
Di luar gerbang Ibukota.
Kelompok Liu Ning berhasil sampai tepat sore hari, sesuai dengan prediksi mereka sebelumnya.
Karena banyak yang kelelahan, mereka semua memutuskan untuk beristirahat sejenak di dalam hutan dekat ibukota untuk memudahkan stamina mereka. Mereka kemudian membentuk sebuah kelompok kecil yang kemudian ditugaskan untuk memeriksa kondisi ibukota saat ini dari kejauhan.
Kelompok ini terdiri dari Li Min, Du Zhe, dan empat orang pria berusia tiga sampai dengan empat puluh tahun. Mereka semua adalah yang masih memiliki tenaga untuk beraktivitas secara normal dan ditunjuk sendiri oleh Liu Ning. Kelompok ini diketuai oleh Li Min sedangkan Du Zhe secara sukarela bergabung dalam kelompok ini dan jelas tidak bisa ditolak oleh Liu Ning ataupun Li Min.
Enam orang ini kemudian pergi ke sebuah bukit kecil di timur ibukota, dan naik ke atas sebuah pohon yang cukup tinggi untuk mereka bisa mengintai seluruh ibukota. Di atas dahan pohon, Li Min mengeluarkan benda menyerupai teropong yang terbuat dari bambu dan bahan seadanya dari balik bajunya lalu memulai pengintaian.
Matanya dengan cepat menelusuri kota dan memeriksa setiap pergerakan yang terjadi di dalam kota. Dahinya kemudian mengerut saat menyadari sesuatu yang aneh lalu mulai meanggil para anggotanya yang lain dan meminta mereka untuk memeriksa kota sepertinya, dia merasa bahwa dia sedang salah lihat saat ini. Kelima orang yang lain, termasuk Du Zhe mengeluarkan teropong mereka dan ikut memeriksa.
Tak lama, anggota lainnya bersikap sama seperti Li Min dan dengan panik bercampur keheranan, mencari-cari sesuatu di kota tetapi tidak bisa menemukannya.
Mereka semua menemukan hal yang sama telah hilang dari ibukota, dan itu adalah para prajurit yang bertugas untuk menjaga ibukota. Tidak ada satupun dari mereka yang terlihat di dalam kota, bahkan di bangunan barak tidak ada terlihat satu prajurit pun. Hal ini membuat keenam orang itu menjadi gelisah, kecuali Du Zhe yang masih diam mengamati sesuatu.
Beberapa saat kemudian, dia melepaskan teropong dari matanya dan memandang ke arah Li Min dan yang lain, "Guru sudah tiba lebih dulu, dan membunuh semua prajurit di ibukota."
Mendengar perkataan Du Zhe, kelima anggota penginta yang lain seketika terdiam dan menelan ludah mereka.
Merek semua sudah melihat bagaimana Weng Lou dengan gagah berani menghabisi para prajurit di tiap-tiap kota di Wilayah Kumuh. Seharusnya, mereka sudah tidak asing dengan situasi dimana menghilangnya semua prajurit di ibukota.
Du Zhe kemudian melanjutkan perkataannya, "Tidak hanya itu, aku sudah melihat gerbang istana dan ada kerusakan besar di sana. Tubuh-tubuh prajurit juga berserakan di sekitarnya. Sepertinya guru ku benar-benar mengambil tindakan lebih dulu daripada kita. Memasuki ibukota saat ini seharusnya aman-aman saja karena para prajurit telah mati."
Li Min menarik napas dingin, apa yang dikatakan Du Zhe adalah benar. Dia juga sudah melihat kondisi gerbang istana melalui teropongnya, dan apa yang disarankan olehnya juga masuk akal. Dia berpikir sejenak sebelum membuat keputusannya, "Baiklah Du Zhe, kita lakukan seperti saranmu. Tuan Pahlawan pasti sudah membereskan semuanya untuk kita."
"Ah, tidak. Anda salah paham. Aku sama sekali tidak memberikan saran, tetapi memberitahukan pemikiran ku. Jika seandainya kalian memilih tidak masuk sekarang, maka aku akan pergi bersama Kera Hitam Petarung untuk mencari guru ku," ucap Du Zhe tanpa emosi sama sekali pada wajahnya.
Dia melompat turun dari atas pohon dan mendarat dengan ringan di atas tanah. Dengan tenang dia pergi meninggalkan mereka semua, dan kembali menuju tempat perkemahan mereka.
Melihat sosok Du Zhe yang pergi meninggalkan mereka semua, Li Min dan yang lainnya tampak tidak senang dengan sikap bocah itu. Terlebih empat anggota lain selain Li Min. Mereka dengan jelas menunjukkan ketidaksenangan mereka kepada Li Min, namun Li Min hanya bisa diam saja mendengar kan mereka semua.
__ADS_1
Dia memahami apa yang saat ini dipikirkan oleh Du Zhe. Sebagai seorang murid, jelas bagi Du Zhe untuk khawatir kepada gurunya atau pun sekedar merindukannya. Namun sikapnya yang seolah tidak mempedulikan mereka yang lain, jelas membuat orang lain tersinggung.
"Dia masih muda, dan masa depannya menjanjikan, dibandingkan dengan kita semua, mungkin masa depannya akan lebih berwarna nantinya. Namun dia belum melihat semua karakter yang ada di dunia ini, kuharap dia tidak berkembang terlalu cepat sebelum sayapnya benar-benar bisa terbuka lebar," gumam Li Min lalu mengajak anggota penginta yang lain untuk kembali dan melaporkan situasi yang mereka dapatkan tentang ibukota.
***
Beberapa jam yang lalu, di sebuah lorong bawah tanah di istana.
Sosok Weng Lou memilih untuk masuk ke dalam lorong itu, dan menelusuri tangga yang membawanya ke sebuah pintu raksasa di kedalaman 50 meter di bawah tanah.
Saat dia masuk ke lorong itu, secarah aneh relief yang dihancurkan sebelumnya, kini telah bagus kembali dan menutup jalan masuk ke lorong tersebut. Weng Lou tidak menghiraukan nya karena dia bisa membuat jalan keluar lagi setelah memeriksa apa yang ada di tempat ini.
Pada saat ini, dia sibuk 'memperhatikan pintu besar yang menjadi akhir dari tangga yang dia turuni. Pintu ini terbuat dari sejenis bebatuan keras yang tidak termakan oleh waktu.
Weng Lou memperhatikan pahatan-pahatan tulisan yang terdapat pada pintu besar tersebut. Tulisan-tulisan itu menceritakan tentang peperangan yang sepertinya terjadi di Kekaisaran Fanrong ini pada pintu batu itu. Dari apa yang dilihatnya, Weng Lou mengetahui bahwa Kekaisaran Fanrong ini dulunya bukanlah sebuah kekaisaran seperti dulu.
Kekaisaran Fanrong dulunya merupakan bagian dari sebuah Kekaisaran yang jauh lebih besar dan menguasai banyak pulau lain sebesar Pulau Fanrong. Pulau Fanrong sendiri dikendalikan oleh seorang bangsawan yang mengelolanya. Bangsawan ini merupakan bagian dari keluarga kaisar, dan mendapatkan hak istimewa untuk tidak perlu membayar pajak tahunan kepada Kekaisaran.
Suatu ketika, terjadi peperangan besar antara Kekaisaran yang menguasai Pulau Fanrong dan banyak pulau lainnya dengan sebuah kekaisaran lain yang sama besarnya dengan kekaisaran tersebut.
Hancurnya kekaisaran ini dimanfaatkan oleh bangsawan yang mengelola Pulau Fanrong dan kemudian menciptakan Kekaisarannya sendiri. Sebagai bangsawan dari keluarga kaisar, bangsawan ini berhasil mengambil beberapa harta berharga dari ruang penyimpanan Kekaisaran yang telah hancur itu. Dan menurut apa yang tertulis di pintu besar ini, harta-harta tersebut ada di balik pintu ini.
"Sebuah Kekaisaran yang memiliki ukuran wilayah yang sangat mengerikan. Aku penasaran bagaimana bisa seseorang memerintah wilayah seluas itu seorang diri," ucap Weng Lou penasaran.
Setelah memastikan tidak ada yang dia lewatkan, Weng Lou pun membuka pintu batu tersebut dan kekuatan fisiknya. Tapi kemudian, ekspresi nya tampak terkejut menyadari pintu itu tidak terbuka meski dia menggunakan hampir setengah dari kekuatan fisiknya.
Mata Weng Lou berkedip, dan kemudian senyuman muncul pada wajahnya. Sebuah pintu yang bahkan tidak bisa dia buka dengan setengah dari kekuatan fisiknya, seberapa berharga harta yang ada dibaliknya?
Weng Lou tidak bisa menahan fantasinya lebih lama, dan kemudian memberikan lebih dari setengah kekuatannya pada kedua tangannya, dan membuat pintu besar itu bergetar hingga akhirnya bisa terbuka dan memperlihatkan isi di dalamnya.
Namun, apa yang ada di baliknya membuat semua ekspetasi Weng Lou hancur lebur. Apa yang ada di ruangan itu hanyalah sebuah peti perak usang yang sudah sangat berdebu.
__ADS_1
Bahkan kilauan perak yang harusnya terlihat tidak ada sama sekali.
"Haaahhh.....jangan pernah berharap banyak Weng Lou....jangan pernah berharap banyak..." ucapnya yang tersenyum masam.
Ruangan dibalik pintu besar itu memiliki luas hampir mencapai seribu meter persegi, tapi satu-satunya isi di dalam ruangan tersebut hanyalah sebuah peti usang yang berukuran tiga kali dua kali satu setengah meter.
Weng Lou pun berjalan masuk ke dalam ruangan itu, dan mendekati peti tersebut.
Dia melihat dinding-dinding di dalam ruangan itu yang terdapat banyak sekali pahatan tulisan lainnya yang menceritakan lanjutan dari kisah di depan pintu sebelumnya. Weng Lou terlalu malas untuk membacanya dan buru-buru berjalan ke arah peti di depannya.
Begitu sampai, Weng Lou bisa melihat peti itu tidak memiliki pengaman sama sekali dan tidak terkunci sehingga tanpa basa-basi langsung membukanya.
*Krack.....*
Bunyi berdecit dari engsel yang telah berkarat bisa terdengar dan peti itu pun terbuka memperlihatkan isi di dalamnya.
Berbeda dengan kondisi bagian luar peti itu, di dalamnya, terdapat bungkusan dari kain merah yang sangat bersih tanpa debu sama sekali. Tangan Weng Lou bergerak dan membuka bungkusan itu dan melihat isinya.
Sebuah kalung dari logam yang sangat bersih dan polos serta sebuah belati yang teersarung rapi terdapat di dalam bungkusan itu. Weng Lou tampak tidak memiliki minat sama sekali pada belati yang tersarung, dan segera mengambil kalung logam di dalam bungkusan tersebut.
Matanya bersinar saat menatap kalung itu dan sensasi dingin bisa dirasakannya dari kalung itu. Dia kemudian mengalirkan Qi miliknya ke dalam kalung tersebut, tapi tidak ada yang terjadi. Dahinya mengerut, sebelum kemudian mengendalikan kekuatan jiwanya ke kalung itu dan tidak ada yang terjadi seperti sebelumnya.
"Apa ini benar-benar kalung polos biasa? Tapi bagaimana bisa? Aku jelas merasakan sesuatu dari kalung ini....."
Weng Lou tampak berpikir sejenak sebelum sebuah ide terlintas di dalam kepalanya.
"Ini seharusnya mustahil, tapi tidak ada selahnya mencobanya," gumamnya.
Qi dan kekuatan jiwanya kemudian keluar dari tubuhnya dan secara bersama-sama dimasukkan ke dalam kalung itu. Tanpa diduga, sebuah reaksi muncul dari kalung itu.
Hawa dingin yang hanya dirasakan oleh Weng Lou saat menyentuh kalung tersebut mendadak bisa dirasakan oleh sekujur tubuh Weng Lou. Sebuah gaya tarik kemudian tercipta dan menarik separuh kesadaran Weng Lou kesebuah ruangan gelap tanpa ujung.
__ADS_1
Mulut Weng Lou menganga lebar melihatnya, dan detik berikutnya separuh kesadarannya pun kembali bersamaan dengan dirinya berhenti mengalirkan Qi dan kekuatan jiwanya ke dalam kalung tersebut.
"I-Ini....ini adalah Kalung Spasial!"