Ning menghela napas panjang lalu berbalik dan menatap mata orang-orang yang bersamanya dan memperhatikan ekspresi mereka yang campur aduk. Namun meski begitu, dia masih bisa melihat kebencian dalam tatapan mereka saat menatap tumpukan mayat para prajurit.
Secara mendadak tatapan mata Liu Ning menjadi dingin dan segera menoleh ke arah Li Min di sampingnya, "Bakar mereka semua, jangan ada yang tersisa. Anggap saja ini cara kita membalaskan semua penderitaan yang mereka berikan kepada kita selama ini."
Tidak ada belas kasihan dalam tatapan matanya. Li Min pun mengangguk mengerti lalu memberi sinyal pada para pria yang saat ini saat ini sedang memegang obor di tangan mereka.
Obor-obor itu di lemparkan ke atas tumpukan mayat para prajurit dan mulai membakar tubuh mereka. Asap hitam segera mengepul ke udara dan naik hingga kelangit sore yang sebentar lagi akan malam.
__ADS_1
"Ayo, masih ada yang harus kita lakukan," ucap Liu Ning yang kemudian berjalan masuk ke dalam istana dan diikuti oleh semuanya.
Di dalam istana, Liu Ning dan yang lainnya berjalan melewati lorong yang sepi tanpa melihat satu orang atau mayat pun. Hal ini membuat mereka semua menjadi waspada karena situasi ini berbeda jauh dengan yang mereka alami sejauh ini.
"Hati-hati! Ini kemungkinan besar adalah perangkap dari lawan kita! Semuanya waspada dan jangan sampai lengah!" Li Min memperingatkan yang lain.
Tangannya menggenggam erat pedang yang ada di tangannya. Suasana menjadi serius dan tidak ada suara yang dikeluarkan oleh mereka semua. Dengan perlahan namun pasti, kelompok Liu Ning mulai menelusuri lorong istana dan tiba di depan sebuah pintu besar yang sangat tidak asing bagi Liu Ning ataupun Li Min.
"Kita sudah di sini..." Li Min berbicara dengan serius.
Dia memantapkan hatinya, dan kemudian dengan cepat membuka pintu besar itu hingga hampir terlepas.
*Bang!*
Ketika pintu itu terbuka, terlihat banyak orang-orang yang entah mati atau tidak terbaring di lantai. Di ujung ruangan, sebuah takhta yang megah sedang di duduki oleh seorang pria yang saat ini juga sedang tidak sadarkan diri.
Liu Ning menarik napas dingin, seharusnya dia sudah menduganya. Tidak mungkin Weng Lou melewatkan bagian dalam istana, mengingat bahwa dia bahkan tidak meninggalkan satu orang prajurit pun ketika dia membebaskan mereka yang ada di wilayah kumuh.
Di dalam ruangan itu, seorang anak laki-laki sedang berdiri dan menatap pria yang sedang duduk tak sadarkan diri di atas takhta di ruangan itu.
Du Zhe menoleh ke arah Liu Ning yang baru saja tiba dan kemudian berjalan ke arahnya.
"Sepertinya ini adalah ulah guruku. Tapi aku tidak bisa menemukannya dimana pun, Kera Hitam Petarung juga saat ini sedang mencari di bagian sekitar istana, namun tidak bisa menemukannya." Du Zhe berbicara sambil menahan rasa sedih di wajahnya.
Liu Ning mengerti apa yang dirasakannya dan kemudian segera memberitahukan pesan Weng Lou yang ada di dalam surat yang dia terima pagi tadi, "Tuan Muda Du Zhe, Guru anda memberitahukan padaku untuk memberitahu Anda bahwa dia akan menjemput anda setelah dia melakukan sesuatu, sebelum itu dia meminta ku untuk menjaga Anda."
Du Zhe yang mendengar itu menatap Liu Ning dan menyipitkan matanya, terlihat jelas bahwa dia tidak mempercayai wanita itu, tapi kemudian Liu Ning segera memberikannya surat yang sebelumnya kepada Du Zhe dan Du Zhe langsung diam setelah selesai membaca surat tersebut.
"Guru.... aku....." Du Zhe tidak menyelesaikan kata-katanya dan segera pergi dari situ. Tidak ada satu pun yang menghentikan dia dan hanya menatap punggungnya yang menghilang di belokan.
Setelah Du Zhe pergi, perhatian Liu Ning segera kembali terarah pada pria yang tidak lain adalah Shengshi Huangdi.
"Baiklah, sepertinya Pahlawan Lou sudah memberikan kesempatan untuk kita menentukan nasib pria itu, dan sebaiknya kita tidak mengecewakan beliau." Cahaya dingin terlihat pada tatapan mata Liu Ning begitu juga dengan Li Min, dan orang-orang yang ada di situ.
Mereka pun segera menjebloskan Shengshi Huangdi yang masih tak sadarkan diri dan mengurus para pelayan dan pekerja yang dikumpulkan di ruangan itu.
***
Di dalam ruangan bawah tanah. Sosok Weng Lou tersadar kembali dan melihat ruangan tempat dia berada saat ini.
Ingatan kejadian yang terjadi sebelum dia pingsan melintas di dalam kepalanya dan tatapan matanya segera berubah menjadi kosong. Dengan lesuh dia mengangkat tubuhnya dan kemudian duduk bersandar pada pintu batu besar yang masih tertutup rapat seperti sebelum dia pingsan.
Tidak mendapatkan respon yang dia harapkan, Weng Lou pun bertanya kepada Qian Yu, "Kau bahkan tidak bisa berkata-kata, huh? Dasar pak tua bodoh..... Bagaimana menurut mu Guru? Apakah latihan yang kita jalani selama ini telah menjadi sia-sia?"
Namun sama seperti ketika dia bertanya pada Ye Lao, dia juga tidak mendapatkan jawaban apapun dari Qian Yu. Weng Lou menyadari ada sesuatu yang salah dan kemudian menyadari bahwa ikatan jiwanya dengan Ye Lao dan Qian Yu sudah tidak ada lagi.
Mengetahui ini, Weng Lou pun mengkertakkan giginya dan mengepalkan tangannya dengan keras hingga berdarah.
Semua yang dia dapatkan selama ini benar-benar hilang begitu saja karena tindakan Zhi Juan. Praktik Beladiri, Qi, sumber daya, senjata, dan bahkan rekan-rekannya yang selalu menemaninya setiap saat sekarang telah diambil darinya. Bahkan, sekarang, Weng Lou sama sekali tidak bisa mengaktifkan kekuatan garis darah keturunannya. Yang lebih parah lagi, Weng Lou sekarang tidak bisa merasakan Dantian pada dirinya, dan yang otomatis membuatnya sama sekali tidak bisa merasakan dan mengendalikan Tenaga Dalam Alam yang ada di sekitarnya.
"Bagus.....Bagus sekali, Zhi Juan. Kau sudah mengambil semuanya, lalu kenapa kau tidak mengambil nyawaku sekalian, dasar berengsek! Aku.... Aku....."
Weng Lou segera membuang semua kata-kata makian yang hendak dia lepaskan dan mengejar napas panjang.
*Buk....*
Dia membenturkan kepalanya pada pintu besar di belakangnya dengan keras. Rasa frustasinya benar-benar telah membuatnya putus asa.
"Ahhh....dasar sialan....aku bahkan belum mengajarkan apapun pada Du Zhe. Lalu bagaimana bisa aku menjadi seorang guru baginya? Aku ini benar-benar menyedihkan. Faktanya, jika aku tidak menerima bantuan dari Zhi Juan sejak awal, aku sama sekali tidak akan bisa mencapai tingkatan ini."
Perlahan, ingatan tentang keluarganya, teman-temannya dan adiknya melintas di dalam pikiran Weng Lou. "Aku....Aku....arghh!!!! Zhi Juan!!!! Kau yang memaksaku!!!! Kau pikir aku akan menyerahkan begitu saja, dasar sialan?! Huh! Akan kuperlihatkan bahwa kau tidak mengerti arti dari semangat juang seorang Weng!"
*Tap...tap....*
Weng Lou pun bangkit berdiri dan menatap pintu besar yang telah membuatnya frustasi itu dengan penuh tekad yang berapi-api.
*Buk!!* Tangan kanannya meninju dengan keras pada pintu batu itu dan menimbulkan suara besar, tetapi tidak menghasilkan kerusakan sama sekali.
"Pintu ini hanyalah sebuah penghalang tak berarti bagiku. Akan kubuktikan padamu, bahwa aku bisa keluar dari sini! Aahhh!!!"
*Buk!!! Beck!*
Kedua tangan Weng Lou mulai kembali meninju pintu itu, perlahan-lahan kecepatannya meninju semakin bertambah dan dia sama sekali tidak mengurangi kecepatannya.
"Uuuaargghh!!!! Ayah!!!! Ibu!!!! Semuanya!!!!! Aku akan keluar dari pintu sialan ini!!!!!"
*BUMMM!!!*
***
Sepuluh hari berlalu dengan cepat dan situasi di ibukota kini telah berubah sepenuhnya.
__ADS_1
Liu Ning dengan resmi diangkat menjadi Kaisar yang baru setelah berhasil mengambil kembali kekuasaan dari tangan Shengshi Huangdi yang mengkudeta ayahnya keesokan hari setelah dia datang di ibukota.
Pada hari yang sama, seluruh prajurit baru yang berada di bawah kekuasaan Liu Ning dibentuk dan kemudian mulai melakukan tugas pertama mereka, yaitu menangkap semua kaki tangan kaisar sebelumnya, termasuk orang-orang dari Perguruan Iblis Merah.
Situasi di seluruh Pulau Fanrong segera berubah seratus delapan puluh derajat, sedikit demi sedikit kota-kota yang ada mulai berhasil diambil alih oleh kekuasaan Liu Ning. Banyak para bangsawan yang mulai menyatakan kesetiaan kepada Liu Ning karena hal ini, tapi Liu Ning hanya menanggapi dengan dingin mereka semua, dan memberikan perintah agar menangkap semua bangsawan yang sebelumnya bekerja sama dengan Shengshi Huangdi melakukan perbudakan di seluruh Pulau Fanrong.
Dalam waktu singkat, kekuasaan Liu Ning pun berhasil menguasai seluruh Pulau Fanrong sepenuhnya, dan pada hari kesepuluh, yaitu hari ini, sebuah hukuman eksekusi akan digelar di ibukota, dan orang yang akan menerima nasih buruk ini tidak lain adalah Shengshi Huangdi yang sebelumnya telah dijebloskan ke penjara oleh Liu Ning.
Situasi di ibukota saat ini sangat ramai, orang-orang saling berdesak-desakan di depan sebuah panggung besar yang mana seorang pria lusuh sedang berdiri di atas sebuah tangga kecil menghadap semua orang dengan sebuah tali tambang tergulung di lehernya.
Pria ini tidak lain adalah Shengshi Huangdi yang sebentar lagi akan menerima hukuman gantung sebagai bentuk hukuman atas segala macam kejahatan yang telah dia lakukan selama ini.
Tidak jauh dari situ, sebuah panggung lainnya dibangun dan di atasnya, sekelompok orang sedang duduk dan menatap dengan dingin sosok Shengshi Huangdi. Liu Ning saat ini sedang duduk di panggung ini dan disampingnya seorang wanita paruh baya, duduk dengan tenang dan menatap sosok Shengshi dengan tatapan amarah yang tak terbendung. Dia tidak lain adalah ibu Liu Ning yang selama ini telah dipenjara oleh Shengshi Huangdi.
Setiap harinya dia selalu berdoa agar hari ini tiba, dan sekarang keinginannya itu telah benar-benar terkabul.
"Ibu, waktunya sebentar lagi," ucap Liu Ning yang menggenggam salah satu tangan ibunya dengan erat.
Wanita itu menoleh ke arah Liu Ning dan menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Baik, kau bisa memulainya," balasnya.
Liu Ning mengangguk dan segera bangkit berdiri dari tempatnya, dia memberikan kode pada seorang pria yang saat ini sedang berdiri tidak jauh dari Shengshi Huangdi yang berada di atas tempat eksekusi.
Pria itu berjalan maju dan menatap semua orang yang hadir di tempat itu sejenak, lalu menarik napas dan mulai berbicara, "Selamat pagi rakyat Kekaisaran Fanrong! Pada hari ini kita berkumpul di tempat ini untuk menggelar acara eksekusi kepada penjahat yang telah menyebabkan kesengsaraan banyak orang di seluruh Pulau Fanrong selama bertahun-tahun lamanya!
Pria ini, dengan kejamnya membunuh kaisar terdahulu dan mengambil alih kekuasaan dengan tak tau malu! Setelah itu, dengan kekuasaan yang didapatkan olehnya, dia memimpin Kekaisaran Fanrong dan membuat banyak orang-orang yang menderita karena sistem perbudakan yang diciptakannya!
Shengshi Huangdi! Hari ini akan menerima hukuman atas semua kejahatannya selama ini! Dan dihadapan kita semua, kita akan menghukum gantung kepadanya!" Pria itu memberikan pengumuman kepada semua orang, dan segera, segala macam hinaan, cacian, dan makian menggema di seluruh tempat itu.
Amarah semua orang diarahkan pada satu orang, yaitu Shengshi Huangdi, penjahat yang sebentar lagi akan segera dieksekusi.
Pria yang berbicara di atas panggung pun segera mengangkat tangannya dan membuat semua orang diam, "Tapi sebelum itu, mari kita dengarkan kata-kata terakhir dari sang penjahat yang akan segera menemui ajalnya hari ini. Biarkan kita mendengarkan apakah dia telah menyesali segala dosa dan perbuatannya! Shengshi Huangdi, apa kau ingin mengatakan sesuatu?"
Perhatian semua orang segera terarah pada Shengshi yang hanya diam sejak tadi. Sekujur tubuhnya berkeringat dingin dan ketaku6jelas terlihat seluruh wajahnya.
"A-Aku.....Aku-"
*Pak!* Sebuah sepatu kulit mendadak dilemparkan dari antara kerumunan orang, dan dengan telak mengenai wajah Shengshi Huangdi.
"Tidak ada yang perlu bajingan itu bicarakan! Segera hukum mati dia!!! Semua keluarga ku telah mati karena dia!!! Aku tidak ingin mendengarkan satu kata penyesalan dari orang berengsek seperti dia!!!" Seorang pria bertubuh kekar berseru marah dan menunjuk ke arah Shengshi Huangdi.
"Benar!!! Tidak ada lagi yang perlu dikatakannya! Semua perbuatannya sudah mengatakan semuanya!"
"Betul! Segera hukum dia!!"
"Bunuh dia!" "Bunuh dia!" "Bunuh dia!"
Situasi kembali kacau, dan pria yang bersama Shengshi menoleh ke panggung lainnya dan melihat kode dari Liu Ning. Pria itu mengangguk dan segera menangkan semua orang.
"Baiklah! Karena tidak ada yang perlu dikatakan oleh penjahat ini, maka eksekusi akan dimulai!" serunya dan semua orang bersorak bahagia.
Di sisi lain, ketakutan pada wajah Shengshi semakin terlihat dan dia menggelengkan kepalanya, "Ti-Tidak! Ka-Kalian tidak bisa melakukan ini! Ak-Aku adalah Kaisar!"
"Tutup mulut bajingan itu! Kaisar kau bilang?! Kau tidak lebih dari seorang pembunuh!"
Dari atas panggung lain, ibu Liu Ning berteriak marah dengan matanya yang memerah.
"Sa-Saudari ku? Ap-Apa yang kau kata-"
"Jangan panggil aku saudarimu! Kau adalah pembunuh! Bajingan rendahan! Segera mulai eksekusinya!"
Mendengar ucapan ibu Liu Ning pria yang ada di panggung bersama Shengshi tidak berani menunda lebih lama lagi. Dia segera maju dan memeriksa ikatan tali pada leher Shengshi sebelum kemudian mulai berjalan ke arah sebuah tuas yang tidak jauh dari situ.
Melihat pria itu yang sudah siap menarik tuas, Shengshi Huangdi seakan kehilangan harapannya untuk hidup dan dia menangis sejadi-jadinya dan memohon-mohon ampunan. Tapi, tidak ada yang dia dapatkan.
*Trap!*
Tuas ditarik, dan lantai tempat Shengshi Huangdi berdiri mendadak terbuka dan membiarkan tubuh Shengshi terjatuh ke bawah.
*Sherk!*
Mata Shengshi membelalak, dan mulutnya terbuka. Tubuhnya yang menggantung di udara menggeliat dengan lehernya terikat erat pada tali yang menggantung di tiang di atasnya. Mulutnya bergerak-gerak, dan wajahnya memerah hingga berubah menjadi biru.
Dia tidak bisa bernapas sama sekali, dan setelah beberapa saat, akhirnya tubuhnya berhenti bergerak, dan dia pun mati.
Sebuah akhir yang tragis pada seorang pria yang menginginkan kekuasaan namun tidak bisa meraihnya.
***
Words: 3315
__ADS_1