Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 459. Pertarungan Tersingkat, Weng Ying Luan Melawan Ce Pao


__ADS_3

Seusai Zu Zhang mengumumkan kemenangan Weng Lou, sebuah cela tercipta pada kubah penghalang ciptaan Zu Zhang dan suara sorakan para penonton pun bisa didengar oleh Weng Lou yang berada di dalam kubah.


Sebelumnya Zu Zhang menutup serapat mungkin kubah ciptaan nya demi menghindari hal yang tidak diinginkan. Dia sangat paham betul seberapa kuat Wudi Ge itu, namun tidak dengan Weng Lou. Oleh sebab itu, untuk memperkecil kemungkinan kerusakan arena yang diluar batas, dia memperkuat kubah miliknya.


Dia tidak mau jika sampai arena yang ada di luar kubah sampai ikut mengalami kerusakan karena pertarungan keduanya. Meski dia bisa dengan mudah memperbaikinya, akan tetapi hal itu cukup merepotkan menurut nya.


Karena hal itu jugalah suara dari luar kubah tidak bisa masuk dan di dengar oleh Weng Lou atau pun Wudi Ge, kecuali Zu Zhang sendiri.


Weng Lou menatap langit selama beberapa sebelum akhirnya dia pun berjalan keluar dari kubah pembatas.


cahaya matahari menyinari nya dan membuat dia sedikit silau.


Menyipitkan matanya, Weng Lou kemudian melihat teman-teman yang sudah melambai ke arahnya dan memanggil-manggil namanya.


Dia tersenyum tipis dan berniat melanjutkan jalannya, namun kemudian ingatan tentang kalimat yang muncul di dalam Kitab Keabadian membuat langkah kaki Weng Lou terhenti seketika.


Bayang-bayang rasa cemas dan gelisah mendadak muncul di hatinya. Tangannya terkepal erat, dan dia pun segera menggelengkan kepalanya.


"Hentikan pemikiran mu itu Weng Lou, jangan membebani pemikiran mu saat ini....kau harus tetap tenang dan memikirkan rencana mu kedepannya," gumam Weng Lou yang menghela napasnya.


Dirinya pun kembali melangkah dan sampai ditempat kelompoknya berada.


Teman-temannya segera mengucapkan selamat untuknya, tidak terkecuali Jian Qiang yang mengatakan pertarungan dirinya dengan Wudi Ge sangatlah luar biasa. Weng Lou berterima kasih pada mereka semua dan kemudian meminta waktu untuk memulihkan dirinya.


Weng Lou duduk di tanah dan kemudian mulai bersemedi setelah menelan sebuah pil dari dalam ruang penyimpanannya.


Di dalam kubah, Wudi Ge yang tidak sadarkan diri segera dipindahkan oleh Zu Zhang ke ruang perawatan, sebelum kemudian dia melanjutkan babak semifinal Turnamen Beladiri Bebas.


Setelah dia memindahkan Wudi Ge, Zu Zhang pun segera kembali memperbaiki arena yang terdapat di dalam kubah pembatasnya. Tidak perlu waktu lama, hingga seluruhnya telah kembali seperti semula.


Zu Zhang menatap sejenak arena itu dan tersenyum pahit. Dia tau dengan jelas, kalau arena ini akan kembali rusak kembali beberapa menit ke depan. Namun mau tidak mau dia harus memperbaiki arena, demi keberlangsungan Turnamen Beladiri Bebas tahun ini.


Lagi pula, dia adalah orang yang bertanggung jawab di Turnamen Beladiri Bebas tahun ini, sehingga segala bentuk kerusakan yang terjadi di Bangunan Arena Pertandingan merupakan kewajibannya untuk memperbaikinya kembali. Setelah puas menatap arena itu selama beberapa saat, Zu Zhang pun mengayunkan tangannya ke udara, dua nama peserta lain pun muncul di atas lapangan arena. Semua penonton dan peserta turnamen pun segera membacanya.


Dua nama peserta yang muncul adalah Ying Luan dan Ce Pao.


Di kelompok Weng Lou, mereka semua pun menatap Weng Ying Luan yang sudah tersenyum lebar membaca namanya yang akan bertarung selanjutnya.


Sementara itu, lawannya, Ce Pao adalah seorang pria yang terlihat berusia awal tiga puluhan yang berterlanjang dada, dan memperlihatkan sekujur tubuhnya yang dipenuhi dengan bekas luka yang ukurannya tidak kecil.


Weng Ying Luan melihat lawannya yang sudah melangkah lebih dulu memasuki kubah pembatas ciptaan Zu Zhang. Dia pun segera melangkahkan kakinya dan ikut masuk ke dalam kubah ciptaan Zu Zhang itu.


Merkea berdua pun segera mengambil tempat mereka masing-masing yang kemudian menunggu Zu Zhang memulai pertarungan mereka.


Tidak seperti sebelumnya, Zu Zhang tampak tidak terburu-buru memulai pertarungan, dan memilih untuk memperhatikan para penonton yang sudah berseru-seru, meminta pertarungan untuk dimulai. Namun dia tidak menghiraukannya dan terus memperhatikan mereka semua.


Sudut matanya terus bergerak dan memperhatikan satu persatu para penonton yang ada di tempat duduk penonton.

__ADS_1


Selang satu menit kemudian, dia pun berhenti, dan menghela napasnya.


"Ada bajingan lain yang sepertinya ingin mengganggu turnamen tahun ini. Jika ada keributan yang terjadi di Turnamen Beladiri Bebas ini selama aku menjadi penanggung jawab, maka aku akan kehilangan muka untuk bertemu Saudara Yi dan Yang Mulia Hao sehabis turnamen ini," gumam Zu Zhang dengan suara serius.


Dia pun memilih untuk menatap ke arah Weng Ying Luan dan Ce Pao yang sudah ada di dalam kubah pembatas ciptaannya.


"Yaa....jika ada keributan yang terjadi karena ulah orang-orang itu, mereka juga tidak akan bisa keluar dari tempat ini dengan selamat."


Menarik napasnya, dia pun merubah ekspresi nya dan tersenyum pada Weng Ying Luan dan Ce Pao.


"Ini adalah pertarungan kelima kita hari ini, jadi waktu kita masih sangat lama! Tidak perlu terlalu bersemangat seperti itu. Simpan tenaga kalian semua untuk babak final nantinya," ucap Zu Zhang yang menoleh kembali ke arah para penonton.


"Haa...tapi aku bisa mengerti perasaan kalian yang memang sudah tidak sabar untuk melihat pertarungan dari masing-masing peserta yang kalian dukung. Oleh sebab itu, aku akan memulai pertarungan selanjutnya! Baiklah, para penonton semua! Pertarungan kelima babak semifinal tahap pertama, Ying Luan melawan Ce Pao, dimulai!!!" Zu Zhang berseru dengan suara nyaring.


Weng Ying Luan dan Ce Pao yang ada di dalam kubah pembatas pun tanpa berlama-lama lagi langsung melesat ke arah satu sama lain dan memberikan serangan mereka satu sama lain.


Ce Pao memilih bertarung langsung menggunakan senjata miliknya, yaitu sebuah pedang sepanjang satu meter dengan bentuk layaknya sebuah katana.


Dia menebaskan pedangnya itu ke arah Ying Luan, namun dengan mudah dihindari olehnya.


Menggunakan tangannya yang telah dilapisi Qi, Ying Luan memberikan serangan tapak kepada Ce Pao yang kemudian dengan telak. mengenai pundak kanannya.


Ce Pao pun melompat mundur setelah terkena serangan Ying Luan. Dia memegangi pundaknya sejenak sebelum kemudian lanjut menyerang ke arah Weng Ying Luan.


Tangan kirinya memegang erat pedang miliknya, dan Qi kemudian mengalir ke dalam pedangnya. Terlihat pada bagian tajam pedang tersebut mengeluarkan cahaya terang, dan Ce Pao pun menebaskan pedangnya ke arah Weng Ying Luan.


Sebuah serangan energi melesat ke arah Weng Ying Luan.


Melihat itu, Weng Ying Luan pun segera melapisi kedua tangannya dengan Qi, lalu dia pun melakukan gerakan seperti menyapu di udara, dan gelombang Qi pun tercipta yang kemudian bertabrakan dengan serangan energi dari Ce Pao.


BAM!!!


Ledakan kecil tercipta dari pertemuan kedua serangan itu. Ce Pao tidak berhenti di situ, dia pun melakukan lagi tebasan di udara, dan lima buah serangan energi melesat dengan cepat ke arah Weng Ying Luan.


Kali ini Weng Ying Luan tidak memberikan serangannya untuk menahan serangan Ce Pao. Dia memilih untuk tetap berdiri di tempatnya dan dengan tenang, dia pun menghindari satu persatu serangan energi tersebut.


Terlihat serangan energi yang berhasil dia hindari, dengan mudah menebas tanah di belakangnya hingga cukup dalam.


Tebasan energi dari pedang Ce Pao akan cukup tajam untuk memotong tubuh Weng Ying Luan jika seandainya dia gagal menghindari satu saja serangan tersebut.


Tess!


Weng Ying Luan menepuk tangannya, lalu kemudian membentangkan kedua tangannya. Sebuah bola Qi pun terbentuk di hadapannya.


Bola Qi itu pun segera dipegang erat oleh Weng Ying Luan, dan dia pun menatap Ce Pao sambil tersenyum mengerikan padanya. Sinyal bahaya segera muncul dari seluruh tubuh Ce Pao melihat senyuman Weng Ying Luan itu.


Dia berhenti melangkah, dan menatap Weng Ying Luan dengan waspada.

__ADS_1


"Terima ini!" ucap Weng Ying Luan yang kemudian melemparkan bola Qi di tangannya dengan sekuat tenaga ke arah Ce Pao.


Mata Ce Pao melebar melihat itu dan dia pun buru-buru menjauh dari tempat dia sebelumnya.


Whuuuu......BAMMM!!!!


Bola Qi yang dilemparkan oleh Weng Ying Luan meledak seperti layaknya sebuah geranat tepat ketika menyentuh tanah.


Ce Pao yang telah menghindar sebelumnya, menelan ludahnya melihat itu. Untung saja dia sudah menghindar sebelumnya, atau jika tidak dia pasti terkena ledakan tersebut.


Namun ekspresi wajahnya segera berubah drastis, saat melihat Weng Ying Luan yang di kedua tangan sudah memegang lebih dari sepuluh bola Qi yang kemudian dilemparkannya ke arahnya.


Dengan buru-buru dia pun menghindari satu persatu bola Qi milik Weng Ying Luan, sementara Weng Ying Luan tiap detiknya melemparkan sebuah bola Qi padanya.


Ledakan demi ledakan pun mulai memenuhi arena yang ada di dalam kubah.


Zu Zhang yang melayang di atas mereka berdua, menatap dengan mata memerah apa yang dilakukan oleh Weng Ying Luan.


"AARGHHH!!!! ANAK SIALANNN!!!!! APA KAU TIDAK LIHAT AKU YANG BARU BEBERAPA SAAT YANG LALU MEMPERBAIKI ARENA ITU?!!?!" jerit Zu Zhang dalam hatinya.


Dia ingin sekali turun dan memukuli Weng Ying Luan saat ini, namun dia hanya bisa dengan pasrah menonton dari atas, Weng Ying Luan yang dengan senyuman membombardir seluruh arena yang ada di dalam pembatas ciptaannya.


Lima menit berlalu, terlihat sosok Ce Pao yang terbaring di tanah dalam keadaan tak sadarkan diri. Sekujur tubuhnya tampak berwarna hitam yang diakibatkan oleh dirinya yang terkena bola-bola Qi milik Weng Ying Luan.


Pada satu dua menit pertama, dia bisa dengan mudah menghindari semua bola Qi milik Weng Ying Luan, namun setelah itu secara mendadak Weng Ying Luan menambah banyak bola Qi yang dilemparkan nya ke arahnya.


Akhirnya, karena dia sempat lengah pada saat-saat genting, dia pun berakhir menjadi sasaran empuk dari bola-bola Qi tersebut.


Di atas arena, terlihat Zu Zhang dengan mata memerah dan menahan rasa amarah melihat akhir dari pertarungan Weng Ying Luan melawan Ce Pao.


Pada saat ini, kondisi arena benar-benar hancur lebur karena ledakan bola-bola Qi ciptaan Weng Ying Luan. Bahkan kerusakannya jauh lebih besar dari pertarungan Weng Lou melawan Wudi Ge sebelumnya.


Namun bukan itu yang membuat Zu Zhang menjadi marah, melainkan ekspresi dari Weng Ying Luan yang tiap kali melemparkan bola Qi nya selalu tersenyum dan tampak seperti menikmati ledakan yang diciptakannya.


Hal ini berarti Weng Ying Luan dengan sengaja bermain-main melawan Ce Pao dengan melemparkan bola Qi padanya.


"ANAK SIALAANNN!!!!! AKAN KUINGAT KAU!!! AKU TIDAK PEDULI KAU MURIDNYA YI CHEN SEKALIPUN!!! SEPULANG DARI TURNAMEN INI, AKAN KUMINTA KAU BERTANGGUNG JAWAB KARENA SENGAJA MERUSAK ARENA PERTANDINGAN!!!!" Zu Zhang meraung marah dalam hatinya.


Dia pun mencoba menarik napas perlahan lalu membuangnya.


"Pemenang pertarungan kalima, Ying Luan!" seru Zu Zhang yang tetap berusaha menahan emosinya.


Weng Ying Luan tersenyum lebar dan pergi keluar dari kubah, sementara Zu Zhang yang berada di belakangnya, menatap sosoknya seakan-akan ingin menelannya bulat-bulat.


"Anak Sekte Langit Utara sialan.....Yi Chen, kau harus bertanggung jawab atas ulah murid mu itu...." gumam Zu Zhang dengan suara pelan namun Yi Chen yang sedang berada di atas atap Arena Pertandingan bisa mendengar nya dengan jelas.


Dia pun tersenyum canggung, apa yang dilakukan Weng Ying Luan malah membuat masalah baginya.

__ADS_1


__ADS_2