Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 404. Menjual Barang Jarahan (II)


__ADS_3

Apa yang paling diinginkan para Praktisi Beladiri? Kekayaan? Kekuasaan? Semua itu bisa dengan mudah mereka dapat jika memiliki kekuatan.


Selama memiliki kekuatan, kau bisa mendapatkan semuanya, itulah kalimat yang sering para Praktisi Beladiri pakai untuk menyemangati diri mereka sendiri agar selalu meningkatkan tingkat praktik mereka dan terus bertambah kuat.


Untuk bisa terus bertambah kuat, tentunya setiap Praktisi Beladiri akan berlatih, bisa tanpa menggunakan sumber daya latihan atau pun menggunakan sumber daya latihan. Tapi setiap orang tentunya menginginkan jalan pintas, dan menggunakan sumber daya latihan adalah jawabannya.


Meski begitu tidak semua Praktisi Beladiri memiliki uang yang tanpa batas untuk membeli sumberdaya, untuk itulah mereka akan melakukan pekerjaan apa saja agar bisa mendapatkan sumberdaya latihan bagi diri mereka sendiri.


Untuk Weng Lou, hasil darinya berburu sudahlah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhannya untuk membeli sumber daya latihan bagi dirinya dan juga teman-temannya sekalipun.


Ditambahkan dengan barang-barang jarahan yang dia dan Shan Hu dapatkan dari kastil Kelompok Darah, dia akan mendapat koin emas yang sangat banyak untuk membeli sumber daya latihan.


Tapi Weng Lou bukanlah orang seboros itu. Dia sudah merencanakan penggunaan dari uang-uang yang ajan dia dapatkan dari hasil penjualan barang-barang jarahan mereka.


Pada waktu hampir malam seperti saat ini, Weng Lou berjalan pasti menelusuri jalanan kota. Tubuh bocah remaja Weng Lou selalu menarik perhatian setiap orang yang dia lewati.


Jelas dia menarik perhatian, sosok Weng Lou yang merupakan seorang anak remaja berjalan di jalan Kota Hundan sudah tampak seperti seekor kelinci yang sedang berjalan-jalan di sarang serigala.


Weng Lou menyadari maksud dari pandangan orang-orang itu, dan terus melangkahkan kakinya dalam kecepatan yang sama. Meski terlihat seperti berjalan santai, akan tetapi setiap langkah kaki Weng Lou sebenarnya sudah sesuai dengan perkiraan dan perhitungannya demi menghindari kejadian yang tidak diinginkan.


"Hei nak, apa kau tersesat? Bagaimana jika paman ini mengantarkan mu pulang saja? Hehehehe...."


Ya, demi menghindari kejadian seperti ini. Weng Lou tau bahwa setiap tatapan yang diarahkan pada nya adalah tatapan mata penuh keserakahan, yang mana jika dia tidak berhati-hati, dirinya bisa masuk dalam bahaya kapan saja.


Sosok seorang pria bertubuh besar dan gemuk menghampirinya dan tersenyum penuh makna kepada Weng Lou. Dia sama sekali tidak menyembunyikan keinginan sebenarnya dari Weng Lou karena dia berpikir bahwa Weng Lou bukanlah ancaman baginya.


Satu-satunya ancaman yang dianggap oleh pria besar dan gemuk ini adalah orang-orang yang juga ikut mengincar Weng Lou.


Sayangnya pria ini tidak menyadari bahwa dirinya merupakan salah satu bagian dari rencana Weng Lou yang telah ia susun.


Weng Lou menghela napasnya dengan pelan, lalu kemudian mengangkat kepalanya dan menatap kedua mata pria gendut itu.


"Ah, benarkah?! Terima kasih banyak! Aku terpisah dengan ayah dan ibuku siang tadi dan aku belum juga menemukan mereka," ucap Weng Lou yang telah merubah raut wajahnya dan juga mencoba terlihat polos.


"E? A....yah! Benar! Akan kubawa kau kepada kedua orang tua mu! Beritahu aku dimana penginapan tempat mu dan kedua orang tua mu menginap, akan ku antarkan kau ke sana!"


Pria gendut itu tampak sedikit terkejut untuk beberapa saat karena ucapan Weng Lou lalu kemudian tampak sangat bersemangat. Dia sepertinya benar-benar masuk dalam perangkap Weng Lou.


"Aku baru sampai hari ini bersama orang tua ku, jadi kami belum sempat memesan penginapan. Tapi, ayahku sempat bilang bahwa kami akan menginap di sebuah penginapan yang bernama Penginapan Rembulan di timur kota." Weng Lou berusaha bertingkah sepolos mungkin.

__ADS_1


"Penginapan Rembulan? Aku tau penginapan itu! Aku juga menginap disitu! Ayo aku biar aku antar ke sana."


"Wah, benarkah?! Terima kasih banyak!"


Pria gendut itu berjalan ke arah sebuah gang dan meminta Weng Lou untuk mengikutinya. Kedua terus berjalan masuk ke gang itu yang ternyata cukup panjang dan juga sangat gelap.


Berjalan di depan, pria gendut itu tersenyum lebar tanpa berbalik melihat Weng Lou, dia merasa baru saja berhasil memancing tangkapannya, yaitu Weng Lou. Di sisi lain Weng Lou yang berjalan di belakang hanya bisa tersenyum kecil.


"Paman? Apa kah benar lewat sini?" tanya Weng Lou tiba-tiba membuat pria gendut itu tersentak dan segera berbalik badan melihat Weng Lou.


"Ya ya ya, ini adalah jalan yang benar, sedikit lagi kita akan sampai. Kita akan berbelok nanti dan sampai di penginapan itu, tenang saja," jawabnya dengan senyum menjijikkannya.


"Tapi di sini gelap sekali....aku tidak bisa melihat dengan baik..." Weng Lou kembali berbicara.


"Benarkah? Kalau begitu jangan jauh-jauh dariku, bisa-bisa nanti kau malah menabrak benda di sekitar kita."


Keduanya terus lanjut berjalan hingga kemudian sampai di pertigaan yang dimaksudkan oleh pria gendut itu sebelumnya.


Tapu berbeda dengan yang diceritakan olehnya, pada pertigaan itu hanya ada jalan buntu pada dua jalurnya, tidak ada penginapan sama sekali Itu sudah jelas sekali, bahkan Penginapan Rembulan yang dimaksud oleh Weng Lou itu juga tidak ada, bagaimana bisa pria gendut ini mengatakan dia juga tinggal di penginapan itu.


Namun meski begitu Weng Lou masih terus berpura-pura.


"Hm? Dimana penginapannya, paman?" tanya Weng Lou.


"Tidak ada penginapan sama sekali di gang ini, kau sekarang adalah tahanan ku. Kau akan ku jual menjadi budak di pasar gelap."


Alis mata Weng Lou terangkat mendengarnya, dia belum pernah mendengar sama sekali tentang tempat seperti itu sebelumnya.


Sriiing.....


Pria gendut itu mengeluarkan sebuah pisau daging besar dari balik bajunya dan menempatkannya di depan leher Weng Lou.


"Kau pasti pernah mendengar tentang Praktisi Beladiri, bukan? Aku adalah salah satunya. Aku berada di Ranah Pembersihan Jiwa tahap 1 puncak! Bisa dibilang aku bisa dengan mudah membunuhmu, jadi jangan melawan!"


"Pfft.....hahahaha..." Weng Lou yang sudah tak bisa menahan aktingnya akhirnya tertawa lepas.


"Apa yang kau tertawakan?! Cari mati, huh?!" Pria gendut itu menaikkan pisau di tangannya hingga ujungnya menyentuh leher Weng Lou.


Tawa Weng Lou pun berhenti, dia kemudian kembali menatap pria gendut itu. Mengangkat tangannya, dia pun memegang pisau besar itu dengan tangan kanannya.

__ADS_1


Krack.....prackk!!!!


Dalam satu cengkraman, pisau itu pun hancur berkeping-keping, yang mana membuat pria gendut itu sampai terbengong-bengong ditempatnya.


"Ka-Kau...?!"


"Daripada kau melawak seperti itu, lebih baik beritahu aku dimana letak Rumah Obat di kota ini berada," ucap Weng Lou.


Buck.....


Tubuh pria gendut itu terjatuh ke tanah karena rasa terkejutnya. Dia menatap Weng Lou seperti menatap seekor monster berwujud manusia.


"To-Tolong jangan bunuh aku......"


"Hm? Kau berani ingin membunuhku tapi tak berani dibunuh? Bukankah itu egois?"


"A-Aku akan berikan semua hartaku! Tapi kumohon jangan bunuh aku! Aku masih ingin hidup!"


Weng Lou tersenyum lebar lalu berjongkok di depan pria gendut itu. Dia berniat untuk memeriksa barang-barang miliknya, tapi kemudian dia merasakan hawa beberapa orang yang datang mendekati mereka berdua dari arah atap bangunan beberapa puluh meter dari mereka berdua.


"Cepatlah berdiri, dan antar aku ke Rumah Obat, atau akan kubunuh kau sekarang juga," ancam Weng Lou.


Pria gendut itu segera mengangguk dan bangkit berdiri kembali lalu kemudian segera berjalan kembali melewati gang sebelumnya dan keluar dari situ.


Dia tanpa berbalik melihat Weng Lou segera terus berjalan sementara Weng Lou terus mengikutinya sambil mengawasi beberapa orang yang sebelumnya dia rasakan kedatangannya. Mereka sepertinya tidak menyerah.


"Ini sudah malam, tidak bagus jika aku terlalu membuang-buang waktu di tempat ini." Weng Lou bergumam pelan lalu mempercepat langkah kakinya hingga dia sampai di samping pria gendut itu.


"Hei kau, beritau saja aku dimana letak Rumah Obat nya, dan akan kubiarkan kau pergi," ucap Weng Lou.


"Be-Benarkah?"


"Iya, benar! Cepat beritau aku!"


"I-Itu ada di dua blok lagi, tinggal belok kanan saja nanti dan kau akan sampai di Rumah Obat!"


"Bagus, aku akan pergi, sebaiknya jangan sampai aku menemukanmu lagi, gendut."


Setelah mengatakan itu, Weng Lou pun melesat cepat dan menarik perhatian orang-orang yang di situ, sementara pria gendut yang bersama Weng Lou sebelumnya sudah berhenti berjalan dan menatap Weng Lou yang menghilang di kejauhan seperti orang bodoh.

__ADS_1


Tak berapa lama, 5 orang mengenakan pakaian berwarna biru langit melesat dan melewati sosok pria gendut itu.


Lima orang itu terlihat bergerak mengejar sosok Weng Lou yang mulai tak terlihat lagi di kejauhan.


__ADS_2