
Beberapa hari kemudian, Weng Lou akhirnya keluar dari kamarnya dan pergi mencari Weng Ying Luan.
Hari sudah siang ketika dia selesai, dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Weng Ying Luan di seluruh istana. Weng Lou tau hal itu karena menggunakan Kekuatan Jiwa nya dan mencari di seluruh sudut ruangan, namun tidak bisa menemukan Ying Luan.
Akhirnya dia memutuskan untuk melihat perkembangan Du Zhe.
Seharusnya dia sudah menemukan solusi dari masalah mengontrol kekuatannya setelah ditinggal Weng Lou selama beberapa hari.
Ketika dia akan mencapai taman di atas istana, Weng Lou bisa mendengar suara dentuman pelan yang sering Weng Lou dengarkan selama melatih Du Zhe. Begitu dia mencapai taman, apa yang dia lihat adalah Du Zhe yang sedang menendang ke arah batu yang mengarah padanya.
Dia terlihat seperti akan menendang batu itu dalam satu garis lurus, tapi kemudian, dia memiringkan sedikit tubuhnya, dan menarik kembali ke belakang kakinya.
Tepat saat dia menarik sejauh satu jengkal, kakinya berhenti dan membiarkannya ditabrak oleh batu besar itu.
*Dem.....*
Batu itu benar-benar berhenti di tempatnya, dan kemudian jatuh ke atas tanah.
Tidak ada kerusakan pada batu itu. Bahkan setelah terjatuh ke atas tanah. Retakan tidak bisa ditemukan di permukaan batu, yang berarti Du Zhe telah benar-benar berhasil menguasai mengontrol kekuatannya.
Weng Lou bertepuk tangan pelan, memberikan selamat pada muridnya. Pasti dia sudah bersusah payah mendapatkan pencerahan agar bisa berhasil melakukan latihan yang dia berikan padanya.
"Ah, Guru! Kau kembali. Aku telah berhasil membuat batu itu berhenti tanpa merusaknya!"
Du Zhe berbicara dengan bersemangat sambil menunjuk ke arah beberapa batu yang tergeletak tidak jauh darinya.
Sama seperti batu yang tadi, semua batu ini juga tidak memiliki bekas kerusakan bahkan seperti retak halus pun tidak ada!
Tersenyum, Weng Lou mengangguk. Muridnya sudah berusaha keras.
"Aku bangga kepadamu, karena kau bisa mendapatkan pencerahan tanpa bimbingan dari ku. Kalau begitu, sudah saatnya kita masuk ke bagian latihan yang lebih serius. Setelah kita memulainya, kau hanya akan waktu tersisa untuk tidur beberapa saat saja," ujar Weng Lou.
Du Zhe dengan cepat mengangguk mengerti. Setelah berlatih selama dua minggu, dia mulai bisa mengikuti peningkatan latihan yang diberikan padanya. Tubuhnya juga sudah bisa dengan cepat terbiasa pada tekanan latihan yang berat sehingga lebih mudah menerima latihan yang lebih berat lagi.
"Hahaha....itu baru yang namanya semangat. Kalau begitu, coba keluarkan palu yang pernah kuberikan padamu sebelumnya."
Weng Lou telah memberikan Du Zhe palu yang sama dengan yang dipakainya saat dia pertama kali berlatih menempa senjata.
__ADS_1
Palu itu tidak bisa dipakai sebelum oleh Du Zhe karena beratnya yang tidak masuk akal untuk tingkat praktiknya, namun sekarang dengan kondisi tubuh yang jauh lebih baik dia seharusnya sudah bisa berlatih mengayunkannya.
Du Zhe teringat pada palu yang telah Weng Lou berikan padanya. Palu itu tersimpan dengan baik di salah satu sudut di dalam cincin penyimpanan miliknya yang dihadiahkan oleh Weng Lou.
Mengedarkan Tenaga Dalam nya kedalam cincin, dia kemudian mengeluarkan palu itu dan membuatnya muncul dari udara kosong.
Tanpa menunggu perintah lain dari Weng Lou, dia segera menggenggam palu itu di tangan kanannya dan hendak menariknya. Diluar perkiraan, dia ternyata tidak bisa mengangkatnya lebih jauh dari satu jengkal dari tanah. Tapi itu hanya dengan satu tangannya.
Dengan menggenggam di kedua tangannya, akhirnya dia berhasil mengangkat palu itu setinggi dadanya, walau dengan kedua tangan yang gemetaran.
Wajah Du Zhe memerah saat menahan diri untuk melepaskan palu itu.
"Oke, tahan posisi itu selama lima tarikan napas, lalu turunkan kembali dengan perlahan." Weng Lou memberikan arahan.
Tanpa menjawab apapun, Du Zhe berusaha sekuat tenaga memegang palu di kedua tangannya. Meski Weng Lou mengatakan untuk menahannya selama lima tarikan napas, namun nyatanya Du Zhe tidak bisa bernapas sedikitpun. Dia takut, jika dia mengambil napas, maka kekuatan genggamannya akan menghilang dan membuat palu itu terlepas.
Waktu pun berjalan dengan sangat lambat.
Dia tarikan napas.....
Empat tarikan napas.....
Akhirnya, tepat saat waktu lima tarikan napas, Du Zhe dengan buru-buru menurunkan palu di tangannya. Namun dia tetap menahan diri untuk langsung melepaskannya ke tanah.
Meski kesusahan, tapi dia tetap ingin melakukan sesuai dengan instruksi Weng Lou agar tidak mengecewakannya.
Weng Lou bisa melihat keseriusan di mata Du Zhe dan dia menyukainya.
"Bagus sekali. Kalau begitu aku akan memberitahu apa latihan mu selanjutnya. Mulai hari ini, kau akan berlatih mengangkat palu itu selama minimal waktu yang dibutuhkan untuk lima tarikan napas. Kau akan terus berlatih seperti ini sampai kau sanggup menggenggamnya selaman seratus tarikan napas. Sekarang, kau bisa memulai latihannya. Silahkan, ambil palu mu dan angkat."
Mendengar penjelasan Weng Lou, Du Zhe hanya bisa menarik napas dingin. Waktu lima tarikan napas mungkin terdengar sebentar, namun ketika dirinya sedang mengangkat palu itu, waktu seolah sedang berjalan sangat lambat baginya.
Weng Lou mengatakan dia akan akan terus berlatih sampai bisa memegang palu selama seratus tarikan napas. Dia tidak bisa membayangkan, berapa waktu lamanya yang dia butuhkan untuk bisa melakukan hal tersebut.
Dia menghela napasnya. Tidak ada gunanya mengeluh. Jika dia mau mencaritahu berapa lama waktu yang dia butuhkan agar bisa melakukannya, maka hanya dengan mencobanya dia bisa tau.
Setelah beberapa waktu berlalu, Du Zhe kemudian mulai sekali lagi mengangkat palu itu.
__ADS_1
Dia sedikit membungkukkan badannya dan langsung menarik tubuhnya kebelakang agar palu itu bisa langsung terangkat ke atas. Weng Lou yang melihat itu berkedip. Dia tidak menghentikan apa yang dilakukan oleh Du Zhe dan hanya memperhatikan.
Tak berapa lama kemudian, waktu lima tarikan napas berlalu dan Du Zhe sudah menurunkan kembali palu ke tanah.
Kali ini, dia terlihat jauh lebih lelah dari sebelumnya. Bahkan napasnya terdengar tersengal-sengal, seolah dia baru saja berlari sejauh puluhan kilometer.
"Jika kau terus seperti itu, kau akan kehilangan semua tenaga yang kau punya hanya dalam beberapa kali mengangkat palu," ujar Weng Lou.
Dia berjalan maju dan mulai menepuk pundak Du Zhe. Dia mengubah posisi berdirinya dan membuatnya seperti memasang kuda-kuda bertarung, namun dengan posisi sedikit lebih rendah.
"Sekarang, coba angkat sekali lagi palu itu," instruksi Weng Lou.
Du Zhe mengiyakan, dan sekali lagi mulai mengangkat palu. Kali ini dia tidak menundukkan badannya, tetapi hanya menurunkan pinggangnya dan membiarkan kedua tangannya menggapai palu. Dia dengan perlahan mulai mengangkat palu di depan dadanya.
Tidak disangkanya, petunjuk dari Weng Lou benar-benar membantunya menjadi lebih mudah mengangkat palu itu.
Sebelumnya dia akan kesulitan menarik napas sedikit saja saat sedang mengangkat palu, tapi sekarang dia bisa menarik napasnya meski hanya tarikan pelan. Tapi itu sudah cukup memberinya ruang bernapas dan tenaganya tidak terbuang sia-sia.
Setelah lima napas, Du Zhe tampak masih bisa bertahan. Akan tetapi, di napas keenam, akhirnya Du Zhe menyerah dan mulai menurunkan palunya.
Wajahnya tampak puas dan dia buru-buru membungkuk hormat pada Weng Lou.
"Terima kasih atas arahannya, Guru."
"Itu sudah tugasku sebagai guru mu. Kau bisa terus berlatih. Cobalah berusaha meningkatkan lama waktunya, tak akan lama sampai kau bisa menahan seratus tarikan napas." Weng Lou mengangguk lalu memilih tempat untuk di sudut taman.
Dia tidak duduk dan bermeditasi, melainkan memilih mengeluarkan sebuah palu. Palu ini adalah yang dia dapatkan dari pak tua pemilik penginapan saat masih berada di Kota Hundan.
Berat palunya sangat luar biasa, dan sampai saat ini dia hanya bisa mengayunkannya tidak lebih dari beberapa kali.
"Aku juga akan berlatih. Karena malam hari aku melatih Kekuatan Jiwa, maka pada siang hari aku akan melatih tubuhku."
Dia mulai mengangkat palu itu di tangan kanannya dan kemudian mengayunkannya dalam satu tarikan penuh.
Tubuhnya terasa seperti ditarik maju ke depan ketika dia mengayunkannya. Otot-ototnya pun mulai terlihat mengeras, menahan sekuat tenaga agar palu itu tidak lepas dari tangannya.
Menarik napas dalam, Weng Lou kemudian menarik kembali palu itu ke belakang, dan mengayunkannya sekali lagi ke depan.
__ADS_1