Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 647. Weng Ying Luan Utara dan Barat, Lin Mei Selatan


__ADS_3

Pagi hari berikutnya.


Cahaya matahari bersinar dan membuat Weng Ying Luan dan Lin Mei yang masih sibuk bercakap-cakap akhirnya berhenti.


Keduanya menghadap matahari terbit dan menikmati momen sejenak saat matahari sepenuhnya muncul di langit.


"Sudah pagi." Weng Ying Luan berkata dengan nada tenang.


"Sepertinya sudah saatnya bagi kita berpisah sekali lagi," ujar Lin Mei yang menoleh pada Weng Ying Luan. Dia melihat Weng Ying Luan yang masih menatap ke arah timur. Tidak ada yang tau apa yang sedang dipikirkannya saat ini.


Apa yang dilihat oleh Weng Ying Luan bukanlah matahari yang sedang terbit, melainkan sesuatu yang terletak jauh di timur. Meski dia tidak bisa benar-benar melihatnya, namun Weng Ying Luan percaya apa yang sedang dia tatap adalah Pulau Pasir Hitam.


Dia menarik napas dalam-dalam, kemudian memejamkan matanya. Ketika dia menghembuskan napas, dia membuka kembali kedua matanya dan balas menatap Lin Mei.


"Aku akan pergi kalau begitu, terima kasih sudah menemaniku mengobrol sepanjang malam," kata Weng Ying Luan.


Sebuah cincin penyimpanan dilemparkannya dan langsung ditangkap oleh Lin Mei. Dengan cepat dia memeriksa isinya dan benar-benar dibuat terkejut. Senyuman indah terlihat di wajahnya dan dia dengan cepat memasangkan cincin itu di jari telunjuknya.


"Itu setengah persediaan yang kudapat dari apa yang disembunyikan Lou. Pastikan kau menghabiskannya ketika kita bertemu lagi, akan berbahaya jika dia tau kau dan aku memiliki nya."


Setelah memberikan cincin penyimpanan kepada Lin Mei, Weng Ying Luan pun terbang turun dari tubuh elang raksasa. Sepanjang malam elang itu tetap melayang di atas langit, dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sedikitpun.


"Jika aku bertemu lebih dulu darimu, akan kukatakan padanya kalau kue-kue ini didapatkan olehmu!" seru Lin Mei sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


Weng Ying Luan tertawa pelan dan balas melambaikan tangannya. Dia terbang turun ke atas tanah dan mendekati Raja Singa yang ternyata sepanjang malam tidak berpindah dari tempatnya, bahkan tidak bergerak sedikitpun.


Mengangguk puas. Weng Ying Luan menepuk kepala Raja Singa. Dia mengedarkan Kekuatan Jiwa nya ke dalam tubuh Raja Singa. Raja Singa hendak menolak, namun apa yang bisa dia lakukan sebagai bentuk perlawanan saat ini? Tubuhnya bahkan tidak mau mengikuti kemauannya dan hanya mendengarkan Weng Ying Luan.


"Dengan ini, aku memberimu perintah yang harus kau lakukan setiap waktu. Patuhi semua perintah Lin Mei. Tidak peduli perintah apapun yang diberikannya kepadamu, kau harus melaksanakannya dengan senang hati. Lalu perintah yang lain, lindungi Lin Mei, jaga dia dari segala bahaya yang mungkin akan kalian temui. Jika dia terluka atau bahkan mati, maka jiwamu tidak akan bisa memasuki roda reinkarnasi dan akan selamanya berada di dunia ini, menjadi Roh Pendendam." Setelah dia mengatakan semua itu, Kekuatan Jiwa ditarik kembali ke dalam tubuhnya.


Dia memberikan dua perintah itu kepada Raja Singa, sebelum kemudian menyuruhnya untuk bangkit berdiri dan pergi bersikap seperti biasanya.


Raja Singa hanya pasrah saat tubuhnya bergerak dengan sendirinya dan kemudian bergabung bersama dengan Kambing Petapa yang sedang baring di wilayah rerumputan di luar reruntuhan kota.


Lin Mei menyaksikan hal ini dari atas elang raksasa dan tidak berkomentar sedikitpun. Dia cukup senang dengan perintah yang diberikan Weng Ying Luan kepada Raja Singa itu. Dengan ini dia tidak perlu khawatir Raja Singa tidak mematuhi perkataannya.


Setelah memberikan perintahnya, Weng Ying Luan menatap pada Lin Mei di atas langit. Tangannya melambai untuk terkahir kalinya. Setelah itu, dia terbang pergi menuju ke tujuan selanjutnya, yaitu kota yang ada di dekat tempatnya saat ini.


"Mengerti, Phoenix Agung!"


*KIEEEEKKKK!!!!*


Suara pekikan terdengar oleh seluruh binatang buas di reruntuhan kota. Mereka segera menatap ke langit dan meraung kencang sebagai balasan. Satu persatu mereka segera bangkit berdiri dan pergi menuju ke arah selatan dengan dipimpin oleh binatang buas berjenis burung-burung raksasa.


Burung-burung ini bertugas sebagai pengarah mereka dan mata-mata untuk melihat keadaan yang jauh di depan pasukan binatang buas.


Seluruh binatang buas di reruntuhan kota mulai berjalan pergi, dan akhirnya menyisakan dua binatang buas Penguasa Jiwa serta Lin Mei dan elang raksasa. Keempatnya bergerak di belakang pasukan binatang buas dengan kecepatan yang tetap, agar tidak terlalu tertinggal oleh pasukan binatang buas, atau pun mendahului mereka.

__ADS_1


"Phoenix! Bagaimana dengan wilayah barat dan utara yang belum selesai kita bersihkan? Masih banyak tempat-tempat yang ditinggali dan dikuasai oleh Keluarga Ying!"


Di bawah, Kambing Petapa berbicara dengan Lin Mei lewat telepati.


"Tidak perlu khawatir, pemuda yang semalam yang bertarung dengan anda dan Raja Singa akan mengatasi kedua wilayah seorang diri. Dia bisa dibilang sebagai kenalan ku. Kita akan fokus mengatasi wilayah selatan yang merupakan wilayah yang menjadi pusat dari segala macam operasi perdagangan Keluarga Ying. Akan ada terlalu banyak daerah kekuasaan Keluarga Ying di sana, akan memakan waktu yang sangat lama jika kita fokus di utara dan barat, jadi aku memintanya untuk mengatasi wilayah utara dan barat untuk kita," jelas Lin Mei pada Kambing Petapa.


Sang Kambing Petapa mendengus ketika mendengar tentang pemuda yang dia lawan semalam. Dia masih tidak menyukainya. Semalaman kepalanya terasa pusing setelah menerima serangan Tapak Purnama Baru Weng Ying Luan dan harus fokus pada penyembuhan luka-lukanya.


Bagian yang paling tidak dia suka adalah saat melihat Weng Ying Luan yang dengan mudahnya menundukkan Raja Singa dan membuatnya bertekuk lutut kepadanya. Itu adalah penghinaan bagi seluruh binatang buas Penguasa Jiwa. Meski dia tidak berteman baik dengan Raja Singa, namun keduanya adalah rekan dalam melaksanakan perintah Lin Mei, dia tidak mau melihat orang asing yang tak dikenalnya melakukan hal seperti itu kepada rekannya.


"Apa dia benar-benar bisa dipercaya? Bisa saja dia mengkhianati kita dan malah membawa pasukan Keluarga Ying menuju lokasi kita saat ini." Perkataan Kambing Petapa sedikit membuat Lin Mei tidak senang, namun dia tidak boleh terlalu menunjukkannya. Tidak akan baik jika Kambing Petapa mulai tidak percaya kepadanya hanya karena masalah Weng Ying Luan.


"Tuan Petapa, anda tidak perlu khawatir akan hal itu. Aku sudah mengikat sumpah dengannya agar dia tidak mengkhianati kita. Jika dia nekat melawan kita, maka sumpah yang mengikatnya akan langsung membunuhnya, baik jiwa dan raga."


Mendengar jawaban Lin Mei, Kambing Petapa menjadi sedikit puas. Dia pun tidak menanyakan hal lainnya pada Lin Mei dan memilih diam sambil berjalan ke arah dimana ratusan ribu binatang buas pergi.


Raja Singa di sebelahnya diam sejak awal. Setelah menerima perintah dari Weng Ying Luan, Raja Singa sudah bisa bergerak seperti sebelumnya. Namun ada sesuatu yang berbeda dari dirinya yang tidak bisa dia ketahui apa.


Akhirnya, sepanjang jalan, tidak ada satupun kata terucap darinya dan tetap berjalan dalam diam.


Apa yang tidak Raja Singa ketahui adalah, saat Weng Ying Luan memasukkan Kekuatan Jiwa di dalam tubuh Raja Singa, dia telah membuat sebuah tanda menggunakan Kekuatan Jiwa nya di dalam kepala Raja Singa.


Dengan tanda itu, dia bisa mengirim telepati kepada Raja Singa mau sejauh apapun dirinya, selama dia masih berada di dalam lingkup wilayah Keluarga Ying. Weng Ying Luan juga bisa menggunakan tanda ini untuk sedikit melihat apa yang sedang Raja Singa lihat. Ini untuk memastikan keamanan Lin Mei.

__ADS_1


Dia telah berjanji pada Weng Lou dan tidak akan mengingkarinya. Sebisa mungkin dia akan memastikan keselamatan Lin Mei. Semua ini karena dia adalah pemuda yang bertanggung jawab dan memegang janjinya lebih dari apapun, itu adalah Weng Ying Luan.


__ADS_2