
Pernyataan Weng Lou jelas mengguncang semua orang di situ dan mereka menatap Weng Lou dengan tatapan yang jauh lebih berbeda dari sebelumnya. Mereka kini melihat Weng Lou seakan dia adalah orang gila yang tidak mengerti sama sekali apa yang dia katakan.
Menjadi penguasa atas seluruh wilayah Kepulauan Huwa? Bahkan Hong Mugui tidak bisa melakukan hal tersebut ketika dia berada di puncaknya dan memiliki Perguruan Iblis Merah yang menopangnya. Namun Weng Lou menyatakan keinginannya seakan hal tersebut bukanlah hal yang besar atau sesuatu yang terdengar mustahil.
"Kau gila! Apa kau pikir kau bisa memerintah kami semua begitu saja?! Jangan pikir karena kau memiliki kekuatan besar, kau bisa seanaknya melakukan hal itu!" Saat ini seorang pria tua yang terlihat berusia sama seperti Hong Mugui telah bangkit berdiri dan menunjuk wajah Weng Lou tanpa rasa takut sedikitpun.
Berselang setelah kata-kata itu, semua orang yang telah dibawa oleh Weng Lou kecuali Hong Mugui, Tetua Kedua, dan wanita yang memiliki kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa tahap 3, semuanya bangkit berdiri dan menunjukkan ekspresi menantang di wajah mereka.
"Apa? Kalian ingin bertarung lagi dengan ku?" Weng Lou bertanya sambil tersenyum sinis pada mereka semua.
"Kami tidak takut denganmu! Meskipun kau kuat, mustahil kau bisa melawan kami semua dengan mudah!" Pria yang sebelumnya kembali berbicara dengan nada yang lebih tinggi dan mereka semua pun mulai mengeluarkan senjata mereka dari ruang penyimpanan mereka.
Pedang, tombak, belati, dan pisau-pisau kecil di arahkan pada Weng Lou yang saat ini masih berdiri dengan tenang dan tetap tersenyum seperti sebelumnya.
"Ya, sebenarnya kalian tidak perlu menuruti perintah dariku. Aku hanya menginginkan status sebagai pemimpinnya saja, sedangkan untuk memerintah kalian atau kekuasaan dan yang lainnya? Aku tidak berminat," ungkap Weng Lou sambil mengelus dagunya.
Hong Mugui dan Tetua Kedua yang mendengar itu saling berpandangan satu sama lain. Memangnya ada orang yang ingin memiliki status pemimpin tapi tidak menginginkan kuasa untuk memerintah? Jika ada jelas orang itu adalah idiot bodoh yang sangat terbelakang.
Tapi Weng Lou di depan mereka sangat jelas bukanlah orang yang seperti itu. Dia sangat berbeda dari orang bodoh mana pun yang pernah mereka temui. Sementara itu, wanita yang tidak ikut berdiri sedang berpikir keras dan sepertinya mengerti jalan pemikiran Weng Lou dan apa yang diinginkannya dengan status sebagai penguasa itu.
"Jika boleh aku bertanya, apakah anda berasal dari luar Kepulauan Huwa?" tanya nya dengan wajah mengamati. Perhatian semua orang kini terarah padanya. Mereka baru menyadari pertanyaan paling penting yang seharusnya mereka tanyakan sebelum-sebelum nya.
Tapi Hong Mugui yang paling pertama bertemu dengan Weng Lou sama sekali tidak menanyakan hal ini karena mengira bahwa Weng Lou adalah seorang Praktisi Beladiri yang memang asli berasal dari Pulau Fanrong.
Weng Lou mengubah senyumnya dan tertawa pelan, "Memangnya kenapa jika aku tidak berasal dari Kepulauan Huwa ini? Apa kau memiliki masalah?"
"Tidak! Bukan begitu! Hanya saja, saya berpikir bahwa anda adalah bawahan dari Yang Mulia Kaisar yang dikirim ke sini untuk memberikan kami peringatan!" jelasnya wanita itu dengan terburu-buru.
"Yang Mulia? Apa maksud mu Kaisar dari Kekaisaran Gui?" tanya Weng Lou yang tampak bingung.
Kali ini, semua orang yang sebelumnya telah berdiri dan berniat melakukan perlawan terhadap Weng Lou, serta wanita itu tampak terkejut melihat respon Weng Lou.
"Bukan, maksud dia adalah Kaisar yang berasal dari Kekaisaran Agung Ryuan, dan merupakan penguasa tertinggi yang memerintah wilayah lautan di luar Kepulauan Huwa. Dia adalah kaisar yang memimpin puluhan Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa dan telah berkuasa selama lima puluh tahun lebih.
Kepulauan Huwa bukanlah bagian dari wilayah Kekaisaran Ryuan, namun Kaisar sendiri memang tidak memiliki minat terhadap Kepulauan Huwa yang menurutnya terlalu jauh dari pulau terdekat yang berada di teritori kekuasaannya. Tapi tidak jarang juga beberapa orang yang mengaku sebagai utusan dari Kaisar ini datang ke Kepulauan Huwa dan membuat masalah. Hanya saja selama ini saya selalu menanganinya karena kekuatan mereka tidak ada yang jauh lebih kuat dari saya," ungkap Hong Mugui dengan lancar pada Weng Lou.
Saat itulah, sorot mata Weng Lou secara tidak sengaja tampak bersemangat mendengarkan hal itu, tapi kemudian segera kembali dikendalikan oleh Weng Lou dan disembunyikan dalam-dalam.
Sesuai dengan perkiraan Weng Lou, seharusnya ada orang atau kekuatan yang memerintah di luar Kepulauan Huwa ini dan memiliki kekuatan yang cukup besar dan setara atau bahkan lebih kuat dari dirinya. Karena hal ini sudah terbuktikan, maka Weng Lou tidak perlu merasa khawatir lagi kalau-kalau rencana yang telah dia laksanakan malah tidak bisa mencapai akhir yang bagus.
'Ternyata memang ada sisa dari kekaisaran besar yang aku baca sebelumnya di pintu ruangan bawah tanah itu. Jika memang begitu, maka rencana ini harusnya bisa berjalan sukses.
"Aku memang tidak berasal dari Kepulauan Huwa, tapi aku juga bukan bagian dari Kekaisaran Ryuan yang kau sebutkan itu, aku berasal dari daerah yang jauh dari Kekaisaran Ryuan, yaitu sebuah pulau yang memiliki puluhan atau bahkan ratusan Praktisi Beladiri yang telah berada di ranah Penyatuan Jiwa."
Sebuah pulau yang memiliki banyak sekali Praktisi Beladiri ranah Penyatuan Jiwa! Semua orang di situ tidak bisa menahan diri untuk tidak terkejut. Bahkan di Kepulauan Huwa tidak ada satu orangpun yang memiliki kekuatan seperti itu, dan Weng Lou yang telah menyebabkan kehancuran di tempat ini ternyata berasal dari tempat seperti itu.
__ADS_1
Tidak bisa mereka bayangkan seberapa mengerikannya dunia beladiri di tempat itu dengan banyaknya Praktisi Beladiri tingkat tinggi di sebuah pulau yang sama.
"Jadi aku akan mengulas pertanyaan ku pada kalian, apa kalian mau menjadi bawahan ku dan menguasai seluruh Kepulauan Huwa?" Weng Lou bertanya kembali kepada mereka dan kembali menatap keluar jendela.
Hong Mugui, yang sejak awal memang tidak berniat menentang Weng Lou, lebih dulu berlutut di lantai kepada Weng Lou, "Saya bersedia, Tuan!"
"Ketua!" Tetua Kedua Perguruan Iblis Merah masih belum bisa menerima kenyataan ketuanya itu yang telah tunduk pada Weng Lou. Namun kemudian, dia mendapati bahwa wajah Hong Mugui telah berbeda dari sebelumnya dan dia pun mengerti keputusan ketuanya itu.
"Saya, Chou Hui, bersedia menjadi bawahan Anda!" Tetua Kedua, Chou Hui ikut berlutut di lantai kepada Weng Lou.
Setelah itu, wanita yang memiliki kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa tahap 3 ikut berlutut di tanah, "Saya, Mei Yuan, Ketua dari Perguruan Beladiri Bulan bersedia tunduk kepada Tuan!"
Pernyataan dari ketiga orang itu segera membuat orang-orang yang tersisa pun menjadi terpengaruh, dan kemudian mulai berlutut, lalu mengakui Weng Lou sebagai pemimpin mereka semua.
"Bagus sekali. Dengan aku yang menjadi pemimpin dan penguasa Kepulauan Huwa ini, kalian semua tidak perlu mengkhawatirkan tentang serbuan musuh-musuh dari luar Kepulauan Huwa. Aku yang akan mengatasi mereka dan kalian tinggal menjalani kehidupan dan keseharian kalian seperti biasa.
***
Sebuah pulau kecil dengan luas hanya mencakup lima ribu kilometer persegi, terletak di dekat sebuah pulau yang memiliki ukuran jauh lebih besar.
Pada pulau ini, terdapat hutan yang lebat, namun anehnya tidak ada suara dari binatang atau serangga sedikitpun. Hanya ada ketenangan dan keheningan dari suasana malam yang mampu membuat orang-orang menjadi merinding ketakutan jika berada di dalam hutan ini.
Di tengah-tengah hutan, sebuah bangunan tua berbentuk seperti candi berdiri dengan kokoh dan terlihat mengeluarkan pancaran Kekuatan Jiwa yang sangat kuat dari dalamnya.
Pada bagian terdalam bangunan tua itu, sosok seorang pria paruh baya yang memiliki jenggot dan kumis yang memenuhi wajahnya, duduk dengan tenang sambil menatap seseorang di hadapannya dengan tatapan dingin.
Orang yang ada di depannya adalah seorang wanita yang terlihat berusia tiga puluhan tahun, namun memiliki rambut yang sudah berwarna putih semuanya. Dia mengenakan sebuah pakaian yang berwarna ungu terang dengan beberapa model gambar naga di beberapa bagian pakaian yang dikenakannya. Wajahnya tampak cukup cantik, dan dari tubuhnya memancarkan karisma yang sangat kuat.
Wanita ini tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan pria di depannya, dan dia justru segera menunduk hormat kepada pria itu dan mulai berbicara kepadanya, "Maafkan saya, Gubernur Ho tetapi Kaisar saat ini sedang sibuk dan aku di sini dikirim secara langsung oleh-Nya."
Pria yang dipanen sebagai Gubernur Ho itu mendengus tidak senang, tetapi dia tidak bisa memprotes lebih dari itu karena mau bagaimana pun dia juga merupakan bawahan dari 'Kaisar' seperti wanita di depannya.
"Hmp, lalu atas urusan apa Kaisar mengirim mu? Apakah terkait masalah serangan binatang buas beberapa hari lalu di pesisir Pantai Timur?" tanya Gubernur Ho dengan mata menyelidiki.
"Tidak, melainkan karena kabar kemunculan seorang Praktisi Beladiri ranah Penyatuan Jiwa di ujung perbatasan wilayah timur. Kaisar meminta saya untuk 'menyelidiki' kabar ini benar atau hanya sekedar berita angin biasa. Jika kabar ini benar, maka saya diminta untuk membawa Praktisi Beladiri tersebut ke hadapan Kaisar."
Penjelasan dari wanita itu terdengar penuh hormat dan seperti tidak menunjukkan tanda-tanda berbohong sedikitpun, dan membuat Gubernur Ho diam sejenak sambil berpikir.
"Perbatasan wilayah barat, jika tidak salah itu adalah wilayah Lautan Mati dimana tidak ada satu pulau pun sejauh lima ratus kilometer dari lepas pantai pulau yang dijadikan sebagai perbatasan. Bagaimana bisa ada seseorang di tengah lautan yang muncul dengan kekuatan seperti itu?" tanya Gubernur Ho dengan raut wajah bingungnya.
Wanita itu segera menggelengkan kepalanya, dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari balik pakaiannya dan membukanya di depan Gubernur Ho, memperlihatkan sebuah peta yang menggambarkan beberapa pulau besar dan pulau-pulau yang lebih kecil. semua pulau ini berada di dalam sebuah garis yang menandakan bahwa semua pulau itu merupakan satu kesatuan wilayah yang tidak lain adalah wilayah kekuasaan dari Kekaisaran Ryuan. Pada bagian tepi peta itu, terdapat sebuah tulisan 'Lautan Mati' dan enam buah pulau yang saling berdekatan di ujungnya.
"Pada ujung Lautan Mati, terdapat sebuah daerah bernama Kepulauan Huwa yang terbentuk dari enam buah pulau yang memiliki enam kekaisaran kecil yang memerintah masing-masing pulau. Kabar munculnya Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa berasal dari kepulauan ini, tepatnya di Pulau Fanrong." Wanita itu menunjuk enam buah pulau yang saling berdekatan di ujung peta tersebut sambil menatap reaksi wajah Gubernur Ho.
Gubernur Ho diam dan mengelus kumis hitamnya yang tebal sambil menatap dengan serius keenam pulau di peta itu, "Jadi maksud kedatangan mu ke sini adalah-"
__ADS_1
"Benar, maksud kedatangan saya adalah untuk meminta izin meminjam salah satu Kapal Perang milik anda untuk melewati Lautan Mati dan mencapai Kepulauan Huwa," ucapnya dengan serius.
Mata Gubernur Ho terpejam dan wajahnya menjadi suram. Tak lama sebuah helaan napas pun dikeluarkannya. Ini adalah salah satu hal yang sudah dia tebak dari kedatangan wanita di depannya, yaitu untuk meminjam kapal perangnya.
Sebagai seorang Gubernur yang dipercayakan sebuah wilayah untuk dijaga, Gubernur Ho mendapatkan wilayah di perbatasan timur yang merupakan wilayah yang berada di pantai. Karena wilayahnya ini, Gubernur Ho memiliki kewajiban untuk mengatasi segala macam serangan yang diakibatkan oleh binatang buas lautan dan juga masalah masuk dan keluarnya orang-orang di perbatasan Kekaisaran Agung Ryuan yang berada di lautan.
Untuk memenuhi tugasnya ini, dia telah membuat beberapa Kapal Perang khusus yang mampu menerjang lautan yang dipenuhi dengan binatang buas lautan dan menghadapi serangan dengan skala kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa.
Tentunya untuk membuat satu kapal ini Gubernur Ho harus mengeluarkan ratusan bahkan jutaan koin emas, yang membuat semua pengeluarannya bukan main besarnya. Jika bukan karena wilayah yang dia kuasai ini merupakan jalur perdagangan utama dari Kekaisaran Ryuan, maka dia sudah lama bangkrut. Tapi tetap saja, biaya perawatan perbulan dari satu Kapal Perang miliknya ini sudah bisa menghabiskan lima puluh ribu koin emas.
Dengan begini, permintaan dari wanita di depannya untuk meminjam satu Kapal Perangnya merupakan sebuah permintaan yang sangatlah sulit untuknya, karena itu sama saja dengan mengeluarkan puluhan ribu koin emas miliknya. Bukan mengapa, tetapi Lautan Mati adalah wilayah khusus yang menjadi tempat bersarangnya banyak binatang buas lautan sekaligus. Jika dia meminjamkannya, maka kemungkinan yang pulang dari kapal miliknya hanyalah puing-puing saja.
Menyadari pemikiran Gubernur Ho, wanita tersebut pun melemparkan sebuah cincin penyimpanan kepadanya dan segera ditangkap olehnya. Gubernur Ho menatap cincin itu sejenak sebelum kemudian memeriksa isinya.
Seketika itu juga, wajah Gubernur Ho menjadi cerah dan senyum lebar menghiasai wajahnya itu.
"Kaisar memang sangatlah baik dan murah hati! Dia selalu memperhatikan para bawahannya dengan baik! Pergilah ke pelabuhan lima dan bawa Kapal Perang 3 bersama awaknya! Aku akan mendoakan agar kau bisa sampai dengan selamat ke tujuan mu!" Dengan bahagia Gubernur Ho berkata pada wanita itu, dan melemparkan sebuah lencana kepadanya.
Wanita itu hanya menunduk hormat pada Gubernur Ho sebelum kemudian mulai pergi dari situ. Dia jelas memahami biaya dari Kapal Perang, sehingga Kaisar sudah menyiapkan sesuatu agar Gubernur Ho mau secara sukarela mengizinkannya untuk meminjam Kapal Perangnya.
Cincin penyimpanan yang dia berikan pada Gubernur Ho sebelumnya berisikan sebuah sumber daya berharga yang dipilih khusus oleh Kaisar untuk Gubernur Ho. Hal inilah yang menyebabkan perubahan besar pada ekspresi wajah Gubernur Ho dan dia mau dengan baik hati meminjamkan Kapal Perangnya.
"Meski sebenarnya ini merupakan kewajiban bagi Gubernur Ho untuk meminjamkan Kapal Perangnya, namun Kaisar dengan baik hati mau memberikan biaya kompensasi kepada Gubernur Ho. Kurasa Kaisar terlalu berbaik hati. Menggunakan sumber daya seperti itu sebagai biaya kompensasi, menurutku itu sangat tidak bijak," ucap wanita itu yang sudah keluar dari bangunan tua di tengah hutan tersebut.
Dia kemudian melesat terbang keluar dari dalam hutan tersebut dan tiba di sebuah pelabuhan besar di pantai dekat luar hutan yang baru saja dia datangi.
Pada pelabuhan itu, terdapat enam buah kapal dari kayu yang berukuran sangat besar. Pada bagian badan kapal, banyak sekali meriam-meriam yang berukuran besar ditempatkan. Puluhan orang awak kapal terlihat dengan rajin membersihkan tiap sudut dari kapal-kapal ini dan mereka tidak terlihat lelah sedikit pun.
Wanita itu terbang dan kemudian mendarat di atas salah satu dari kapal-kapal besar itu. Kapal yang dia naiki memiliki bendera bertuliskan 3 dan di di atasnya, terlihat beberapa orang terlihat sibuk mengelap lantai yang kotor.
Kemunculan dari wanita ini segera menarik perhatian semua orang. Beberapa orang yang terlihat seperti prajurit bergerak keluar dari dalam kapal dan mengelilingi wanita ini dengan senjata-senjata mereka telah dipegang dan diarahkan padanya.
"Siapa kau?! Mau apa kau naik ke atas kapal sang Gubernur!" salah atau dari orang ini berseru galak tanpa mempedulikan bahwa yang di depannya adalah seorang wanita sekalipun.
"Aku merupakan utusan Kaisar! Aku sudah diizinkan oleh Gubernur Ho untuk meminjam Kapal Perangnya serta awaknya untuk berlayar menuju Kepulauan Huwa!" Wanita itu berbicara dengan suara yang sedikit nyaring agar di dengar oleh mereka semua di situ sambil mengeluarkan lencana yang diberikan oleh Gubernur Ho kepadanya sebelumnya.
Semua orang itu menatap lencana itu dengan serius lalu saling bertatapan dan mengangguk bersama.
"Maafkan kami! Kami tidak mengetahui identitas anda sebelumnya, utusan Kaisar!" Mereka semua segera menunduk hormat pada wanita itu sementara wanita itu tampak biasa saja.
"Em! Baiklah. Aku ingin kalian segera mempersiapkan kapal agar kita bisa berlayar secepatnya menuju Kepulauan Huwa!"
"Baiklah, utusan Kaisar!"
Bersamaan setelah diberikannya perintah itu, semua orang di atas kapal itu pun segera berhamburan dan melakukan tugas mereka sementara wanita itu masih diam di tempatnya dan menatap ke satu arah dimana itu adalah arah menuju ke Kepulauan Huwa.
__ADS_1
"Seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa? Sekuat apakah dia sampai Kaisar sendiri meminta ku untuk membawanya ke hadapannya?"