Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 485. Sebuah Pedang Yang Aneh


__ADS_3

Mata Ying She tampak memerah menatap sosok Weng Lou di hadapannya.


Ular kuning yang ada di belakangnya mendesis, dan mendekatkan kepalanya pada Ying She.


"Ssshhss.....Tuan Muda....apakah anda tidak apa-apa?" tanya ular itu pada Ying She. Dia tidak melepaskan pandangannya pada Weng Lou sedikitpun seolah ingin mengatakan bahwa dia akan menerima akibatnya karena telah berani melukai Ying She.


"Pernahkah seseorang yang tertusuk sesuatu bisa dibilang baik-baik saja?!" cibir Ying She pada ular itu.


Dia mengedarkan Qi pada dalam tubuhnya, dan membuat darah berhenti keluar dari kedua lukanya, lalu secara perlahan luka miliknya mulai menutup sedikit demi sedikit.


"Aku akui pengendalian Qi mu itu adalah yang terhebat dari semua lawan yang pernah kuhadapi, tapi kau bukanlah lawan terkuat yang pernah aku lawan sebelumnya!"


Memiringkan badannya, Ying She kemudian membuka telapak tangan kanannya, dan sebuah pedang pun muncul di depannya lalu segera dipegang menggunakan tangan kanannya.


Pedang itu memiliki panjang satu meter lebih dengan bentuk lurus, dan satu sisi tajam saja layaknya sebuah katana namun dengan ujung yang rata. Pada kedua sisi tumpulnya, terdapat beberapa ukiran simbol-simbol aneh yang sama sekali tidak dikenali oleh Weng Lou.


Mengerutkan dahinya, Weng Lou pun langsung memasang posisi siaganya. Aura yang keluar dari dalam pedang itu membuat dia merasakan sensasi yang tidak nyaman, namun tidak asing.


Ying She yang memegang pedang tersebut, memutarnya sekali di tangan kanannya, lalu menghunuskan pedang tersebut ke arah Weng Lou. Tangannya memegang erat pedang itu, dan detik berikutnya napsu membunuh dalam jumlah besar keluar dari tubuh ular kuning yang bersama dengan Ying She.


Napsu membunuh itu melewati tubuh Weng Lou, dan membuat perhatiannya terarah pada ular tersebut. Pada saat yang sama, Ying She pun melangkahkan kakinya, dan melesat cepat ke arah Weng Lou dengan tangan kanannya sudah mengangkat pedang itu, dan siap menebaskannya pada tubuh Weng Lou.


"Ck!"


Weng Lou mendecakan lidahnya, ular yang bersama Ying She itu sengaja menarik perhatiannya untuk membuat perhatiannya pada Ying She menurun, sehingga Ying She bisa menyerang ke arah Weng Lou dengan mudah.


Kedua mata Weng Lou menatap sosok Ying She yang bergerak sangat cepat ke arahnya. Bisa dia lihat bahwa mustahil untuk menghindarinya sekarang, maka dia hanya bisa menangkis serangan itu.


Tangan kirinya terkepal, dan Qi pun membentuk sebuah pedang Qi yang langsung menyambut datangi serangan Ying She.


TRANGGG!!!!


Pedang Qi Weng Lou dan pedang milik Ying She saling berbenturan keras, dan sosok Weng Lou pun terserat mundur karena menerima serangan dari Ying She tersebut.


Weng Lou mengkertakan giginya, dia melangkahkan kaki kanannya ke depan, dan mendorong balik tubuh Ying She. Dengan mudahnya Ying She pun terdorong kembali, oleh Weng Lou. Akan tetapi wajah Weng Lou justru berubah buruk karena melihat pedang Qi miliknya mulai terpotong oleh pedang milik Ying She hingga setengahnya.


Pedang itu pun segera dilepaskannya, dan segera melompat mundur.

__ADS_1


Namun, saat dia melompat, sosok ular besar yang bersama Ying She telah melesatkan ekornya dari belakang Weng Lou, dan kemudian mencambuk dirinya. Weng Lou langsung terlempar ke samping, lalu menabrak sebuah batu besar dan menghancurkannya hingga berkeping-keping.


Sosok Ying She segera melesat ke arahnya. Pedang di tangannya mulai mengeluarkan cahaya kehijauan, detik berikutnya dia pun menebaskan pedangnya pada Weng Lou yang sedang masih dalam kondisi terkejut di tanah.


Detik berlalu, tapi tidak ada yang terjadi. Sebelah alis Weng Lou terangkat dan mulai bertanya-tanya apakah Ying She telah meleset tadi.


"Sepertinya aku terlalu taku-aarghh!!!"


Secara mendadak, Weng Lao meringis kesakitan dan darah langsung terciprat dari dadanya.


Matanya menoleh dan menatap sebuah luka sayatan pada dada kirinya yang memanjang ke bawah hingga bawah dada kanannya.


"Apa-apaan?!"


Weng Lou segera menendang tubuh Ying She, dan membuatnya terlempar mundur beberapa meter darinya, sedang Weng Lou segera bangkit berdiri dan memeriksa dirinya sendiri.


"Ye Lao?! Ye Lao?!"


Dia memanggil nama Ye Lao berulang kali dalam pikirannya, dan tak lama terdengar balasan darinya.


"Tenanglah! Aku di sini!" ucap Ye Lao dengan suara seriusnya.


"Tidak nak, serangan tadi adalah serangan normal. Reaksimu lah yang melambat tadi! Kami sudah menyuruh mu untuk menghindar, tapi kau hanya terbengong di tempat mu dan membiarkan tubuhmu ditebas oleh lawanmu!" seru Ye Lao pada Weng Lou yang membuatnya merasa semakin terkejut.


Reaksinya yang melambat? Apa sesuatu yang seperti itu bisa terjadi? Dia sendiri tidak tau, tapi jika perkataan Ye Lao benar, maka dia tidak tau apa yang harus dilakukan saat ini.


Di samping itu, rasa sakit akan tebasan pedang Ying She terasa jauh lebih sakit dari luka yang biasanya dia terima. Pasti ada yang salah dengan pedang milik Ying She tersebut, karena sebelumnya pedang itu sempat mengeluarkan cahaya kehijauan dan dia tidak tau apa yang terjadi setelahnya lalu dadanya pun menerima luka tebasan.


"Ye Lao, apakah bisa memeriksa pedang miliknya?" tang Weng Lou yang mulai menyembuhkan luka tebasan ya menggunakan Qi milik nya.


"Beri aku waktu sebentar," balas Ye Lao.


Weng Lou mengangguk mengerti. Luka pada dadanya sudah menutup, dan Ying She juga terlihat sudah siap kembali menyerangnya.


"Bertarung saja seperti biasa, aku akan menemukan kejanggalan dari pedang itu segera."


Setelah mendengar itu, Weng Lou mengayunkan tangannya, dan pedang replika dari Pedang Naga Malam pun muncul di tangannya.

__ADS_1


"Ini seharusnya cukup," ucap Weng Lou.


Dia menarik napasnya, dan mengaktifkan Teknik Membersihkan Jiwa dan pernapasan kedua miliknya secara bersamaan.


"Haaa....." Menghela napasnya dengan pelan, Weng Lou pun langsung melesat ke arah Ying She, begitu juga dengan Ying She yang melesat ke arah Weng Lou dengan pedang miliknya kembali mengeluarkan cahaya kehijauan.


Tatapan mata Weng Lou pun terpaku pada pedang itu. Segera, Ying She kemudian kembali mengayunkan pedangnya pada tubuh Weng Lou, tapi kemudian Weng Lou segera mengangkat tiruan Pedang Naga Malam nya, dan menahan serangan Ying She.


Tidak ada hal aneh yang terjadi, dan Weng Lou segera melanjutkan serangannya.


Tiruan Pedang Naga Malam dialirinya dengan Qi, lalu Weng Lou pun menarik napas dalam.


"Teknik Pedang, Tolakan."


Mendorong kan tubuhnya, Qi pada tiruan Pedang Naga Malam langsung mengeluarkan sebuah gelombang kejut yang membuat tubuh Ying She sedikit terdorong mundur.


"Teknik Pedang, Satu Sayatan."


Memanfaatkan dorongan itu, Weng Lou segera menarik mundur pedang di tangannya, dan dengan gerakan cepat dia pun menebas pundak Ying She.


"Eck!" Ying She tampak marah dengan itu. Dia pun memutar tubuhnya, dan melakukan serangan pukulan menggunakan tangan kirinya, dan memukul perut Weng Lou, tapi segera ditahan menggunakan tangan kiri Weng Lou.


"Selesai sudah." Weng Lou mengatakan itu, dan tiruan Pedang Naga Malam di tangannya segera menusuk ke dada Ying She.


Namun sebuah kejadian aneh terjadi lagi, tepat ketika Weng Lou akan menusuk Ying She, pedang Ying She kembali mengeluarkan cahaya kehijauan. Setelah itu Weng Lou menusukkan pedang nya pada tubuh Ying She, akan tetapi tidak ada reaksi dari Ying Luan seperti kesakitan atau apapun padahal Weng Lou telah menusukkan pedangnya pada perutnya.


!!!!


"Aarghh!!!"


Weng Lou berteriak nyaring, dan pedang milik Ying She pun telah menancap pada lengan kirinya.


Sudut mata Weng Lou bergerak, dia melihat bahwa yang dia tusuk ternyata hanyalah angin saja, dan sosok Ying She kini ada di sampingnya dan telah menusukkan pedangnya pada lengan kirinya.


Tsk!


Ying She menarik pedangnya dan menatap Weng Lou sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Bingung? Hahahaha.....tenang saja, pedang ini lah yang akan mencabut nyawamu hari ini."


__ADS_2