Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 597. Kembali Sadar


__ADS_3

Di sebuah sungai besar yang terdapat di dalam benua Daratan Utama.


Kapal uap Weng Lou bergerak dengan ditarik oleh seekor kepiting raksasa dari dalam air dan melawan arus sungai dengan begitu mudah.


Lin Bei yang telah tak sadarkan diri semenjak pertarungan nya melawan Weng Ying Luan akhirnya mulai sadar kembali. Kelopak matanya bergerak saat cahaya matahari masuk melewati jendela tempatnya terbaring, hingga akhirnya terbuka dan dia melihat langit-langit ruangan dengan tatapan kebingungan.


"Ini....aku berada di mana?" tanya Lin Bei kebingungan.


Dia berkedip lalu menoleh ke samping dan melihat seorang pria yang terlihat berusia empat puluhan sedang duduk sambil memejamkan matanya di samping tempat tidurnya. Pria itu bereaksi terhadap tatapan mata Lin Bei dan membuka matanya, membalas menatap pemuda itu.


"Kau sadar juga akhirnya. Kupikir Pasukan Pengejar akan mendapatkan Kapten yang baru lagi, tapi sepertinya takdir masih menyayangi kami semua," gurau pria itu pada Lin Bei.


Lin Bei hanya diam menanggapi gurauan tersebut. Dia mengalihkan pandangannya dan menatap ke pintu ruangan tempat dia berada saat ini, dimana ternyata beberapa orang dari Pasukan Pengejar terlihat sedang mengintip keduanya.


"Apa yang kalian lakukan disitu? Masuk lah jika ada yang ingin kalian katakan!" Pria yang bersama Lin Bei itu ikut menghadap ke pintu dan memanggil anggota-anggota Pasukan Pengejar itu sambil tersenyum kecil.


Mereka semua tersenyum lebar dan buru-buru masuk ke dalam ruangan menyerupai kamar tersebut. Ruangan itu berakhir menjadi sesak dan sempit karena dipenuhi oleh para Pasukan Pengejar yang ingin melihat kondisi Lin Bei yang baru saja tersadar setelah tidak sadarkan diri dua hari penuh.


"Kapten, bagaimana perasaan mu? Apa kau merasakan sakit di bagian tertentu pada dirimu?" tanya salah satu anggota Lin Bei dengan wajah penasaran.


Lin Bei membalas pertanyaannya itu sambil menyentuh tubuhnya dan meraba-raba apakah ada bagian yang sakit. Dia segera menggeleng sebagai jawaban.


"Tidak sama sekali, aku malah merasa sangat sehat. Jauh lebih sehat dari biasanya! Rasanya..... seolah-olah tubuhku telah terlahir kembali dan tidak seperti yang dulu," ungkapnya setelah merasakan sensasi yang ada di tubuhnya itu.


Mendengar itu, wajah anggota Pasukan Pengejar yang lain pun segera berubah menjadi wajah lega. Mereka mengangguk satu sama lain. Pria yang duduk di samping tempat tidur Lin Bei akhirnya membuka suaranya lagi sambil menjelaskan kondisinya yang sebenarnya.


"Kapten, ada yang harus aku, tidak, kami beritahu pada mu." Pria itu berbicara dengan nada tenang.


Lin Bei menoleh padanya, dia berkedip. Tidak seperti biasanya pria di sampingnya ini bersikap serius ketika bersamanya dan yang lain. Sang Wakil Kapten Pasukan Pengejar ini biasanya hanya bersikap serius ketika mereka dalam sebuah misi penting, dan menurut Lin Bei mereka sedang tidak berada dalam situasi seperti itu.


"Kami telah menyita sebuah kapal yang kami curigai berhubungan dengan si pengkhianat yang kita kejar itu. Saat ini kita berada di dalam kapal tersebut, dan bergerak menuju markas pusat kita. Pasukan Pelacak akan memeriksa kapal ini dan mencari jejak-jejak dari pengkhianat itu. Dengan begini Kapten tidak akan menerima hukuman dari para atasan dan Tetua." Lin Gou, yang adalah sang Wakil Kapten Pasukan Pengejar menjelaskan situasinya pada Lin Bei.


"Kapal? Ah, jadi kita sedang berada di dalam kapal! Pantas saja aku merasakan sedikit goncangan setiap beberapa saat. Apa kita telah memasuki wilayah Sungai Phoenix Kehidupan?" tanya Lin Bei yang dengan cepat bergerak ke arah jendela dan melihat pemandangan di luar.


"Em, kita baru-baru saja memasukinya. Perkiraan ku kita akan tiba di sungai utama ketika matahari tenggelam nanti."


Pemandangan yang dilihat oleh Lin Bei dari jendela kapal adalah sungai besar yang luasnya mungkin sudah setara dengan luas sebuah danau berkurang sedang. Kapal yang dia naik ini tampaknya berbentuk besar, pikirnya. Terlihat dari beberapa kapal lain yang mereka lewati hanya terlihat berukuran sepertiga saja dari besar kapal yang dia naiki.


Padahal, seingatnya kapal-kapal yang dia lihat itu harusnya adalah kapal patroli yang memiliki ukuran paling tidak memiliki panjang lima puluh meter dan lebar sekitar dua puluh meter. Namun kapal uap Weng Lou ini terlihat jauh lebih besar. Mungkin karena tingginya yang disesuaikan dengan tinggi Kera Hitam Petarung.


"Kau bilang ini adalah kapal yang kalian curigai memiliki hubungan dengan penghianat itu, lalu bagaimana dengan pemiliknya? Apakah kalian berhasil menangkapnya?" Lin Bei bertanya setelah menyadari sesuatu.

__ADS_1


Lin Gou menggeleng. Dia menoleh pada para anggota Pasukan Pengejar yang lain dan menyuruh mereka keluar dari kamar itu.


"Kapten, ayo ikut dengan kamu sebentar, ada sesuatu yang harus Kapten lihat."


"Hm? Apa itu? Apakah itu barang bukti yang kita cari dari pengkhianat itu?"


"Tidak, bukan itu. Ini adalah sesuatu yang lebih serius dari hal itu. Akan sulit menjelaskan nya, lebih baik kau melihatnya sendiri."


Lin Gou segera pergi keluar dari ruangan itu sementara Lin Bei terdiam di tempatnya. Dia kebingungan dengan sikap semua orang dan merasa penasaran. Akhirnya dia pun memutuskan untuk mengikuti kemana semua orang pergi yang ternyata bergerak menuju ke bagian tengah kapal dimana terdapat sebuah pintu logam berukuran sangat besar terkunci oleh beberapa gembok logam dan juga beberapa jimat yang tertempel pada pintu itu.


Lin Bei yang melihatnya menjadi semakin kebingungan, akan tetapi raut wajahnya segera berubah total ketika dia merasakan sebuah aura buas dari balik pintu itu.


"I-Ini......apa yang ada di balik pintu ini? Aura membunuhnya benar-benar luar biasa, dan seperti seekor binatang buas yang telah melewati ratusan pertarungan. Aura ini....tidak salah lagi, seekor binatang buas yang sangat kuat pasti ada di baliknya," pikir Lin Bei dengan cepat.


Lin Gou tidak banyak bicara setelah membawa Lin Bei ke depan pintu tersebut. Di situ terdapat pintu yang ukurannya jauh lebih kecil. Pintu tersebut di buka dan hawa mencekik segera merembes keluar dari pintu itu, menerpa tubuh Lin Bei dan yang lainnya.


Wajah Lin Bei sudah berubah menjadi sangat serius. Dia tidak tau monster macam apa yang ada di dalam sana, namun satu hal yang pasti, pasukannya benar-benar hebat karena bisa mengurungnya di dalam.


"Glek...." Tanpa sadar Lin Bei menelan ludahnya. Dia pun memilih untuk berjalan perlahan mendekati pintu lalu masuk ke dalamnya, ditemani dengan Lin Gou yang berjalan di belakangnya.


Pasukan Pengejar yang lain saling tatap satu sama lain, mereka tidak memiliki keberanian untuk melihat monster di dalam sana sekali lagi. Sudah cukup mereka merasakan kengeringan beberapa hari yang lalu. Lagi pula, mereka tidak tau harus berbuat apa di dalam sana, jadi cukup ketua dan wakil ketua mereka saja yang masuk.


Sementara itu, di dalam ruangan yang dimasuki oleh Lin Bei dan Lin Gou. Langkah kaki Lin Bei telah berhenti begitu dia tiba di depan sebuah sosok makhluk bertubuh besar dan hitam yang sedang duduk membelakangi mereka dan menundukkan kepalanya.


Telinganya bisa dengan jelas mendengar suara hembusan napas makhluk yang tidak lain adalah Kera Hitam Petarung itu.


Kera Hitam Petarung yang merasakan kedatangan keduanya hanya menoleh sedikit sebelum mendengus pelan.


"Apa yang kau inginkan? Jika menurut mu aku mau membuka mulut ku meski kau telah melakukan semua siksaan itu, maka kau salah besar. Aku sudah terbiasa menerima siksaan-siksaan itu sebelumnya, bahkan jauh lebih mengerikan lagi. Sebaiknya kau pergi dari sini, kau hanya membuang-buang waktu ku." Kera Hitam Petarung berbicara dengan nada sedikit tidak senang. Akan tetapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda permusuhan sama sekali, malah dia terlihat seperti tunduk pada Lin Gou.


Dahi Lin Bei mengerut. Dia memberanikan diri untuk berjalan maju ke depan dan akhirnya bisa melihat dengan jelas sosok Kera Hitam Petarung di hadapannya.


"I-Ini.....bagaimana mungkin?" Lin Bei bertanya dengan nada kebingungan dan tidak percaya di saat bersamaan.


Mendengar suara Lin Bei, Kera Hitam Petarung pun mengalihkan pandangannya padanya. Dia seperti memindai tubuh Lin Bei dalam tatapannya itu. Lin Bei merasa seperti terlucuti di hadapan tatapan mata Kera Hitam Petarung, namun dia tidak merasa aneh. Bagaimana pun, mata binatang buas memiliki cara kerjanya tersendiri.


"Hmp....ada dua pemilik darah Phoenix di sini, sungguh menggelikan. Kenapa kalian berdua tidak bertarung satu sama lain dan menentukan siapa yang terkuat?" ucap Kera Hitam Petarung dengan acuh tak acuh sebelum kemudian membalik badannya kembali.


"Kera....Kera Hitam Petarung.....bu-bukannya mereka sudah ratusan tahun lamanya punah? Kenapa monster seperti itu bisa berada di sini?" Lin Bei tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya.


Sebuah tangan menyentuh pundak Lin Bei, pemiliknya adalah Lin Gou. Wakil Kapten Pasukan Pengejar itu menenangkan pemimpinnya yang terlihat sedikit panik saat ini.

__ADS_1


"Kera Hitam Petarung menang sudah lama punah, tapi itu hanya di wilayah Daratan Utama saja." Lin Gou maju dan berdiri di samping Lin Bei.


Lin Bei menatap wakilnya tersebut dengan tatapan bingung, apa yang coba dia katakan? Terkadang pemikiran wakilnya ini tidak bisa dia tebak sama sekali, sehingga sulit untuk mengikuti jalan pikirannya.


"Apa yang ingin aku katakan adalah, meski di Daratan Utama Kera Hitam Petarung telah lama punah, namun belum tentu di tempat lain juga terjadi hal yang sama. Kapten, apa kau ingat sejarah Perang Antar Klan?" tanya Lin Gou.


Lin Bei mengangguk. Meski di Keluarga Lin laki-laki diperlakukan lebih rendah daripada perempuan, namun pelajaran mengenai sejarah adalah hal yang diterima oleh semua anggota. Terutama tentang sejarah perang Keluarga Klan Besar yang berlangsung selama ratusan tahun dan berakhir ratusan tahun yang lalu.


Dalam pelajaran yang dia terima, diceritakan perang terjadi karena Daratan Utama tidak cukup lagi menampung Lima Keluarga Klan Besar dan mengakibatkan terjadinya pertarungan diantara kelimanya.


Dalam perang itu, keluarga terkuat yang merupakan pemimpin diantara kelima keluarga memutuskan untuk memisahkan diri dari Daratan Utama agar perang bisa berakhir dan tidak ada lagi nyawa yang melayang hanya karena perebutan wilayah kekuasaan.


Mereka adalah Keluarga Klan Weng. Dengan dipimpin oleh kepala keluarga mereka waktu itu, yang tidak lain adalah Weng Lou di kehidupannya yang sebelum-sebelumnya, dia membelah seperseratus wilayah milik Keluarga Weng dan menjauhkannya sampai keluar dari wilayah Daratan Utama.


Dia membawa orang-orang yang dianggapnya masih setia sepenuhnya kepada keluarga Weng, termasuk beberapa keluarga cabang dari Yang, Ying, dan Wang yang memilih untuk mengganti marga mereka dan membentuk keluarga yang baru. Terkhusus Keluarga Lin, yang ikut pindah dengan Keluarga Weng adalah salah satu dari Dua Fraksi Utama yang terdapat di dalam Keluarga Lin di Daratan Utama, yang adalah keluarga Lin Mei, pewaris dari garis darah Phoenix Pemusnah.


Semua Keluarga Klan di Daratan Utamq menandatangani perjanjian, bahwa mereka tidak akan saling menggangu wilayah lagi mulai dari pisahnya Keluarga Weng. Mereka juga dilarang untuk mengganggu Keluarga Weng yang telah memisahkan diri, dan jika dilanggar maka perang yang telah berakhir itu terpaksa harus dimulai lagi.


"Jadi....kau mau mengatakan bahwa monster ini berasal dari tempat Keluarga Weng? Bagaimana bisa hal itu terjadi? Kau tau seberapa jauh jaraknya tempat ini dengan wilayah yang dimiliki Keluarga Weng? Itu akan memakan waktu berbulan-bulan, tidak, bertahun-tahun untuk bisa sampai kesana!"


"Itu masih dugaan ku saja. Untuk itu kita akan membawanya kepada para petinggi. Mereka yang akan memutuskan hal apa yang harus dilakukan selanjutnya. Satu hal yang pasti, masalah pengkhianat itu akan tertutupi karena pencapaian kita ini, aku yakin kita setidaknya akan diberikan hadiah besar," jelas Lin Gou yang menepuk pundak Lin Bei. Dia pergi meninggalkan ruangan itu.


Masih di dalam ruangan, Lin Bei memilih menatap selama beberapa sosok Kera Hitam Petarung di depannya. Kera itu hanya diam tanpa mempedulikan nya sama sekali.


Setelah puas melihatnya, akhirnya Lin Bei pun pergi dari situ, dan meninggalkan Kera Hitam Petarung yang telah menoleh kembali ke arah pintu masuk ke ruangan tempatnya dikurung.


Mata Kera Hitam Petarung tampak tidak fokus, dia mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat dia tertangkap oleh orang-orang dari Pasukan Pengejar Keluarga Lin itu.


"Haahh.....darah burung sialan itu.....tidak aku duga akan bertemu pemilik garis darah keturunan Phoenix. Jika bukan karena darah burung itu, aku pasti sudah membunuh mereka semua, khah....." Kera Hitam Petarung tidak bisa melakukan apapun selain menghela napas panjangnya.


Penyebab utama dia kalah melawan Pasukan Pengejar yang dipimpin oleh Lin Gou malam itu adalah karena Lin Gou juga memiliki kekuatan Garis Darah Keturunan Phoenix di dalam tubuhnya, dan hanya sedikit lebih rendah daripada yang dimiliki oleh Lin Bei sebelum dia bertarung melawan Weng Ying Luan.


Meski begitu, kekuatan garis darah Phoenix tetap menekan Kera Hitam Petarung dan memaksanya untuk tunduk tanpa bisa melawan sama sekali. Pada akhirnya dia harus berkahir dikurung seperti sekarang ini dan dibawa menuju ke tempat yang tidak dia ketahui.


Dalam keheningan di ruangan itu, Kera Hitam Petarung mengingat wajah Weng Lou dan memilih memejamkan matanya.


"Bocah, aku tidak peduli apa yang akan kau minta nantinya dariku, yang jelas kau harus membebaskanku dari sini."


**Catatan Penulis:


Author sudah selesai ujian, jadi bisa up lagi hehe**.

__ADS_1


__ADS_2