Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 447. Pertarungan Kedua Dimulai


__ADS_3

Kedua cakram milik Man Yue terus bergerak di udara, dan dengan gerakan cepat, Man Yue menangkap keduanya.


Dia kemudian menatap tubuh tak bernyawa Zhijia Mo yang kini terkapar di hadapannya.


Menarik napas pelan, dia pun mengangkat tangan kanannya ke atas, dan menghadap ke arah dimana Weng Lou dan yang lainnya berada.


Terlihat senyuman lebar darinya. Lin Mei, Weng Hua, dan Weng Ning melambaikan tangan mereka dan bersorak memanggil namanya.


"Hahahaha!!!! Itu pertarungan yang sangat singkat! Aku bahkan belum menghabiskan teh ju, astaga! Tapi tidak apa, karena kita telah mendapatkan pemenangnya di sini!


Berikan sorakan meriah untuk peserta kita yang telah berhasil mengalahkan lawannya dengan sangat cepat, Yue!!!"


Zu Zhang mengumumkan kemenangan Man Yue ke seluruh Arena Pertandingan dan membuat para penonton serta peserta yang sebelumnya masih terdiam tak percaya melihat kemenangannya, tersadar kembali.


Detik berikutnya mereka semua pun menyoraki namanya.


"Whooaahh!!!! Kau hebat sekali Yuee!!!"


"Yuueee!!!!"


"Kau telah membalaskan dendam ku, Yuee!!! Terima kasih banyak!!"


"Aahh!! Kau gadis yang sangat cantik, Yue! Menikahlah denganku!"


""Yue! Yue! Yue! Yue!!!""


Seluruh arena pun menjadi ricuh, sorak sorai dan teriakan semangat bergema di seluruh arena.


Tidak sedikit dari para penonton yang berseru itu menyerukan ucapan terima kasih mereka, karena Man Yue telah membunuh Zhijia Mo yang terkenal akan kejahatan dan kekejiannya dalam membunuh lawannya.


Banyak dari para penonton yang merupakan keluarga, teman, atau orang terdekat dari korban yang telah dibunuh oleh Zhijia Mo selama ini. Mereka datang kesini untuk melihat apakah ada orang yang sanggup untuk membalaskan dendam mereka, dan membunuh Zhijia Mo.


Dan Man Yue adalah orang yang mereka harapkan selama ini. Itu sebabnya mereka dengan lantang mengucapkan rasa terima kasih mereka pada Man Yue yang ada di lapangan arena.


Di sisi lain, Man Yue yang ada lapangan arena mulai berjalan ke arah sebuah lubang yang diciptakan oleh Zu Zhang pada pembatas yang dia buat sebelumnya.

__ADS_1


Dengan melangkah cepat, dia berjalan ke arah Lin Mei, Weng Hua, dan Weng Ning yang juga berjalan cepat ke arahnya. Keempatnya pun saling berpelukan begitu mereka saling bertemu.


"Kau hebat sekali, Yue!!" puji Lin Mei dengan bersemangat.


"Iya, kau benar! Kecepatan putaran cakram milikmu benar-benar gila, Yue! Itu bahkan bisa menembus pertahanan Qi milik Zhijia Mo yang telah berada di ranah Penyatuan Jiwa! Aku bahkan hampir lupa bernapas saat melihatnya!" Weng Hua ikut memujinya.


"Kau sudah berusaha sangat keras, Yue. Selamat atas kemenangan mu," ucap Weng Ning sambil tersenyum lembut padanya.


Tanpa disadari air mata Man Yue pun mengalir, dan sekali lagi mereka berempat saling berpelukan.


Tidak jauh dari mereka, Weng Lou, Weng Ying Luan, Weng Wan, dan juga Yang Guang menatap dengan aneh Lin Mei dan yang lainnya yang sedang berpelukan.


"Wanita memang aneh," ucap Weng Ying Luan seperti tidak ada rasa bersalah sama sekali.


"Yaa...aku sampai sekarang selalu tidak mengerti jalan pikiran mereka." Yang Guang ikut berkomentar.


"Kalian belum melihat waktu-waktu yang aku habiskan dengan Hua dan Ning di Kastil Keluarga Leluhur Weng. Tiap kali mereka mengobrol, selalu bukan masalah beladiri. Itu membuat ku jarang sekali mengobrol dengan mereka. Hanya jika ada maunya saja, baru mereka mau mengajakku berbicara," kata Weng Wan sambil menghela napasnya.


Di sisi lain, Weng Lou hanya diam mendengarkan keluh kesah mereka bertiga. Menggelengkan kepalanya, dia pun menatap Man Yue yang secara tidak sengaja juga menatapnya.


Weng Lou mengangguk padanya, dan mengacungkan jempolnya. Man Yue tersenyum semakin lebar melihat itu.


Kekuatan yang dia dapatkan saat ini sudah sangat jelas tidak lepas dari segala bantuan yang telah diberikan oleh Weng Lou padanya. Diantara mereka semua di kelompok Weng Lou, Man Yue jauh lebih akrab dengan Weng Lou.


Entah mengapa, dia merasa dirinya dan Weng Lou sudah lama saling kenal, sehingga setiap kali ada masalah dalam berlatih, Weng Lou lah orang pertama yang dia mintai saran, dan saran-saran yang dia berikan semuanya pasti selalu berguna menurutnya.


Oleh sebab itu, dia berterima kasih pada Weng Lou.


Zu Zhang yang berada di dalam kubah pembatas, tidak menunggu kelompok Weng Lou selesai mengucapkan selamat Man Yue untuk melanjutkan babak semifinal itu.


"Baiklah semuanya!!! Mari kita lanjut ke pertarungan kedua kita di babak semifinal ini!" Zu Zhang membuka suaranya.


Penonton yang sebelumnya ricuh pun kini telah diam satu persatu.


"Setelah pertarungan singkat di pertarungan pertama antara Zhijia Mo melawan juara kita, Yue, sekarang kita akan lanjut ke pertarungan yang akan lebih menegangkan! Inilah dia, dua peserta yang akan bertsrung selanjutnya!"

__ADS_1


Qi murni mulai keluar lagi dari tangan Zu Zhang yang kemudian membentuk bentuk persegi panjang di atas lapangan.


Seperti sebelumnya, dua nama peserta muncul pada Qi yang membentuk persegi panjang tersebut. Semua orang segera membaca dua nama tersebut untuk melihat siapa yang bertarung selanjutnya.


Yang Guang tersenyum melihat namanya adalah salah satu dari dua nama tersebut. Tanpa ragu dia segera berjalan maju, dan masuk ke dalam kubah persegi yang dibuat oleh Zu Zhang.


Seorang peserta lainnya juga berjalan masuk ke dalam kubah. Dia adalah seorang pria yang terlihat berusia sekitar pertengahan empat puluhan dengan sebuah kapak raksasa di tangannya. Pria ini merupakan salah satu orang yang ada dalam daftar sepuluh orang yang telah dibuat oleh Weng Lou sebelumnya.


Dengan langkah ringannya dia terus berjalan dan menyeret kapak raksasa nya.


Di dalam kubah, Yang Guang dan pria dengan kapak raksasa tersebut langsung mengambil tempat mereka masing-masing tanpa menunggu arahan dari Zu Zhang. Sementara Zu Zhang sendiri tampak tak mempermasalahkannya sama sekali.


"Sepertinya kalian sangat bersemangat, yah? Baguslah! Kalau begitu tanpa berlama-lama, aku akan memulai pertarungan kedua babak semifinal ini!" Zu Zhang berbicara dengan suara bersemangatnya yang biasa.


"Pertarungan kedua, Yang Guang melawan Xue Fu, dimulai!!" seru Zu Zhang dengan lantang.


Sedetik setelah pernyataan dimulainya pertarungan, sosok pria dengan kapak raksasa yang bernama Xue Fu itu sudah muncul di depan Yang Guang dengan kapak raksasa sudah diayunkan ke arah Yang Guang.


BAMMMM!!!! BRAACKKK!!!!


Kapak raksasa Xue Fu menghantam tanah tempat Yang Guang berdiri sebelumnya. Terlihat sebuah kawah besar tercipta dari hantaman kapak tersebut.


Beberapa meter dari situ, sosok Yang Guang muncul dan bersiul kagum melihat dampak dari serangan Xue Fu itu.


"Padahal senjata itu seharusnya sangat berat, tapi dia bisa mengayunkan nya secepat itu, benar-benar menarik!"


Yang Guang seperti baru saja mendapatkan mainan baru untuknya. Dengan senyuman di wajahnya, sosoknya pun menghilang, dan muncul kembali beberapa langkah di depan Xue Fu.


Sama seperti sebelumnya, Xue Fu kembali melayangkan serangan kapaknya pada Yang Guang, dan kembali dihindari olehnya dengan sangat mudah.


"Hei pak, kau sama sekali tidak ramah ternyata. Aku hanya ingin mencek berat kapak mu ini, apakah benar-benar berat seperti bentuknya," ucap Yang Guang yang mengetuk-ngetuk kapak raksasa milik Xue Fu.


Memasang wajah datar tanpa emosinya, Xue Fu kemudian menarik kapak miliknya itu dan menempatkannya di atas pundaknya. Sama sekali tidak terlihat Xue Fu yang kesulitan atau pun keberatan karena kapak raksasa miliknya.


"Yang Guang, atas nama Rumah Pil, hari ini aku akan mencabut nyawamu." Xue Fu berbicara dengan masih memasang wajah datarnya.

__ADS_1


Alis mata Yang Guang terangkat mendengarnya, dan dia pun tersenyum lebar.


"Coba saja jika bisa!"


__ADS_2