
Sosok Lin Mei melayang di udara.
Seluruh tubuhnya ditutupi oleh Api Phoenix berwarna merah terang. Tidak ada lagi api dengan dua warna, hanya satu, yang merupakan campuran Api Phoenix Penyembuh dan Api Phoenix Pemusnah.
Karena tubuhnya sempat mengalami kehancuran, seluruh pakaiannya telah terbakar oleh api. Untungnya Api Phoenix menutupi tubuhnya, sehingga tidak memperlihatkan tubuhnya.
"Nah.....ini adalah sesuatu yang tidak aku sangka akan terjadi," ucap Weng Ying Luan yang bersiul tidak jauh dari Lin Mei.
Meski Api Phoenix Lin Mei berkobar sangat besar namun dia tidak merasakan panas sedikitpun, seolah-olah api itu tidak benar-benar nyata.
"Kekuatan ini........jangan bilang Phoenix terlah terbangkitkan?'
Kambing Petapa menatap dengan tatapan kosong dan heran.
Para binatang buas yang berada dalam kendali Lin Mei melihat tampilan Lin Mei. Perasaan aneh menjalari seluruh tubuh mereka semua. Bahkan Raja Singa yang sedang bertarung dengan dua ular Penguasa Jiwa terkejut dengan penampilannya.
Namun perasaan yang menjalari tubuhnya tidak sekuat yang dirasakan oleh binatang buas yang lain. Perasaan itu sangat lemah.
"Kami memberi hormat kepada Sang Phoenix Abadi!"
Elang raksasa, di sisi lain, langsung memekik nyaring dan berseru. Suaranya terdengar oleh semua binatang buas, bahkan pasukan ular yang dibawah perintah Naga Ular Hijau bergetar hebat saat mendengar suaranya.
"Berlutut." Itu adalah satu kata tunggal dari Lin Mei. Namun suaranya itu seperti membawa perintah mutlak atas seluruh binatang buas yang mendengarnya.
Tanpa ragu, ratusan ribu binatang buas berlutut dan membungkuk hormat kepada Lin Mei yang ada di langit.
Ular-ular juga ikut memberikan hormat mereka padanya. Bahkan, Naga Ular Hijau yang merupakan pemimpin semua ular itu mendapati tubuhnya merendah ke tanah dan kepalanya menunduk hingga menyentuh tanah.
"Tidak!!! Sialan! Apa-apaan ini?!" Naga Ular Hijau meraung panik.
Tubuhnya bergerak dengan sendirinya. Dia ingin mengangkat kepalanya, namun tubuhnya tidak mau mendengarnya.
Di sisi lain, Kambing Petapa ikut berlutut dan menundukkan kepala di hadapan Lin Mei. Walau agak sedikit terpaksa, namun di dalam lubuk hatinya, dia dengan senang hati memberikan hormat tulus kepada Lin Mei.
Satu-satunya yang tidak berlutut dan menundukkan kepalanya adalah Raja Singa. Bukan karena perintah Lin Mei tidak bekerja kepadanya, namun perasaan yang dia rasakan dari Lin Mei tidak sekuat yang dirasakannya saat Weng Ying Luan menggunakan kekuatan garis darah keturunannya.
__ADS_1
Mulut Weng Ying Luan terbuka lebar dan membentuk seperti huruf 'o' saat dia menyaksikan semua binatang buas, kecuali Raja Singa, memberikan hormat mereka kepada Lin Mei.
"Lou, kau seharusnya ada di sini dan melihat yang dilakukan gadis ini. Dia membuat Raja Jiwa menundukkan kepala kepadanya, dan bahkan mereka tidak bisa melawan sedikitpun. Ckckck...... dunia ini sudah gila," ujar Weng Ying Luan.
Lin Mei mengangguk puas menyaksikan semua binatang buas yang memberikan hormat mereka padanya.
"Apakah ada dari kalian yang tidak mau berada dalam perintahku? Jika ada, aku akan memberikan kalian kesempatan untuk bertarung denganku, jika kalian mampu menahan satu serangan dariku, maka kalian bisa pergi dan aku tidak akan menghentikan kalian."
Kata-kata Lin Mei segera membuat dua Penguasa Jiwa yang ada di bawah perintah Naga Ular Hijau meraung.
"Oke, kalian berdua bisa datang dan menyerang ku sekaligus," ucap Lin Mei.
Kedua ular Penguasa Jiwa mendesis dan menampilkan tatapan tajam penuh napsu membunuh. Itu adalah tatapan napsu membunuh dari seorang Penguasa Jiwa, jika mereka yang berada di ranah Penyatuan Jiwa biasa menerima tatapan itu, mereka bisa dipastikan langsung mati di tempat tanpa bisa melawan sedikitpun.
"Bunuh dia! Akan kita tunjukkan apa yang terjadi karena telah berani membuat kita menundukkan kepala selain kepada Ketua Naga Ular Hijau!!"
"Mati kau manusia!!!!!"
Kekuatan Jiwa meledak dari tubuh keduanya dan menimpa tubuh Lin Mei.
Wajah Lin Mei tetap sama seperti sebelumnya. Dia tidak merasa terganggu dengan tekanan yang diakibatkan oleh Kekuatan Jiwa itu.
Meski begitu, saat keduanya bertarung bersama, mereka akan menampilkan kerja sama yang luar biasa dan menjadi kombinasi yang sempurna.
Ular Kayu Hitam memiliki bentuk tubuh lebih besar dibandingkan Ular Tanah Raksasa, namun panjangnya kurang jika dibandingkan dengan Ular Tanah Raksasa yang panjangnya hampir menyamai ketua mereka, Naga Ular Hijau. Di ekor Ular Tanah Raksasa juga terdapat sebuah benjolan yang terbentuk dari sisik-sisik nya yang mengeras dan membentuk seperti gada.
Kemampuan pertahanan dari Ular Kayu Hitam sangat luar biasa, sementara Ular Tanah Raksasa memiliki kemampuan serangan yang memiliki kerusakan besar. Ketika mereka bertarung bersama, maka lawan mereka tidak akan bisa melakukan apapun pada mereka.
Inilah yang terjadi pada Raja Singa sebelumnya ketika bertarung melawan mereka berdua. Dia tidak bisa mendaratkan satupun serangan pada mereka. Kalaupun dia bisa, Ular Kayu Hitam akan menahan serangannya, sementara Ular Tanah Raksasa akan menyerangnya pada saat yang sama.
Untungnya Raja Singa memiliki kekuatan diatas mereka berdua, sehingga hasil pertarungan ketiganya seimbang.
"Dua cacing kecil, tidak ada bedanya jika kalian bertarung bersama. Itu justru menunjukkan bahwa kalian memang lemah."
Ucapan Lin Mei semakin membuat marah kedua ular Penguasa Jiwa. Ular Kayu Hitam mendorong ke depan, sulur-sulur tanaman keluar dari tubuh besarnya. Meskipun itu adalah sulur, namun ukurannya berkali-kali lebih besar dari pohon raksasa sekalipun.
__ADS_1
Sulur-sulur tanaman itu mengikat tubuh besarnya, membuat tubuhnya tampak jauh lebih besar. Di sisi lain, Ular Tanah Raksasa menggulung dirinya sendiri, membuatnya tampak seperti sebuah bola batu raksasa.
Cahaya kecoklatan menutupi tubuh Ular Tanah Raksasa. Duri-duri tajam mencuat keluar dari sisik-sisiknya yang seperti terbuat dari batu.
"Lakukan, Kayu!!" Ular Tanah Raksasa berseru.
Ular Kayu Hitam membalas dengan mendesis tajam. Tubuhnya berayun, lalu mencambuk ke depan dan menghantam tubuh Ular Tanah Raksasa yang membentuk bola batu raksasa yang dipenuhi duri.
*BAMMM!!!*
Tubuh tertutup sulur Ular Kayu Hitam memukul keras tubuh bola batu raksasa Ular Tanah Raksasa.
Bola batu melesat sangat cepat, terbang ke arah Lin Mei dalam kobaran api.
Kecepatan terbang bola batu itu sebenarnya tidak terlalu laju, namun karena ukurannya yang begitu besar, membuat mustahil bagi Lin Mei untuk menghindari tabrakan tepat waktu.
Lagipula, dia memang tidak berniat untuk menghindarinya.
"Pfff...... kupikir kalian akan melakukan sesuatu yang lebih baik lagi. Tapi ternyata kalian hanya melempari ku dengan batu yang bahkan kecepatannya sangat lambat. Aku bisa bosan dan mengantuk karena menunggunya," kata Lin Mei sambil menguap kecil.
Bola batu raksasa yang terbuat dari tubuh Ular Tanah Raksasa bisa dengan mudah mendengar kata-katanya. Hal ini membuat Ular Tanah Raksasa menjadi marah.
Kemarahannya kini telah berada dalam tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya pada dirinya. Dengan rasa amarah dalam dirinya, dia memutar tubuh bola batu nya.
"Hm! Kau hanya mencari mati!" Ular Kayu Hitam mencibir Lin Mei. Dia sangat dekat dengan Ular Tanah Raksasa, dan memahami dengan baik bagaimana kondisi emosinya saat diprovokasi secara berlebihan oleh orang lain.
Dia sendiri tidak berani melakukannya, karena Ular Tanah Raksasa akan bertindak sangat nekat, hanya untuk membalas provokasi yang diberikan terhadapnya.
Bukannya takut, Lin Mei malah memejamkan matanya seolah tertidur. Ketika tubuh bola batu Ular Tanah Raksasa hanya berjarak beberapa puluh meter darinya, sebelah mata Lin Mei terbuka dan menatapnya.
"Ckckck.....sangat lama sekali. Aku sudah cukup lama menunggu, namun belum sampai-sampai juga. Aku sudah cukup memberimu waktu. Sekarang enyahlah."
Tepat saat tubuh bola batu Ular Tanah Raksasa berada di depan matanya, Api Phoenix muncul dan membakar bagian tubuh yang berada sangat dekat dengan Lin Mei, langsung merubahnya menjadi abu.
Karena tubuh Ular Tanah Raksasa sedang dalam kondisi bergerak, tubuh ular itu terbakar habis tak bersisa saat terus bergerak mengenai Api Phoenix di sekitar Lin Mei.
__ADS_1
Begitu seluruh tubuh Ular Tanah Raksasa lenyap menjadi abu, mata Lin Mei menoleh ke bawah dan melihat Ular Kayu Hitam yang menganga lebar menyaksikan rekan seperjuangannya selama ini mati begitu saja dan hancur menjadi abu hingga tak tersisa sedikitpun.
"Sekarang, giliran mu."