
Di arena, para penonton terlihat memiliki emosi yang campur aduk saat ini.
Ada yang terlihat terkejut, sedih, senang, dan ada bahkan yang terlihat marah karena melihat kejadian tak terduga pada pertarungan Weng Lou melawan Ying She.
Mereka semua sebelumnya sangat yakin bahwa Weng Lou lah yang akan memenangkan pertarungan tersebut saat melihat Pisau Pencabut Nyawa yang melesat dan menembus tubuh Ying She, akan tetapi saat kemunculan kembali dari ular kuning yang bersama dengan Ying She sebelumnya di belakang Weng Lou, semuanya berubah.
Weng Lou yang diyakini akan keluar sebagai pemenang malah ditelan hidup-hidup oleh ular raksasa milik Zu Zhang, dan Ying She juga terlihat selamat dari serangan Weng Lou karena gagal mengenai jantung miliknya.
"Argghh!!!! Bajingan! Aku sudah mempertaruhkan semua yang aku punya pada anak itu!" salah seorang penonton berteriak marah karena melihat kejadian itu.
"Hei, tidakkah itu curang karena mengganggu duel?! Itu tidak bisa dihitung sebagai kemenangan peserta Ying She itu, bukan?!"
"Benar! Kembalikan uang kami!"
Sungut-sungut dari kursi para penonton bisa terdengar dan membuat kekacauan pada seluruh arena.
Zu Zhang yang masih asik menonton pun mau tidak mau mengalihkan perhatiannya pada mereka semua dan menghela napasnya.
"Tidak ada yang menyuruh kalian untuk bertaruh, jadi jangan membuat onar. Lagi pula, ini adalah Turnamen Beladiri Bebas, jadi semuanya bisa terjadi dan diterima. Salah peserta Lou karena dia tidak memperhatikan sekitarnya."
Zu Zhang berbicara menggunakan kekuatan jiwanya, dan membuat suaranya itu terdengar oleh semua orang yang ada di bangunan Arena Pertandingan.
Para penonton pun menjadi terdiam karenanya. Tidak ada lagi yang berani bersuara karena Zu Zhang sendiri yang angkat bicara atas hal ini. Lagi pula memang benar yang dikatakan oleh Zu Zhang itu, bukan salahnya mereka bertaruh pada Weng Lou.
Namun mereka lupa akan satu hal, bahwa Weng Lou belum tentu kalah karena telah ditelan hidup-hidup.
***
Pada bagian tengah arena, yang mana merupakan titik pertemuan kelompok Weng Lou.
Terlihat sosok Weng Ying Luan yang telah menang dari Yang Guang terbang bersama dengan tubuh kera raksasa yang sedang sekarat di atasnya.
__ADS_1
Dia sampai di tengah arena, dimana terdapat bukit kecil yang dikelilingi oleh beberapa bukit yang lebih besar di sekitarnya. Weng Ying Luan mendaratkan tubuh kera itu dengan perlahan, sebelum kemudian melompat turun dan segera memeriksa sekitarnya.
"Sepertinya Lou dan Mei belum tiba, lebih baik aku pergi mengumpulkan sebanyak-banyaknya bagian binatang buas yang ada di tempat ini. Akan lumayan nantinya jika aku menjualnya, hehehe...."
Weng Ying Luan pun segera turun dari bukit dan berburu binatang buas, sementara Kera Hitam Petarung ditinggalnya di atas bukit karena yakin tidak mungkin dia akan kabur dalam kondisi seperti itu.
Sementara Weng Ying Luan yang pergi turun bukit dan berburu binatang buas, dari arah utara, terlihat sosok Lin Mei bersama dengan dua binatang buas yang bersamanya melesat melewati sungai. Tak berapa lama, mereka pun sampai di bawah bukit tempat perjanjian mereka untuk bertemu.
Mereka segera naik ke atas, dan menemukan sosok kera yang dibawa oleh Weng Ying Luan sebelumnya.
Tampak eskpresi terkejut dari wajah Mao Xiang dan Jiaolo yang bersama dengan Lin Mei melihat kondisi menyedihkan dari sang kera.
"Apa-apaan....? Bagaimana ini bisa terjadi?" ucap Mao Xiang dalam hatinya.
"Dia....dikalahkan....?" Jiaolo ikut berbicara dalam hatinya.
Keduanya tampak tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini, sementara Lin Mei melompat turun dari tubuh Jiaolo dan mendekat ke arah si kera yang ada di tanah.
Mereka berdua langsung bergidik ngeri mendengar ucapan Lin Mei dan tanpa sadar menelan ludah mereka.
"Luan tidak ada di sini, kemana dia pergi?" tanya Lin Mei pelan, namun dapat didengar oleh kera yang ada di hadapannya.
"Jika kau mencari pemuda dengan hawa mengerikan dari tubuhnya itu, dia baru saja beberapa saat yang lalu menuruni bukit. Dia mengatakan ingin mengumpulkan bagian tubuh binatang buas sebelum dia pergi." Kera itu berbicara dengan suara lemah dan pelan.
Lin Mei cukup terkejut mendengar kera itu berbicara padanya. Suaranya terdengar jauh lebih dala. dibandingkan dengan Mao Xiang dan Jiaolo yang bersamanya, namun begitu Lin Mei tampak tidak takut sedikitpun padanya.
"Hmmm, jadi dia benar-benar masih tidak merelakan yang aku lakukan tadi yah? Hah, baiklah jika begitu. Lagipula memang salahku karena membakar semua bagian tubuh itu padahal dia sudah susah-susah mengumpulkannya," balas Lin Mei lalu kemudian memilih satu tempat dan duduk di atas bukit itu.
Melihatnya yang tampak santai, Mao Xiang dan Jiaolo pun saling menatap satu sama lain sebelum kemudian sama-sama duduk di tanah sebelum akhirnya berbaring dan menikmati kembali saat-saat santai mereka sebelumnya.
***
__ADS_1
Di sebuah ruangan gelap gulita tanpa ada cahaya sedikit pun.
Sosok Weng Lou bergerak terus pada dinding licin perut ular yang menelannya. Butuh waktu setengah menit, sebelum akhirnya dia berhenti bergerak, dan sampai di perut sang ular.
Weng Lou mengalirkan Qi pada kedua matanya, dan dia pun mampu melihat sekitarnya.
Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, dari yang dia lihat banyak sekali bebatuan di dalam perut ular yang menelannya ini. Weng Lou pun memilih berjalan menelusuri bagian dalam perut ular itu lebih jauh lagi, hingga kemudian dia sampai di sebuah bangunan yang kurang lebih berukuran seperti sebuah rumah pada umumnya.
Alisnya terangkat melihat hal itu.
"Mungkinkah ada yang tinggal di dalam perut ular ini?" Weng Lou bertanya dengan kebingungan.
Karena tidak tau harus berbuat apa, dia pun memutuskan masuk ke dalam bangunan itu.
Di dalamnya, banyak sekali barang-barang yang berserakan di lantai. Sudut mata Weng Lou kemudian berhenti pada salah satu dinding, dimana terdapat beberapa pisau kecil yang menancap pada dinding dari batu tersebut.
Dia hanya menatap pisau-pisau itu sejenak, sebelum melanjutkan perjalanannya lagi, dan memasuki lebih dalam bangunan itu.
Tak lama kemudian, dia pun sampai pada sebuah ruangan yang cukup luas yang berada di tengah-tengah bangunan tersebut. Pada ruangan itu terlihat beberapa tengkorak manusia yang berserakan di tanah dalam kondisi yang buruk.
Mereka semua dalam kondisi yang tidak baik, ada yang tulang-tulangnya patah, dan ada juga bagian-bagiannya tidak lengkap.
Terus melangkahkan kakinya, Weng Lou kemudian berhenti pada empat tengkorak yang terlihat saling berpelukan satu sama lain dan bersandar pada dinding yang diatasnya terpajang sebuah busur tua usang yang tertutupi oleh debu.
Weng Lou memperhatikan empat tengkorak itu dan menyimpulkan bahwa mereka adalah satu keluarga. Dia menyimpulkan hal itu karena melihat dua tengkorak yang lebih besar dari dua tengkorak lainnya.
Setelah puas menatap empat tengkorak itu, tangan Weng Lou pun segera bergerak dan mengambil busur yang dipajang di dinding di atas empat tengkorak itu bersandar.
Mengelus busur itu, Weng Lou pun melihat sebuah lambang yang tampak tak asing baginya.
Lambang itu tidak lain adalah lambang keluarga Weng dan sukses membuat Weng Lou tampak kebingungan.
__ADS_1
Apakah ada orang gila yang mau tinggal di dalam perut seekor ular, itulah yang dia pikirkan saat ini.