Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 575. Menuju Samudera (IV)


__ADS_3

Mulut Jenderal itu terbuka lebar dan kedua bola matanya hanya terlihat warna putihnya saja.


*Shu...pash....*


Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai lahar, dan tidak menunjukkan perlawanan sama sekali. Dari suara tulang lehernya yang patah, jelas sekali dia sudah mati. Serangan mematikan Weng Lou itu benar-benar tak terduga dan mengincar titik vital lawannya.


Seolah-olah Weng Lou telah berpengalaman dan melakukan pembunuhan dan tau semua titik lemah manusia, bahkan Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa sekalipun. Tempat yang Weng Lou serang itu, mau sekuat apapun orangnya, pasti akan langsung menuju ajalnya. Kecuali orang itu sudah tidak terikat lagi dengan tubuh fisiknya, maka orang itu tidak bisa berbuat apapun dengan serangan berbahaya yang Weng Lou lakukan.


"Haaa.....hahahaha.....bocah kurang ajar. Lima puluh tahun mengabdi menjadi bawahan orang itu, tingkat praktik ku hanya bisa mencapai Penyatuan Jiwa tahap 5 puncak saja. Tapi lihatlah dirimu. Kau baru berusia 15 tahun, tapi sudah naik ke tahap 3 tanpa masalah. Bakat benar-benar mempengaruhi kenaikan praktik seseorang, huh?"


"Tapi meski begitu, kau tetaplah hanya seorang bocah yang belum menyentuh tahap 5. Kekuatan mu itu....akan ku buat kau berhenti menjadi semakin kuat. Ini adalah pembalasan karena sudah membunuh mereka dengan kejam." Pemimpin Jenderal itu berbicara sambil menatap Weng Lou seperti seekor kutu yang mengganggu pemandangannya.


Dia memegang kedua pedangnya dan melepaskan aura bertarungnya bersamaan dengan Qi berwarna emas terang yang langsung menyelimutinya dan juga pedangnya. Kekuatan Jiwa nya menyebar ke seluruh ruangan tempat mereka berada, dan bersamaan dengan itu sosoknya segera melesat ke arah Weng Lou.


Mata Weng Lou bergerak ke samping, menatap sosok sang pemimpin Jenderal yang sedang mengayunkan pedangnya ke arahnya. Pedang itu memancarkan sesuatu yang berbahaya, dan mau tak mau Weng Lou harus menghindarinya.


*Shuu-SRIIIINGGGH!!!!*


Seluruh ruangan terpotong jadi dua oleh satu tebasan dari pemimpin Jenderal itu. Dia ternyata tidak menahan dirinya sedikitpun dan melepaskan kekuatan penuhnya.


Lahar terciprat keluar dari bekas tebasan yang memotong ruangan menjadi dua. Sepertinya lawan Weng Lou ini sudah tidak peduli lagi dengan lingkungannya berada saat ini. Mereka akan terkubur jauh di bawah tanah jika melepaskan seluruh kekuatan Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa.


"Pe-Pemimpin! Kita akan mati terkubur jika kau melepaskan kekuatan sebesar itu!!" Satu-satunya Jenderal yang masih tersisa selain pemimpin Jenderal itu adalah Jenderal bertubuh kurus.


Dia tampak panik melihat serangan yang dilakukan oleh pemimpin mereka itu. Namun pemimpinnya hanya mendengus dan mengangkat kembali pedangnya, siap melepaskan tebasan lainnya.


"Aku akan menguburnya di sini bersama ku, kau keluar dari sini dan bawa Jenderal Hu bersama mu. Ambil cincin itu dan berikan pada Pangeran Pertama. Dia akan menjadi kaisar selanjutnya dan memimpin Kekaisaran Ryuan ke arah yang lebih baik. Aku yakin, informasi tentang kematian Kaisar sudah mulai tersebar dan beberapa waktu lagi kelompok pemberontak akan melakukan penyerangan."


"Sebagai seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa, kehadiran mu sangat dibutuhkan di sana. Katakan pada Pangeran, mimpi kita akan menjadi kenyataan, dan dia lah yang akan mewujudkannya!"


Jenderal bertubuh kurus mengepalkan tangannya mendengarkan perintah pemimpinnya. Dia hanya berada di tahap 4 dan kekuatannya tidak ada apa-apa nya ketika menghadapi kekuatan fisik Weng Lou yang seperti binatang buas.


Pengendaliannya pada Kekuatan Jiwa juga jauh melampaui mereka semua, seakan-akan dia telah sangat lama berada di tingkat itu sehingga bisa mengendalikan Kekuatan Jiwa nya semudah para Penguasa Jiwa.


"Pemimpin!!! Aku akan memberikan persembahan di depan makammi setiap harinya! Jadi, semoga kau tenang di sana!"


"AKU BAHKAN BELUM MATI BAJINGAN!!!!"


Jenderal kurus itu tidak mempedulikan amarah pemimpinnya. Kakinya yang panjang bergerak sangat lincah melompat dari satu sisi sungai ke sisi lainnya. Qi miliknya dikendalikannya dan segera mengambil tubuh tak sadarkan diri Jenderal yang terkena serangan angin tebasan Weng Lou sebelumnya, lalu berlari ke arah dimana cincin yang memancarkan Kekuatan Jiwa padat milik Chizi Ryuan berada.


"Kau pikir aku akan membiarkannya, huh?!" Weng Lou mengangkat tangannya, dan Kekuatan Jiwa segera berkumpul membentuk sebuah bola emas transparan.


Bola emas dari Kekuatan Jiwa itu pada awalnya tampak biasa saja, akan tetapi sedikit aura berwarna hitam menjalar keluar dari dalam tubuhnya dan bergabung bersama dengan bola tersebut. Ini adalah teknik baru Weng Lou yang dibuatnya dengan memanfaatkan sedikit kekuatan garis keturunannya yang sengaja tidak disegel oleh Zhi Juan agar memastikan dirinya tidak mati meski kehilangan Qi dan Dantiannya.


"Domain Kegelapan!!!"


Persis setelah dia berbicara, bola emas di tangannya berubah menjadi bola hitam sepenuhnya dan langsung meletus seperti balon yang kemudian menyebar ke seluruh tempat mereka saat ini.


Seluruh sungai lahar menghilang ditelan kegelapan dan hanya ada Weng Lou bersama dua Jenderal yang masih tersisa di dalamnya.


Wajah pemimpin Jenderal itu berkeringat dingin ketika mendengar nama teknik Weng Lou. Dia tau teknik yang dinamakan Domain ini, tidak semua orang bisa memilikinya. Mau seberapa kuat atau pun berbakat orangnya, dia belum tentu bisa mendapatkan kemampuan Domain, karena Domain hanya akan dimiliki oleh mereka yang memiliki Garis Darah Keturunan.


Walaupun Garis Darah Keturunan milik seseorang sangat tipis, namun dia akan mampu membangkitkan kekuatan Domainnya ketika berada di ranah Penyatuan Jiwa. Hal ini karena Kekuatan Jiwa akan merespon Kekuatan Garis Darah Keturunan yang mana secara tidak langsung sebenarnya saling berhubungan dengan sang Praktisi Beladiri.


Namun infomormasi ini hampir tidak diketahui oleh siapapun, sementara Weng Lou mengetahuinya karena sudah mendapatkan banyak informasi dari Ye Lao dan Qian Yu.


Di dalam Domain Kegelapan nya, Weng Lou mampu mengendalikan semua energi kegelapan yang ada di sekitarnya. Tiap bayangan, energi negatif, unsur kegelapan, dan aura kematian yang ada di ruangan itu diubah menjadi kekuatannya selama sementara.


"Kau...kau berasal dari salah satu Keluarga Klan itu?! Mempercayai mu memang adalah sebuah kesalahan besar yang telah kami lakukan. Seharusnya kamu membunuhmu ketika memiliki kesempatan!" Sang Pemimpin Jenderal itu mulai menyesal karena sempat percaya pada Weng Lou.


Baginya, mempercayai seorang penyusup dari Keluarga Klan adalah kesalahan yang tak terkira. Kekaisaran Ryuan selalu berperang tanpa henti melawan mereka karena selalu menginginkan wilayah mereka yang dulunya memang merupakan milik Kekaisaran lama yang mana adalah tempat para Keluarga Klan berasal.


Bagi Keluarga Klan Besar, Keluarga Ryuan adalah seorang pencuri yang datang dan mengambil banyak wilayah milik Kekaisaran lama dan membangun Kekaisaran nya sendiri. Permusuhan mereka sangat jelas dan terlihat para Keluarga Klan bersatu untuk menekan Kekaisaran Ryuan. Namun sebenarnya tiap Keluarga Klan memiliki keinginan untuk menguasai wilayah Kekaisaran Ryuan sendirian tanpa harus membaginya dengan keluarga yang lain.

__ADS_1


"Penyesalan selalu datang terkahir, benar bukan?" Weng Lou menyeringai, dan membentuk pola tangan dan Domain Kegelapan miliknya mulai mengecil sedikit demi sedikit.


Kedua Jenderal yang tersisa menatap satu sama lain mereka tau apa yang akan terjadi ketika dinding Domain itu mengenai mereka. Tubuh mereka akan terhisap ke suatu tempat dan tidak tau berkahir dimana. Mereka harus bisa kabur dari sini, apapun yang terjadi.


"Berhenti! Kami menyerah! Akan kami biarkan kau memiliki semua hartanya, tapi tolong lepaskan kami!" ucap Pemimpin Jenderal itu sambil mengangkat kedua tangannya diikuti oleh Jenderal bertubuh kurus di dekat tempat cincin yang sebelumnya berada.


Weng Lou mendengus, dia menatap dengan tidak peduli apakah mereka menyerah atau tidak, dia akan menghabisi mereka berdua. Keduanya yang melihat domain milik Weng Lou tidak berhenti, segera panik dan memutar otak dengan cepat.


"Jika kau membunuh kami, orang-orang yang datang bersama mu akan mati! Kami sudah menyuruh para prajurit yang memiliki kekuatan setidaknya di ranah Pembersihan Jiwa untuk mengawasi mereka, dan jika kami tidak kembali dalam satu hari, mereka akan membunuh semua orang-orang mu!"


Akhirnya pemimpin Jenderal itu mengeluarkan kartu terakhirnya. Dia tau Weng Lou memiliki hubungan spesial dengan salah satu dari orang-orang yang dia bawa bersamanya ke istana, oleh sebab itu dia membuat antisipasi jika seandainya kesepakatan mereka tidak berhasil.


"Pft- lucu sekali. Apa kau pikir aku sebodoh itu meninggalkan orang-orang ku sendirian tanpa pengamanan apapun?" ucap Weng Lou yang menatap mereka dengan tatapan mengejek.


***


Saat ini, di istana tempat Du Zhe dan yang lainnya berada.


Seluruh bangunan telah porak poranda, dan sosok Kera Hitam Petarung terlihat berada di tengah bangunan istana besar itu sambil menggendong naik para awak kapal Weng Lou dan juga Du Zhe ke pundaknya.


"Bagaimana kau bisa ada di sini, Paman Kera?" Du Zhe bertanya pada Kera Hitam Petarung. Paman Kera adalah panggilan yang biasa dia pakai untuk memanggil Kera Hitam Petarung. Meski sebenarnya dia bukanlah seorang manusia.


"Bocah sialan itu, sehabis membantu mu berlatih dia langsung mengirimkan ku pesan lewat pikiran untuk datang ke sini. Awalnya aku ragu itu dirinya karena tidak menyangka dia sudah mendapatkan kembali kekuatannya, tapi karena dia mengatakan bahwa kau juga sudah ke sini, maka aku mengikuti apa yang dia katakan," jawab Kera Hitam Petarung sambil menatap beberapa prajurit di bawahnya yang sedang memegang senjata yang diarahkan padanya.


"Omong-omong bagaimana bisa kalian masuk ke dalam istana ini? Dan dimana bocah itu? Aku sama sekali tidak merasakan kehadirannya."


"Guru, dia berpergian dengan beberapa orang kuat yang memanggil mereka sebagai Jenderal. Kekuatan yang mereka pancarkan mirip seperti yang ditunjukkan oleh Guru."


Kera Hitam Petarung diam mendengarnya, dia mengangguk mengerti. Sepertinya Weng Lou sengaja membawa ancaman besar bersamanya agar Du Zhe dan yang lain terhindar dari bahaya.


"Ya, untung saja aku sudah disini ketika orang-orang itu hendak menyerang kalian. Aku akan membersihkan mereka semua, kalian cobalah untuk berpegangan sekuat mungkin agar tidak terjatuh." Kera Hitam Petarung berbicara dengan tenang sambil mengangkat tangan kanannya tinggi.


Du Zhe dan para awak kapal Weng Lou dengan cepat mengangguk. Mereka buru-buru memegang erat rambut lebat Kera Hitam Petarung ketika kemudian, kera itu memukul keras ke tanah dan para prajurit yang ada di bawah langsung berhamburan karena terkena dampak serangannya.


Kembali ke bawah tanah, Domain Kegelapan milik Weng Lou telah menyempit hingga hanya berdiameter dua puluh meter saja.


Dua Jenderal yang masih tersisa berdiri bersampingan dengan luka-luka yang mereka derita. Weng Lou juga tidak dalam keadaan baik-baik saja, baju miliknya yang bisa bertahan dari panas lahar itu kini telah robek di segala bagian.


Beberapa luka tusuk dan sayatan juga terlihat di beberapa bagian tubuhnya. Namun kekuatan Domain Kegelapan membuat pemulihan tubuh Weng Lou menjadi sangat cepat dan luka-luka itu segera pulih hanya dalam hitungan detik.


"Khoogghh!!!"


Jenderal yang bertubuh kurus memuntahkan darah hitam dari mulutnya dan berlutut di atas tanah hitam dari Domain Kegelapan Weng Lou. Dia mengusap darah di sela mulutnya, dan menarik napas dengan menyedihkan.


Saat ini sebuah sayatan panjang terlihat di punggungnya. Sayatan itu memanjang dari bahu kiri ke pinggang kanannya. Luka tersebut mengeluarkan aura kematian yang kuat, dan secara perlahan menyerap kekuatan kehidupannya.


"Hei, kau masih bisa bertarung?" Pemimpin Jenderal itu bertanya dengan suara pelan padanya.


Jenderal bertubuh kurus itu tersenyum sambil tertawa pelan, "Hahaha....tentu saja. Aku ini penyeimbang di dalam tim, bukan? Jika aku kalah, maka tim akan rubuh."


"Baguslah, kalau begitu....aku ingin kau membantuku melakukan sesuatu."


Pemimpin Jenderal itu berbicara lewat telepati kepada Jenderal bertubuh kurus itu. Mata Jenderal itu melebar dan dia mengepalkan tangannya.


Dia menatap ke arah Jenderal yang dia bawa sebelumnya dan masih tak sadarkan diri. Mengigit bibir bawahnya hingga berdarah, dia pun mengangkat tubuh Jenderal itu ke depan dan mengalirkan Qi miliknya pada tubuh Jenderal itu.


Mendadak, kedua mata Jenderal yang sejak tadi tak sadarkan diri itu terbuka dan dia meraung sekencang-kencangnya. Urat-urat nadi berwarna emas mulai timbul di sekujur tubuhnya, dan luapan Qi serta Kekuatan Jiwa bergejolak dari dalam dirinya.


"Orang-orang ini sudah sangat putus asa sampai berbuat sejauh ini, huh? Mereka bahkan rela menggunakan rekan mereka untuk bisa keluar dari sini." Weng Lou mendecakkan lidahnya.


Dia melambaikan tangannya, dan Domain miliknya pun menghilang, membuat kedua jenderal yang tersisa menjadi kebingungan sendiri. Mereka tidak bisa mengetahui jalan pikiran Weng Lou sama sekali.


Akan tetapi, hal ini dilihat sebagai kesempatan bagi mereka.

__ADS_1


"Lakukan!!!" Pemimpin Jenderal berseru pada Jenderal bertubuh kurus.


Tubuh Jenderal yang diangkat pun mulai memancarkan cahaya dari sekujur tubuhnya. Mulut, mata, dan telinganya mengeluarkan cahaya terang seperti matahari.


"Ambil ini!!!" Jenderal bertubuh kurus itu melemparkan tubuh rekannya itu kepada Weng Lou, dan segera dengan cepat berlari keluar dari ruangan tersebut.


Mereka tidak menoleh kebelakang sama sekali, dan terus berlari hingga sampai di luar lorong, dan tiba di bagian dasar lubang tempat mereka datang.


"Cepat terbang!!! Kerahkan semua yang kau punya!!!!" Pemimpin Jenderal itu berseru menyemangati rekannya yang masih tersisa itu.


Keduanya terbang ke atas menaiki lubang yang ada di ruangan meditasi, saat kemudian ledakan besar muncul di bawah mereka dan dengan sangat cepat mengejar mereka.


"BUAT PELINDUNG!!!"


Mereka berdua berhenti terbang. Qi dan Kekuatan Jiwa milik mereka dilepaskan, dan segera menciptakan pelindung berlapis-lapis yang bahkan jauh lebih banyak dari pada ketika mereka mencoba menghentikan panah Weng Lou sebelumnya.


*SHUUUUU-BOOOOMMMMM!!!!!*


Akhirnya, ledakan besar itu mencapai mereka dan langsung menelan mereka berdua.


Ledakan itu terus membesar hingga mencapai lorong tempat ruangan meditasi berada dan terus melaluinya.


Di atas permukaan.


*BOOOOMMMMM!!!!!*


Ledakan besar secara mendadak muncul dan menghancurkan segalanya dalam radius satu kilometer.


Sebuah lubang besar tercipta dari hasil ledakan itu. Di dasarnya, sebuah lautan lahar panas bisa terlihat dan juga sebuah bola berwarna keemasan transparan mengambang di atasnya.


Banyak kerusakan pada bola pelindung itu, jelas tidak cukup kuat menahan ledakan besar yang sebelumnya. Di dalamnya, sosok kedua Jenderal berada dalam kondisi buruk. Efek ledakan berhasil masuk ke dalam pelindung mereka dan membuat beberapa bagian tubuh mereka terbakar gosong.


Mereka tidak bisa melapisi bagian tubuh bersamaan dengan membuat pelindung yang mengelilingi tubuh mereka.


Namun, wajah keduanya tampak puas. Efek ledakan tadi sangatlah kuat, dan mampu membunuh mereka berdua jika tidak membuat pelindung berlapis-lapis. Weng Lou jelas tidak akan mampu menahan ledakan tersebut, mau sekuat apapun dirinya.


"Sayang sekali, kita tidak mendapatkan cincin itu," ucap Jenderal bertubuh kurus sambil memegangi tangan kirinya yang hangus terbakar.


"Jangan pikirkan itu, karena cincin itu kita berakhir seperti ini. Untungnya monster itu mati karena ledakan tadi, jadi perjuangan kita tidak sia-sia," balas pemimpin Jenderal.


Mereka berdua menatap ke arah lautan lahar yang ada di bawah mereka itu dan membayangkan bahwa Weng Lou telah mati hingga tidak menyisakan tulang sedikitpun.


Pelindung kemudian dihilangkan, dan kedua Jenderal itu pun hendak terbang keluar dari lubang ledakan, sampai kemudian sesuatu tidak jauh dari mereka menarik perhatian keduanya.


"Hm?"


*Blup....blup....*


Gelembung-gelembung muncul di permukaan lahar. Mata kedua Jenderal menatap dengan tajam gelembung-gelembung itu dan saling bertatapan satu sama lain.


Tidak mungkin Weng Lou bisa bertahan dari ledakan besar sebelumnya, kan? Hanya makhluk di ranah Penguasaan Jiwa yang bisa melewatinya tanpa luka sedikitpun.


*Blup...blup...blurpppp....*


"Glek." Tanpa sadar, sang Pemimpin Jenderal menahan napasnya dan menelan ludah.


*Bluurrpppp....bloop.....*


Sebuah batu kristal mengambang naik dari dalam lahar, dimana gelembung-gelembung sebelumnya berasal. Keduanya pun menghela napas lega tanpa menyadari sosok Weng Lou telah berdiri di belakang keduanya dan menggenggam erat pedang kembarnya.


"Samsara, Memotong Jiwa." Weng Lou berbicara dengan sangat tenang, namun suaranya itu terdengar bagai suara hantu bagi kedua orang di depannya.


Mereka segera berbalik, dan menatap Weng Lou yang mengayunkan kedua pedangnya dengan pelan pada mereka.

__ADS_1


Namun, tidak ada yang terjadi pada mereka. Tubuh mereka tetap utuh, tidak terluka sama sekali. Mereka mengira bahwa Weng Lou hanya menggertak, akan tetapi secara mendadak, Kekuatan Jiwa mereka mengalir keluar dengan sendirinya dari tubuh mereka.


Rasa lemah, lesu, dan letih timbul pada mereka. Beberapa detik kemudian, Jenderal bertubuh kurus terjun ke dalam lahar dan diikuti oleh pemimpin nya. Jiwa mereka telah menghilang dari tubuh mereka, dan hanya menyisakan tubuh kosong saja yang mulai hancur di dalam lahar.


__ADS_2