Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 470. Kemampuan Membaca Jiwa


__ADS_3

Serangan energi melesat ke arah Yang Guang setelah Shan Hu menebaskan pedang besarnya.


Tanpa bisa menghindar sama sekali, Yang Guang pun terkena dengan telak serangan tersebut.


PSSSHHH!!!


Dada Yang Guang yang terkena serangan tersebut langsung tertebas dan darah segar pun menetes mengucur deras. Kedua mata Yang Guang pun melebar dan dia mengkertakan giginya, menahan rasa sakit pada dadanya.


"Khock-!"


Dalam kondisi terluka, Yang Guang kemudian mengeluarkan Qi miliknya, dan mengatur pendaratannya ke tanah. Sesampainya di di tanah, Yang Guang segera mengalirkan Qi nya pada luka di dadanya, dan tak perlu waktu lama, darahnya pun berhenti mengalir keluar dari luka di dadanya.


Yang Guang menyentuh dadanya, dan menatap ke arah Shan Hu yang berdiri sepuluh meter darinya dengan pedang besarnya masih digenggam dengan erat menggunakan tangan kanannya.


Mata Yang Guang menyipit dan menatapnya dalam-dalam.


"Hahahaha..... sepertinya aku masih terlalu meremehkan mu. Kau sejauh ini adalah lawan yang berhasil melukai ku sejauh ini, dan itu berkat intuisi mu yang luar biasa, aku sampai terkejut dengan itu.


Tapi itu karena diriku juga tidak berpikir kau bisa melukai ku sebelumnya. Sekarang, biarkan aku bertarung lebih serius lagi." Yang Guang berbicara sambil tertawa pelan.


Dia kemudian menancapkan pedangnya ke tanah, lalu mengeluarkan Qi nya dan menciptakan dua buah pedang dari Qi nya itu. Pedang Qi itu kemudian mengeluarkan cahaya terang dan berubah menjadi pedang dari unsur cahaya miliknya.


Yang Guang menggenggam kedua pedangnya itu dengan cara yang berbeda masing-masing tangannya. Pedang di tangan kirinya dia pegang secara terbalik, dan pada tangan kanannya pedang milik nya diacungkannya kedepan.


Menarik napas pelan, Yang Guang kemudian memasang kuda-kuda siap bertarungnya.


"Langkah cahaya."


Dalam sekejap mata sosok Yang Guang menghilang dari tempatnya dan detik berikutnya, sosoknya pun telah muncul dia belakang Shan Hu dan terdapat noda darah pada kedua pedang cahayanya.


"Tebasan Cahaya."


!!!!


Tubuh Shan Hu tersentak, dua buah luka sayatan tercipta pada dada kanannya, dan darah mengucur keluar darinya.


Luka itu tidak sepanjang dan sebesar yang ada pada tubuh Yang Guang, namun meski begitu terlukanya Shan Hu yang secara tiba-tiba membuat banyak orang-orang keheranan.


"Bukankah itu...." Weng Ying Luan yang berada di tempat duduknya tampak mengenal teknik yang digunakan sebelumnya oleh Yang Guang.


"Em, benar. Itu teknik yang sama dengan yang dia gunakan di restoran waktu itu," ucap Weng Lou yang melanjutkan kata-kata Ying Luan.

__ADS_1


Pada waktu itu, Yang Guang sempat memakai teknik 'Langkah Cahaya' miliknya untuk membunuh para penjaga yang berniat menyerangnya di restoran 3 minggu yang lalu, yang merupakan tempat dimana dirinya dan kelompok Weng Lou bertemu.


Saat teknik digunakan, kecepatan Yang Guang benar-benar meningkat dengan sangat mengerikan, bahkan karena saking lajunya, bayangan dirinya pun tercipta dan membuat orang yang melihatnya akan berpikir dia masih tidak bergerak sama sekali dari tempatnya.


Shu....


Yang Guang menghentak pedangnya dan membuat darah yang ada pada pedangnya itu terciprat ke tanah.


Di sisi lain, Shan Hu telah berbalik dan menatap Yang Guang dengan penuh kewaspadaan. Meski dirinya bisa memperkirakan pergerakan dari Yang Guang, namun tubuhnya tetap tidak bisa mengimbanginya untuk menangkis atau menghindar dari serangannya. Hal ini membuat Shan Hu tampak merasa kecewa dengan dirinya sendiri saat ini, dan berpikir dia kurang berlatih sehingga Yang Guang mampu mendaratkan serangannya dengan sangat mudah.


Shan Hu mencoba mengatur napasnya dan mencoba menyenangkan pikirannya kembali. Dia tidak boleh terbawa suasana hanya karena sebuah serangan mendarat pada tubuhnya begitu saja.


"Harus kuakui, kau lawan yang hebat. Tepat setelah aku menggunakan 'Langkah Cahaya' milikku, meski kau sadar tidak bisa menangkis atau menghindari serangan yang datang padamu, kau berusaha sebisa mungkin untuk membuat luka yang dtimbulkan seminimal mungkin.


Padahal jika kau tetap pada postur tubuhmu yang sebelumnya, lehermu itu pasti sudah kutebas," ucap Yang Guang yang memutar pedang di tangan kanannya beberapa kali.


Dia kemudian kembali memasang kuda-kudanya, dan bersiap melakukan serangan kembali.


Shan Hu mengerutkan keningnya melihat sikap tubuh Yang Guang tersebut dan dia pun buru-buru mengangkat pedang besar ke depan.


"Langkah Cahaya." Sosok Yang Guang pun kembali menghilang dari tempatnya.


DAAMMM!!!


Tepat sedetik setelah dia melakukan hal itu, hantaman besar pun menabraknya dengan keras.


Tubuhnya terlempar mundur begitu saja, dan sosok Yang Guang pun tampak telah berada di depan tempat Shan Hu sebelumnya dengan kedua pedangnya menusuk ke arah tangan kiri Shan Hu dan dadanya.


"Dia, berhasil memprediksi seranganku? Bagaimana bisa?" Yang Guang yang melepaskan serangan tersebut tampak jauh lebih terkejut dibandingkan dengan Shan Hu yang saat ini mendarat di tanah dan menatap tangan kirinya yang terasa kebas setelah menahan tusukan pedang Yang Guang.


"Hampir saja, untung saja teknik yang aku pelajari dari Praktisi Beladiri waktu itu benar-benar berguna dalam pertarungan seperti ini," ucap Shan Hu yang menghela napasnya.


Praktisi Beladiri yang dimaksud oleh Shan Hu adalah orang yang sama dengan yang datang ke desanya waktu dia masih kecil dulu. Karena dia tidak memiliki uang untuk belajar beladiri, dia hanya bisa belajar secara otodidak teknik yang dia tiru secara diam-diam dari Praktisi Beladiri tersebut.


Meski begitu, Shan Hu telah melatihnya selama lebih dari sepuluh tahun yang mana membuat tekniknya ini telah sangat terasa hingga sekarang.


Teknik yang dia pakai ini diberi namanya Teknik Membaca Situasi. Diberi nama demikian karena dari yang dilihat Shan Hu saat Praktisi Beladiri waktu itu berlatih, matanya akan bergerak dengan sangat cepat dan melihat apa saja yang ada pada satu arah pandangnya.


Sebenernya teknik aslinya bukanlah sebuah teknik beladiri, melainkan hanya sebuah bentuk latihan fokus belaka. Namun karena Shan Hu waktu itu sama sekali tidak tau apapun mengenai dunia beladiri, dia justru menganggap ini merupakan sebuah teknik beladiri yang sangat hebat.


Akhirnya, dia pun melatih terus menerus tiap harinya teknik tersebut, hingga kemudian teecipta sebuah teknik yang sama sekali berbeda dengan yang aslinya, dan memiliki kemampuan yang jauh lebih hebat, yaitu kemampuan untuk membaca pergerakan jiwa.

__ADS_1


***


Di sebuah dimensi entah berantah yang mana berisikan planet-planet yang tampak telah hancur lebur yang entah dikarenakan oleh apa.


Sosok seorang pemuda berusia awal dua puluhan mengenakan pakaian putih dan emas dengan santainya berdiri di atas sebuah asteroid yang berukuran sebesar bulan dengan bergerak ke arah sebuah bintang yang sebentar lagi akan mengalami Supernova.


Beberapa ratus meter dari asteroid tersebut, terlihat sosok pria berusia tiga puluhan sedang melayang di depan asteroid tersebut dan menatap tajam ke arah pemuda berpakaian putih dan emas tersebut.


"Apa maksud kedatangan mu ke dimensi milikku, Zhi Juan?" tanya pria itu dengan nada tidak ramah.


Terlihat sekali dia tidak senang melihat sosok pemuda tersebut yang tidak lain adalah Zhi Juan, sang Absolute Author.


Sosok pria yang ada di depannya merupakan seorang Absolute yang merupakan pemilik dari dimensi dimana dia berada saat ini.


"Tidak ada yang spesial, hanya saja aku ingin mengecek bahwa tidak ada Pelahap Dimensi yang masuk dan memakan dimensi ini dari dalamnya," balas Zhi Juan sambil tersenyum pada pria itu.


Dahi pria itu pun mengerut dan kemudian sebuah tombak raksasa berukuran ratusan meter muncul di atas kepalanya dan terarah kepada Zhi Juan berada.


"Kau pikir aku akan menerima jawaban bodoh seperti itu? Semua orang tau seberapa pintarnya kau itu, setiap kali kau melakukan sesuatu pasti akan terjadi kejadian yang luar biasa." Pria itu mendengus kesal.


Senyuman pada wajah Zhi Juan pun menjadi lebar. Dia mengangkat kedua bahunya, lalu kemudian dia pun menghentakkan sekali kakinya pada asteroid yang dia tunggangi dan gerakan asteroid tersebut pun terhenti seketika.


Zhi Juan pun kemudian terbang ke arah pria itu sambil kedua tangannya dia lipatnya ke belakang.


Beberapa saat kemudian, dia pun sampai di hadapan pria tersebut.


"Aku datang ke sini untuk menanyakan seusuatu padamu, Vincent. Sebagai sesama seorang Absolute, kau pasti paham dengan benar aturan jika seorang Absolute menemukan sebuah Dimensi tak bertuan, bukan?" tanya Zhi Juan yang senyumnya mulai tampak semakin tipis.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti sama sekali-"


"Tidak perlu berbohong seperti itu, Vincent. Aku tau kau Absolute yang sudah berani memasuki Dimensi yang aku temukan dan campur tangan di dalamnya bukan?"


Aura dari tubuh Zhi Juan mendadak meledak dan kemudian menghancurkan dimensi tempat mereka berada.


Vincent tampak terkejut dengan itu. Dia pun menatap dengan tak percaya pada Zhi Juan. Tak dia sangka Zhi Juan berani menghancurkan dimensi tempat mereka berada begitu saja, apa lagi dimensi itu adalah miliknya, bukan Zhi Juan.


"Kau?! Beraninya kau!!!" Vincent menunjuk wajah Zhi Juan dan bersiap menyerangnya, tapi kemudian tatapan mata Zhi Juan tepat menatap pada kedua matanya.


Cahaya emas menyala dari kedua kata Zhi Juan dan membuat nyali Vincent langsung ciut pada waktu itu juga.


"Aku yang harusnya mengatakan itu, Vincent. Beraninya kau macam-macam dengan dimensi milikku, kuharap kau siap dengan apa yang akan kau terima setelah berani melakukan hal itu."

__ADS_1


__ADS_2