
Di dalam bangunan Perguruan Iblis Merah di Kota Heishin.
Weng Lou berjalan santai sambil menatap satu persatu orang-orang yang ada di sekitar jalan masuk yang menatapnya dengan penuh penasaran.
Terdapat tanda tanya pada tatapan mereka karena melihat Weng Lou yang tidak menaruh rasa hormat sedikit pun pada sosok pemimpin cabang Perguruan Iblis Merah mereka. Malah, pemimpin mereka yang sepertinya menaruh rasa hormatnya pada Weng Lou, atau bisa dibilang rasa takut padanya.
Saat mereka berbelok di ujung lorong lantai satu, Weng Lou berpapasan dengan sosok gadis yang dia temui sebelumnya di gerbang masuk Perguruan Iblis Merah.
Gadis itu menatapnya selama beberapa saat, sebelum kemudian dia pergi masuk ke sebuah ruangan setelah tersenyum pada Weng Lou.
Pemimpin cabang Perguruan Iblis Merah yang melihat hal itu berkeringat dingin, dan buru-buru berdiri di hadapan Weng Lou.
"To-Tolong maafkan dia, dia adalah murid baru kami yang bergabung sekitar beberapa minggu yang, jadi tata krama dan sopan santunnya belum kami latih dengan baik!" ucapnya dengan gugup.
Sebelah alis Weng Lou terangkat melihatnya. Dia tidak merasa tersinggung sedikitpun, dia malah senang melihat gadis itu sepertinya tidak terpengaruh dengan kondisinya saat ini.
"Sudahlah, lanjutkan saja jalan mu, dan bawa aku ke ruangan mu. Aku masih harus pergi setelah ini," balas Weng Lou sambil mendorong tubuh pria itu maju.
Keduanya pun terus berjalan hingga sampai ke ruangan pria itu yang ternyata berada di bawah tanah. Ruangan miliknya cukup luas, dengan ruangan tersebut memiliki luas sepuluh kali dua puluh meter.
Ruangan itu di penuhi dengan banyak buku dan gulungan kertas pada beberapa lemari yang berada pada pinggir ruangan. Pada salah satu sisi ruangan, terdapat banyak jenis senjata yang dipajang di dinding. Mulai dari pedang, busur, bahkan hingga sebuah pemukul logam dipajang di situ.
"Sepertinya kau senang mengumpulkan senjata huh?"
Weng Lou melangkahkan kakinya dan mendekati senjata yang dipajang pada dinding itu. Dia bisa melihat semua senjata itu hanya berada pada Senjata tingkat 1 dan 2 saja, dengan yang paling kuat adalah Senjata tingkat 2 pusaka.
"Sepertinya matamu cukup bagus dalam mengumpulkan senjata. Kebanyakan dari senjata-senjata ini adalah senjata yang sudah memiliki Hasrat Senjata di dalamnya. Jika kau rajin melatih salah satunya, pasti akan bisa menambah pemahamanmu pada senjata," ujar Weng Lou sambil mengambil sebuah busur yang terpajang pada dinding tersebut.
Pria itu menatap dengan heran pada Weng Lou, dia sama sekali tidak mengerti maksud Weng Lou.
Senjata-senjata itu dia ambil dari para Praktisi Beladiri yang berada di Pulau Fanrong dan menentang naiknya Shengshi Huangdi sebagai kaisar, yang kemudian mati ditangan mereka para anggota Perguruan Iblis Merah.
__ADS_1
Busur yang diambil Weng Lou contohnya, itu adalah busur dari seorang Praktisi Beladiri yang telah membunuh salah satu anggota Perguruan Iblis Merah yang memiliki posisi setara dengannya. Dia berhasil mendapatkan nya setelah membunuh Praktisi Beladiri tersebut dengan kedua tangannya sendiri.
Oleh karena itu, dia pun dijadikan sebagai pemimpin di cabang Perguruan Iblis Merah ini sebagai hadiahnya. Meskipun sebenarnya hal ini bisa dibilang bukanlah hadiah sama sekali karena dia malah mendapatkan banyak sekali pekerjaan, yang bahkan membuatnya sulit untuk bisa berlatih karena kekurangan waktu luang.
Karena tidak mengerti dengan pembicaraan Weng Lou, dia pun memilih untuk berjalan menuju ke mejanya yang berada di bagian sisi yang berhadapan dengan pintu masuk ruangan tersebut.
Dia bergerak duduk di kursinya, lalu membuka laci mejanya secara perlahan, dan mengambil sebuah giok hitam dari dalamnya. Dengan perlahan, pria tersebut memecahkan giok hitam itu dan merasa bahwa Weng Lou tidak menyadarinya.
Namun dia salah, Weng Lou selalu mengawasinya, bahkan saat dia bebricara sekalipun, Weng Lou tetap mengawasi gerak-gerik dari pria itu. Telinganya sangat tajam, yang bisa membuatnya mendengar suara pecahan giok di genggaman tangan pria tersebut.
Weng Lou memilih untuk tersenyum diam, ini salah satu dari rencananya. Dengan membuat semakin banyak orang dari Perguruan Iblis Merah yang datang dan mencarinya, maka kemungkinan Ketua Perguruan ini akan datang dan menemuinya. Jelas sekali informasi paling berharga haruslah dimiliki oleh pemimpin suatu kelompok, bukan dia meragukan infomasi yang akan dia dapatkan dari pria yang bersamanya saat ini, hanya saja itu adalah fakta yang sangat terbukti di dunia nyata.
"Jadi Tuan, informasi apa yang ingin anda dengar terlebih dahulu?" tanya pria itu sambil tersenyum pada Weng Lou.
Diam sejenak, Weng Lou kemudian berjalan mendekat ke arah mejanya.
"Mari kita mulai dengan pertanyaan yang mudah....." Weng Lou sampai di depan pria itu, dan menyentuh ujung meja dengan kedua tangannya.
"Dimana markas utama kalian?" tanya Weng Lou yang sukses membuat pria itu kehilangan senyuman pada wajahnya.
"Aku tanya....dimana markas pusat dari Perguruan Iblis Merah kalian?" Weng Lou mengubah intonasi suaranya, dan mendekatkan kepalanya dengan pria tersebut.
Glek....
Dia menelan ludahnya dengan berat. Weng Lou langsung bertanya sesuatu yang tidak bisa dia jawab dengan mudah. Jika dia memberitahu Weng Lou, maka jelas dia akan dibunuh eh semua anggota Perguruan Iblis Merah yang ada. Di sisi lain, Weng Lou yang akan membunuhnya jika tidak memberitahu dimana markas mereka berada saat ini.
Tangannya terkepal erat, dia menggigit bibirnya, dan menghela napas panjang.
Srrrkkk....
Dia pun bangkit berdiri, dan berjalan ke arah salah satu lemari yang berisikan banyak gulungan kertas, lalu mengambil salah satu gulungan kertas yang ada di situ. Pria itu kembali ke mejanya, dan membuka gulungan kertas itu di atas meja, membuat Weng Lou bisa melihat isinya juga.
__ADS_1
Senyum Weng Lou tampak sangat lebar saat melihat bahwa gulungan kertas itu tidak lain adalah sebuah peta, bukan peta Pulau Fanrong, tetapi peta yang mencakup beberapa pulau lain yang ada di sekitar Pulau Fanrong.
Terlihat ada sepuluh pulau besar yang ada di dalam peta itu, dengan Pulau Fanrong adalah salah satunya.
"Berpikir untuk bisa melihat sebuah peta dari pulau-pulau lain selain Pulai Pasir Hitam, sepertinya aku memang ditakdirkan untuk menjelajahi dunia luar," ucap Weng Lou yang sudah tersenyum lebar.
"Jadi, di pulau mana markas utama kalian berada?" tanya Weng Lou kembali pada pria itu.
Tangan pria itu bergetar, dan menunjuk sebuah pulau di bagian selatan Pulau Fanrong. Jaraknya sekitar beberapa ribu kilometer, dengan melewati sebuah pulau yang berbeda sebelum mencapai pulau tersebut.
Weng Lou mengusap dagunya, itu jarak yang patut untuk diperhitungkan. Meski dia bisa terbang dengan menggunakan benda perantara tanpa henti, namun dia juga harus beristirahat tiap beberapa jam. Terbang sejauh beberapa ribu meter dalam satu waktu, dia pasti akan langsung mati begitu sampai di pulau tersebut.
"Baiklah, sekarang aku tau dimana markas kalian, sekarang kita masuk ke pertanyaan selanjutnya. Seberapa kuat ketua perguruan kalian?"
"Anu.....itu....dia berada di Ranah Pembersihan Jiwa tahap 4 awal baru-baru ini...."
"Pembersihan Jiwa tahap 4 awal?"
Weng Lou terdiam, entah dia berekspetasi terlalu tinggi atau kenyataan memang tidak pernah berpihak padanya. Dia mengira setidaknya ketua Perguruan Iblis Merah memiliki kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa tahap 6 atau 7 puncak karena bisa membangun perguruan yang sangat besar yang bahkan banyak memiliki cabang di beberapa pulau luar dari markas utama mereka.
"Hanya dengan kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa tahap 4 kalian sanggup membangun perguruan kalian hingga bahkan membuka cabang-cabang di berbagai pulau, bagaimana itu bisa terjadi? Apa tidak ada Praktisi Beladiri yang lebih kuat dari ketua kalian pada pulau-pulau ini dan menentang kekuasaannya?" tanya Weng Lou dengan keheranan.
"Tidak, bukan begitu. Satu-satunya alasan kami bisa menjadi sebesar ini adalah karena dukungan dari Sekte....."
Pria itu berhenti dan menutup mulutnya. Dia terkejut pada dirinya sendiri yang entah mengapa malah menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Weng Lou begitu saja.
"Sekte apa? Cepat lanjutkan!"
"Itu....karena kami mendapatkan bantuan dari Sekte Naga Hitam yang menjadi salah satu kekuatan besar di bawah kekuasaan Kekaisaran Kepulauan Lima Gunung."
"Sekte Naga Hitam? Kekaisaran Kepulauan Lima Gunung? Apa lagi itu, astaga! Aku ingin segera pulang ke Pulau Pasir Hitam!" ucap Weng Lou kesal namun dalam hatinya dia bersorak-sorai gembira.
__ADS_1
Seperti dugaannya, dia tidak bisa pulang sebelum menjalani beberapa petualangan yang mungkin akan menjadi sebuah kesempatan untuknya mengembangkan lebih jauh teknik-teknik miliknya. Terutama dia harus bisa menggunakan kekuatan garis darah keturunan dari Ras Ilahi miliknya.
"Aku harus bisa menggunakan kekuatan ini. Jika aku bisa menggunakannya, aku punya firasat bahwa ingatan-ingatan lain akan muncul dalam kepalaku, yang mana pasti akan membantu perkembangan ku selanjutnya!"