Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 544. Keluar


__ADS_3

"Aku penasaran kenapa paus itu tidak mengejar kami lagi, tapi sekarang aku tau mengapa alasannya," ucap Weng Lou sambil mendengus di hadapan sebuah tentakel besar yang menjalar naik ke atas kapal.


*Syaatt!!!* Pedang Weng Lou memotong menebas tentakel itu, namun sebuah lendir yang sangat licin membuatnya tidak bisa melukai kulit tentakel itu sedikitpun.


Weng Lou mendecakkan lidahnya, saat kemudian memukul dengan keras tentakel itu hingga membuatnya terhempas menjauh dan masuk kembali ke dalam laut. Akan tetapi, tak berselang lama, lebih banyak tentakel yang naik ke atas kapal dan membuat Weng Lou mengumpat dengan jengkel.


Saat ini, mereka hanya tinggal berjarak beberapa kilometer lagi sampai keluar dari wilayah Lautan Mati, namun secara mendadak gerakan kapal uap kelompok mereka terhenti begitu saja, padahal mesinnya masih menyala dan juga baling-baling kapal masih berputar dengan cepat.


Tak berapa lama, penyebabnya pun muncul yang tidak lain adalah tentakel-tentakel yang saat ini sedang menjalar naik ke atas kapal.


*NYIIIIT!!!* Pada bagian tepi kapal, salah satu tentakel yang tidak disadari oleh Weng Lou saat ini sedang meremukkan pinggiran kapal dan membuatnya dengan cepat bergerak dan menendang dengan marah tentakel tersebut.


"Entahlah, dasar lendir bau!" Kaki Weng Lou bergerak cepat menendang ke arah tentakel besar tersebut, namun kemudian sebelum kakinya bisa mengenai tentakel tersebut, tentakel itu sudah lebih dulu melilit kakinya dan mengangkat tinggi tubuhnya ke udara.


"Tertangkap kau!" Sebuah suara yang sangat dalam menggema dari bawah kapal, dan kemudian tubuh Weng Lou dengan cepat di tarik ke dalam air.


*Plashh!!!* Weng Lou hanya sempat menarik napas sedikit sebelum dirinya di bawa ke bawah kapal dan berhadapan sosok pemilik tentakel-tentakel yang menyerang kapalnya. Itu adalah seekor gurita berkulit merah kecoklatan dengan kedua matanya yang berwarna merah terang dan memancarkan napsu membunuh yang sangat kuat kepada Weng Lou.


Tatapan matanya pada Weng Lou seakan dia sedang menatap seorang musuh bebuyutannya dan dia meraung dengan marah kepada Weng Lou, "Dimana ****** itu?!!!! Cepat katakan padaku!!" Seruan dari gurita itu membuat Weng Lou mengerutkan keningnya dan mulai memutar kedua matanya.


Dia sedang berada di dalam air, dan gurita besar ini malah menuntut jawaban kepadanya? Manusia mana yang bisa menjawabnya di dalam air seperti ini? Kecuali dia memiliki Tenaga Dalam, Qi atau Kekuatan Jiwa, maka mustahil melakukannya. Dan yang paling penting, pertanyaan yang diajukan oleh gurita tersebut sudah ditanyakan oleh dua binatang buas yang lain yang telah dilawan Weng Lou sebelumnya.


Tangan Weng Lou dengan cepat menusuk tentakel yang melilit kakinya. Tentakel itu melepaskan kakinya begitu saja, lalu dengan cepat dia pun berenang naik ke permukaan.


"HAAA!!" Weng Lou segera menarik napas dalam dan dia segera berenang ke arah kapalnya. Tubuh fisiknya yang luar biasa, membuat dia mampu mencapai kapal kurang dari dua puluh detik. Dia memanfaatkan pedangnya untuk naik kembali ke kapal sebelum kemudian dia menatap sebuah tentakel yang lebih besar sudah ikut naik ke atas kapal dan mengejarnya.


"Ck! Dasar keras kepala! Sudah kukatakan sebelumnya! Aku tidak tau siapa yang kalian maksud! Tidak ada wanita di kapal ini! Sekarang pergi, dan jangan ganggu kami lagi!"


*Tap!* Tangan Weng Lou memegang erat pedangnya yang telah di satukan, dan dia segera menghindar dari hantaman tentakel besar tersebut, sebelum kemudian dengan satu serangan menebas ke depan tentakel dan membuatnya menjadi bercabang dua.


"Arghh!!!! Dasar makhluk darat! Kau membuatku marah!!" Bersamaan dengan raungan marah itu, lebih dari tiga tentakel raksasa keluar dari dalam air dan siap ditabrakkan ke atas kapal.


Kata Weng Lou sedikit memancarkan cahaya melihat itu. Pedangnya segera kembali dilepaskan lalu sambungnya menggunakan kait khusus buatannya.


"Maaf saja!! Tapi kau juga membuatku marah!!"


*WHUSH!!!* Weng Lou memegang erat salah satu pedangnya, dan mengayunkan pedang lainnya yang terhubung menggunakan kait lalu memotong salah satu tentakel dengan sempurna sebelum berada di atas kapal.


"Masih belum!!!! Bawa pulang semua tentakel bau dan menjijikan mu ini ke sarang mu!!!"

__ADS_1


*SHASSHH!!! FHUSS!! TRACK!*


Seperti seorang tukang jagal, Weng Lou menggerakkan senjatanya dan memotong habis semua tentakel yang ada di atas geladak kapal dan membuat gurita itu semakin menjerit kesakitan serta harus terpaksa menarik kembali semua tentakelnya itu dan melepaskan lilitan tentakelnya pada kapal sehingga membuat kapal mereka bisa kembali bergerak.


Akan tetapi gurita itu tidak menyerah begitu saja. Sebelum kapal uap kelompok Weng Lou meninggalkannya di belakang, gurita itu menciptakan pusaran air yang menghisap benda apa saja di sekitarnya.


Kapal uap kelompok Weng Lou pada awalnya berada di ujung pusaran air tersebut, namun perbedaan kekuatan, kapal mereka lama kelamaan mulai tertarik ke belakang.


"Sial! Gurita itu benar-benar tidak tau kapan harus menyerah!" Pedang Weng Lou segera kembali disatukan dan dia mengubahnya menjadi bentuk busur.


Dia menempatkan tiga buah panah sekaligus ke busur itu lalu segera ditarik dan ditembakkannya ke arah pusat pusaran air tersebut yang mana merupakan tempat gurita itu berada. "Jangan menghambat kami, gurita bau!"


*Husss- PUSH!* Ketiga anak panah Weng Lou melesat dan mengenai ketiga titik pada tubuh gurita itu yang sontak membuat dia berhenti bergerak. Tiga titik yang diserang Weng Lou itu adalah tempat dimana jantung gurita itu berada, namun dari ketiga anak panahnya hanya 1 yang berhasil tepat sasaran. Tapi ini sudah cukup untuk menjadi pukulan keras bagi sang gurita dan pusaran air pun segera menghilang perlahan dengan berhentinya gurita itu.


"Terus pertahankan kecepatan kapal! Sedikit lagi kita akan keluar dari wilayah sialan ini!" Weng Lou berseru pada semua awak kapalnya, terutama Du Zhe yang sedang bertugas di ruangan mesin. Dia secara terus menerus memasukkan bahan bakar ke dalam mesin sehingga kapal mereka bisa terus bergerak tanpa henti dengan kecepatan stabil.


"Siapa bilang kalian boleh pergi! Beraninya kalian membunuh temanku!!!!"


Tatapan mata Weng Lou jatuh kepada sosok amat besar yang berenang di samping kapal yang tidak lain adalah paus yang sebelumnya menyerang mereka. Dengan tubuh besarnya, paus itu mendekatkan diri dengan kapal dan hendak menabrak untuk menghancurkannya hingga tak bersisa lagi.


Pada saat ini, Weng Lou mengkertakkan giginya dan berseru memanggil Kera Hitam Petarung, "Apa kau belum selesai?!"


Seruannya itu dibalas dengan terbukanya pintu di geladak kapal. Sosok Kera Hitam Petarung melompat keluar dengan wajah jengkelnya.


"Mustahil untuk menghindar, tubuhnya terlalu besar! Cara satu-satunya adalah menghentikannya sebelum menabrak kapal!" ucap Weng Lou yang tertekan. Kera Hitam Petarung sadar yang dikatakan Weng Lou benar dan mulai mengatakan rencananya pada Weng Lou, "Kalau begitu dukung aku dengan panah mu! Biar aku yang menghentikannya."


Kera Hitam Petarung sedikit membungkukkan tubuhnya, sebelum kemudian melompat tinggi ke arah sang paus besar itu. Weng Lou dibuat ternganga oleh tindakannya namun segera melakukan seperti yang dikatakan oleh Kera Hitam Petarung kepadanya.


Panah segera di tarik dari busurnya dan melesat menyerang paus itu. Meski anak panah Weng Lou berkurang tidak lebih panjang dari setengah meter, namun kekuatan dan kekuatannya benar-benar sebanding dengan sebuah serangan di ranah Penyatuan Jiwa tahap 1 puncak. Bahkan anak panahnya itu mampu menghancurkan karang hingga berkeping-keping.


Dengan kekuatan sebesar itu, kulit binatang buas seperi paus dihadapannya ini masih bisa tertembus dan sedikit melukainya, walau tidak terlalu dalam, namun setidaknya bisa mengalihkan perhatiannya sejenak.


"Khua! Dasar kurang ajar! Berhenti melemparkan mainan mu itu! Kemari dan lawan aku," seru paus itu dengan marah. Namun Weng Lou hanya tertawa mendengar itu, "Yang menjadi kawanku bukan aku, tapi dia!"


Bersamaan dengan kata-katanya itu, Kera Hitam Petarung sukses mendarat tepat di atas tubuh paus itu. Terlihat tubuh besar paus tersebut tidak bergeming sedikitpun dan bahkan sepertinya tidak terlalu mempedulikan keberadaan Kera Hitam Petarung. Dia tetap menuju ke arah kapal dan tidak melihat sesuatu di tangan Kera Hitam Petarung itu.


"Bukankah dia sudah mengatakannya padamu?! Lawanmu adalah aku!!" Kera Hitam Petarung itu berseru dan segera menghujamkan pisau di tangannya kepada kepala paus itu tapi malah mendapatkan cibiran enteng dari paus tersebut.


"Hmp! Dasar monyet daratan, kau pikir mainan mu itu bisa melukai aku? Kau salah besar jika berpikir seperti itu!"

__ADS_1


"Ohoho! Maka jangan salahkan aku!"


Kera Hitam Petarung memegang erat pisaunya, lalu kemudian berlari di atas tubuh paus itu sambil menyeret pisaunya yang masih menancap di tubuh paus itu. Luka panjang tercipta di atas tubuh paus itu karena tindakan Kera Hitam Petarung.


Dia tidak berhenti di situ saja, tepat ketika dia sampai di lubang hidung paus, pisau nya segera dicabut dan dia pun menusuk ke bagian dalam lubang tersebut sehingga membuat paus itu tersentak kaget sekaligus merasakan sakit yang mengerikan.


"Kau?! Sialan! Hentikan itu!" Kera Hitam Petarung tidak mendengarkan perkataannya dan dengan cepat masuk ke dalam lubang hidung paus itu, lalu menancapkannya di dindingnya.


*Sraaatttt!!!!!*


"OOOAAAA!!!!! BAJINGAN!!! AKU BILANG HENTIKAN ITU!!!!"


Paus tersebut dengan cepat membuang napasnya dan air dalam jumlah besar segera menyembur dari lubang hidungnya yang berada di atas tubuh paus itu.


Tubuh Kera Hitam Petarung langsung terdorong keluar dan dia kembali berada di luar lubang tersebut. Tapi seringai muncul pada wajahnya tersebut. Tangan berambutnya memutar pisau di tangannya, lalu segera berlari dan melompat bebas dari atas kepala paus tersebut.


Melihat tindakannya, Weng Lou segera bergegas pergi menuju ke ruangan kendali dan segera mengemudikan kapal. Dia memutar setir kemudi sehingga mendekati paus itu. Awak kapal yang ada di ruangan itu berteriak kaget dengan tindakan Weng Lou itu. Dia berpikir bahwa Weng Lou sudah gila karena malah mengarahkan kapal mereka ke paus besar yang sedang mengarah ke tempat mereka itu.


Pada saat ini, Kera Hitam Petarung yang baru saja melompat dari atas kepala paus segera menendang udara sekuat tenaga begitu tiba di depan mata paus tersebut. Dengan pisau di tangannya, dia pun menusuk tepat di tengah-tengah nata paus tersebut, dan segera mengoyaknya dengan kedua tangannya.


"KHAAA!!!!" Darah menyembur keluar dari mata paus itu dan mengalir seperti sebuah air terjun yang sangat deras. Weng Lou hanya bisa menatap dengan kasihan dari atas kapal saat menyaksikannya.


Baginya, nasib dari seekor binatang buas yang telah memiliki kecerdasan sama seperti kematian dari seorang manusia. Akan tetapi, dia tidak mau memberikan lebih dari rasa kasihan kepadanya, karena dia telah berani menyerang kelompoknya dan bahkan tanpa ragu berniat membunuhnya. Menurutnya, nasib yang didapat oleh paus ini adalah hal yang pantas dia dapat sebagai tebusan dari perbuatannya.


"Hahaha....sekarang kau sudah buta seutuhnya!" Kera Hitam Petarung itu tertawa mengejek dan segera melompat begitu kapal yang dikemudikan oleh Weng Lou melintas di bawahnya.


"Ayo pergi, dia tidak akan bisa mengikuti kita untuk sementara! Meski paus bisa berenang dengan bantuan pantulan suara dari gelombang yang dikeluarkan oleh mulutnya, tapi dengan luka yang baru dia dapat dia harus memulihkan diri terlebih dahulu dirinya sendiri!"


Weng Lou tidak menjawab dan segera memutar kembali setir di tangannya. Kapal mereka segera berlayar sesuai jalur awal, dan setelah beberapa menit mereka pun akhirnya berhasil keluar dari wilayah Lautan Mati.


Seakan sebuah beban besar terangkat dari pundaknya, Weng Lou menghela napas panjang dan menjatuhkan dirinya pada kuris di belakangnya namun tidak melepaskan pegangannya pada kemudi kapal. Sementara Kera Hitam Petarung terduduk di atas geladak, dan dia menatap ke langit gelap yang berbintang. Tepat ketika mereka keluar dari Lautan Mati cuaca berubah seratus delapan puluh derajat.


"Hentikan pekerjaan mu Du Zhe, yang lain juga. Kembali lah beristirahat. Perjalanan kita masih akan memakan waktu dua hari sampai tiba di pelabuhan perbatasan Kekaisaran Ryuan," ucap Weng Lou yang langsung membuat Du Zhe dan awak lain tersenyum bahagia. Tanpa memprotesnya, mereka semua segera pergi kembali untuk beristirahat. Du Zhe sedikit merasa tidak enak karena gurunya yang seharusnya paling lelah saat ini dan membutuhkan istirahat, namun dia mengarahkan mereka semua untuk beristirahat, sehingga dia merasa telah gagal menjadi murid yang baik.


Namun tubuhnya juga telah mencapai batasnya, begitu dia tiba di kamarnya, Du Zhe segera tertidur dengan pulas.


Weng Lou yang berada di ruangan kendali menghela napas sekali lagi. Suasana malam sangatlah tenang dan sepi membuat segala macam pemikiran tentang kejadian sebelumnya berlalu dengan cepat, dan dia bersyukur karena masih bisa selamat kali ini berkat Kera Hitam Petarung yang bersamanya.


Mata Weng Lou terpejam dan dia tersenyum tipis. Ini merupakan pengalaman berharga baginya, yang pasti bisa dia pakai di masa depan nantinya saat dia kembali harus mengarungi lautan luas seperti ini lagi.

__ADS_1


"He....hehehehe.....aku telah menambah bahan cerita baru yang akan kuceritakan pada Lingling dan Bingbing begitu aku pulang nanti..." Kepalanya disandarkannya pada sandaran kursi dan menarik napas dalam.


Petualangan ditempat baru akan dimulai, dan dia sudah tidak sabar untuk melihat tempat baru yang akan dia datangi.


__ADS_2