
Di atas reruntuhan kota yang telah dihancurkan oleh pasukan binatang buas, Lin Mei berdiri di atas punggung elang raksasa dan memandang kondisi kota yang telah rata dengan tanah.
Hanya ada beberapa mayat manusia yang berserakan di dal kota. Sebagian besar penduduk sudah lama mengungsi jauh hari sebelum kedatangan para binatang buas.
Rata-rata yang masih tetap berdiam di kota adalah mereka yang bekerja di bawah perintah Keluarga Ying dan tidak diizinkan untuk pergi dari kota.
Lin Mei berkedip. Dia kemudian menoleh ke arah satu arah, di mana dia bisa melihat sebuah bayangan kabur di kejauhan. Bayangan itu tidak lain adalah walikota dari kota yang telah dihancurkan oleh para binatang buas.
"Seorang pemimpin yang melarikan diri dari tanggung jawabnya dan membiarkan bawahannya mati demi keselamatan dirinya sendiri tidak layak menjadi seorang pemimpin. Para bawahanmu mati, namun kau masih hidup. Bukankah itu tidak adil?"
Mendengar ucapan Lin Mei, elang di bawah kaki Lin Mei menanggapinya dengan mengeluarkan suara melengking. Dia sepertinya paham akan apa yang dikatakan oleh Lin Mei. Dengan satu kepakan, dia segera melesat ke arah dimana wali kota gendut itu terbang bersama istri-istrinya.
"Wahai Sang Phoenix, apakah anda mengizinkan saya untuk membunuhnya sendiri?" tanya elang itu ketika jaraknya dengan sang wali kota gendut hanya berjarak beberapa kilometer saja.
Lin Mei diam sesaat, dia menatap pada wali kota di atas pedang besar. Dia saat ini sedang tertawa lepas dan bermain-main dengan istri-istrinya di atas pedang. Sepertinya kematian para bawahannya sama sekali tidak mengganggu perasaannya.
"Bunuh semuanya, kecuali pria menjijikan itu. Kau bisa memotong kedua tangan dan kakinya agar dia tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan," kata Lin Mei.
Suara melengking terdengar dari sang elang sebagai jawaban kepada Lin Mei.
Kepalan lainnya dari elang itu langsung memotong jarak beberapa ratus meter ke depan. Dalam waktu yang dibutuhkan untuk menarik tiga napas, seluruh jarak beberapa kilometer kini tinggal tersisa beberapa ratus meter saja.
Saat itulah para prajurit yang mengendalikan pedang besar yang membawa wali kota segera menyadari kedatangan sang elang. Mereka menoleh ke belakang dan melihat elang besar itu yang tubuhnya lima kali jauh lebih besar dibandingkan pedang besar yang mereka naiki.
Sang wali kota juga berbalik dan melihat elang itu. Wajahnya dengan segera berubah menjadi panik.
"E-Elang apa itu?! Bagaimana bisa dia mengejar kita?!" Wajahnya berkelebat karena ketakutan.
Tingkat Praktiknya hanya di ranah Pembersihan Jiwa tahap 6. Statusnya sebagai wali kota sepenuhnya dia dapat dari campur tangan keluarganya, sehingga membuatnya tidak terlalu mementingkan tingkat praktiknya. Selama dia berada di dalam wilayah keluarganya, dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan tanpa harus takut masalah datang kepadanya.
Namun kesombongannya tidak terlihat lagi saat ini. Satu-satunya yang ada di wajahnya adalah ketakutan dan kepanikan.
"Hei?! Apa yang kalian lakukan?! Segera tambah kecepatan!! Elang itu akan segera membalas kita jika kalian selambat ini!!" gerutu wali kota.
__ADS_1
"Pedang sudah tidak bisa lebih cepat dari ini! Kita semua terlalu berat, yang membuat kecepatan pedang menjadi terbatas!" Salah satu prajurit yang mengendalikan pedang memberikan jawaban kepada wali kota gendut.
Wajah wali kota itu berubah menjadi marah. "Apa kau baru saja mengatakan bahwa tubuh besar ku yang membuat kita bergerak lambat, hah?!"
Prajurit itu tampak menjadi jengkel. Di saat-saat seperti ini dia tidak mau mendengar omelan apapun dari orang menjijikan di hadapannya ini. Dengan cepat dia menahan dirinya untuk tidak memukul babi di depannya, dan memberikan penjelasan yang bisa dimengerti oleh otak kecil milik wali kota gendut.
"Bukan begitu. Yang hendak saya katakan adalah, penumpang kita terlalu banyak sehingga pedang tidak bisa terbang cepat." Mata prajurit itu bercahaya dingin saat mengatakannya.
Wali kota gendut itu, secara mengejutkan tampak percaya dengan perkataan prajurit itu. Bahkan wajah marahnya segera berubah menjadi lebih baik. Otak miliknya ternyata jauh lebih kecil dibanding tubuh besarnya.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?! Hei, kau. Cepat melompat turun dari pedang! Kau membuat perjalanan kita menjadi jauh lebih lambat!"
Seperti orang yang kesetanan, wali kota gendut itu menjambak rambut salah satu istrinya yang kondisinya sedang dalam kondisi setengah telanjang. Baru saja wali kota sedang 'bermain dengannya', namun sekarang wali kota itu dengan kejam menyuruhnya untuk melompat dari pedang yang saat ini sedang terbang dengan cepat di atas langit.
Jarak mereka dengan tanah paling tidak mencapai lima ratus meter lebih. Dirinya yang hanyalah Praktisi Beladiri Dasar Pondasi tingkat 6 menengah, jelas akan mati begitu dia melompat dan mendarat di atas tanah.
"Tu-Tuan ku! Kumohon! Biarkan aku tetap di sini! Aku akan melayani mu jauh lebih baik! Aku berjanji!" Gadis berusia sembilan belas tahun itu menangis sambil memohon-mohon.
Dia memegang rambutnya yang sedang dijambak oleh suaminya dan bergetar ketakutan saat tubuhnya diseret menuju ke pinggiran pedang.
Tanpa ragu dia segera melemparkan istrinya itu keluar dari pedang yang mereka naiki. Dia melemparkannya ke arah datangnya sang elang. Wali kota itu berharap sang elang akan mengejar gadis itu sehingga bisa memberikan mereka waktu selama beberapa saat untuk pergi lebih jauh.
Sayang bagi mereka, elang itu tidak tertarik sama sekali. Matanya hanya melihat gadis itu untuk sesaat sebelum memfokuskan dirinya dalam mengejar pedang yang dinaiki sang wali kota.
Elang yang dinaiki oleh Lin Mei bukanlah binatang buas tanpa akal. Dengan kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa tahap 9, dia memiliki akal yang setara dengan manusia pada umumnya, bahkan jauh lebih pintar karena memiliki insting seekor elang sejati.
Dia tau gadis yang dilemparkan oleh wali kota itu hanya memiliki kekuatan Dasar Pondasi tingkat 6. Dengan kekuatan seperti itu tidak mungkin dia bisa selamat jatuh dari ketinggian mereka saat ini, sehingga dia hanya mengabaikannya.
Lin Mei di sisi lain sama sekali tidak melihat pada gadis itu. Fokusnya sepenuhnya pada wali kota gendut yang melempar gadis itu..
"Aku berubah pikiran. Aku ingin kau membunuh bajingan gendut itu juga, namun dengan cara paling menyakitkan yang kau tau. Jangan membuat dia mati begitu mudah." Lin Mei berbicara dengan dingin.
Memekik keras, elang itu segera menambah kecepatannya. Sorot mata dingin terpancar dari kedua matanya saat dia membuka paruhnya yang runcing dan sangat tajam.
__ADS_1
*KRAK!!!*
Dalam satu katupan, pedang besar yang dinaiki sang wali kota langsung hancur berkeping-keping dan membuat semua orang yang menaiki pedang itu terjatuh.
Para prajurit yang sebelumnya sedang mengendalikan pedang tampak terkejut. Mereka terbatuk darah dalam jumlah tidak sedikit. Ini adalah serangan balik dari Qi mereka yang diputuskan secara paksa.
"Aaahhhh!!!! Tolong aku!!!! Kalian berlima! Cepat bantu aku!!!!" Wali kota gendut menjerit ketakutan.
Dia mengendalikan Qi miliknya untuk membantu tubuhnya melayang ringan di udara, namun hal tersebut tidak terlalu berarti karena tubuhnya yang begitu besar. Hal yang sama juga terjadi saat dia mencoba memakai pedang terbang miliknya.
Lima prajurit yang baru saja menerima serangan balik dari hancurnya pedang tampak linglung untuk sesaat. Mereka menggelengkan kepala mereka dan melihat wali kota itu yang jatuh bersama-sama mereka.
Dengan cepat mereka mengeluarkan pedang terbang mereka masing-masing dan berdiri di atasnya. Kelimanya segera menangkap tubuh gendut wali kota dan membuatnya melayang di udara bersama mereka.
Istri-istri wali kota menjerit dan meminta tolong pada sang wali kota, namun jeritan mereka tidak dia hiraukan, seolah-olah jeritan mereka hanyalah kicauan burung yang tidak penting baginya.
"Cepat! Kita harus mendarat di tanah! Elang itu bisa menyerang kita kapan saja!" perintah wali kota.
Para prajurit mengangguk mengerti, mereka juga memikirkan hal yang sama.
Akan tetapi, sebelum mereka bisa melaksanakan perintah sang wali kota, sebuah terpaan angin segera menerjang mereka. Angin itu bukanlah angin biasa, melainkan sebuah tebasan angin yang disebabkan oleh kepakan sayap sang elang.
Tubuh kelima prajurit yang sedang memegangi wali kota langsung tercabik-cabik begitu angin mengenai tubuh mereka. Mereka mati begitu saja, sementara wali kota yang sedang dipegangi oleh kelimanya meluncur kembali dengan cepat ke atas tanah.
Dia menggertakkan giginya dan segera mengeluarkan harta penyelamat jiwanya dari dalam cincin penyelamatnya. Itu adalah sebuah jimat yang dituliskan di atas kertas yang terbuat dari sebuah kulit binatang buas yang memiliki kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa tahap 3. Dia menghabiskan banyak uangnya untuk membeli jimat ini dari leluhurnya.
Jimat itu segera dia hancurkan dan seketika sebuah awan hitam terbentuk di hadapannya yang berubah bentuk menjadi naga ular berwarna putih dengan panjang seratus meter.
Begitu sosok wali kota masuk ke dalam tubuh naga ular, naga itu segera terbang pergi menjauh secepatnya dari sang elang yang ditunggangi Lin Mei.
*Kiiieeeekkkk!!!!* Pekikan tajam menggelegar dan mengenai naga ular.
Jelmaan naga ular yang terbentuk dari awak itu bergetar hebat dan tubuhnya langsung terpencar begitu saja di udara. Sosok sang wali kota tampak ketakutan setengah mati melihat jimat yang dia beli ribuan koin emas hancur begitu saja.
__ADS_1
Dia batuk seteguk darah dan penglihatannya menjadi buram. Apa yang dia lihat sebelum kehilangan kesadarannya adalah elang yang ditunggangi oleh seorang gadis bertopeng sedang melesat ke arahnya dan menangkapnya di salah satu cakar sang elang