
Urat-urat muncul pada dahi Weng Lou. Dia mendecakan lidahnya dan menatap tajam pada Ying She.
Membalik pedang di tangannya, dia pun menebaskan tiruan Pedang Naga Malam pada dada Ying She dan membuatnya harus mundur untuk menghindarinya.
Weng Lou menatap tantan kirinya yang mengeluarkan darah, lalu mulai mengalirkan Qi pada tangan kirinya tersebut dan membuat darahnya berhenti mengalir.
"Kau sudah mendapatkan sesuatu?" Weng Lou bertanya pada Ye Lao di dalam kepalanya.
"Eee....masih belum. Tadi itu begitu cepat, aku tidak terlalu melihat sesuatu yang spesial dari pedang itu, hanya saja respon mu lagi-lagi melambat seperti sebelumnya," ujar Ye Lao.
"Lagi? Baiklah, aku akan berhenti mencaritahu pedang apa itu, lebih baik menyelesaikan ini sebelum aku kehilangan kesabaran ku," ucap Weng Lou.
Dia memasukkan kembali tiruan Pedang Naga Malam di tangannya ke dalam cincin penyimpanan miliknya, lalu bersiul pelan.
Sebuah pisau kecil keluar dari balik bajunya, dan melayang persis di sampingnya. Pisau itu tidak lain adalah Pisau Pencabut Nyawa miliknya, selama ini Weng Lou menggunakannya untuk menggantikan dirinya memakai Pedang Naga Malam karena jauh lebih mudah menggunakannya.
Dan juga, pisau ini hanya membutuhkan kekuatan jiwa saja untuk bisa terbang setara dengan kecepatan Praktisi Beladiri yang berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 2 puncak.
"Mari lihat mana yang lebih kuat, pedangmu atau pisau ku."
Weng Lou kembali bersiul dan Pisau Pencabut Nyawa pun terbang ke depannya. Dalam sedikit kemudian dia bersiul kembali dan pisaunya pun segera melesat ke arah Ying She.
Dahi Ying She mengerut, dia pun segera menarik pedangnya, dan menangkis pisau itu.
Namun pisau itu tidak berhenti di situ saja, Weng Lou terus bersiul dan Pisau Pencabut Nyawa terus bergerak dan menyerang Ying She terus menerus. Ying She mau tak mau memasang posisi bertahannya, dan terus menangkis pisau milik Weng Lou itu.
Setiap kali dia menangkisnya, Ying She akan melangkah mundur satu kali, hingga kemudian tak terasa dia sudah mulai menuruni bukit tempat mereka berada saat ini. Beberapa menit saat kemudian, dia pun tiba di tepi sungai, dan terus menangkis Pisau Pencabut Nyawa yang tidak berhenti menyerangnya.
"Ck!! Pengecut! Bertarung secara langsung jika kau berani!" ucap Ying She dengan kesal.
Meski begitu, Weng Lou tidak mengehentikan serangannya dan terus mengendalikan Pisau Pencabut Nyawa untuk menyerang Ying She.
"Panggil saja aku pengecut, lagi pula ini adalah Turnamen Beladiri Bebas, semua data bertarung diperbolehkan di sini," balas Weng Lou dari atas bukit dan memandang ke arah Ying She yang ada di bawah.
Ying She yang sudah mulai menyentuh air di sungai mengutuk keras Weng Lou. Tidak dia sangka pisau Weng Lou itu sama kuatnya dengan pedang di tangannya, dan bahkan mulai mengunggulinya. Rasa kesalnya semakin menjadi, saat melihat Weng Lou yang tampak santai di atas bukit sementara pisaunya yang terus menyerangnya tanpa henti.
__ADS_1
"Dasar penakut, jika kau yang secara langsung di sini, kau pasti sudah aku kalahkan!" Ying She berusaha menarik emosi Weng Lou.
Namun sayangnya, Weng Lou bukanlah orang yang akan terpancing dengan kata-kata seperti itu, justru malah dia tersenyum kecil mendengar perkataan Ying She tersebut.
"Yaa....aku ini penakut, seperti yang kau katakan barusan. Aku takut jika bertarung langsung dengan mu, maka aku akan tanpa sengaja langsung membunuhmu," balasnya yang kemudian menambah laju gerakan pisau miliknya.
Tangan Ying She pun semakin bergerak cepat menangkis serangan dari pisau Weng Lou. Ying She mengkertakan giginya, lalu memandang Pisau Pencabut Nyawa di hadapannya.
Pisau ini tampak seperti pisau polos yang tidak memiliki keistimewaan sedikit pun, namun ketahanan dan kekuatan nya diluar akal sehatnya.
Terus menangkis selama satu menit penuh, Ying She pun kemudian sebuah ide bagus, dan memasang senyum lebarnya pada Weng Lou.
"Karena kau yang tidak mau bertarung secara langsung, maka jangan salahkan aku!"
Qi miliknya dialirkannya pada pedang di tangan, dan cahaya hijau seperti beberapa saat yang lalu kembali keluar dari pedang Ying She.
Pedang itu pun diayunkannya untuk menangkis sekali lagi Pisau Pencabut Nyawa Weng Lou, dan kemudian tangan kirinya segera menangkap pisau itu saat bertabrakan dengan pedangnya.
Akan tetapi, dahinya langsung mengerut kembali saat pisau itu terus bergerak dan menyayat telapak tangannya yang memegangnya.
"Seperti dugaan ku, pedangnya itu hanya bekerja pada makhluk hidup saja," ucap Weng Lou yang melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Aku menemukannya?"
Mendadak Ye Lao berseru di dalam kepala Weng Lou, dan membuat perhatiannya segera terpindah padanya.
"Apa yang kau dapatkan?" tanya Weng Lou.
"Nama dan asal pedang itu, aku mengetahuinya!" jawab Ye Lao dengan suara sangat meyakinkan.
Ekspresi wajah Weng Lou pun sedikit terkejut mendengarnya, dia tidak terlalu berharap sebanyak itu, tapi itu cukup bagus. Setidaknya dia mungkin bisa menemukan rahasia lebih jauh dari pedang di tangan Ying She.
"Jadi apa itu?"
"Dengar baik-baik, aku tidak tau darimana anak itu bisa mendapatkannya, atau bagaimana caranya. Intinya, yang perlu kau ketahui, pedang itu seharusnya tidak ada di dimensi tempat kita berada saat ini!"
__ADS_1
"*Maksudnya? Aku tidak mengerti, jelaskan lebih detail lagi!"
"Begini, alasan satu-satunya aku mengatakan mengapa pedang itu harusnya tidak ada di dimensi ini adalah, karena pedang itu merupakan sesuatu yang dibuat oleh seseorang yang berada di luar dimensi ini.
Pedang itu, diluar dimensi ini diperjualbelikan dengan bebas dan banyak dimiliki oleh para petualang dimensi. Tidak ada yang tau siapa identitas pembuatnya, namun yang pasti pedang itu harusnya mustahil bisa ada di tempat ini*!" jelas Ye Lao yang malah membuat isi kepala Weng Lou malah semakin berantakan.
"Aku tidak mengetahui bagian mana dari informasi itu yang bisa membantuku dalam kondisi saat ini," ucap Weng Lou yang menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Haaa....maka jangan memotong ku, bocah. Nama pedang itu adalah Pedang Pemecah Pikiran. Pedang itu telah diukir oleh sihir yang bisa membuat orang yang melihatnya selain penggunanya merasa pikirannya membeku selama beberapa saat. Umumnya serangan itu hanya bisa berfungsinya jika tidak memiliki kekuatan jiwa yang cukup kuat, namun sepertinya kekuatannya telah dikuatkan lebih jauh, sehingga kau bahkan bisa terkena efeknya."
Weng Lou diam selama beberapa saat, dan berpikir tentang itu.
Tepat ketika dia memfokuskan dirinya pada pedang itu, yang dia lihat adalah gerakan pedang itu sudah selesai menebasnya. Dia sendiri sebenarnya tidak melihat saat pedang itu menyentuhnya, begitu juga saat Ying She yang berpindah tempat secara misterius.
"Jadi apa solusi mu?"
"*Solusi, huh? Yang bisa ku sarankan padamu hanya satu, jangan menatap pedang itu saat mengeluarkan cahayanya. Dan juga, kalahkan dia dengan cepat, aku khawatir dia memiliki sesuatu yang lebih jauh berbahaya lagi dibandingkan dengan Pedang Pemecah Pikiran itu."
"Kalau itu kau tidak perlu khawatir, aku juga sudah mulai lelah melakukan pertarungan ini. Aku sebenarnya lebih tertarik bertarung melawan Yang Guang dibandingkan melawan orang ini*."
Perhatian Weng Lou kembali kepada pertarungan. Terlihat Ying She sudah melewati sungai dan masih terus menerus menangkis Pisau Pencabut Nyawa miliknya.
Weng Lou bersiul nyaring, dan gerakan pisau itu terhenti. Saat itu juga Ying She buru-buru melompat mundur menjauhi pisau itu.
Napasnya menggebu-gebu, tangannya bergetar hebat karena terus menahan semua serangan beruntun sebelumnya.
"Bajingan, karena itu hanya digerakkan oleh kekuatan jiwanya, sehingga dia sama sekali tidak memiliki beban meski melakukan pertarungannya seperti itu. Berbeda denganku yang bertarung secara langsung dengan tubuhku," gumam Ying She.
Dia pun mencoba mengatur napasnya kembali, namun ternyata pisau Weng Lou sudah melesat lagi ke arahnya dan dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Pada saat yang sama, ular kuning raksasa yang bersamanya sebelumnya telah berada tepat dibelakang Weng Lou dengan mulutnya yang sudah terbuka lebar.
Ying She tersenyum kembali melihat itu, dan pisau Weng Lou pun dengan cepat melesat menembus dada kanannya, hampir mengenai jantungnya. Di sisi lain, Weng Lou yang kaish diam berdiri di tempatnya menoleh dengan tatapan terkejut ke belakangnya dan melihat si ular raksasa yang sudah bergerak memakannya.
Klap!!
__ADS_1
Tubuh Weng Lou pun sepenuhnya masuk dalam mulut ular itu.