Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 660. Mendatangi Weng Ying Luan dan Lin Mei


__ADS_3

Di dalam Hutan Leluhur Ying, Lin Mei menatap Naga Ular Hijau sejenak setelah dia mengatakan bahwa dirinya mau tunduk kepada Lin Mei.


Setelah merasa bahwa Naga Ular Hijau memang tulus dan tidak ada niat tersembunyi, Lin Mei mengangguk lalu terbang ke arah Weng Ying Luan.


Weng Ying Luan berkedip. Lin Mei tampak jauh lebih cantik tanpa topengnya. Jujur, Weng Ying Luan terpesona oleh penampilannya, namun itu hanya rasa kekaguman belaka, tidak ada perasaan khusus dari cara dia melihat Lin Mei.


Dia sudah pernah melihat orang yang jauh lebih cantik dibandingkan dengan Lin Mei. Orang-orang akan berpikir bahwa dirinya berbohong jika dia mengatakan hal itu, namun kenyataannya memang seperti itu.


Lin Mei memang cantik, namun hanya sekedar paras dan aura yang terpancar darinya. Orang yang ada dalam pikirannya tidak hanya cantik dari segi paras dan aura yang terpancar darinya, namun juga dari setiap sikap yang dia ambil, tindakannya, serta hatinya.


Orang dengan deskripsi Weng Ying Luan akan terdengar tidak masuk akal bagi orang lain, karena deskripsi itu hanya cocok untuk seorang dewi yang turun ke dunia. Sayangnya, memang dia benar pernah melihat orang dengan deskripsi seperti itu, dan dia telah jatuh hati semenjak pandangan pertama.


Dibandingkan dengan orang itu, Lin Mei akan terlihat seperti permata yang belum di bentuk sama sekali.


"Hei, kenapa kau menatapku seperti itu? Jangan bilang kau jatuh cinta padaku?" tanya Lin Mei dengan sebelah alisnya terangkat.


Mendengar kata-kata Lin Mei membuat Weng Ying Luan tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak, hanya saja aku kagum pada kekuatan mu. Tidak kusangka kau bisa menghadapi dua binatang buas Penguasa Jiwa dan bahkan menghabisi mereka dengan sangat mudah. Kau menjadi jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya," ujar Weng Ying Luan.


Lin Mei tersenyum kecil dan kemudian memasang wajah sombongnya. "Hmp! Tentu saja! Aku yang sekarang ini pastinya jauh lebih kuat daripada kau dan Lou. Hahahaha!"


Weng Ying Luan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Lin Mei. Melihatnya yang seperti ini membuatnya sadar bahwa Lin Mei masih remaja dan baru akan berusia lima belas. Gadis seusianya memiliki tempramen yang sering meledak-ledak dan juga senang menyombongkan dirinya sendiri.


Itu membuatnya teringat pada kenangannya waktu masih di Kediaman Keluarga Utama Weng di Kota Bintang Putih. Dia sering bertarung dengan anak-anak dari keluarga lainnya dan tidak jarang membuat masalah yang mengharuskan Kepala Keluarga Utama Weng turun tangan untuk menyelesaikannya.


"Jangan terlalu besar kepala, kau belum melihat aku dan Lou ketika menggunakan seratus persen kekuatan kami. Paling-paling kau akan merasa sangat lemah jika kau pernah melihatnya," kata Weng Ying Luan dengan nada meremehkan.

__ADS_1


Wajah cantik Lin Mei menjadi cemberut mendengarnya. Dia menendang kaki Weng Ying Luan dan segera terbang menuju elang raksasa, meninggalkan Weng Ying Luan yang tetap berdiri biasa saja di atas langit.


Tendangan Lin Mei tidak bisa melukainya atau membuatnya merasa sakit. Lapisan pelindung yang diciptakan oleh Sarung Tangan Pencuri Langit mampu melindunginya dari segala macam serangan yang datang padanya. Meski tendangan Lin Mei tidak memiliki niat melukainya, lapisan pelindung tetap akan terbentuk dan melindungi kaki Weng Ying Luan.


"Ah.....aku makin cinta dengan sarung tangan ini."


Ya, orang yang dimaksud oleh Weng Ying Luan tidak lain dan tidak bukan adalah Sarung Tangan Pencuri Langit miliknya. Sejak pertama kali melihat sarung tangan itu, dia sudah jatuh cinta padanya. Tindakan perlindungannya yang selalu menjaganya, caranya mengisi ulang Qi miliknya sendiri, serta bentuknya yang sangat indah dan cantik, itu adalah sebuah mahakarya.


Jika saja sarung tangan ini berwujud manusia, Weng Ying Luan sudah pasti akan langsung menikahinya tanpa ragu.


"Kau jelas jauh lebih cantik, Langit kecil ku. Gadis pemarah itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mu!"


Andai Lin Mei mengetahui Weng Ying Luan baru saja membandingkan antara dirinya sepasang sarung tangan, maka Lin Mei pasti tidak hanya memberikan tendangan pada Weng Ying Luan. Tidak, dia tidak akan membiarkan Weng Ying Luan hanya mengalami luka kecil, dia pasti akan membakar mulut Weng Ying Luan paling tidak.


***


Kapal kayu masih melayang tanpa bergerak sedikitpun. Kabut tebal menutupi kapal, bahkan mencapai bagian atas kapal.


Sepuluh orang Kaisar Jiwa masih duduk tanpa bergerak sedikitpun. Mereka tampak sedang fokus bersemedi. Perwakilan Keluarga Weng yang sedang bermeditasi tiba-tiba membuka kedua matanya dan dia menoleh ke arah selatan.


Dia berkedip. Senyum kecil muncul di wajahnya dan dia tertawa pelan.


"Weng Ying Luan dan Puteri Mei sudah mengurus salah satu penguasa Hutan Leluhur Ying, Naga Ular Hijau. Saat ini mereka sedang menuju ke tempat penguasa lainnya dari Hutan Leluhur Ying, Xiangliu, sang Ular Kegelapan."


Ucapannya segera menarik perhatian sembilan Kaisar Jiwa lainnya. Perwakilan Keluarga Lin tampak terkejut mendengarnya, sebelum kemudian dia mengerutkan keningnya dan mendengus jengkel.


"Hmp! Paling-paling mereka memiliki sebuah trik di balik lengan baju mereka. Kalau pun mereka benar-benar mengurus Naga Ular Hijau tanpa trik apapun, pasti Weng Ying Luan yang melakukannya. Gadis tak berguna itu tidak mungkin melakukan sesuatu seperti mengalahkan Naga Ular Hijau. Dia malah mungkin menyusahkan Weng Ying Luan dalam pertarungan melawan Naga Ular Hijau," ujarnya dengan jengkel. Dia tidak lupa untuk menjelek-jelekkan Lin Mei.

__ADS_1


Jelas status Lin Mei sebagai putri dari Kepala Keluarga Lin sama sekali tidak membuatnya khawatir. Paling-paling dia hanya akan mendapatkan teguran dari para Tetua di Keluarga Lin. Dia tidak akan mendapatkan hukuman apapun karena statusnya sebagai seorang Kaisar Jiwa di dalam Keluarga Lin.


Perwakilan Keluarga Weng hanya tersenyum tipis dan tidak menanggapi kata-kata perwakilan Keluarga Lin. Dia pada dasarnya telah menonton seluruh kejadian pertarungan antara pasukan binatang buas milik Lin Mei melawan pasukan milik Naga Ular Hijau.


Salah satu Kaisar Jiwa yang mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya tiba-tiba penutup kepalanya dan memperlihatkan sosok seorang pria paruh baya yang rambutnya sudah setengahnya memutih. Dia memiliki perawakan seorang pria yang sehat. Tubuhnya tidak kurus atau pun terlalu berisi. Jelas dia menjaga pola makannya dengan baik.


Wajahnya memiliki sedikit kerutan yang adalah hasil dari berbagai hal yang sudah dia alami selama hidupnya. Kedua matanya tampak berwarna biru gelap dan terlihat sangat jernih.


Namun, meski tampangnya terlihat seperti pria baik-baik, jarak antara dirinya dengan sembilan Kaisar Jiwa terlihat lebih jauh dibandingkan dengan jarak antara Kaisar Jiwa yang lainnya. Jelas Kaisar Jiwa yang lain menghindarinya meski tidak terlalu menunjukkannya.


"Tuan Muda Ying Luan melakukan pekerjaan yang sangat baik dengan mengatasi wilayah utara dan barat seorang diri. Putri Mei juga sudah melakukan pekerjaan yang cukup bagus dengan membentuk pasukan dari ratusan ribu binatang buas dan mengatasi wilayah selatan. Sekarang mereka dalam perjalanan menuju ke sini, apakah kita harus menemui mereka sekarang?


Menurut ku tidak akan baik jika mereka berurusan dengan Ular Kegelapan di waktu seperti ini. Tidak ada dari kita di sini yang memiliki persiapan apapun jika seandainya Ular Kegelapan terbangun dari tidur panjangnya setelah Kepala Keluarga Weng sebelumnya meninggal dunia. Hanya beliau yang bisa mengendalikannya, akan sulit jika dia malah mengamuk dan menyusahkan kita semua di sini." Dia menjelaskan dengan tenang.


Sembilan Kaisar Jiwa mendengar penjelasannya dan diam untuk beberapa saat. Perwakilan Keluarga Weng mengangguk setuju, dilanjutkan dengan perwakilan dari delapan kekuatan besar di Pulau Pasir Hitam.


"Aku akan membawa kita ke tempat mereka saat ini. Adapun kalian semua, tidak ada yang diizinkan untuk berbuat apapun pada mereka berdua, terutama kau Lin Ao Man. Putri Mei adalah anak dari Kepala Keluarga Lin, jika kau menyentuhnya dan melakukan sesuatu padanya, aku tidak akan segan untuk menghentikan mu. Aku tidak mau membuat Kepala Keluarga Lin berpikir bahwa Keluarga Weng tidak mempedulikan putri termudanya," jelas perwakilan Keluarga Weng sambil menoleh pada perwakilan Keluarga Lin.


Perwakilan Keluarga Lin mendengus. Dia merasa orang-orang di atas kapal ini semuanya berpihak pada Lin Mei yang membuatnya merasa jengkel. Namun dia harus menahan amarahnya karena meskipun dia adalah seorang Kaisar Jiwa, tapi jika dibandingkan dengan perwakilan Keluarga Weng yang terlihat seperti pria yang sudah sangat tua, dirinya hanyalah anak kecil.


Orang terkuat di atas kapal ini adalah pria tua dari Keluarga Weng! Tidak ada yang berani macam-macam di atas kapal karena kehadirannya. Sejujurnya, sembilan Kaisar Jiwa yang lainnya terkejut saat pertama kali mengetahui bahwa pria tua itu menjadi perwakilan dari Keluarga Weng.


Secara kekuatan, dia masuk dalam jajaran lima orang terkuat di Keluarga Weng. Meski berada dalam posisi kelima, namun kekuatannya sudah cukup untuk menundukkan semua Empat Keluarga Besar di Daratan Utama seorang diri.


Kekuatannya berada di puncak ranah Penguasaan Jiwa, yaitu Kaisar Jiwa puncak akhir. Dia sedikit lagi akan mencapai ranah kekuatan lainnya yang hanya sedikit saja yang pernah mencapainya di seluruh dunia.


Itu adalah ranah misterius dan hanya ada sedikit informasi tentang ranah tersebut. Di ranah itu, seseorang tidak terikat lagi pada jiwa, dia akan terbebas dari batasan umur dan bisa hidup hingga ribuan tahun dengan sangat mudah.

__ADS_1


Ranah itu dikenal dengan nama......Deva.


__ADS_2