
Dari reaksi gadis itu, Weng Ying Luan sudah bisa menarik kesimpulan.
Sepertinya Sutra Laba-Laba Kaca tidak ada di tempat ini juga. Dia menghela napas kecewa. Tapi tetap memberitahu tiga bahan lainnya yang dia butuhkan kepada gadis itu.
Saat bahan kedua didengar oleh gadis tersebut, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sama. Lalu bahan yang ketiga, dan akhirnya yang keempat.
Setelah semua bahan disebutkan, reaksi dan ekspresi gadis itu tampak sama, dan hanya bisa direspon dengan kecewa oleh Weng Ying Luan.
Bahkan sekelas Paviliun Harta Karun tidak memiliki barang-barang itu, bagaimana caraku menemukannya di dalam kota ini? Weng Ying Luan mulai mempertanyakan keputusannya yang meminta Weng Lou untuk membuatkannya senjata.
Gadis di depan Ying Luan menyadari cara Ying Luan menatapnya dan membuatnya menelan ludah. Ini salahnya karena tidak memiliki pengetahuan yang luas sehingga membuat pelanggannya merasa mereka tidak memiliki barang yang dimaksud.
Sambil mengigit bibirnya, dia akhirnya membuat keputusan.
"Tuan, bisakah anda menunggu sebentar di sini. Saya akan menanyakan apakah bahan-bahan yang anda sebutkan itu ada di Paviliun Harta. Lagipula, saya hanya pelayan biasa, informasi bahan-bahan langka atau yang lebih berharga biasanya hanya diketahui oleh pengurus Paviliun Harta Karun kami di kota ini," jelas gadis itu.
Mendengar itu, Weng Ying Luan tampak berpikir sejenak. Dia kemudian mengangguk setuju.
Dengan cepat gadis pelayan itu pergi dan mencari pengurus Paviliun Harta Karun di lantai yang lebih tinggi. Tak berapa lama, akhirnya gadis itu kembali, namun kali ini dia didampingi oleh seorang pria yang mengenakan sebuah jubah merah mengkilat dan terlihat sangat mewah.
Dia berjalan dengan langkah kaki cepat, membuat gadis pelayan itu tertinggal di belakang pada akhirnya.
Kedua matanya terfokus pada Ying Luan saat dia berjalan ke arahnya. Dia memperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki Ying Luan dan tampak sedikit bingung.
"Apakah anda adalah orang yang menanyakan tentang Sutra Laba-Laba Kaca dan bahan-bahan lainnya kepada pekerja saya?" tanya pria itu.
Meski tampak berusia akhir empat puluhan, namun dia tampak berwibawa dan memiliki tatapan mata layaknya seorang bangsawan yang menatap orang-orang di kelas lebih bawah darinya.
Weng Ying Luan tidak mempermasalahkannya dan segera mengangguk sebagai jawaban.
"Sebelum aku mengatakan apakah kami memiliki empat barang yang kau inginkan, aku harus tau terlebih dahulu, apakah kau memiliki uang yang cukup untuk membeli salah satu bahan tersebut?" Pria itu kembali bertanya.
Jelas dari penampilan Weng Ying Luan, dia tidak percaya bahwa pemuda itu memiliki uang yang cukup untuk membeli bahkan salah satu dari keempat bahan yang dia tanyakan.
__ADS_1
Ini bukan salahnya, Weng Ying Luan memang tidak pernah memakai baju yang membuatnya terlihat sangat mencolok. Lagipula, dia memiliki sedikit trauma dengan penampilannya sendiri ketika dia mengingat kejadian di Kota Tiesha.
"Aku tidak yakin apakah uangku cukup untuk membeli keempatnya, tapi jika cuman satu saja, uangku lebih dari cukup," jawab Ying Luan.
Jawaban dari Ying Luan sama sekali tidak merubah tatapan pria itu padanya. Lebih mudah berbicara omong kosong daripada membuktikannya, itulah pikirnya.
"Tolong buktikan. Bahan yang paling murah yang anda minta adalah Sutra Laba-Laba Kaca ini, dan harganya paling murah lima puluh ribu koin emas. Meski harganya sangat mahal, tapi itu sepadan dengan daya tahan serta sangat ringan sehingga sering digunakan sebagai bahan pembuatan pakaian perang berkualitas tinggi yang setara dengan Senjata Spiritual tingkat 2. Jika anda memiliki barang yang setidaknya memiliki harga yang sama, itu akan dianggap cukup," jelas pria tersebut.
Tentu saja, dia tidak yakin apakah Weng Ying Luan memiliki barang dengan harga sebanyak lima puluh ribu koin emas. Uang sebanyak itu, akan cukup membeli sebuah Senjata Tingkat 7 yang hampir menyamai Senjata Spiritual.
Weng Ying Luan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan kemudian memeriksa isi cincin penyimpanannya yang di dalamnya terdapat enam kantung kulit yang berisikan koin emas.
Masing-masing kantung berisikan lebih dari tiga puluh ribu koin emas. Jika orang-orang yang memiliki pemikiran jahat melihatnya memegang uang sebanyak itu, maka dia akan menghadapi beberapa hal yang tidak dia inginkan.
"Em, bisakah kita masuk ke dalam ruangan mu atau apapun itu? Mengeluarkan uang sebanyak itu, aku takut tidak bisa mengeluarkannya di tempat seperti ini," ujar Ying Luan.
Meski dia yakin tidak ada orang bodoh yang akan mencoba mencuri darinya di dalam kota, tapi dia lebih suka menghindari masalah. Akan menyulitkan jika dia terlibat dalam masalah di saat-saat seperti ini.
Pria yang menjadi pengurus Paviliun Harta Karun di kota itu menatap Weng Ying Luan selama beberapa saat. Dia tidak tau Weng Ying Luan sedang berusaha menipunya atau tidak. Namun mengingat kota ini merupakan bagian luar dari Kediaman Keluarga Lin, maka jika Ying Luan nekat melakukan hal-hal yang tidak diinginkan dia akan dengan mudah diurus oleh para penjaga Kediaman Keluarga Lin.
Ruangannya tampak sangat sederhana, dengan hanya ada dua kursi dan satu meja. Dia mempersilahkan Weng Ying Luan untuk duduk di salah satu kursi, sedangkan dia duduk di kursi yang lain.
Begitu keduanya duduk. Weng Ying Luan langsung mengayunkan tangannya di atas meja dan dia kantung kulit yang ada di dalam cincinnya penyimpanannya pun menghilang dan muncul di atas meja.
Bunyi tumpukan koin emas bisa terdengar ketika dua kantung kulit itu mendarat di meja.
Dahi pria pengurus Paviliun Harta Karun itu mengernyit. Dia menatap bolak-balik antara Weng Ying Luan dan dia kantung kulit itu.
Dengan cepat dia memegang salah satu kantung, dan mengedarkan Qi nya. Dia menggunakan Qi nya untuk menghitung isi koin emas di dalam kantung di tangannya, dan napasnya segera berubah menjadi berat.
Tiga puluh ribu koin emas!!!
Dan itu hanya satu kantung kulit saja! Jika satunya saja berisikan tiga puluh ribu koin emas, lalu berapa banyak di kantung kedua?
__ADS_1
Dari yang dia lihat, besar kantung kedua sama dengan yang pertama, itu berarti isinya kurang lebih sama, yaitu tiga puluh ribu koin emas! Dua kantung kulit berisikan tiga puluh ribu koin emas, itu akan menjadi enam puluh ribu koin emas secara totalnya!
Menarik napas dalam-dalam, dia akhirnya kembali menatap pada Weng Ying Luan. Dia harus jujur, dia terlalu meremehkan Weng Ying Luan.
Ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Pasalnya, kebanyakan orang yang datang ke Paviliun Harta Karun berasal dari kelompok kekuatan besar di Daratan Utama dan datang sebagai perwakilan untuk membeli barang-barang dalam jumlah besar. Biasanya mereka adalah orang-orang penting, atau setidaknya orang berpengaruh di dalam kelompok itu.
Mereka akan mengenakan pakaian sebaik mungkin, karena mau bagaimana pun, Paviliun Harta Karun terletak di Kediaman Keluarga Lin, dan banyak anggota dalam Keluarga Lin yang sering terlihat di dalam kota. Mereka harus menjaga citra kelompok mereka, jika tidak mau diremehkan.
Sementara itu, di sisi lain, Weng Ying Luan hanya mengenakan pakaian sederhana dan agak sedikit kusang. Meski wajahnya lumayan tampan dan putih bersih, namun itu tidak mengurangi penilaian pria pengurus Paviliun Harta Karun tersebut kepadanya.
Sekarang, dengan adanya enam puluh ribu koin emas di depan matanya, dia memutuskan untuk berhenti menilai dari penampilan seseorang. Weng Ying Luan mungkin saja berasal dari suatu kelompok besar lainnya yang agak sedikit kurang memperhatikan penampilannya sendiri.
"Tu-Tuan, maafkan karena kelancangan saya sebelumnya. Izinkan saya memperkenalkan diri, nama ku Lin Xinshi, anda bisa memanggil saya Xinshi. Tuan, uang yang anda perlihatkan pada saya sudah sangat cukup untuk membeli Sutra Laba-Laba Kaca milik kami. Adapun tiga bahan lainnya, mereka semua seharga kurang lebih seratus ribu koin emas. Jika anda berniat membeli semuanya, saya akan menyiapkannya sekarang," kata pria itu dengan nada sedikit hormat, takut menyinggung Ying Luan lebih jauh.
Mata Weng Ying Luan berkedip saat menyaksikan perubahan pada pria itu. Dia tidak menyalahkannya, banyak toko yang menunjukkan perilaku yang sama padanya sebelumnya, pria ini sudah cukup baik mau mendengarkan permintaannya sebelumnya.
"Kalau begitu tolong siapkan barang-barangnya, dan semua ini adalah bayarannya."
Dia sekali lagi mengayunkan tangannya, dan mengeluarkan empat kantung kulit yang tersisa di dalam cincin penyimpanannya.
Begitu keempatnya diletakkan bersama dengan dua kantung kulit yang sebelumnya, meja itu pun mengeluarkan suara mendecit, seolah sedang menahan beban yang begitu berat.
Napas pria itu langsung berubah menjadi berat, bahkan agak sesak.
Enam kantung! Dan besarnya semuanya sama! Itu berarti semuanya berisi paling tidak seratus delapan puluh ribu koin emas atau bahkan lebih!
*Glek* Dia menelan ludah, dan dengan cepat beranjak pergi dari ruangannya.
Dia buru-buru pergi menuju ke sebuah ruangan penyimpanan khusus yang peruntukan untuk menyimpan barang-barang berharga yang dijual oleh Paviliun Harta Karun. Mereka sengaja tidak memajangnya di depan umum, karena takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Semua barang ini bernilai ratusan ribu koin emas, jadi jelas saja mereka tidak berani.
Pengurus Paviliun Harta Karun dengan cepat mencari empat bahan yang diinginkan oleh Weng Ying Luan. Setelah mencari selama beberapa saat, dia akhirnya berhasil menemukan keempatnya, dan sangat kebetulan empat bahan itu masing-masing adalah apa yang tersisa di penyimpanan mereka.
__ADS_1
Setelah menyerahkan bahan-bahan itu, pria itu dengan hormat mengantarkan kepergian Weng Ying Luan, yang sontak menjadi tontonan para pembeli yang lainnya.