
Wajah Weng Lou tampak jelek mendengar balasan dari binatang buas lautan itu.
Seperti kata Kera Hitam Petarung, para binatang buas lautan sangat sensitif jika membahas mengenai masalah wilayah mereka. Perkembangan para binatang buas, entah itu yang hidup di daratan atau lautan, keduanya sama-sama memerlukan wilayah yang memiliki pasokan sumber daya yang mereka butuhkan untuk berkembang.
Biasanya, mereka akan memilih sarang yang berlokasi tepat di tempat sumber daya mereka, sehingga mencegah terjadinya pencurian terhadap sumber daya milik mereka.
Ada saat-saat dimana dua ekor binatang buas akan saling bertarung demi memperebutkan sebuah wilayah, dan sumber daya yang ada di dalamnya. Jika salah satunya kalah, maka sang pemenang yang akan memiliki wilayah yang diperebutkan itu, dan yang kalah akan pergi dengan tidak terhormat.
Gelombang Kekuatan dari Kera Hitam Petarung telah menarik perhatian dari belut raksasa, dan belut itu merasa bahwa Kera Hitam Petarung telah menantang dirinya, jadi dia jelas akan menerima tantangan itu dan menghiraukan permintaan dari Weng Lou.
Saat ini, hanya hasil pertarungan antara Kera Hitam Petarung dan belut raksasa saja yang bisa memutuskan apakah mereka bisa lanjut berlayar atau tidak.
"Cih, belut ini. Dia tau dengan benar ini adalah lautan, musuh dari para binatang buas daratan. Jika keduanya bertarung disini, maka belut ini yang akan keluar sebagai pemenangnya...." Weng Lou mengutuk belut raksasa itu dalam hatinya.
"Ah sialan, belut ini pintar. Dia tidak mau membuang kesempatan untuk bertarung dengan ku di lautan," cibir Kera Hitam Petarung.
"Sekarang bagaimana?"
"Tenang, aku masih memiliki ide."
Mendadak, Weng Lou yang saat ini berada di dahapan belut raksasa itu membungkukkan badannya kepada belut itu. "Maafkan saya jika saya sudah menyinggung Anda. Namun sepertinya Anda tidak berniat melepaskan kami tanpa adanya pertarungan. Saya akan berterus terang, sebenarnya kami sedang membawa sebuah hadiah untuk pemimpin kami, seorang Praktisi Beladiri yang sangat kuat. Jika kami tidak sampai ke tempat dia sedang menunggu kami tepat waktu, maka dia akan sangat marah besar."
Mendengar ucapan Weng Lou, cahaya mata merah belut itu tampak lebih terang dan dia bereaksi, "Pemimpin kalian? Memangnya sekuat apa dia?! Berani menyinggung ku, akan kubunuh pemimpin mu itu!"
Suara marah dari belut itu terdengar menggema dan membuat sebagian penumpang terjatuh ke lantai karena ketakutan setengah mati. Bagi mereka, kemunculan sosok belut raksasa di hadapan mereka ini adalah tanda bahwa mereka akan sebentar lagi mati.
"Pemimpin kami adalah seorang Praktisi Beladiri yang berada di ranah Penguasaan Jiwa, dia adalah seorang Kaisar Jiwa. Dengan kekuatannya, dia mampu menghancurkan sebuah gunung dengan hanya satu jari saja." Weng Lou mulai merangkai cerita di kepalanya, berharap belut raksasa itu tertipu dan menjadi takut.
Namun harapan Weng Lou segera sirna, saat belut besar itu malah meraung semakin marah padanya, "Penguasaan Jiwa? Kaisar Jiwa? Apa itu? Aku belum pernah mendengarnya sebelumnya! Kau mencoba mempermainkan aku, huh?!"
Weng Lou tak bisa berkata-kata sama sekali. Bagaimana bisa belut besar ini menjadi sangat kuat namun sangat bodoh? Bahkan Kera Hitam Petarung yang jauh lebih lemah darinya mengetahui apa itu ranah Penguasaan Jiwa, dan apa itu Kaisar Jiwa, tapi belut ini berkata bahwa dia belum pernah mendengarnya sebelumnya.
Tapi kemudian Weng Lou segera mengerti. Lingkungan Kepulauan Huwa ini tidak memiliki Praktisi Beladiri yang berada di ranah Penyatuan Jiwa selama berabad-abad lamanya, kemungkinan belut ini belum pernah bertemu dengan makhluk hidup yang memiliki kekuatan di ranah Penguasaan Jiwa, sehingga pengetahuannya sangat jauh dibandingkan dengan Weng Lou.
"Penguasaan Jiwa adalah ranah di atas Penyatuan Jiwa! Kaisar Jiwa merupakan salah satu tingkat di ranah tersebut. Pemimpin kami, telah berusia hampir lima ratus tahun, dan dia tidak berasa dari Kepulauan Huwa ini," jelas Weng Lou.
"Omong kosong! Ranah di atas Penyatuan Jiwa? Hmp! Aku hanya pernah mendengar nya dalam dongeng. Kau hanya mencoba menipuku!"
__ADS_1
Dengan suara marahnya, belut raksasa itu mulai menggerakkan tubuhnya yang sangat panjang. Kapal mulai berguncang dan seperti akan terbalik kapan saja. Weng Lou mengkertakkan giginya dan mulai mempertaruhkan semuanya sekaligus.
"Itu benar! Pemimpin kami adalah orang sekuat itu! Jika anda tidak percaya, maka bunuh saja kami disini! Dia akan datang dan mencari Anda! Lalu menarik keluar jiwa anda, dan menyiksa jiwa anda selama berabad-abad lamanya!" Weng Lou berseru tanpa rasa takut dan seketika itu juga, belut raksasa itu menjadi diam dan menatap Weng Lou dalam-dalam.
Meski dia tidak percaya dengan Weng Lou, namun dia juga tidak mau mengambil sebuah resiko dengan memancing kemarahan dari orang sekuat itu. Walau dia yakin bisa melarikan diri, namun dia akan kehilangan wilayah yang dia miliki saat ini.
Seperti dugaan Weng Lou, belut raksasa itu mulai memakan umpan yang ditaruhnya.
"Hmp! Kau bersyukur karena aku yang menguasai wilayah ini, jika orang lain mungkin kalian sudah akan ku tenggelamkan. Cepatlah enyah, dan jangan membuatku berpikir ulang untuk membunuh kalian!"
Sambil menyembunyikan rasa khawatirnya, belut raksasa itu bergerak masuk kembali ke dalam lautan dan meninggalkan kapal yang dinaiki oleh Weng Lou dan yang lainnya.
"Dia takut," ucap Kera Hitam Petarung dengan nada suara mengejek.
"Yup, dia takut." Weng Lou menganggukkan kepalanya.
Sepertinya aktingnya barusan telah benar-benar dipercaya oleh belut raksasa itu. Tidak sepele besar tubuhnya, otak belut itu sepertinya sangat kecil hingga bisa tertipu oleh akting Weng Lou.
"Baiklah, ayo kembali berlayar semuanya! Hei, kapten! Cepat jalankan kembali kapalnya, kau tidak kau belut itu kembali kan?" Weng Lou berseru dan memecahkan keheningan.
Pria paruh baya yang sebelumnya mulai tersadar dari lamunannya, dan buru-buru melakukan seperti yang dikatakan oleh Weng Lou. Dia tidak mau bertemu monster seperti belut raksasa itu lagi. Saat ini dia sudah ketakutan setengah mati, jika dia bertemu untuk yang kedua kalinya, maka dia akan langsung mati jantungan ditempat.
Kapal mereka pun berangkat sekali lagi, meninggalkan teritori sang belut raksasa.
Di dalam kamar kelompok Weng Lou, Weng Lou yang sudah masuk langsung kembali tidur, begitu juga dengan Du Zhe yang memilih untuk segera tidur. Sementara itu, Hong Mugui memilih untuk tetap terjaga sepanjang malam. Dia sudah tidak bisa tidur semenjak kemunculan belut raksasa itu. Perasaan khawatir akan datangnya makhluk yang serupa terus membayangi nya sepanjang malam
***
Waktu terus berlalu, tak terasa 4 hari terlah terlewat dan hari ini, kapal yang ditumpangi oleh kelompok Weng Lou hampir tiba di Pulau Gui. Perkiraan kapten kapal yang mereka tumpangi, mereka akan sampai pada malam hari.
Ini lebih cepat dua hari dibandingkan ketika kepergian Hong Mugui sebelumnya dari Pulau Gui ke Pulau Fanrong. Hal ini karena perbedaan arah angin dari Pulau Gui ke Pulau Fanrong, begitu juga sebaliknya, sehingga mereka bisa sampai lebih cepat dua hari.
Saat ini, di atas dek kapal. Weng Lou sedang duduk santai diatas tubuh Du Zhe yang saat ini sedang push up dengan wajah yang sudah memerah.
"Sembilan puluh delapan......sembilan puluh sembilan.....sera......" Weng Lou tidak bisa menyelesaikan hitungan nya, karena Du Zhe tidak bisa mengangkat tubuhnya.
"Ayo Du Zhe....kau bisa melakukannya. Hanya satu kali lagi. Kalau kau bisa melakukannya, maka kita akan menambahkan latihan lainnya," ucap Weng Lou tanpa rasa kasihan sama sekali pada Du Zhe.
__ADS_1
Du Zhe berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat tubuhnya. Keringat berjatuhan, dan wajahnya benar-benar merah seperti tomat. Hong Mugui yang menonton itu hanya bisa terdiam melihat kekejaman Weng Lou melatih Du Zhe.
Empat hari di lautan, aktivitas rutin yang dilakukan oleh Du Zhe hanyalah latihan, sementara Weng Lou sibuk melatihnya. Tiap kali Du Zhe berhasil memecahkan rekornya, Weng Lou akan menambahkan porsi latihannya keesokan harinya.
Biasanya, anak-anak seperti Du Zhe yang dilatih untuk menjadi Praktisi Beladiri akan di didik secara perlahan untuk memperkuat pondasi mereka sedikit demi sedikit, dan jika sudah dianggap cukup, mereka akan mulai masuk ke latihan untuk menjadi Praktisi Beladiri.
Namun apa yang dilakukan oleh Weng Lou jelas berbeda jauh. Tidak hanya dia memaksa tubuh Du Zhe untuk mencapai batasannya, dia bahkan dengan senang hati membuat muridnya itu menjadi putus asa karena ucapannya.
"Ak...kuu.....paasstiiiii......bisaaa!!!!!" Du Zhe berteriak dan seketika mengangkat tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Seratus. Oke cukup, kau bisa beristirahat," ucap Weng Lou.
*Buk.....* Tubuh Du Zhe langsung ambruk ke tanah, dan dia bernapas dengan tersengal-sengal. Weng Lou turun dari atas tubuhnya, dan pergi meninggalkannya.
Tak lama, dia kembali dan membawakannya segelas air yang langsung diterima dengan cepat oleh Du Zhe. Dalam sekejap mata, air tersebut langsung habis, dan Du Zhe menghela napas lega.
"Terima kasih, Guru....."
"En, kerja bagus. Dengan latihan rutin seperti ini, kemungkinan kau bisa memulai latihan Praktisi Beladiri mu dalam dua minggu. Namun jika kau terus berlatih hingga mencapai batas tubuhmu, kau akan bisa lebih cepat lagi. Tapi tentu saja, latihan seperti itu tidak bagus sama sekali. Aku menyuruhmu seperti itu, karena hanya ingin melihat sejauh mana tubuhmu sanggup bertahan, dan jelas, kau sudah tidak bisa lebih dari ini," jelas Weng Lou pada Du Zhe.
Du Zhe mengangguk mengerti pada penjelasan Weng Lou. Selama dilatih olehnya, dia tidak mengeluh sedikitpun, yang mana membuat Weng Lou terus memuji dirinya. Meski begitu, dia juga tau batasannya sendiri, dan dia bisa merasakan bahwa latihan mencapai batasan tubuhnya ini akan membuat dirinya hancur dalam beberapa hari lagi.
"Terima kasih Guru sudah memberikan bimbingan padaku." Kepalanya menunduk hormat pada Weng Lou meski masih berada di lantai dek kapal.
"Tidak perlu seperti itu, aku adalah Gurumu. Melatihmu sudah merupakan kewajiban ku."
Kaki Weng Lou kemudian melangkah ke pinggir kapal dan menatap bayang-bayang dari pulau yang sebentar lagi akan mereka capai.
"Itu adalah Pulau Gui, Tuan. Pulau yang menjadi tempat tujuan kita. Pusat Perguruan Iblis Merah dibangun di pulau itu karena saya membangunnya di sana pertama kali." Hong Mugui memberikan penjelasannya pada Weng Lou yang terlihat sedang mengamati.
"Em, aku sudah mendengarnya darimu sebelumnya soal itu. Ngomong-ngomong, apakah ada orang lain yang berada di ranah Pembersihan Jiwa selain dirimu di Perguruan Iblis Merah?" tanya Weng Lou tanpa memalingkan wajahnya pada Hong Mugui.
"Tidak Tuan, satu-satunya yang berada di ranah Pembersihan Jiwa di Perguruan Iblis Merah hanya saya seorang. Tapi meski begitu, masih ada beberapa orang yang tidak bergabung di dalam Perguruan Iblis Merah yang berada di ranah Pembersihan Jiwa. Namun tetap tidak ada yang lebih kuat dari saya. Mereka kebanyakan hanya berada di tahap 2 dan 3 saja, sehingga tidak terlalu menjadi ancaman bagi Perguruan Iblis Merah kami."
"Begitukah? Apa mereka tergabung dalam suatu organisasi juga?"
"Ya Tuan, mereka semua bergabung dalam organisasi. Ada yang merupakan seorang pemimpin pasukan tentara bayaran, ada yang merupakan ketua dari organisasi perdagangan, dan ada juga yang seperti saya, seorang ketua dari perguruan beladiri. Bahkan ada juga seorang penempa yang mendirikan organisasi pembuat senjata."
__ADS_1
"Oh? Seperti nya terdengar menarik. Aku tidak sabar untuk melihat mereka semua." Senyum tipis muncul pada sudut bibir Weng Lou dan matanya sekilas bercahaya.
'Pulau Gui.... sepertinya aku bisa mencari kesibukan lain selain melatih Du Zhe di sana.'