
Yang Guang menatap Weng Lou dengan senyum masam di wajahnya.
"Tidak kusangka ada benda yang jauh lebih berat dibandingkan dengan pedang milikku. Padahal pedang ku lebih besar dari palu ini," ucap Yang Guang sambil mengatur napasnya dan mulai agak terbiasa dengan beban dari palu di tangannya itu.
Weng Wan yang menonton sedari tadi menghela napasnya, dia tidak menduga Yang Guang akan bisa bertahan dalam sekali percobaan dalam menahan beban palu milik Weng Lou. Dia teringat pada malam ketika Weng Lou memberikan palu seperti itu padanya, dan dia malah berakhir terjatuh ke tanah karena terkejut dengan beratnya.
Di sisi lain, Weng Ying Luan sibuk melihat-lihat pedang milik Yang Guang yang ada di tangan Weng Lou, dan kemudian mengambilnya lalu mulai mengayun-ayunkan nya sambil mengangguk-angguk.
"Untuk pedang yang dipakai sebagai latihan, ini cukup bagus juga," komentar Weng Lou, tak menghiraukan Weng Ying Luan yang sedang sibuk memainkan pedang milik Yang Guang.
"Terima kasih," balas Yang Guang.
"Apa kau ingin masuk sekarang juga?" Weng Ying Luan akhirnya berhenti menggerak-gerakkan pedang di tangannya, dan bertanya pada Yang Yang dibalas anggukan olehnya.
"Kalau begitu ayo kita sama-sama masuk," lanjut Ying Luan.
Yang Guang tersenyum dan kemudian mereka semua pun berjalan masuk melewati pintu yang sebelumnya di datangi oleh Weng Lou dan yang lainnya.
Sama seperti kemarin, Yang Guang terus mengajukan tantangan pada Weng Wan dan selalu didiamkan oleh Weng Wan karena menurutnya hanya ada kemungkinan kecil keduanya saling bertarung pada babak semifinal hari ini. Berbeda dengan babak seleksi kedua kemarin, pada babak semifinal ini akan dilakukan secara duel yang seperti biasanya dilakukan pada turnamen pada umumnya dimana mereka hanya akan bertarung satu kali untuk menentukan apakah mereka akan lanjut ke babak final atau tidak.
Sementara mereka semua sibuk menelusuri lorong yang ternyata ada di balik pintu yang mereka masuki, Weng Lou hanya diam dan menatap Kitab Keabadian miliknya yang mendadak mengeluarkan cahaya keemasan saat mereka melewati pintu beberapa saat yang lalu.
"Kitab Keabadian mengeluarkan reaksi setelah 1 bulan lebih? Apa yang terjadi?" Tanya Ye Lao keheranan.
Weng Lou tetap diam, dan kemudian mulai membuka kitab tersebut pada halaman yang mengeluarkan cahaya keemasan tersebut.
Tak berapa lama, cahaya itu menghilang dan terlihat beberapa baris kalimat yang muncul pada halaman tersebut. Weng Lou pun mulai membacanya sambil terus melangkahkan kakinya.
Baru beberapa kata yang dia baca pada halaman tersebut, dan dia sudah berhenti melangkah, membuat teman-temannya semua memperhatikannya dan memasang wajah tanda tanya. Terlihat wajah Weng Lou sangat pucat, seakan dia sedang melihat hantu.
"Ada apa?"
__ADS_1
Lin Mei yang berjalan di samping Weng Lou bertanya dengan bingung. Weng Ying Luan, Weng Wan, dan yang lain ikut berhenti melangkah karena Weng Lou berhenti.
Weng Lou menatap Lin Mei dan teman-temannya, laku berkedip beberapa kali.
"A-Ah... tidak...bukan apa-apa. Ayo terus jalan, kita mungkin adalah yang terkahir datang," ucapnya yang kemudian segera merubah ekspresi wajahnya kembali seperti semula.
Mereka semua menatap Weng Lou dengan aneh sebelum akhirnya mereka kembali melanjutkan jalan mereka.
Tidak perlu waktu yang lama untuk mereka sampai di ujung lorong tersebut, yang mana membawa mereka ke sebuah ruangan yang tampak sama seperti dengan ruangan yang sebelumnya mereka pakai untuk beristirahat kemarin.
Di ruangan tersebut terlihat sudah ada beberapa peserta lain yang juga telah lolos ke babak semifinal.
Pada salah satu sudut ruangan, Weng Baohu Zhe terlihat sedang melakukan meditasi ketika kemudian kelompok Weng Lou datang dan memasuki ruangan itu.
Dia membuka matanya dan menatap Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning secara bergantian selama beberapa detik, sbelum kemudian melanjutkan meditasi nya.
Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning juga melihat sosok Weng Baohu Zhe beberapa saat dan kelompok mereka pun melangkah menuju ke tepi ruangan untuk duduk.
Para peserta lain yang juga sudah ada di tempat itu menatap kelompok Weng Lou satu persatu tanpa melakukan hal yang menarik perhatian. Mereka semua ingin tetap fokus selama turnamen ini hingga selesai, jadi tidak ada yang dengan sembrononya melakukan tantangan seperti yang dilakukan oleh Yang Guang sebelumnya.
Merasa ditatap, Weng Lou pun menoleh dan keduanya pun saling menatap satu sama lain.
"....."
Weng Lou hanya diam menatapnya, begitu juga pemuda itu. Mereka sama-sama tak mengeluarkan satu patah kata pun.
Untuk pemuda itu, dia memang tidak tertarik untuk membuka suaranya dan mengobrol dengan Weng Lou, sementara Weng Lou di sisi lain sedang memikirkan kalimat yang baru saja dia baca pada halaman Kitab Keabadian miliknya.
Tulisan yang ada pada halaman tersebut telah mengacaukan pemikirannya yang sudah dia mantapkan sejak tadi malam.
'Apa yang akan kau lakukan menghadapi kematian? Apakah nyawamu lebih berarti daripada nyawa teman-teman mu? Apa yang akan kau lakukan untuk dapat menghindari kematian? Apakah kau bisa melakukan sesuatu yang dapat menyelamatkan nyawamu dan juga teman-teman mu? Sosok seorang penghancur akan muncul dan mengambil segalanya darimu, bersiap lah.'
__ADS_1
Itu adalah kalimat yang ada pada halaman Kitab Keabadian yang baru saja Weng Lou baca. Untuk pertama kalinya, kata-kata yang muncul pada Kitab Keabadian membicarakan mengenai kematiannya sendiri.
Biasanya kalimat yang muncul pada Kitab Keabadian hanya bertuliskan beberapa peristiwa yang akan terjadi di masa depan, beberapa waktu setelah kalimat itu muncul pada Kitab Keabadian. Dan selama beberapa bulan ini, tidak ada peristiwa yang diramalkan oleh Kitab Keabadian yang akan membahayakan nyawanya.
Itu sebabnya pada saat ini, pemikiran Weng Lou sedang sangat kacau. Meski terlihat tenang, tapi tidak dengan isi kepalanya.
"Tetap tenangkan dirimu, nak. Aku tau ini aneh dan ganjal, tapi kau tidak boleh terganggu dengan kata-kata yang ada di kitab itu. Bisa saja Zhi Juan sedang mengerjai mu dan hanya ingin melihat respon dari mu," ucap Ye Lao yang berusaha untuk menenangkan diri Weng Lou.
"Mengerjai ku? Itu tindakan yang sangat bodoh jika benar dia melakukannya. Tidak mungkin dia repot-repot melakukan ini jika hanya ingin mengerjai ku," balas Weng Lou yang kemudian memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam, lalu mulai menjalankan Teknik Pembersih Jiwa.
Keheningan mulai dirasakan oleh Weng Lou, dan perlahan pikirannya menjadi jernih kembali.
"Haaa...." Weng Lou menghela napas panjang.
Weng Lou pun dengan pikiran yang jernih mulai memikirkan kembali kata-kata pada Kitab Keabadian. Dia secara perlahan mencoba memahami lebih jauh maksud dari tiap kata yang ada.
"Ada kemungkinan hal itu benar akan terjadi, muridku. Selama beberapa bulan ini, tidak pernah sekalipun kalimat yang muncul di Kitab Keabadian tidak terjadi. Jadi kali ini pun ada kemungkinan kata-kata yang muncul di Kitab yang akan terjadi tak lama lagi." Qian Yu yang merasa bahwa Weng Lou sudah tenang, akhirnya memberikan pendapatnya.
Tidak seperti sebelumnya, Weng Lou kali ini tidak langsung membalas komentar Qian Yu, melainkan kembali memikirkannya dengan tenang.
"Itu yang aku takutkan. Sejauh ini Kitab Keabadian selalu secara akurat memberitahukan apa yang terjadi di masa depan. Kalau kali ini juga benar akan terjadi, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan.
Aku dan teman-teman ku saat ini berada di daerah asing yang setiap saat bisa saja terjadi bahaya. Jika kata-kata yang ada pada Kitab Keabadian benar terjadi, maka akan sulit memprediksi nya kapan akan terjadi.
Terlebih lagi, Kitab Keabadian secara jelas mengatakan bahwa orang yang akan mengancam nyawaku dan teman-teman ku hanyalah 1 orang, dan jelas sekali aku tidak tau siapa yang dimaksud."
"Itulah gunanya kami berdua, bukan? Kami ini bukan hanya sekedar roh tanpa wujud yang selalu menumpang pada tubuhmu seperti beberapa waktu lalu, ingat? Kami sekarang bisa menggunakan kekuatan kami tanpa bergantung pada tubuhmu. Sekaranglah saatnya menggunakan hasil usaha kerja keras kami," ucap Ye Lao dengan suara mantap di dalam kepala Weng Lou.
"Lalu kenapa kau masih berbicara di dalam kepalaku?"
"Kau bocah sialan! Akan ku-"
__ADS_1
"Sudah sudah ... tidak perlu meributkan sesuatu yang tidak perlu. Muridku, sekarang mah fokus saja pada turnamen mu, serahkan pada kami untuk memperhatikan sekitar mu." Qian Yu buru-buru memotong Ye Lao sebelum pertengkaran keduanya berlanjut.
Weng Lou pun setuju dengan saran Qian Yu dan mulai melakukan semedi sambil menunggu waktu Turnamen Beladiri Bebas babak semifinal dimulai.