Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 527. Meninggalkan Pulau Fanrong


__ADS_3

'Apa yang baru saja anak ini katakan? Majikanku? Kau masih bisa bercanda di hadapanku?'


Ketua Perguruan Iblis Merah tampak tidak habis pikir saat mendengarkan jawaban Weng Lou. Tidak hanya dia tidak menghormatinya, tetapi dia juga seolah tidak takut akan dirinya yang merupakan seorang Praktisi Beladiri terkuat di Kepulauan Huwa. Kepulauan Huwa adalah daerah yang terdiri dari 6 buah pulau yang letaknya saling berdekatan, dan Hong Mugui, sang Ketua Perguruan Iblis Merah adalah Praktisi Beladiri terkuat di keenam pulau itu.


Apa yang dia inginkan, pasti dia dapatkan selama hal yang dia mau itu berada di daerah Kepulauan Huwa. Dengan kekuatannya, dia membangun cabang Perguruan Iblis Merah di keenam pulau, dan dalam bayangan mengendalikan pemerintahan di Kepulauan Huwa. Saat Shengshi Huangdi masih merupakan Kaisar, Mugui bisa meraup keuntungan besar dari tambang Logam Nadi Putih dan menjadikannya sangat kaya raya.


Akan tetapi, semuanya berubah setelah beberapa hari yang lalu ketika dia menerima kabar tentang seorang Praktisi Beladiri yang sangat kuat telah memporak-porandakan Kota Heishin dan juga cabang Perguruan Iblis Merah miliknya di kota itu. Dia tidak berpikir akan ada seorang Praktisi Beladiri tersembunyi di Pulau Fanrong, sehingga segera memerintahkan untuk para bawahannya yang belum bertemu sang Praktisi Beladiri tersebut untuk mundur karena belum bisa mempertimbangkan seberapa kuat Praktisi Beladiri tersebut.


Lalu, beberapa hari hari kemudian. Bawahan nomor 1 nya, yang merupakan orang yang ditugaskannya untuk melindungi Shengshi Huangdi tewas di tangan Praktisi Beladiri tersebut, namun setelah itu terdengar kabar kalau Praktisi Beladiri itu telah menghilang entah kemana.


Hong Mugui pun berpikir kalau Praktisi Beladiri tersebut pasti sedang terluka parah setelah selesai bertarung dengan bawahannya yang telah mencapai ranah Pembersihan Jiwa tahap 1 itu. Oleh sebab itu, dia pun secara pribadi datang ke sini untuk mengambil keuntungan dari terlukanya Praktisi Beladiri itu dengan mengambil kembali Kota Heishin dan Tambang Logam Nadi Putih yang telah dia lepaskan sebelumnya.


Tapi sekarang, seorang anak yang bahkan terlihat belum berusia 20 tahun telah secara lancangnya memanggil dirinya sebagai majikannya. Jika dia tidak menghabisi anak ini hari ini, maka dia bersumpah akan melakukan pembantaian besar-besaran.


"Kau.....apa kau cari mati, huh?" Suara Hong Mugui tampak menjadi sedingin es, dan semua napsu membunuhnya segera diarahkannya pada Weng Lou di bawahnya.


Menerima semua napsu membunuh itu, tubuh tanpa Tenaga Dalam, Qi, dan Kekuatan Jiwa Weng Lou sedikit bergetar, sebelum kembali stabil setelah tampak terbiasa dengan napsu membunuh yang diarahkan padanya.


"Hm? Bagaimana bisa?!" Ekspresi Mugui segera berubah. Dia menyadari keanehan pada diri Weng Lou itu.


Seharusnya, manusia biasa akan langsung pingsan, atau menggigil ketakutan begitu menerima napsu membunuh miliknya itu, tapi saat ini Weng Lou terlihat baik-baik saja dan bahkan senyum lebar bisa terlihat pada wajahnya. Senyum itu segera membuat Hong Mugui merasakan suatu bahaya besar dan dia pun langsung menyiagakan dirinya.


"Bukankah tidak sopan berbicara seperti itu pada majikan mu yang baru?" Weng Lou berbicara lembut dan sosoknya menjadi pudar di hadapan Hong Mugui.


Sedetik kemudian, sosok Weng Lou telah tiba di samping Mugui yang masih melayang di udara. Sinyal bahaya berbunyi dari sekujur tubuhnya, dan dia menatap dengan terkejut pada sosok Weng Lou yang muncul di sampingnya dan bersiap melakukan serangan padanya.


"Kecepatan ini?!" Dia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, dan buru-buru menciptakan sebuah pelindung dari Qi tingkat Pembersihan Jiwa miliknya.


*BANG!!!* Pelindung Qi nya langsung hancur berkeping-keping saat terkena tendangan dari kaki kanan Weng Lou.


Sosoknya pun melesat jatuh ke tanah dan menabrak keras pada tembok istana. "Khoack!"


Darah dimuntahkan keluar dari mulutnya, dan ekspresi terkejut berubah menjadi tatapan ketakutan. Hong Mugui saat ini terduduk di tanah dengan kondisi yang sangat menyedihkan dan dia menatap Weng Lou yang telah mendarat di hadapannya seperti menatap seekor monster yang sangat mengerikan. Dia belum pernah merasakan ketakutan sebesar ini sebelumnya.


"Tidak kusangka kau memiliki kekuatan Pembersihan Jiwa tahap 5, kau sepertinya baru-baru ini naik tingkat. Kontrol Qi mu cukup cepat, walau pondasinya sangat buruk sekali," komentar Weng Lou yang tampak tidak mempedulikan kondisi Hong Mugui saat ini.


"A-Aku....aku....to-tolong maafkan aku Tuan!" Dengan naluri bertahan hidupnya yang tinggi, Hong Mugui bisa tau seberapa besar perbedaan kekuatan yang dimiliki oleh pemuda di depannya ini dengan dirinya.


Jika satu tendangan tanpa Tenaga Dalam atau pun Qi dari Weng Lou bisa membuatnya dalam kondisi sekarang, lalu bagaimana jika dia memakainya? Dia akan mati dalam sekejap mata! Dia bersyukur bahwa Weng Lou sepertinya telah menahan diri dalam tendangannya barusan.


"Hehehe.... sepertinya kau cukup pintar untuk langsung mengetahui kondisi mu saat ini, bagus...bagus sekali," Weng Lou mengangguk-anggukan kepalanya.


Saat masih menganggukkan kepalanya, mendadak ekspresi wajah Weng Lou berubah, dan tangan kanannya segera menampar pada wajahnya sendiri.


*PLAK!* Suara tamparan keras itu menggema, dan membuat semua yang menyaksikannya menjadi kebingungan karena apa yang dilakukan oleh Weng Lou.


'Aku baru menyadarinya setelah sekian lama bersama Ye Lao, namun ternyata sikap dan sifat ku sudah jauh berubah, tidak seperti dulu. Baru berapa bulan aku dan Ye Lao bersama? Tapi sifatnya sudah berubah seratus delapan puluh derajat, tampaknya ada sifat negatif setelah aku bersama dengan Ye Lao yang aku tidak sadari sebelumnya.' Weng Lou tampak merenung setelah menampar dirinya sendiri.


'Mungkinkah....alasan Zhi Juan mengambil kembali Ye Lao adalah karena ini? Ah, tidak, jangan secepat itu mengambil kesimpulan, Weng Lou. Kau tau sudah melihat seberapa jahatnya pria itu, mana mungkin dia bersikap baik kepadamu.'


Mata Weng Lou kemudian kembali menatap Hong Mugui yang saat ini masih diam di atas tanah. Meski dia melihat apa yang Weng Lou lakukan sebelumnya dia tidak berani mengatakan apapun karena takut Weng Lou mungkin malah akan menghabisinya. Menyaksikan Weng Lou yang sekarang telah menatapnya kembali, Hong Mugui hanya bisa berdoa agar dia masih diberi kesempatan untuk hidup.


"Kau, kau bilang kau adalah Ketua Perguruan Iblis Merah, bukan?" Weng Lou mendadak bertanya pada Hong Mugui.


"Be-Benar Tuan ku! Saya adalah Ketua dari Perguruan Iblis Merah di Kepulauan Huwa ini...." jawab Mugui dengan hormat bercampur ketakutan.


"Kepulauan Huwa?" Weng Lou tampak bingung mendengar itu.


"Iya, Tuan ku. Kepulauan Huwa adalah wilayah yang meliputi enam buah pulau yang saling berdekatan, dan Pulau Fanrong adalah salah satu dari enam pulau tersebut." Hong Mugui menjelaskan secara sederhana agar Weng Lou bisa mudah memahaminya.


Mata Weng Lou berkedip, dia seperti baru saja mengarkan sesuatu yang tidak bisa dipercayai nya.


"Maksudmu..... Perguruan Iblis Merah mu itu menguasai enam pulau yang besarnya sama?" Tampak ketidakpercayaan dalam kata-kata Weng Lou itu.


Bukan karena dia tidak percaya ada seseorang yang bisa melakukan sesuatu seperti itu. Ketika masih berada di ruang bawah tanah, dia melihat cerita tentang kekaisaran yang menguasai banyak pulau termasuk Pulau Fanrong, sehingga dia akan percaya jika mendengar ada sebuah kelompok yang bisa menguasai beberapa pulau.


Tapi yang tidak bisa dia percaya adalah, dengan kekuatan yang hanya berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 5, Hong Mugui bisa menguasai 6 pulau yang berbeda! Apakah tidak ada orang lain yang lebih kuat darinya diantara 5 pulau lainnya sampai-sampai Hong Mugui bisa menguasai Kepulauan Huwa?


"Be-Benar Tuan! Saya tidak berbohong! Dengan kekuatan saya, dan Perguruan Iblis Merah yang saya pimpin, saya telah menguasai Kepulauan Huwa dan tidak ada yang lebih kuat dari saya!" Tapi wajah Hong Mugui segera berubah pucat saat menyadari kata-kata yang dia baru saja ucapkan.


"Tapi tentunya anda adalah Yang Terkuat, Tuan ku! Saya tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan besar anda!" sambungnya dengan cepat.


Weng Lou sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, dan malah terpaku pada hal yang lain.


'Aku tidak tau posisi ku saat ini berada sejauh mena dari Pulau Pasir Hitam. Sebaiknya aku memperkuat diriku terlebih dahulu sebelum pulang kembali. Tetapi perkembangan ku tidak akan bisa berjalan lancar jika tidak menemukan lawan yang lebih kuat dariku. Pak tua ini mengatakan kalau dia yang terkuat di Kepulauan Huwa ini, berarti aku harus keluar dari kepulauan ini untuk mencari yang lebih kuat dariku,' pikir Weng Lou.


"Kau, berapa waktu yang kau butuhkan untuk sampai di Pulau Fanrong dari tempat mu sebelumnya?"


"Lapor Tuan, aku membutuhkan waktu kurang lebih enam hari dengan menaiki kapal layar dari Pulau Gui yang ada di barat Pulau Fanrong." Hong Mugui segera menjawab.


'Enam hari, seharusnya itu waktu yang cukup singkat. Sepertinya aku tidak butuh waktu yang lama untuk keluar dari sini."

__ADS_1


"Baiklah, sekarang beritahu aku nama mu."


"Nama saya adalah Hong Mugui, Tuan! Kedua orang tua saya yang memberinama saya demikian!"


"Baik, Mugui. Karena aku adalah Tuan mu, maka aku memerintahkan mu untuk membawaku ke Markas Pusat dari Perguruan Iblis Merah milik mu itu."


"Baiklah, Tuan! Saya akan membawa anda menuju Pulau Gui, lokasi markas Perguruan Iblis Merah kami."


"Tapi tidak sekarang, aku perlu waktu sebentar. Kau bisa pergi ke pelabuhan lebih dulu dari ku. Aku akan menemui mu nanti," Weng Lou melambaikan tangannya dan melemparkan sebuah pil kepada Hong Mugui.


Dengan sigap Hong Mugui menangkap pil itu dan menatapnya kebingungan. "Apa ini, Tuan?"


"Telan saja, tidak perlu bertanya."


Mata Mugui menatap pil di tangannya. Dia dengan ragu memasukkan pil itu ke dalam mulutnya dan kemudian menelannya.


*Glek....* Sensasi hangat bisa dirasakannya, dan perlahan luka pada dirinya pun sembuh dalam sekejap mata.


"I-Ini!! Terima kasih banyak, Tuan!" Hong Mugui menunduk hormat pada Weng Lou dan kemudian segera melesat pergi dari situ.


Pil yang diberikan oleh Weng Lou adalah Pil penyembuh yang tersisa di bajunya sebelumnya. Dia selalu menyimpan beberapa pil penyembuh kualitas menengah di pakaiannya sebagai jaga-jaga jika terjadi sesuatu.


Dia sebelumnya berencana menggunakan pil itu untuk dirinya, namun karena dia sudah tidak memiliki Qi dan Tenaga Dalam lagi, dia tidak bisa meresap khasiat dari pil tersebut.


Setelah melihat sosok Hong Mugui yang melesat pergi, Weng Lou pun berbalik dan menatap para prajurit yang telah menonton semuanya dari awal hingga akhirnya. Mereka semua bingung karena Weng Lou tidak membunuh Hong Mugui dan malah melepaskannya.


"Kalian, cepat bereskan semua kekacauan ini. Mengenai yang terjadi tadi, anggap saja kalian tidak pernah melihatnya sama sekali, apa kalian mengerti?" Nada suara Weng Lou tampak mengancam. Para prajurit itu segera mengangguk mengerti dan buru-buru membereskan semua kerusakan yang sebelumnya dibuat oleh Hong Mugui.


Meski beberapa rekan mereka telah mati karena serangan Hong Mugui, mereka jauh lebih peduli pada nyawa mereka sendiri dibandingkan nyawa rekan mereka yang sudah mati. Lagi pula, tidak ada gunanya mendendam sesuatu yang tidak mungkin mereka bisa balasan.


Weng Lou mengangguk-angguk melihat semua prajurit itu, dan segera pergi meninggalkan tempat itu.


***


Di luar ibukota, pinggiran hutan.


Du Zhe terlihat sedang melakukan latihan fisiknya. Dia melakukan push up, dengan sebuah batu berukuran setengah dari tubuhnya yang berada di punggungnya.


Tanpa merasa keberatan, Du Zhe menggerakkan tangannya dan melakukan push up tanpa kesulitan sama sekali.


Pada saat ini, tidak jauh darinya, sosok Weng Lou muncul di hadapan Kera Hitam Petarung yang sedang berbaring menatap ke arah langit siang hari yang cerah dan biru.


"Kau benar-benar kehilangan semua kekuatan mu, heh? Kurasa itu adalah karma karena kau sudah melakukan banyak perbuatan jahat sebelumnya." Kera Hitam Petarung itu berbicara tanpa takut sedikitpun pada Weng Lou.


"Ugh!! Itu sakit!! Ampuni aku!"


"Hmp! Walau aku sudah tidak memiliki Qi dan Kekuatan Jiwa, tetapi dengan kekuatan fisikku ini sudah lebih dari cukup untuk memberimu pelajaran," cibir Weng Lou yang kemudian duduk dengan tenang di atas tubuh Kera Hitam Petarung.


Kera Hitam Petarung tidak membalas perkataan Weng Lou dan hanya diam menatap langit biru.


"Aku akan pergi meninggalkan pulau ini, aku tidak akan memaksamu ikut denganku. Aku tau kau menginginkan kebebasan seperti ini, tapi berharap kau mau ikut. Kau tau semua Qi dan Kekuatan Jiwa pada diriku sudah tidak ada lagi, satu-satunya kekuatan yang kupunya hanyalah kekuatan fisikku ini. Bahaya akan selalu mengintai ku, dan aku membutuhkan seseorang yang bisa menjaga Du Zhe selalu." Weng Lou merebahkan tubuhnya di atas Kera Hitam Petarung dan ikut menatap langit.


Kera Hitam Petarung diam sejenak sebelum tertawa ringan, "Hahaha.....Lalu? Kau sudah tau aku akan menghabiskan hidupku dengan bersantai, bukan? Kenapa kau tidak bertanya pada Kirin yang kau jinakkan itu? Dia terlihat lebih berguna daripadaku. Tidak hanya dia bisa melakukan serangan energi, dia bahkan bisa mengendalikan kekuatan unsur tanah. Kekuatannya jelas melampaui ku."


Meski tampak seperti merendahkan dirinya sendiri, namun Kera Hitam Petarung itu berbicara dengan tenang tanpa ada perubahan pada nada bicaranya.


"Hm? Maka kusimpulkan kau sudah bertemu dengannya saat aku sedang tidak ada." Weng Lou berbicara dengan nada tertarik.


"Hm....yah....itu bukanlah pertemuan yang cukup baik, tentunya. Tidak hanya dia yang memiliki kesombongan luar biasa, dia bahkan memiliki kepribadian yang benar-benar buruk. Kutebak dia belum mencapai usia dewasanya."


"Nah! Kau sendiri sudah mengatakan sendiri hal itu, dan kau masih menyarankan ku untuk mengajak nya?" Tubuh Weng Lou berbalik dan menatap wajah Kera Hitam Petarung itu dengan penuh harap.


"Apa-apaan dengan tatapan mata itu? Kita ini belum kenal begitu lama, dan kau menaruh rasa percaya padaku begitu tingginya? Apa kau tidak takut aku malah membunuh murid kesayangan mu itu?" Kera Hitam Petarung memutar matanya dan menutup wajah penuh harap Weng Lou dengan salah satu jari besarnya.


Mendengar itu, Weng Lou pun terkekeh, "Apakah seseorang yang mau meluangkan waktu untuk melatih seorang anak kecil, akan membunuh anak itu?"


"Cih, sudah kuduga kau tidak benar-benar kehilangan semua kemampuan mu. Kau sudah tidur selama 3 hari, tapi masih bisa mengetahui semua itu," cibir Kera Hitam Petarung.


"Tiga hari? Ahahaha....tidak kusangka aku tidur selama itu. Pantas saja badanku terasa sedikit kaku, mungkin aku harus memukul beberapa 'objek latihan' untuk merenggangkan tubuh ku ini," ucapnya dengan senyum penuh makna.


"Bajingan sialan! Hentikan itu! Baiklah! Aku akan ikut dengan mu, kau puas?"


"Bagus! Sekarang selesaikan persiapan mu, akan kupanggil kau begitu aku selesaikan urusan ku. Kita harus tiba di pelabuhan sebelum sore hari."


Weng Lou dengan wajah bahagia turun dari tubuh Kera Hitam Petarung itu dan berjalan pergi ke tempat Du Zhe sedang melakukan latihannya.


"Eh?! Tunggu, apa yang kau katakan?! Kita akan pergi hari ini?! Maksudmu benar-benar hari ini?!" Kera Hitam Petarung tampak terkejut dan tidak percaya.


"Segera selesaikan persiapan yang kau butuhkan! Aku akan memanggil tak lama lagi!" Tangan Weng Lou dilambaikannya dan bahkan tidak berbalik untuk melihat Kera Hitam Petarung itu.


"Bajingan ini, dia benar-benar serius akan pergi hari ini?! Aku- aahhh....sudah lah." Dengan sedikit rasa jengkel yang masih mengganjal di hatinya, Kera Hitam Petarung itu pun bangkit berdiri dan segera pergi ke dalam hutan untuk melakukan persiapan sesuai dengan arahan dari Weng Lou.

__ADS_1


Di sisi lain, Weng Lou yang sedang berjalan ke arah Du Zhe sengaja melangkah agak kasar agar bisa didengar oleh Du Zhe.


Du Zhe saat ini sedang latihan menarik batu besar yang ukurannya jauh melebihi besar tubuhnya. Dia segera menoleh saat mendengar langkah kaki seseorang dan melihat sosok Weng Lou dengan terkejut bercampur bahagia.


"Guru! Kaus udah bangun!" Dengan cekatan Du Zhe melepaskan tali tambang yang diikatkannya pada tubuhnya yang tersambung pada batu besar yang dia tarik lalu bergegas kebarah Weng Lou.


'Anak ini, terlepas dari minimnya didikan yang kuberikan padanya, perkembangannya sudah termasuk sangat cepat. Jika seandainya beberapa hari yang lalu aku bisa terus melatihnya, dia seharusnya bisa menguasai beberapa teknik beladiri jenis serangan,' pikir Weng Lou.


Saat Du Zhe sampai di depannya, dia menepuk pundak muridnya itu dan berbicara padanya, "Du Zhe, sepertinya kau akhir-akhir ini sibuk melakukan latihan fisik."


"En! Benar, Guru! Karena diriku yang tidak kompeten, aku tidak bisa mempraktekkan satu teknik serangan pun dari kitab teknik beladiri yang kau berikan padaku! Jadi aku berpikir untuk menguatkan pondasi tubuhku terlebih dahulu, sebelum mencoba mempraktekkannya lagi." Du Zhe mengelus hidungnya dan tampak malu pada dirinya.


'Dia bahkan tidak mau menyalahkan ku, sebagai Gurunya karena tidak membimbingnya dengan benar. Benar-benar murid idaman sejati! Walau umurku masih sangat muda, tetapi entah mengapa hatiku benar-benar bahagia mendapatkannya sebagai muridku. Benar! Aku harus membimbing dan melatihnya dengan segenap jiwa dan ragaku, sebagai Guru yang baik aku harus melakukan itu!' Sebuah tekad membara muncul di dalam hati Weng Lou.


"Itu bagus, walau menguasai teknik beladiri itu adalah hal yang bagus, tapi itu percuma jika seorang Praktisi Beladiri tidak memiliki kekuatan fisik yang menjadi landasan utama kekuatannya. Latihan yang kau lakukan sudah benar, aku sebagai gurumu bangga dengan yang sudah kau lakukan selama beberapa hari ini." Weng Lou mengelus kepala Du Zhe dengan senyum kecilnya.


"Tapi kau harus menghentikan latihan mu hari ini, kita akan pergi ke Pulau Gui dan kau harus mengemasi barang-barang mu," lanjutnya.


"Pergi ke Pulau Gui?! Benarkah itu Guru?!"


"Tentu saja. Kita akan pergi hari ini juga, jadi kau harus segera menyelesaikan persiapan yang kau butuhkan. Jika ada yang kau butuhkan katakan saja padaku."


"Hari ini?! Baiklah Guru! Aku akan mengemasi barang-barang ku sekarang!"


Du Zhe dengan wajah senangnya berlari kembali ke kota, sementara Weng Lou yang masih ditempatnya menatap punggungnya yang menghilang di kejauhan sambil tertawa lepas.


"Terlepas dari pengalaman ku, aku masihlah anak-anak. Berpergian keluar pulau? Aku bahkan belum pernah melakukannya sebelumnya. Jika bukan karena teleportasi waktu itu, aku tidak mungkin keluar dari Pulau Pasir Hitam dalam waktu secept itu."


Setelah selesai memberitahu Du Zhe, Weng Lou pun juga segera kembali ke istana. Dia sengaja tidak mengajak Du Zhe sebelumnya karena berpikir Du Zhe bisa memakai ini sebagai bentuk latihannya. Setidaknya dia bisa melatih sedikit stamina yang dimilikinya.


***


Sore hari, di Utara Pulau Fanrong. Wilayah daratan yang dimana banyak tebing-tebing yang curam di setiap garis pantainya ini menjadi salah satu dari dserah yang dijadikan sebagai salah satu dari empat pelabuhan utama Kekaisaran Fanrong.


Pelabuhan yang megah dibangun di atas sebuah batu karang yang sangat besar dan kokoh. Terdapat beberapa kapal besar yang terlihat sedang belabuh di pelabuhan tersebut, dan tidak juga beberapa kapal yang lebih kecil yang sepertinya adalah kapal-kapal pribadi milik para bangsawan.


Para buruh kapal sibuk mengangkut barang-barang dan menaikkan ke atas kapal. Beberapa orang yang merupakan penumpang berlalu-lalang berebut naik kenatas kapal.


"Perhatian!! Kapal akan berangkat sebentar lagi! Para penumpang yang masih berada di bawah diminta untuk segera naik!" Seruan seorang pria bertubuh kekar menggema dari salah satu kapal-kapal besar.


Mendengar suara pria itu, para penumpang dan buruh kapal mempercepat gerakan mereka, dan dalam waktu tak sampai sepuluh menit, mereka semua sudah naik ke atas kapal, dan barang-barang telah selesai naikkan oleh para buruh kapal.


"Perhatian!! Kapal akan berlayar! Bagi para buruh dan yang bukan penumpang, diharapkan untuk segera turun! Aku ulangi, kapal akan berlayar! Bagi para buruh dan mereka yang bukan penumpang, diharapkan untuk segera turun!!" Suara pria yang sebelumnya kini kembali terdengar.


Segera, satu persatu papan yang dijadikan sebagai jembatan pada kapal di lepaskan.


*Trang!!! Taanngg!!!* Sebuah bel besar pada kapal tersebut berbunyi dan kemudian semua layar diturunkan. Angin berhembus dan meniup layar-layar kapal, membuat kapal itu bergerak maju.


Kapal layar yang besar dan kokoh itu mulai berlayar memasuki lautan lepas dan menghilang dari pelabuhan di lautan.


Di atas dek kapal, seorang pemuda sedang sibuk menikmati matahari sore yang sebentar lagi akan terbenam bersama dengan seorang bocah laki-laki yang lebih muda darinya.


Weng Lou menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Udara laut yg dingin membuat rasa kantuknya menghilang seketika. Di sisi lain, Du Zhe sibuk memperhatikan beberapa camar yang terlihat sedang terjun ke dalam air dan menangkap ikan langsung di paruh mereka.


"Guru! Guru! Lihat! Camar itu berhasil menangkap tiga ikan sekaligus!" Du Zhe berseru dengan bersemangat sambil menunjuk-nunjuk seekor camar di kejauhan.


Dimata orang-orang biasa, apa yang ditunjuk oleh Du Zhe hanyalah sebuah titik hitam yang bergerak-gerak di kejauhan, namun bagi Du Zhe yang telah berhasil mempraktekkan Teknik Mata Elang pemberian Weng Lou, dia bisa melihat dengan jelas titik hitam itu sebagai seekor camar yang membawa tiga ekor ikan di paruhnya.


Weng Lou tertawa getir dan mengelus kepala muridnya itu.


"Kau sepertinya sangat senang sekali, Du Zhe. Apa ini pertama kalinya bagimu naik kapal seperti ini?" Weng Lou bertanya pada Du Zhe.


"Iya, Guru! Ini pertama kalinya bagiku menaiki kapal layar yang melintasi laut! Sebelumnya aku pernah naik kapal bersama orang tua ku, tapi hanya melewati sungai yang tidak terlalu lebar di Pulau Fanrong! Bagaimana denganmu Guru? Pasti Guru sudah sering menaiki yang seperti ini bukan?" Du Zhe tersenyum lebar saat menjawab pertanyaan Weng Lou itu.


"Aku...." Weng Lou tersenyum masam, tidak bisa menjawab pertanyaan muridnya itu. Dia tidak mungkin mengatakan ini juga pertama kalinya pada muridnya itu, mau ditaruh dimana mukanya?


Ketika Weng Lou masih mencari jawaban, sosok pria tua berjalan ke arah mereka berdua dan mendeham pelan, "Ehm....Tuan. Kamar sudah disiapkan, anda bisa beristirahat dengan murid anda jika anda mau. Untuk makan malam, sebentar lagi akan selesai dimasak, saya akan memanggil anda lagi jika sudah selesai." Hong Mugui berbicara dengan hormat kepada Weng Lou tanpa berani mengangkat kepalanya sama sekali.


"En. Aku akan masuk ke kamar setelah makan malam, bagaimana dengan mu, Du Zhe?"


"Aku masih mau melihat-lihat, Guru!"


"Baiklah. Kau bisa pergi Mugui, kami akan mencari ruang makan sendiri."


"Saya mengerti, Tuan."


Hong Mugui pun segera pergi dari situ, sementara Weng Lou telah kembali menatap matahari yang kini telah setengah tenggelam di lautan.


"Pulau Gui....hahaha. Semoga ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan."


***

__ADS_1


Words: 3514


__ADS_2