
Dua orang bertarung melawan Shan Hu adalah bawahan dari salah satu petinggi di Kerajaan Wilayah Tengah. Pria bertubuh kurus dipanggil dengan nama Shou, sedangkan si pria bertubuh besar dipanggil dengan nama Baohan.
Nama pria kurus itu memang hampir dengan pemimpin Kelompok Darah, yang mana selalu membuat pria kurus itu sedikit jengkel karena namanya sama dengan orang yang lebih lemah darinya.
Pemimpin mereka, yang merupakan bawahan langsung dari petinggi Kerajaan Wilayah Tengah, memerintahkan mereka untuk memeriksa perkembangan dari salah satu kelompok penjahat yang berada di bawah naungan dan perlindungan petinggi di Kerajaan Wilayah Tengah yang mereka layani.
Menurut informasi yang keduanya dapatkan dari pemimpin mereka, Kelompok Darah ini memiliki kontribusi cukup banyak kepada petinggi Kerajaan Wilayah Tengah yang layani itu.
Harta dan barang-barang yang didapatkan oleh Kelompok Darah dari hasil membantai desa-desa di Wilayah Tengah, lebih dari setengahnya Sha Shou berikan kepada petinggi Kerajaan Wilayah Tengah itu, dan petinggi itu memberikannya perlindungan.
Seharusnya seperti itu, sampai kemudian mereka malah terlibat dengan kelompok Weng Lou.
BAMMM!!!!!!
Tepat ketika gada besar milik Baohan akan mengenai kepala Shan Hu, Shan Hu lebih dulu mengangkat tangan kanannya yang masih tidak digerakkannya sedari tadi.
Telapak tangannya dibuka, dan menahan hantaman dari gada besar itu.
Shan Hu mengkertakan giginya karena harus membagi kekuatannya, yang satu untuk saling beradu kekuatan pukulan dengan Shou, si pria kurus, yang satu lagi untuk menahan hantaman gada dari Baohan, si pria bertubuh besar.
"Masih tetap licik seperti sebelumnya, huh?!" ejek Shan Hu.
Otot-otot tangannya mulai mengencang dan membentuk sempurna, kekuatan fisiknya Mukai dipadatkan lebih jauh lagi.
"Semua bisa dilakukan dalam pertarungan!!!" Baohan balas sambil meraung kencang.
Dia mengangkat kembali gada besar miliknya, dan siap untuk mengayunkannya kembali ke arah kepala Shan Hu.
Dia paham betul, Shan Hu tidak mungkin bisa menahan dua kali berturut-turut serangan gada nya. Jika dia memaksakan hal itu, maka organ dalamnya akan terluka karena Qi miliknya sendiri.
"Matilah!!!"
Shuuu.....
"Seni Perang, Lonjakan Tanah."
Dalam keadaan terpojok seperti saat ini, Shan Hu sangat sadar akan keadaannya. Dia tidak memaksakan dirinya untuk menahan pukulan gada Baohan menggunakan tangannya lagi, melainkan menggunakan teknik perubahan unsur miliknya.
Krack.....SSRAAACKKK!!!!!
Tanah yang Shan Hu dan juga Shou pijak mendadak naik setinggi dua meter, dan sepersekian detik kemudian pukulan gada dari Baohan mendarat pada gundukan tanah yang menjadi pijakan Shan Hu dan Shou.
Pruaackk!!!!
Gundukan itu segera hancur berkeping-keping, Shan Hu dan juga Shou sama-sama melompat mundur dan mengambil jarak satu sama lain.
Ketika Shan Hu akan mendarat di tanah, Baohan bergegas bergerak ke arahnya. Tangan kanannya menggenggam erat gada miliknya, dan sudah terayun sekali lagi ke arahnya.
"Ini mungkin akan terasa sakit."
Kedua tangan Shan Hu dilapisi dengan Qi, dan disilangkan di depan dadanya.
BAMMM!!!!
Shuuuu~
Seperti sebuah peluru, tubuh Shan Hu terlempar mundur dengan kecepatan luar biasa begitu gada yang diayunkan oleh Baohan mengenai kedua tangannya yang telah ia siapkan sebagai tamengnya di depan dadanya.
"Kekuatan ini .... benar-benar bukan main. Pria besar itu memasukkan kekuatan penuhnya dalam satu ayunan gada nya. Seandainya saja aku tidak menggunakan kedua tangan ku sebagai tameng, dadaku pasti sudah terluka parah," ucap Shan Hu yang kemudian dengan sekuat tenaga menggunakan kedua kakinya untung menahan dirinya yang masih terdorong mundur, agar tidak menabrak tembok kastil seka lagi.
Ssrtttt......
Tubuh Shan Hu berhenti tepat beberapa meter sebelum mencapai tembok kastil.
Menghela napasnya, Shan Hu melihat kedua tangannya yang sedikit bergetar karena menerima hantaman dari gada Baohan sebelumnya.
"Masih belum!!!"
Belum sempat Shan Hu mengembalikan fokusnya pada pertarungan, Baohan sudah kembali menyerang Shan Hu, dan kali ini bersama dengan rekannya si pria kurus Shou yang menggenggam tongkat dari logam sepanjang dua meter di tangannya.
__ADS_1
"HAAAA!!!!"
Tongkat itu diayunkan secara vertikal ke arah Shan Hu, terlihat Qi sudah memenuhi ujung tongkat tersebut yang mana jika mengenai Shan Hu, maka dia akan terkena sebuah serangan yang sangat serius, bahkan kemungkinan jauh lebih buruk dari terkena hantaman gada milik Baohan.
"Berbahaya!"
Dengan sigap Shan Hu melompat ke samping, dan menghindari hantaman dari tongkat logam Shou.
Whusss.....
"Kau hanya bisa menghindar saja ternyata."
Tepat ketika kata-kata itu terdengar, sosok Baohan muncul di samping Shan Hu, siap memukulnya dengan gada besar miliknya.
Tapi bukannya takut, senyum kecil justru tercipta pada ujung bibirnya.
"Kena kau."
Shan Hu menyentuhkan kedua telapak tangannya pada tanah, dan mengaliri Qi ke tanah sekali lagi seperti sebelumnya.
"Ratusan Duri Tanah!!"
Srraaa!!! Ksshh!!!! Krhaa!!!
Tepat sepersekian detik setelah Shan Hu mengucapkan kata-kata itu, duri-duri tanah keluar dari tanah yang ada di sekitarnya.
Baohan yang tidak sempat bereaksi akan hal itu terkena telak duri-duri tanah yang diciptakan oleh Shan Hu.
Paha kanan, punggung kiri, dan juga kedua lengannya dengan sempurna tertusuk oleh duri-duri yang diciptakan oleh Shan Hu dalam sepersekian detik saja.
"Kau....ack...!!! Qi milikku...terhisap?!" Baohan menjerit kesakitan sekaligus panik.
Dia merasakan Qi miliknya terhisap pada bagian-bagian tubuhnya yang tertusuk oleh duri-duri tanah ciptaan Shan Hu.
"Bakat khusus milikku, penghisapan Qi, semakin kau berusaha terlepas dari situ, duri-duri itu akan semakin meninggi dan menghisap lebih banyak Qi. Itu juga berlaku bagi rekan mu. Jika dia menghancurkan duri-duri ini, Qi mu juga yang akan ikut terhisap untuk memulihkan duri-duri tanah yang dihancurkan rekanmu." Shan Hu berbicara sambil tersenyum dingin.
Baohan tampak terkejut mendengar gertakan dari Shan Hu, dia segera menghentikan usahanya yabg berjiat untuk mematahkan duri-duri yang menancap pada beberapa bagian tubuhnya.
Duri-duri tanah itu tidak akan memulihkan diri menggunakan Qi yang diserapnya melainkan akan masuk ke dalam tubuh Shan Hu, dan diolah agar menjadi Qi miliknya sendiri.
Terkadang akting dan berbohong adalah sebuah senjata mematikan di dalam pertarungan, terlebih pertarungan hidup dan mati seperti saat ini.
"Hancurlahhh!!!"
Ketika Shan Hu dan Baohan saling tatap satu sama lain, sosok Shou yang membawa tongkat logamnya meluncur dari udara.
Dia mengayunkan tongkat logamnya dan sekali lagi mengalirkan Qi miliknya pada tongkat nya itu. Cahaya kehijauan memancar dari tongkatnya, dan kemudian angin kencang berhembus di sekelilingnya.
Pada ujung tongkat logamnya itu kemudian sebuah pusaran angin tercipta, dan menciptakan bilah-bilah angin yang sangat tajam di sekitarnya.
"Hembusan Angin Kematian!!!"
Baohan yang menyaksikan apa yang ingin dilakukan oleh rekannya itu tampak panik sekaligus terkejut. Kata-kata dari Shan Hu beberapa saat yang lalu kembali teringat di dalam kepalanya.
"Jangan!!! Hentikan itu, dasar bodoh!!!" seru Baohan, memperingatkan.
Perhatian Shou sedikit teralih pada Baohan, tapu kemudian senyum mengejek tercipta diwajahnya.
"Kau diam saja disitu! Biar aku yang menghabisinya!" balasnya yang kemudian mengalirkan lebih banyak Qi unsur anginnya pada tongkat miliknya.
Hembusan angin semakin kencang dan berpusat pada ujung tongkat logam miliknya.
"Matiiilaaahhh!!!"
"Heh, dasar bodoh."
Krack....ssrrraaackkkk!!!!!
Duri-duri tanah yang ada di sekitar Shan Hu mendadak meninggi dengan kecepatan yang cukup cepat, yang mana membuat Shou, si pria kurus tak bisa bereaksi sama sekali.
__ADS_1
"Arrghhh!!!!"
Duri-duri tanah itu menusuk dengan sadis tubuh Shou. Tidak tanggung-tanggung, tiga buah duri mendarat pada titik vitalnya. Satu di dada kanan, satu lambung, dan satu lagi pada dekat selangkangannya.
Terdapat beberapa tusukan lainnya juga, tapi itu tidak separah ketiga tusukan yang nyaris langsung membunuhnya itu.
Tidak diketahui apakah tusukan yang ada di dekat selangkangannya itu membuat masa depan miliknya itu masih selamat atau tidak, yang pasti kondisi Shou benar-benar mengerikan.
Dia tidak mati, tapi hampir.
Mulutnya memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak, dan juga darah terus mengalir deras dari tiga tusukan yang paling serius pada dirinya, serta dari beberapa tusukan lainnya juga.
Dirinya benar-benar dalam kondisi hidup dan mati.
"Shouu!!!"
Baohan tersentak melihat kondisi rekannya itu. Mereka berdua bukanlah teman dekat atau pun sahabat, tapi setidaknya mereka adalah rekan kerja yang sangat akrab dan sering melakukan tugas bersama-sama.
"Shou!!! Kau dengar aku?! Shouu!!!"
"Kourghh!!!"
Shou sekali lagi memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak, lalu kemudian dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya dirinya menoleh ke arah Baohan.
"Bao.... kuargh...." lirih Shou.
"Hei! Diamlah, kau akan mati jika memaksakan diri!" Baohan mengingatkan nya.
"Aku....maafkan aku....."
"Apa....apa yang kau katakan?! Hei?!"
"Aku akan...uhuk! Uhuk!! Aku akan menyelesaikan ini dengan satu ledakan....pergilah...."
"Hah?! Ka-Kau gila! Berhenti!!"
Shou, si pria bertubuh kurus yang berada dalam kondisi mengenaskan mulai mengalirkan sisa-sisa Qi miliknya pada pusat Dantian miliknya.
Shan Hu yang sedari tadi diam pun mengerutkan dahinya melihat itu. Dia terkejut atas kenekatan Shou yang sampai berniat meledakkan dirinya sendiri.
Menghela napasnya, Shan Hu pun kemudian membuka lebar telapak tangan kanannya, lalu menciptakan sebuah duri dari Qi, seperti yang di buat oleh Weng Lou.
"Aku tidak akan membiarkan mu melakukan apa yang kau mau," ucap Shan Hu yang kemudian melemparkan duri Qi di tangannya itu ke arah perut Shou, letak Dantian miliknya berada.
Ketika duri itu akan menancap tepat ke perut Shou, mendadak Shou yang berada dalam kondisi sekarat itu menarik kakinya yang tertusuk oleh duri-duri tanah Shan Hu dan menghalangi duri Qi yang mengarah ke perutnya.
Pshh....
Duri itu menembus kakinya, tapi kemudian gerakkannya terhenti ketika akan menyentuh perut Shou.
"Kita akan mati bersama sialan!!!"
Mengkertakan giginya, Shan Hu pun membatalkan duri-duri tanah yang dia ciptakan, sebelum kemudian mengambil ancang-ancang, dan melompat tinggi ke langit, sementara Baohan yang masih ada di tanah menatap rekannya, Shou yang dari sekujur tubuhnya sudah mengeluarkan cahaya terang.
Peledakan diri, salah satu teknik bunuh diri yang bisa dilakukan oleh semua Praktisi Beladiri. Semakin tinggi tingkat praktik nya, semakin besar ledakannya.
Sekali teknik ini dilakukan, maka tidak bisa dibatalkan, atau dihentikan.
"Bao....ayo kita minum arak bersama dikehidupan selanjutnya." Shou yang tampak bersinar terang berusaha untuk tersenyum ke arah Baohan dan hanya dibalas dengan wajah penuh rasa campur aduk oleh Baohan.
"Shou....kau sialan...... baiklah, ayo kita minum arak suatu saat nanti."
Setelah mengucapkan perpisahan, Baohan dengan sekuat tenaga melesat pergi dari tempat itu.
Beberapa saat kemudian, Baohan sudah berada cukup jauh dari situ.
"Haaah....kalau dipikir-pikir aku bahkan belum menikah....jika bukan karena pekerjaan sialan ini, aku pasti sudah memiliki anak dan istri yang akan selalu menunggu kepulangan diriku setiap kali pulang kerja."
Shou menutup kedua matanya dan menghela napasnya. Ini adalah takdirnya, mati di tempat ini, dia hanya bisa berharap di kehidupan selanjutnya dia memiliki nasib yang setidaknya jauh lebih beruntung dari ini.
__ADS_1
SHHHHHHH...........BDUUUUUMMMMMMMN!!!!!