
Sorot mata Weng Ying Luan tampak dingin dan dia segera melangkahkan kakinya ke arah kelompok pria yang memegangi Tetua Fang.
Melihat Weng Ying Luan yang bergerak mendekat, pria yang sebelumnya menendang Tetua Fang segera menghentikan langkah Weng Ying Luan deng menghadangnya menggunakan tangannya yang cukup besar.
Langkah Weng Ying Luan terhenti, dan dia menatap tangan pria itu di depannya. Mengepalkan tangannya, Weng Ying Luan pun mengangkat tangan kirinya, dan langsung mencengkram tangan pria itu.
Alis pria itu terangkat menyaksikan apa yang dilakukan oleh Weng Ying Luan. Apa Weng Ying Luan berniat untuk menggerakkan tangannya, pikirnya.
Tapi sayangnya bukan itu yang terjadi melainkan hal yang tidak diduga oleh pria itu.
Otot-otot tangan Weng Ying Luan yang memegang tangan pria itu mendadak mengeras, dan cengkraman tangan Weng Ying Luan menjadi semakin kuat.
Ekspresi terkejut ditampilkan oleh wajah pria itu, dia Tidka menduga kekuatan Weng Ying Luan bisa sekuat ini. Dari luar Weng Ying Luan hanya memancarkan kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa tahap 4 saja, sama sekali tak berarti dengan dirinya yang sudah di ranah Pembersihan Jiwa tahap 5 awal.
Perlu diketahui, para Praktisi Beladiri yang berada di bawah naungan suatu kelompok kekuasaan akan memiliki kekuatan yang jauh diatas rata-rata dibanding mereka yang belum atau tidak termasuk di salah satu kekuasaan seseorang.
Hal ini dikarenakan mereka yang berada dalam suatu kelompok akan memiliki jumlah sumber daya latihan yang jauh diatas mereka yang tanpa Kelompok.
Mereka yang memiliki kelompok, akan jauh lebih diuntungkan dalam segala aktivitas, terutama tmdi Kota Hundan ini. Semakin kuat kekuatan kelompok mu, semakin berkuasa serta semakin banyak keuntungan yang diperoleh.
Contoh seperti para penjaga yang dibunuh oleh pemuda bernama Yang Guang, mereka meski tidak berada dalam kelompok besar, tapi setidaknya mereka memiliki wilayah kekuasaan, dan juga mereka selalu mendapatkan sumber daya latihan dari tuan mereka, yaitu sang pemilik restoran.
Pemilik restoran itu cukup pintar untuk memperkuat para penjaganya, dia mengerti dengan jelas apa yang paling dibutuhkan di Kota Hundan ini. Itu adalah kekuatan.
Dengan kekuatan kau bisa mendapatkan kekayaan, dengan kekayaan kau bisa merekrut orang lain agar bisa bergabung bersama mu dalam satu kelompok yang sama, dan dengan begitu kau akan bisa segera mendapatkan wilayah kekuasaan.
Hanya saja, kelompok pria yang sedang berada di depan Weng Lou dan Weng Ying Luan saat ini bukanlah daei salah satu kelompok besar, dan Weng Lou serta Weng Ying Luan menyadari hal itu.
Bukan dari kelompok besar, artinya bukanlah masalah besar.
Dengan begitu mereka bisa menghajar kelompok ini tanpa harus takut diri mereka mendapatkan masalah.
"Argh- Lepaskan tanganmu, anak kecil sialan!" pria yang tangannya dicengkeram kuat oleh Weng Ying Luan itu meringis kesakitan.
Cengkraman darinya sudah tidak bisa ditahan lebih lama lagi olehnya
Dia mengayunkan tangannya yang lainnya ke arah kepala Weng Ying Luan, tapi tidak dihindari sama sekali olehnya.
"Siapa bilang kau boleh melawan?"
TRACK!!!!!
Dalam satu gerakan, tangan pria itu yang dicengkeam oleh Weng Ying Luan patah, dan menyebabkan bunyi suara khas yang bisa membuat orang-orang biasa yang mendengarnya menjadi merinding.
"AHHHHHH!!!!! TANGANNNN KUUU!!!!"
Pria itu menjerit kencang dna mengejutkan rekan-rekannya yang lain.
Tangannya yang dicengkeram oleh Weng Ying Luan sebelumnya, kini patah seperti sebuah lidi.
Dalam rasa sakitnya, pria itu menatap ke arah Weng Ying Luan. Dimana telapak tangannya terbuka dan mengeluarkan cahaya keemasan khas Qi tanpa unsur.
"Diamlah, kau bajingan sialan."
BDAM!!
Seperti sebuah balon, kepala pria itu meledak dan menyebabkan isi kepalanya berterbangan ke sekitarnya.
Untungnya ada sebuah pelindung tipis dari Qi yang melindungi tubuh Weng Ying Luan, sehingga darah dan isi kepala pria itu tak mengenainya sama sekali.
Bruk....
Tubuh pria itu pun terjatuh ketanah tak bernyawa lagi dalam kondisi jauh lebih mengenaskan dibandingkan dengan para penjaga di restoran yang dibunuh oleh Yang Guang.
Tatapan Weng Ying Luan tetap dingin kepada tubuh pria itu lalu kemudian kembali melangkah kan kakinya dan berjalan kearah kelompok pria itu.
__ADS_1
"Ka-Kau!! Berhenti disitu!"
Salah satu pria yang ada di kelompok itu berseru panik ketika melihat Weng Ying Luan berjalan ke arah mereka.
Di sisi lain, pria lainnya juga tampak kaget selama beberapa detik, sebelum kemudian mereka langsung kembali normal.
"Jangan takut! Dia sendirian, si idiot itu mati karena meremehkannya!"
Mereka segera melempar Tetua Fang ke samping dan mengeluarkan senjata mereka masing-masing.
Sriiiinggg.....
Srrrtttt.....
Pedang, belati, tombak, dan senjata lainnya diarahkan pada Weng Ying Luan tapi itu tak menghentikan langkahnya sama sekali.
Ekspresi wajahnya tak berubah sama sekali.
"Aku bilang berhenti, sialan!!!"
Sshuuuu-
TANGG!!!!
Sebuah pelindung dari Qi muncul dan menghalangi serangan dari seorang pria yang merupakan anggota dari kelompok itu.
"Jangan diam saja, serang bersama-sama!!"
"Haaa!!!!"
"Hyyaaaa!!!"
Lima pria yang lain segera ikut melepaskan serangan dari berbagai arah, dan menggunakan Qi dalan jumlah yang besar pada senjata mereka.
TAANGG!!! SRRINNGGGG!!!!
Meski serangan mereka semua tampak berbahaya, tapi semua serangan mereka itu berhasil ditahan oleh pelindung dari Qi yang ada di sekitar Weng Ying Luan.
Wajah mereka semua segera menjadi terkejut, dan rasa takut mulai timbul dalan diri mereka.
Tidak mereka sangka Weng Ying Luan bisa membuat pelindung Qi yang sangat efisien dan sangat bebas seperti itu.
Nyata nya bukan Weng Ying Luan yang menciptakan pelindung Qi itu, melainkan orang lain.
Tidak jauh di belakang Weng Ying Luan, sosok Weng Lou mengangkat tangan kanannya yang mengeluarkan cahaya keemasan. Dia lah yang menciptakan pelindung Qi yang melindungi Weng Ying Luan dari semua serangan para pria itu.
"Kalian berani macam-macam dengan keluarga Weng kami, huh?"
Slap. Dengan satu jentikan jari, pedang dari Qi pun muncul dan mengelilingi enam pria yang menyerang Weng Ying Luan itu.
Shuussh! Pshhh!! Syaatt!!!
"Aaahhh!!!"
"UAARGHH!!!"
"Aaaaaaa!!!"
"To-Tolong ak-AAHHHH!!!"
Pedang-pedang itu langsung bergerak menusuk mereka secara bersamaan, dan membunuh mereka dalam beberapa detik.
Weng Ying Luan tak menghiraukan mereka sama sekali, dan memilih untuk berjalan ke arah Tetua Fang yabg saat ini sedang terbaring di tanah dengan kondisi yang sangat buruk.
Kesadarannya mulai kabur, tapi dia tetap berusaha untuk bisa tetap sadar.
__ADS_1
"Tetua Fang?! Tetua Fang?!"
Weng Ying Luan memanggil-manggil nya dengan suara nyaring, takut jika seandainya dia tidak sadarkan diri maka dia tidak akan sadar kembali, atau bisa dibilang mati.
Sorot mata Tetua Fang menatap dengan kabur wajah Weng Ying Luan.
Dia berkedip dan menarik napas tipis. Tak lama, sosok Weng Lou ikut muncul di belakang Weng Ying Luan dan melihat kondisi Tetua Fang yabg benar-benar buruk.
"Ini tidak baik, kondisinya sangat buruk. Kita harus membawanya dan segera menyembuhkannya," ucap Weng Lou sambil mengerutkan dahinya.
Mendengar itu Weng Ying Luan pun mengangguk, lalu mengarahkan jari telunjuknya pada dada Tetua Fang.
Qi miliknya pun mengalir ke dalam tubuh Tetua Fang, dan mulai memulihkannya. Meski tidak akan bisa menyembuhkan kondisinya seutuhnya, setidaknya itu bisa membuat kondisinya menjadi stabil.
"Sepertinya waktu jalan-jalan kita berakhir di sini hari ini, ayo kita kembali. Tetua Fang harus menerima perawatan lebih lanjut." Weng Lou berbicara kepada kelompok nya.
Weng Wan dan yang lainnya sebelumnya hanya bisa melihat apa yang dilakukan oleh Weng Lou dan Weng Ying Luan dari kejauhan dan tidak terlalu mengerti apa yang menjadi alasan mereka menyerang orang-orang itu.
Tapi ketika Weng Lou menyebutkan 'Tetua Fang' Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning langsung tampak sangat terkejut.
"Ka-Kau bilang Tetua Fang?!"
"Bagaimana mungkin dia bisa ada di sini?!"
Ketiganya bukannya tidak senang mendengar tentang Tetua Fang, tetapi yang membuat mereka seperti itu adalah, bagaimana bisa Tetua Fang ada di Kota Hundan yang terletak di Wilayah Tengah ini?!
"Aku juga tidak tau, tapi dia benar-benar Tetua Fang, lihat liontin ini. Ini adalah liontin tanda dirinya merupakan Tetua Kedua di Keluarga Utama Weng di Kota Bintang Putih. Aku ingat dengan jelas bentuk liontin ini," jelasnya kepada teman-temannya itu.
"Baiklah, ayo kita segera bawa dia. Tapi jangan membawa ke penginapan kami, bawa ke tempat kalian saja, aku yakin Tetua Baixue tidak akan senang dengan kehadirannya," ucap Weng Hua.
"Tidak apa-apa. Luan akan pergi bersama kalian." Weng Lou pun melihat ke arah Weng Ying Luan yang masih mengobati Tetua Fang
Dia tidak menjawab sama sekali, yang berarti dirinya setuju.
"Laku bagaimana denganmu? Apa kau tidak ikut pulang bersama kami?" tanya Weng Ning.
Menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, Weng Lou pun menghela napasnya.
"Aku akan mencari sedikit informasi disini, pasti ada sebabnya Tetua Fang di pukuli oleh orang-orang sebelumnya," jawab Weng Lou.
"Tidak, aku yang akan mencari informasi itu," bantah Weng Ying Luan.
"Diamlah, emosimu tidak stabil. Kau hanya akan menyebabkan keributan."
Mendengar itu, Weng Ying Luan pun terdiam. Dia tidak menyangkal itu. Emosi nya memasang sedang tidak baik saat ini.
Setelah beberapa saat kemudian, Weng Ying Luan pun bangkit berdiri sambil menggendong tubuh Tetua Fang di belakangnya.
"Ayo pergi, serahkan semuanya padanya."
Weng Ying Luan memberi tanda pada mereka dan mereka semua pun segera pergi dari situ, kembali ke penginapan tempat Weng Lou, dan yang lainnya menginap.
Hanya tersisa Shan Hu saja di situ yang mana membuat Weng Lou mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa kau tidak ikut dengan mereka?" tanya Weng Lou kepadanya.
"Aku harus selalu menjaga tuan agar tetap aman," jawab Shan Hu dengan cepat.
"Haaa... terserah mu saja, bantu aku membersihkan 'sampah-sampah ini'."
Setelah mengatakan itu, Weng Lou dan Shan Hu pun mengumpulkan tubuh-tubuh pria yang dihabisi oleh Weng Lou sebelumnya lalu meletakkannya di depan bangunan yang kemungkinan adalah markas mereka.
"Mari lihat sebanyak apa orang-orang di dalam sini memiliki informasi yang kita butuhkan," kata Weng Lou yang kemudian segera membuka pintu bangunan itu dan masuk ke dalamnya.
Akan ada pembantaian lainnya, atau kah hal lainnya setelah mereka berdua masuk ke tempat ini?
__ADS_1
Catatan Penulis:
Cie yang kangen๐๏ธ๐๐๏ธ