
Sementara itu, di pulau lainnya dalam wilayah Kepulauan Huwa.
Seorang pemuda berdiri dengan gagah di hadapan sebuah ombak raksasa yang tingginya cukup untuk meratakan tempat dia berdiri, yaitu rumahnya sendiri.
Pemuda itu menyipitkan matanya menatap ombak besar itu.
Dia menarik napas dalam, lalu membuangnya cukup panjang. Tangan kanannya tiba-tiba terangkat ke atas, dan bersamaan dengan itu, lebih dari seribu tiang dari logam berdiri di sekitarnya.
"Tembak!!" seru pemuda itu nyaring.
Tangan kanannya diayunkan. Seribu lebih tiang logam itu segera menghadap ke arah ombak besar, detik berikutnya, sebuah tembakan energi di lepaskan dari masing-masing tiang.
Tembakan energi itu langsung menghantam ombak besar.
*BOOOMMM!!!*
Ombak itu langsung dihancurkan. Air menetes ke segala arah. Wilayah di sekitar pemuda itu segera turun hujan deras, sebagai hasil dari ombak yang telah dihancurkan.
"Lapor, Ketua! Ombak besar lainnya akan datang dalam beberapa waktu tarikan napas! Pengisian ulang semua meriam sedang dalam proses. Diperkirakan meriam akan kembali terisi sebelum ombak memasuki jarak tembakan!"
Seorang pemuda lainnya terlihat memberikan laporan kepada pemuda yang memimpin tembakan energi sebelumnya.
Pemuda itu yang mendengar laporannya hanya mengangguk dengan tenang, dan menyuruhnya untuk pergi dan membantu orang-orang untuk mengisi ulang meriam.
Setelah pemuda itu pergi, pemuda yang memimpin itu sekali lagi menghela napasnya. Dia melihat keningnya yang terasa sakit.
"Sialan kau, Weng Lou! Seenaknya saja mengirimkan pesan darurat! Untung saja aku sudah sejak lama menyiapkan meriam-meriam ini! Jika tidak, Kota Rengu itu pasti sudah hancurkan sepenuhnya oleh ombak sebelumnya!" Choi mengumpat dalam hatinya.
Dia menoleh ke kanan dan kirinya. Banyak warga Kota Rengu yang sedang mengisi ulang meriam ciptaannya yang telah diproduksi secara masal.
Meriam itu adalah sebuah hadiah yang diberikan oleh Weng Lou sebagai hadiah perpisahan sebelum dirinya pergi beberapa tahun yang lalu.
Konsep awalnya adalah mengandalkan sebuah benda aneh yang menyerupai giok yang ditutupi oleh banyak ukiran pola-pola aneh yang mampu menyerap Tenaga Dalam alam di sekitarnya. Giok itu akan dimasukkan ke dalam meriam yang kemudian dengan berbagai macam mekanisme pada meriam, giok itu akan melepaskan seluruh Tenaga Dalam alam dalam waktu bersamaan yang kemudian menjadikannya sebuah serangan energi dengan daya ledak yang begitu menakutkan.
Tidak sulit untuk membuat meriam ini, yang menjadi tantangan bagi Choi adalah membuat giok yang bisa menyimpan Tenaga Dalam alam. Meski sudah dibekali dengan beberapa catatan yang diberikan oleh Weng Lou, dia tetap membutuhkan waktu beberapa bulan untuk menyelesaikan satu buah giok.
Tak berapa lama setelahnya, dia berhasil menyelesaikan satu set meriam. Choi langsung melakukan uji coba terhadap meriam itu dan disaksikan oleh seluruh penduduk Kota Rengu.
Hasilnya, kekuatan dari satu serangan tunggal meriam itu mampu meledakkan sebuah batu karang yang terkenal karena kekerasannya. Karena kekuatan meriam tersebut, akhirnya orang-orang di Kota Rengu mulai menawarkan pada Choi untuk membuatnya secara masal dan menjadikannya sebagai senjata di Kota Rengu yang bisa dipakai kapanpun jika seandainya terjadi masalah yang tidak diinginkan.
Juga, meriam itu akan digunakan untuk mengancam dan menakut-nakuti para Praktisi Beladiri pendatang yang bersikap kurang ajar di dalam Kota Rengu. Jika ada dari para Praktisi Beladiri pendatang yang melakukan sesuatu yang menyingung salah satu penduduk kota, meriam akan dikeluarkan. Praktisi Beladiri yang membuat masalah itu akan langsung diusir saat itu juga dan dilarang lagi memasuki kota.
Jika seandainya dia berani nekat memasuki kota lagi, maka meriam akan benar-benar ditembakkan padanya.
Namun nyatanya, selama beberapa tahun ini, meriam itu nyaris tidak pernah dipakai.
Mungkin setiap tahun, meriam-meriam itu hanya dikeluarkan beberapa kali, tapi sama sekali tidak pernah ditembakkan. Satu-satunya momen dimana semua meriam ini dipakai adalah satu tahun setelah kepergian Weng Lou.
__ADS_1
Serangan dari sebuah kelompok Praktisi Beladiri dilakukan terhadap Kota Rengu. Mereka adalah para Praktisi Beladiri yang kalah dalam pertempuran yang memperebutkan wilayah masing-masing. Hasilnya para Praktisi Beladiri yang kalah itu, mencoba untuk menyerang dan mengambil alih Kota Rengu.
Sayang bagi mereka, sebelum mereka bahkan sempat untuk menginjakkan kaki ke dal Kota Rengu, mereka semua sudah lebih dulu terbunuh oleh meriam-meriam ciptaan Choi dan para penduduk Kota Rengu. Waktu itu meriam itu baru ada lima puluh buah, namun itu sudah cukup untuk membungkam semua orang yang berniat buruk terhadap Kota Rengu.
Setelah beberapa tahun kemudian, meriam-meriam ini akhirnya bisa terpakai sekali lagi. Tapi kali ini bukan untuk mengancam atau menyerang para Praktisi Beladiri tidak tau diri dari luar Kota Rengu, melainkan untuk menghancurkan ombak-ombak besar yang datang untuk memusnahkan Kota Rengu.
"Ah.....jika saja ayah masih ada di sini," gumam Choi.
Ayahnya setahun yang lalu melakukan perjalanan untuk berobat. Sakit yang dideritanya selama bertahun-tahun akhirnya berhasil meruntuhkan daya tahan tubuhnya.
Dia kini tidak lebih dari seorang pria tua yang terus berbaring di atas kasurnya tiap hari. Choi ingin menemaninya ketika dia hendak pergi berobat, namun ayahnya memberinya sebuah tugas yang sangat penting, yaitu menjaga bengkel mereka dan melindungi Kota Rengu.
Choi tidak memiliki alasan untuk menolaknya. Lagipula, orang-orang di Kota Rengu juga telah mengakuinya sebagai penemu nomor satu di kota, dan senjata yang dia buat, telah terbukti mampu melindungi mereka semua.
"Ku harap semua masalah ini bisa diselesaikan secepat mungkin. Orang itu......entah seberapa kuat dia sekarang. Ombak sebesar itu disebabkan oleh dampak pertarungan yang dia lakukan dengan seseorang, sungguh di luar akal sehat manusia. Bahkan untuk seorang jenius seperti ku, semua ini butuh dicerna lebih jauh."
Beberapa menit kemudian, ombak besar lainnya terlihat di kejauhan.
Orang-orang di Kota Rengu termangu di tempat mereka saat melihat ombak itu. Pasalnya, ombak itu ternyata memiliki ketinggian setengah kali lebih tinggi dari ombak yang sebelumnya.
Cahaya matahari terhalang oleh ketinggiannya, dan menyebabkan Kota Rengu tampak seperti di malam hari.
"Semuanya! Persiapkan meriam!!" Choi memberi perintah sambil berteriak nyaring.
Suaranya bisa didengar oleh semua orang di kota, semua item berkat sebuah alat ciptaannya yang lain, yang berupa corong dengan kemampuan membesarkan suara.
Jarak ombak besar itu masih tiga ratus meter jauhnya dari Kota Rengu, namun semakin dekat ombak itu, semakin tinggi pula ombak itu terlihat oleh orang-orang di dalam kota.
Menyaksikan hal ini, banyak orang mulai berkeringat dingin.
Semua orang tau apa yang akan terjadi jika ombak itu menghantam Kota Rengu. Seluruh kota akan hancur, bahkan mungkin rubuh dan jatuh ke laut.
Choi di sisi lain tampak tetap tenang, meski dalam dirinya, dia juga gelisah. Jantungnya bahkan berdetak dengan sangat cepat. Namun, sebagai pemimpin, dia harus menunjukkan sikap selayaknya pemimpin.
Dengan gagah berani, dia mengangkat tangannya, lalu kemudian mengayunkannya ke bawah.
"TEMBAAAKKKKKK!!!!!!"
Bersamaan dengan seruannya, semua orang yang memiliki meriam bersamanya, segera memicu pemantik pada meriam, dan menembakkannya pada ombak besar tersebut.
*BOM!!! BOOMMM!!! BOOOMMMMM!!!!*
Satu persatu tembakan meriam dilepaskan dan menghantam ombak besar.
Ledakan dari tembakan masing-masing meriam tampak seperti sebuah batu besar yang dilemparkan pada sebuah danau.
Jika hanya satu saja, maka batu tidak akan menimbulkan riak yang terlalu besar, atau cipratan yang mengguncang seisi danau. Namun bagaimana jika jumlah batunya ada ribuan? Seluruh danau akan benar-benar terguncang.
__ADS_1
Tidak ada bagian yang tenang, semua riak akan muncul, dan begitu juga yang terjadi pada ombak yang menuju Kota Rengu.
Puluhan tembakan meriam pada awalnya hanya menyebabkan beberapa bagian pada ombak hancur, tapi kemudian, saat tembakan lainnya tiba, ombak itu benar-benar diporakporandakan dan hancur hingga tak lagi membahayakan Kota Rengu.
Sisa ombak yang tidak bisa dihancurkan, hanya menghantam bagian bawah Kota Rengu, tanpa bisa mengakibatkan kerusakan apapun.
Tiang-tiang penyangga di bawah Kota Rengu merupakan tiang yang terbentuk dari kayu dan logam-logam yang kokoh dan kuat. Ombak seperti itulah tidak akan membahayakan kota sama sekali.
Di dalam kota, orang-orang tampak bersorak riang saat ombak itu berhasil dihancurkan.
Beberapa orang tampak saling berpelukan satu sama lain, beberapa tampak menangis haru. Bahkan ada seseorang yang berteriak sejadi-jadinya karena kegirangan.
Sementara itu, Choi di posisinya tampak menghela napas panjang. Dia bisa merasakan seluruh tubuhnya basah oleh keringat dan tetesan air dari ombak yang telah dihancurkan oleh meriam.
Akan tetapi, semua kebahagiaan itu segera sirna, saat Choi menatap sesuatu di kejauhan yang tampak sangat familier di matanya.
Teropong di sampingnya segera diambil dan ditempatkan di depan mata kanannya.
Dia menerawang jauh. Sesuatu seperti sebuah tembok besar terlihat di kejauhan. Teropong pada awalnya tidak bisa fokus melihatnya. Choi dengan cepat mengaturnya dan melihat dengannya kembali.
Kali ini, wajahnya segera menegang. Tanpa sadar, teropong di tangannya terjatuh dan dia terduduk di atas tanah dengan mulut menganga tak percaya.
Napasnya menjadi berat, dan kesadarannya seperti akan menghilang.
Apa yang dia lihat dengan teropongnya adalah sebuah tembok yang sangat tinggi dan panjang. Saking panjangnya, Choi tidak yakin di mana ujungnya.
Sayangnya, itu bukanlah tembok sungguhan, melainkan ombak besar lainnya. Itu adalah sebuah ombak yang berkali-kali lebih besar dari yang mereka hancurkan sebelumnya. Bahkan Choi termangu karena besarnya.
Hilang sudah sikap kepemimpinan yang dia tampilkan. Kini hanya ada rasa pesimis dalam dirinya.
Bayang-bayang kehancuran seluruh Kota Rengu muncul dalam benaknya. Dia mulai putus asa di tempatnya.
Saat dia terduduk tak tau harus berbuat apa, dia teringat dengan pesan yang dikirimkan oleh Weng Lou padanya. Hal ini membuatnya kembali tersadar.
Dengan cepat, dia bangkit kembali berdiri dan memberi perintah sekali lagi pada semua orang dalam kota.
"SEMUANYA!!!!! CEPAT ISI KEMBALI MERIAM!!!!! ISI SECEPAT MUNGKIN!!!! AKU ULANGI, ISI MERIAM SECEPAT MUNGKIN!!!!! OMBAK LAINNYA AKAN SEGERA DATANG!!!!!!"
Seruannya membuat semua orang yang sedang berbagi kebahagiaan, kini mulai menatapnya dengan bingung.
Dalam kebingungan itu, mereka satu persatu menoleh ke laut jauh. Sama seperti Choi, mereka juga melihat tembok besar di kejauhan yang sepertinya semakin waktu semakin tinggi.
Saat itulah, salah satu dari mereka tersadar, bahwa itu bukan tembok, melainkan ombak besar yang lain. Sebuah ombak yang besarnya berkali-kali lipat.
"APA YANG KALIAN SEDANG LAKUKAN?!!!! CEPAT ISI ULANG MERIAMNYA!!!!!" Choi kembali berseru, menyadarkan semua orang yang berdiri terdiam.
Dengan terburu-buru, mereka mulai mengisi ulang meriam.
__ADS_1
Rasa panik muncul dal hari mereka. Tangan mereka dengan cepat bergerak mengisi giok dengan Tenaga Dalam alam. Mereka melakukan secepat yang mereka bisa sambil dibayangi oleh bayangan kematian yang sudah berada di depan mata.