
Tubuh Weng Lou bergetar hebat di atas tanah. Dia bersusah payah mengangkat kepalanya dan menatap kearah Lin Nushen.
Keduanya saling bertatapan namun tidak ada yang berbicara.
Weng Lou mengepalkan kedua tangannya dengan kuat hingga melukai telapak tangannya sendiri. Darah terlihat mulai menetes dan mengotori tanah dengan warna merah darah. Sambil menggertakkan giginya, dia memaksa tubuhnya untuk bangkit.
Suara retakan bisa terdengar, entah itu dari lantai yang menjadi tempat dia terbaring, ataupun dari tulang-tulang di tubuhnya, Weng Lou tidak yakin. Kekuatan penyembuhan yang dimiliki tubuhnya bekerja secara brutal menyembuhkan tubuhnya, hanya untuk kemudian langsung terluka lagi begitu saja.
Melihat Weng Lou yang berusaha sekuat tenaga melawan tekanan yang diberikan padanya, membuat Nushen mencibir Weng Lou kembali, "Kau melebih-lebihkan dirimu sendiri. Kenapa kau tidak berbaring saja dan menjawab ku? Tidak perlu ada yang terluka jika kau patuh."
Dengusan bisa terdengar dari Weng Lou. "Patuh? Kau menyuruhku, Weng Lou untuk patuh kepadamu?! Bermimpi lah! Aku Weng Lou, meskipun sudah banyak melakukan hal-hal tidak baik selama ini, tapi tidak akan pernah mau tunduk kepada siapapun!"
*BUM!*
Ledakan kecil tercipta ketika Weng Lou memaksakan tubuhnya untuk berubah posisi kembali duduk. Lantai di sekitarnya langsung berubah cekung.
Sinar aneh muncul di mata Lin Nushen ketika dia menyaksikan usaha tak berarti yang diberikan oleh Weng Lou. Harus dia akui, Weng Lou memiliki semangat pantang menyerah seorang Weng sejati, dan dia menghormati hal itu. Namun perlawanan yang sia-sia tidak akan membuatnya tergerak.
Ketika dia akan mencibir Weng Lou untuk kesekian kalinya, mata Lin Nushen membelalak tak percaya saat merasakan sesuatu dari diri Weng Lou yang terasa akrab. Perasaan ini adalah perasaan yang sama yang dia rasakan sebelumnya yang membuat dia langsung pergi untuk menemui Weng Lou.
Ini adalah perasaan yang hanya dia rasakan ketika dia bertemu dengan seseorang yang seharusnya telah lama mati!
"Ka-Kau! Apa hubunganmu dengan Kepala Keluarga Weng, Weng Lou!?" tanya Lin Nushen yang sudah bangkit berdiri dan menunjuk pada Weng Lou.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan, hah?! Sudah kukatakan, nama ku adalah WENG LOU!"
Kekuatan tubuh Weng Lou mengamuk dengan cara yang sangat brutal. Suara tulang yang patah satu demi satu bisa terdengar sangat jelas. Namun tubuhnya akan dengan cepat memulihkan dirinya, hanya untuk patah lagi!
Itu secara mengejutkan, menunjukkan kebrutalan dan tekad yang dimiliki oleh Weng Lou. Seperti yang dia katakan, tidak ada yang bisa membuat dirinya patuh! Hanya keluarganya yang berhak membuatnya tunduk!
Dia adalah Weng Lou! Dan Weng Lou tidak akan tunduk!
"HAAAA!!!!!!!"
Secara mengejutkan, sebuah bayang-bayang simbol di dahi Weng Lou muncul. Itu mirip seperti simbol elemen angin yang dia miliki, namun karakternya berbeda, tidak, itu sama sekali berbeda! Dari warna dan karakter, ataupun pancaran yang diberikannya!
Namun, sebelum simbol itu benar-benar akan muncul, kekuatan lain muncul di dalam tubuh Weng Lou. Itu bukan kekuatan miliknya, ataupun senjata yang dia miliki. Secara mengejutkan, kekuatan itu datang dari dalam jantungnya!
"Aku baru meninggalkan mu tidak terlalu lama, dan kau sudah berusaha membuka segel ku? Kau terlalu cepat satu juta tahun, nak. Capailah ranah Penguasaan Jiwa, dan kau bisa mencobanya lagi, sebelum saat itu tiba jangan coba-coba berbuat seenaknya seperti sebelumnya!"
Percikan listrik berwarna putih muncul dari segel di jantungnya. Tanpa menunggu Weng Lou bereaksi sedikitpun, sebuah sengatan listrik dalam jumlah yang cukup untuk membuat seorang di ranah Penguasaan Jiwa lumpuh menyerang jantung Weng Lou.
Dari luar, tampak Weng Lou seperti sedang kejang-kejang dan matanya berubah menjadi putih. Lin Nushen terkejut dengan perubahan mendadak ini.
Apa yang terjadi selanjutnya, adalah Weng Lou yang kembali jatuh terbaring ke tanah, namun kali ini dia benar-benar tidak melakukan perlawanan apapun. Bukan karena dia tidak mau, tapi karena dia sudah kehilangan kesadarannya begitu saja setelah mendapat sengatan kejut dari listrik putih di jantungnya!
Saat sebelum dia benar-benar kehilangan kesadarannya, dia mengutuk dengan keras orang yang telah berbicara di dalam kepalanya! Suara itu tidak lain dari orang yang paling dia benci saat ini, Sang Absolute Author, Zhi Juan!
__ADS_1
Setiap kali dia mendengar suara orang itu, hanya ada kesialan yang menimpanya! Weng Lou tidak tau mengapa, tapi sepertinya Zhi Juan menikmati melihat dirinya menderita. Itu hanya perasaanya, namun tetap saja, suara itu memancing gejolak amarah di dalam tubuhnya hingga menembus ketinggian yang sama sekali baru.
Sementara itu, Lin Nushen yang melihat sosok Weng Lou sudah tidak sadarkan diri hanya bisa menghela napas dan menarik kembali tekanan yang dia berikan kepada Weng Lou. Dia kagum dengan kegigihan Weng Lou yang dari awal hingga akhir tidak mau tunduk sedikitpun, sama seperti semua anggota Keluarga Weng yang dia kenal dulu.
Memang beginilah seorang Weng, keras kepala, namun di sisi lain juga tak tergoyahkan! Itulah yang menjadi ciri khas mereka ketika masih di Daratan Utama dulu. Lin Nushen sangat akrab dengan sifat itu dan membuat dia merasa seperti sedang bernostalgia untuk sesaat.
"Haaah..... sepertinya aku benar-benar harus menyerah. Dia sudah mengatakan dirinya adalah Weng Lou, tapi aku tidak tau apa hubungannya dengan Weng Lou Kepala Keluarga Weng. Mungkin saja dia adalah salah satu keturunan langsungnya yang mewarisi namanya, sama seperti para Kepala Keluarga Weng yang lainnya. Semuanya mewarisi nama Weng Lou, bahkan 'dia' juga mewarisinya, dulu."
Lin Nushen menatap Weng Lou dalam diam selama beberapa saat. Perasaan unik yang dia rasakan masih membekas dalam hatinya, dan tidak mungkin bagi dia untuk melupakannya. Sorot matanya seolah sedang menatap jauh ke masa lalu.
"Apa dia benar-benar menjadi satu-satunya orang yang kau cintai, sehingga tidak ada ruang bagiku untuk masuk bahkan sedikit pun?" Tanpa sadar, Lin Nushen bergumam dengan suara pelan sehingga hanya dia yang bisa mendengar suaranya sendiri.
Dia akhirnya menghela napas lagi, dan dengan satu jentikan jari, sebelas orang ranah Penguasaan Jiwa yang sebelumnya sedang berjaga di luar langsung muncul seketika di dalam ruangan tempat Lin Nushen dan Weng Lou yang tak sadar diri.
"Bawa dia ke kamar yang ada di bangunan Penyembuh. Kamar manapun boleh, aku tidak peduli. Jangan biarkan anggota keluarga lain melihatnya, terutama para Tetua bau abu itu. Dan juga, bawa teman-temannya yang sedang berkeliaran di luar. Aku tidak mau mendengar masalah lain yang mereka timbulkan. Kita sudah cukup banyak menarik perhatian, tiga keluarga lain mungkin sedang mengawasi dan berusaha mencari informasi identitas anak ini," perintah Lin Nushen tanpa menatap satupun kesebelas Penguasa Jiwa di sekitarnya.
Tanpa memberikan jawaban apapun, mereka segera kembali menghilang. Sama seperti kedatangan mereka yang tiba-tiba, kepergian mereka juga sama. Tubuh Weng Lou di lantai juga menghilang bersamaan dengan perginya mereka semua.
Saat tidak ada lagi orang di ruangan itu, Lin Nushen dengan langkah tenang berjalan ke arah lukisan yang sebelumnya telah ditatap oleh Weng Lou.
Jika dilihat secara seksama, lukisan itu akan terlihat seperti seekor Phoenix yang benar-benar hidup. Pancaran panas juga bisa dirasakan dari Phoenix tersebut, dan jika tingkat beladiri seseorang tidak mencukupi, maka mereka akan merasakan jiwa mereka sedang dimusnahkan.
Namun Lin Nushen tidak merasa terganggu sedikitpun, dia dengan lembut membelai lukisan itu dan merasakan kehendak pemusnahan di dalamnya. Tak berapa lama, cahaya mata dingin muncul di kedua matanya.
__ADS_1
"Jadi, dia secara aneh membuat kehendak pemusnahan di dalam lukisan ini untuk tunduk kepadanya saat sedang menatapnya. Bahkan kehendak pemusnahan itu memberikannya sedikit kekuatan pemahaman akan pemusnahan. Nak, apa identitas mu yang sebenarnya? Aku menjadi semakin penasaran."