
Pemuda yang ada di hadapan Weng Wan terus mengoceh selama satu menit penuh tanpa henti.
Weng Wan yang mendengarnya hanya bisa diam sampai dia selesai berbicara. Meskipun jengkel mendengarkan semua ocehan dari pemuda itu, namun dia tidak akan melakukan tindakan pengecut seperti menyerangnya ketika dia masih berbicara.
Namun bukan berarti Weng Wan mau mendengarkan semua ocehan tersebut begitu saja. Dia lebih memilih untuk menonton pertarungan antara peserta lain yang ada di bagian arena lainnya sambil menunggu pemuda dengan sabit ini selesai berbicara.
"Hmm....aku menonton pertarungan mereka sepertinya sangat seru, tapi jika aku yang bertarung dengan mereka sepertinya mereka akan bertahan selama beberapa detik saja," gumam Weng Wan.
Pemuda dengan sabit itu pun baru menyadari bahwa Weng Wan sana sekali tidak memperhatikan dirinya ketika melihat bahwa perhatian Weng Wan sana sekali tidak terarah pada dirinya.
Urat-urat kesal muncul pada dahi pemuda itu, dia menurunkan sabit di tangannya, dan aura merah gelap pun mulai menyelimuti mata pisau sabitnya.
Sudut mata Weng Wan menangkap perubahan tersebut dan segera memusatkan perhatiannya kembali pada pemuda tersebut.
"Hoh?! Akhirnya kau memperhatikan ku hah?! Sebaiknya begitu, karena kau sebentar lagi akan mati, dan aku takut kau tidak akan menyadarinya juga ketika kau sudah mati!!!"
Pemuda itu berseru marah sambil menunjuk Weng Wan dengan sabitnya yang telah ditutupi oleh aura merah gelap.
Mata Weng Wan sedikit menyipit saat melihat aura merah kegelapan yang tampak tidak asing baginya. Dia seperti pernah melihatnya di suatu tempat sebelumnya.
"Matilah kau!!!"
Krack-FHUUSSHH!!!
Dalam satu kali pijakan, pemuda itu melesat cepat ke arah Weng Wan yang sedikit tidak siap.
"Bahaya..."
Dengan cepat Weng Wan mengeluarkan kedua golok miliknya dari dalam cincin penyimpanan miliknya.
TRAANGGG!!!!!
Sabit dan kedua golok milik Weng Wan saling bertemu dan debu pun mengepul ke udara karena pertemuan keduanya.
Wajah Weng Wan tampak serius saat menyadari bahwa lawannya langsung memakai kekuatan penuh dalam serangan pertama tersebut. Terlihat tangannya sedikit bergetar karena hanya menggunakan kekuatan fisiknya saja untuk menahan serangan tadi.
Di sisi lain, wajah lawan Weng Wan tampak berubah jelek melihat Weng Wan yang sanggup menahan serangannya.
"Cih! Jenius lainnya! Aku muak melihat kalian semua yang memiliki kekuatan besar tanpa usaha keras sama sekali!
Mati saja kalian dan pergi ke neraka! Orang-orang seperti kalian tidak akan tau perjuangan dari mereka yang tidak terlahir sebagai orang yang berbakat dan jenius!" seru pemuda tersebut sambil memaki-maki Weng Wan.
Weng Wan hanya bisa keheranan mendengar ucapannya itu. Dia kemudian mengencangkan otot-otot tangannya, dan melepaskan kekuatan fisiknya lebih dari setengahnya.
"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau ucapkan, tapi yang jelas aku bukanlah seorang jenius seperti yang kau katakan itu. Nyatanya aku berhasil sampai pada tingkat praktik ku sekarang ini adalah berkat dari latihan keras ku dan juga berkat bantuan dari sahabat ku!"
Bumm-!!
Tubuh pemuda itu pun terlempar mundur karena daya ledak dari besarnya kekuatan fisik Weng Wan. Hal itu membuat wajah pemuda itu bertambah jelek.
Kssss-ssrrtttttt.....
Kepalanya tertunduk dan tangannya yang memegang sabitnya kembali dia turunkan. Dia menggertakkan giginya dan mencengkram dengan sangat erat sabit di tangannya tersebut.
Aura merah kehitaman jauh lebih banyak keluar dari dalam tubuhnya dan mulai menyelimuti sekujur tubuhnya. Beberapa detik kemudian semua aura itu terserap ke dalam sabit di tangan pemuda itu dan sabitnya mulai mengalami perubahan.
Sabit yang sebelumnya berwarna hitam dan perak itu kina mulai bertransformasi dan berbuah warna.
Kini warnanya menjadi hitam dan merah terang seperti darah.
Mendadak buku kuduk Weng Wan berdiri saat perubahan itu terjadi dan sinyal bahaya berbunyi dari sekujur tubuhnya. Dia pun memasang posisi siaga karena sensasi tersebut.
__ADS_1
Dia tidak tau kenapa, tapi sepertinya apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh pemuda di hadapannya ini adalah sesuatu yang berbahaya jika dia anggap remeh.
"Namaku Xiaozi, orang-orang dari tempat asalku memanggilku dengan sebutan Xiaozi si Sabit Kematian. Kau, siapa namamu?" Pemuda yang menyebut namanya sebagai Xiaozi itu berkata dengan suara pelan namun bisa didengar baik oleh Weng Wan yang berdiri beberapa meter darinya.
Weng Wan tidak menjawabnya begitu saja, tetapi memandang baik-baik pemuda di depannya ini. Dia bisa merasakan perubahan drastis darinya, dirinya bagai orang yang berbeda dengan yang dia lawan sebelumnya.
"Namaku Weng Wan," balas Weng Wan masih dengan wajah seriusnya.
"Weng Wan, kah....kau menyebut dirimu tidak berbakat dan mengatakan bahwa kau berhasil mencapai tingkat praktik mu saat ini adalah karena usaha kerasmu dan bantuan dari sahabatmu, tapi kau lupa akan satu hal.
Weng Wan, kau ini adalah salah satu dari anggota Keluarga Leluhur Weng di Wilayah Barat, apa kau sadar alasan mengapa kau bisa ikut berpartisipasi dalam Turnamen Beladiri Bebas ini?
Itu karena....KAU MEMANG ORANG YANG TERLAHIR BERBAKAT DAN JENIUS!!!! BAJINGAN SIALAN!!!!"
Shuussh-!!!!
Bagai angin yang berhembus dengan cepat, sosok Xiaozi melesat dengan sangat cepat ke arah Weng Wan. Kali ini kecepatan jauh lebih cepat dari sebelumnya dan membuat Weng Wan sama sekali tidak sempat bereaksi apa-apa.
Sssyaaattt-!!!!
"Aargh!!"
Dada Weng Wan tertebas begitu saja oleh sabit besar Xiaozi dan membuat darah menyembur keluar dari lukanya.
Mengerang kesakitan, Weng Wan pun terbekuk lutut di tanah dan memegangi dadanya yang terluka. Matanya memerah karena menahan rasa sakit yang dia rasakan.
Ingin sekali dia berteriak karena rasa sakit tersebut, tapi dia mengingat dengan jelas bahwa melakukan itu sama sekali tidak akan mempengaruhi apapun.
"Khock!"
Weng Wan termuntah darah dan dengan tubuh yang bergetar dia menoleh ke belakangnya dan melihat sosok Xiaozi yang berdiri tegak dan menatapnya sambil tersenyum penuh napsu membunuh.
"Sialan," ucap Weng Wan.
Perlahan, darah pada luka di dadanya mulai berhenti mengalir setelah dia menelan pil tersebut.
"Aku ceroboh, tadi memang salahku. Bukan saatnya lagi untuk bermain-main, aku akan mulai serius sekarang."
Sraackk-
Weng Wan merobek bajunya dan membuangnya ke samping dan memperlihatkan tubuhnya yang berotot dan kekar. Dia kemudian menggenggam erat dua golok miliknya, dan mengeraskan kembali otot-otot tubuhnya.
Qi miliknya mulai mengalir di dalam tubuhnya, dan detik berikutnya dia pun melesat ke arah Xiaozi.
Dua goloknya terlihat memancarkan cahaya terang yang kemudian dengan sekuat tenaga di ayunkan oleh Weng Wan pada Xiaozi.
"Hantaman Pengharcur Gunung!!"
Sssss-BDAMM!!!
BRUACK!!!
Hantaman keras diterima telak oleh Xiaozi. Dia sebelumnya sempat menangkis serangan dari Weng Wan itu, namun sayangnya besarnya kekuatan yang diberikan oleh Weng Wan tidak mampu untuk dia tahan.
Bumm-!!!!
Tubuh Xiaozi terbanting dengan keras di tanah dan menciptakan sebuah kawah kecil. Mulutnya terbuka lebar, benturan yang ia terima terasa seperti menghancurkan tubuhnya.
Dia belum pernah menerima dampak benturan sebesar ini sebelumnya. Kekuatan yang dikeluarkan oleh Weng Wan benar-benar meremukkannya.
"Kekuatan dari orang-orang berbakat memang berbeda. Bahkan setelah menerima luka sebesar itu tetapi kau masih bisa memberikanku serangan balasan yang bahkan berkali-kali lebih besar dari yang aku lakukan," ucap Xiaozi yang mengelap darah di mulutnya.
__ADS_1
Dengan bantuan sabitnya, dia pun bangkit kembali berdiri dan menatap Weng Wan sambil memasang senyumnya.
Weng Wan dengan luka di dadanya mengusahakan untuk tetap fokus pada Xiaozi, sampai tidak menyadari bahwa darah pada lukanya telah kembali mengalir.
"Haaa...haa....hentikan ocehanmu itu, mau o
berapa kali aku katakan padamu, aku bukanlah seorang jenius seperti yang kau maksud..."
Mendadak kepala Weng Wan terasa pusing selama beberapa saat dan dia pun harus kembali berlutut di tanah. Saat itu lah dia haru menyadari bahwa darah telah kembali mengalir keluar dari lukanya dan dia saat ini telah kehilangan terlalu banyak darah.
"Kenapa...? Bukankah aku sudah memakai pil penyembuh pemberian Lou? Tapi kenapa darah masih mengalir keluar dari luka ku?" tanya Weng Wan keheranan.
"Hahaha!!! Sepertinya seranganku benar-benar telah melukai mu dengan serius! Kau pasti ingin tau kenapa luka mu tidak berhenti mengeluarkan darah, bukan? Hahahaha!!!!
Itu karena seranganku telah digabungkan dengan aura membunuh milikku! Luka mu itu sama sekali tidak akan tertutup sampai kau bisa membunuhku atau membuat ku kehilangan kesadaran!!"
Xiaozi tertawa terbahak-bahak sementara Weng Wan diam mendengar penjelasannya.
Dia pun mengerti kenapa lukanya tidak berhenti mengeluarkan darah. Kini dia tau bagaimana cara mengatasinya.
"Jadi...aku cukup membunuh mu saja, bukan?"
"Hahahaha!!!! Coba saja kalau kau bisa, bajingan! Hahahah!!!!"
Weng Wan memejamkan matanya, dan mengambil kuda-kuda siap menyerang. Kedua goloknya dia genggam dengan kuat, dan kemudian Qi miliknya mulai mengalir keluar dan menutupi seluruh tangan dan golok miliknya.
Qi miliknya tampak memadat sedikit demi sedikit hingga akhirnya golok dan tangannya tertutup dengan sempurna oleh Qi.
"Haaa.... sebenarnya aku tidak ada niat ingin menggunakan teknik ini, tapi karena aku adalah salah satu perwakilan dari Keluarga Leluhur Weng, mau tidak mau aku harus menunjukkan kekuatanku lebih jauh."
Tap....krack....trackk....
"Teknik Keluarga Leluhur Weng, Serangan Penghantam Langit....."
WHUUSSH-!!!!
"Langit Pertama!"
Dari jarak hampir empat meter dari Xiaozi, Weng Wan mengayunkan kedua goloknya ke arah Xiaozi.
Sebuah serangan energi pun tercipta yang kemudian mengarah dengan cepat ke arah Xiaozi.
Xiaozi yang melihat serangan itu, tidak berusaha menghindarinya sama sekali, melainkan memilih untuk melepaskan serangannya juga.
Dia memegang sabitnya dengan kedua tangannya, dan kemudian aura membunuh dalam jumlah sangat besar keluar dari tubuhnya, lalu terhisap ke dalam sabitnya.
Sabitnya itu kembali mengeluarkan cahaya merah terang, yang bahkan lebih terang dari sebelumnya. Dengan sekuat tenaga dia pun mengayunkan sabitnya tersebut, dan sebuah serangan energi berwarna merah gelap melesat ke arah serangan energi milik Weng Wan.
Tepat ketika kedua serangan energi itu bertemu, ledakan besar pun terjadi, angin kencang berhembus dan mendorong tubuh Weng Wan dan juga Xiaozi beberapa langkah.
Di tengah ledakan, terlihat serangan energi keduanya saling beradu satu sama lain, hingga tak lama kemudian serangan energi milik Xiaozi pun hancur dan serangan energi milik Weng Wan bergerak cepat dan mengenai tubuh Xiaozi.
Xiaozi yang sedang terdorong karena angin kencang tidak bisa menghindari serangan tersebut. Tubuhnya pun dengan menerima serangan itu.
"AAAAARGHH!!!!!"
Jeritan terdengar darinya, saat serangan energi itu secara cepat menelan tubuhnya. Detik berikutnya ledakan kembali terjadi, dan tubuh Xiaozi pun hancur hingga tak bersisa.
Bagian arena tempat Weng Wan berada pun langsung sunyi seketika saat sosok dari Xiaozi lenyap dan menyisakan bagian arena yang hancur dan sosok Weng Wan yang terbaring di arena sambil memegangi luka di dadanya.
Matanya menatap ke langit sore dan dia bernapas dengan tersengal-sengal.
__ADS_1
"Benar-benar merepotkan....."