Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 666. Memutuskan Pergi


__ADS_3

Wajah Weng Ying Luan tampak serius. Sepertinya bahkan orang-orang dari Keluarga Leluhur Weng tidak memperkirakan bahwa Ying She, sang Ular Putih Berkepala Sembilan telah mencapai ranah Deva dan menjadi seorang dewa.


Perlu diketahui, jumlah Praktisi Beladiri yang berhasil mencapai ranah Deva tidak lebih dari lima puluh orang yang diketahui di dimensi asal mula. Dari lima puluh orang itu, tidak diketahui siapa saja yang masih hidup sampai sekarang.


Para pemilik Kitab Surgawi sebagian besar berada di ranah Deva dan menjadi Dewa yang mengabdikan diri dalam pengembangan kekuatan mereka sendiri untuk menembus ranah yang lebih tinggi, yaitu ranah Absolute.


Hanya segelintir saja yang menampilkan diri di dunia seperti Penasehat Kepala Keluarga Weng. Oleh sebab itu informasi keberadaan mereka sangat rahasia dan sulit untuk ditemukan.


Weng Lao De yang mendengar informasi dari Weng Ying Luan tentu saja sangat terkejut dalam hati. Rencana yang mereka buat berbulan-bulan tidak mengantisipasi apabila ada seorang Dewa yang campur tangan kedalam misi pemusnahan Keluarga Ying.


Seorang Dewa sangatlah kuat, terlebih saat Dewa tersebut berada di wilayah kekuasaan mereka sendiri. Jika Ying She benar-benar masih hidup dan telah menjadi seorang Dewa, maka misi pemusnahan Keluarga Ying tidak bisa dilakukan oleh mereka saja. Setidaknya mereka harus pulang dan membawa seorang Dewa juga bersama mereka.


"Kakak Kedua saat ini sedang bersiap untuk naik menjadi Dewa tingkat 3, akan sulit untuk membujuknya ikut dengan kami. Satu-satunya pilihan adalah mengajak Kakak Ketiga atau Kakak Keempat. Namun......Kakak Ketiga sepertinya tidak akan mau pergi ke Daratan Utama, satu-satunya pilihan ku adalah Kakak Keempat. Dia baru-baru ini naik ke Dewa tingkat 2, seharusnya dia bisa ikut dengan kami. Aku akan membujuk Kakak Pertama untuk membuatnya ikut." Weng Lao De bergumam pada dirinya sendiri.


Setelah merenung sejenak, dia menghela napas panjang. Dia menatap satu persatu pada delapan Kaisar Jiwa yang lain, kecuali Lin Ao Man. Mereka mengangguk seperti mengerti maksud tatapannya.


"Sebaiknya kita kembali untuk saat ini, Tetua Lao De. Mau sesempurna apapun rencana kita, menghadapi seorang Dewa di wilayah kekuasaannya sendiri, itu sama saja dengan bunuh diri dengan kekuatan kita yang sekarang ini. Pilihan kita hanya kembali ke Pulau Pasir Hitam dan melaporkan kepada Penasehat Kepala Keluarga Weng.


Adapun penyelesaian dari misi ini, kita akan melihat kelanjutannya setelah kembali dengan persiapan yang jauh lebih matang. Juga, aku memiliki beberapa perasaan tidak enak semenjak kita memasuki wilayah Hutan Leluhur Ying. Aku takut kehadiran sepuluh orang Kaisar Jiwa seperti kita membuat Ular Kegelapan merasa terganggu dari tidur nyenyaknya." Salah satu Kaisar Jiwa yang selama ini selalu diam berbicara dengan nada serius.


Dia adalah wanita yang berusia cukup tua. Seluruh rambutnya telah memutih, kerutan bisa terlihat di seluruh wajah dan tangannya. Dia berpakaian coklat tua dan memiliki aura yang kuno dari dirinya. Jelas umurnya sudah di atas seratus tahun lebih.


Weng Lao De menatapnya sejenak. Dia mengangguk setuju.


"Ying Luan dan Putri Mei. Kuharap kalian ikut dengan kami pulang untuk menyusun rencana lebih jauh bersama kami. Adapun para pasukan binatang buas, mereka bisa ditinggalkan di luar wilayah pusat yang tertutupi oleh kabut. Dengan kecerdasan tiga binatang buas di ranah Penguasaan Jiwa, tidak akan ada yang berani macam-macam dengan mereka, bahkan Keluarga Ying sekalipun. Bagaimana?"


Pertanyaan itu segera membuat Weng Ying Luan dan Lin Mei saling berpandangan. Weng Ying Luan jelas langsung setuju dengan saran itu, begitu juga dengan Lin Mei. Namun ada satu hal yang membuat mereka tidak mau pergi dari Daratan Utama.


"Kakek De, sebenarnya......Lou ada di suatu tempat saat ini di Daratan Utama. Kami terpisah saat menyebrangi bekas wilayah kekuasaan Keluarga Weng di masa lalu. Kami takut jika pergi bersama kalian, dia akan sibuk mencari keberadaan kami. Jujur saja, dia mengatakan tidak perlu menunggu dirinya, tapi hatiku tidak tenang jika pergi meninggalkan Daratan Utama," jelas Weng Ying Luan.


"Ada kemungkinan dia akan tiba di tempat ini dan mencari kami. Jika saat itu benar-benar terjadi dan kami tidak ada di sini, dia.....pasti akan mencari kami kemana-mana." Lin Mei melanjutkan.


Mendengarkan penjelasan keduanya, Weng Lao De hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis. Sepertinya pertemanan diantara ketiganya benar-benar erat. Sangat jarang menemukan persahabatan yang begitu erat di zaman sekaran.

__ADS_1


Dunia ini dipenuhi dengan segala tipu daya. Siapa yang kuat dia yang memerintah yang lemah. Kau memiliki uang dan kekuasaan, maka kau yang berkuasa.


Begitulah dunia ini bekerja. Sehingga hubungan seperti pertemanan dan persahabatan sangat jarang terjadi, terlebih bagi mereka yang memiliki kekuatan luar biasa seperti Weng Ying Luan dan Lin Mei.


Meski mereka masih sangat muda, namun tidak jarang orang-orang seperti mereka telah dibutakan oleh kekuatan yang mereka miliki, sehingga tidak mempedulikan lagi apa yang disebut sebagai sahabat ataupun teman.


Menyaksikan Weng Ying Luan dan Lin Mei yang benar-benar peduli pada Weng Lou, Weng Lao De hanya bisa bersyukur dalam hati. Sepertinya masa depan dunia mereka akan berada di tangan-tangan yang tepat.


"Tuan Muda Lou......kalian tidak perlu mengkhawatirkannya. Sebenarnya, sebelum melakukan perjalanan dari Pulau Pasir Hitam, Penasehat Kepala Keluarga sudah memberitahuku untuk tidak membuang waktu dengan mencari keberadaan Tuan Muda Lou. Beliau mengatakan bahwa Tuan Muda Lou saat ini sedang berada di tempat yang tidak bisa didatangi oleh orang lain dan kondisinya baik-baik saja. Tuan Muda Lou akan keluar dari tempat itu setidaknya dalam beberapa tahun, jadi tidak perlu khawatir padanya."


Penasehat Kepala Keluarga Weng, sebagai orang yang mengurus segala hal dalam Keluarga Leluhur Weng, dia telah membuat segala macam persiapan matang sebelum kepergian para perwakilan dari Pulau Pasir Hitam agar misi pemusnahan Keluarga Ying bisa berjalan dengan baik. Tentu informasi Ying She yang telah berada di ranah Deva adalah sesuatu yang tidak diprediksi olehnya, karena seorang Dewa jarang menyebarluaskan identitasnya ke dunia.


Mereka lebih memilih menyendiri dalam pelatihan lebih lanjut.


Meski begitu, persiapan yang disiapkan Penasehat Kepala Keluarga Weng bisa dibilang sudah sangat matang. Dari kepingan jiwa milik kehidupan kesembilan puluh sembilan Weng Lou di Istana Leluhur Weng, dia mengetahui situasi Weng Lou saat ini, sehingga tidak menyuruh Weng Lao De untuk mencari keberadaan Weng Lou di Daratan.


Weng Ying Luan menarik napas dalam. Mendengar Weng Lou baik-baik saja, dia tidak bisa tidak merasa senang. Begitupun juga Lin Mei. Dia mengingat kembali Weng Lou yang bersikap sangat dewasa meskipun dia yang paling muda diantara mereka semua, membuatnya mengagumi Weng Lou.


"Baiklah Kakek De, kami akan ikut dengan kalian pulang kembali ke Pulau Pasir Hitam. Beri kami waktu sebentar, kami akan mengarahkan para binatang buas di bawah sana untuk menunggu kami di luar kabut."


Kembali di tempat para binatang buas berada saat ini, Weng Ying Luan mendarat tepat di atas kepala Raja Singa, sementara Lin Mei di atas punggung Elang Raksasa.


"Hei, kami akan kembali ke Pulau Pasir Hitam selama beberapa waktu. Ada hal-hal yang diluar perkiraan sehingga membuat kami harus membuat persiapan yang lebih matang," katanya pada para binatang buas yang berada di ranah Penguasaan Jiwa.


Kambing Petapa berkedip, Naga Ular Hijau mendesis. Mereka tau apa yang menjadi alasan mereka hendak kembali ke Pulau Pasir Hitam.


"Jadi sepertinya kalian orang-orang dari Pulau Pasir Hitam masih memiliki akal sehat," cibir Raja Singa di bawah kaki Weng Ying Luan.


Weng Ying Luan tidak menanggapi kata-katanya. Dia hanya menendang keras pada kepala Raja Singa dan membuatnya terdiam seribu bahasa.


Bajingan sialan! Kau pikir siapa aku ini?! Hanya karena kau keturunan kucing sialan itu, kau pikir bisa menginjak-injak ku begitu saja?! Argh!!!! Lihat saja nanti!!!


Raja Singa penuh dengan amarah di dalam hatinya. Weng Ying Luan menggunakan kekuatan garis darah keturunan miliknya untuk membuat Raja Singa itu diam di tempatnya, sehingga membuat dirinya sangat frustasi.

__ADS_1


"Kembali ke Pulau Pasir Hitam yah..... sepertinya seroang Dewa akan datang ke wilayah Keluarga Ying," kata Kambing Petapa dengan suara rendah.


Naga Ular Hijau diam untuk beberapa saat sebelum kemudian berbicara, "Itu keputusan yang bijak. Kepala Keluarga Ying tidak bisa diremehkan, meski dia hanya seorang diri. Seorang Dewa sudah selayaknya dihadapi oleh sesama Dewa. Ku harap perjalanan kalian lancar dan sampai dengan selamat."


Weng Ying Luan tidak mengharapkan Naga Ular Hijau berbicara dengan sangat baik kepadanya. Namun dia tetap mengangguk padanya.


"Lalu apa yang kau ingin kami lakukan sampai kalian semua kembali?" tanya Kambing Petapa.


"Orang yang berada di kapal kayu di sana menyarankan agar kalian menunggu di luar wilayah berkabut. Menurut perkataannya, kalian akan aman di luar kabut sampai kami semua kembali lagi ke Daratan Utama," jelas Weng Ying Luan.


Kambing Petapa langsung mengerti, begitu juga Naga Ular Hijau.


Setelah berbincang-bincang sedikit lagi, Weng Ying Luan pun memilih untuk terbang kembali ke udara dan menuju ke kapal kayu. Lin Mei juga sudah selesai memberikan instruksinya kepada Elang Raksasa dan terbang bersama dengan Weng Ying Luan. Begitu keduanya sampai di kapal kayu, ratusan ribu binatang buas bergerak di bawah arahan Kambing Petapa untuk meninggalkan wilayah berkabut.


Saat menginjakkan kaki kembali di atas kapal kayu, Weng Lao De segera mengendalikan kapal untuk bersiap kembali ke Pulau Pasir Hitam. Namun sebelum dia selesai melakukannya, Weng Ying Luan segera menghentikannya.


"Kakek De, bisakah kita singgah di wilayah selatan Daratan Utama terlebih dahulu?"


Dahi Weng Lao De mengerut, "Maksudmu wilayah kekuasaan Keluarga Lin? Apa yang hendak kau lakukan di sana?"


"Ehem..... sebenarnya begini....."


Weng Ying Luan segera bercerita tentang dirinya dan Weng Lou yang sempat menjadi tawanan rumah di Kediaman Keluarga Lin selama beberapa bulan. Dia juga bercerita tentang Du Zhe yang adalah murid Weng Lou dan saat ini mereka tinggalkan di Kediaman Keluarga Lin.


"Hm? Tuan Muda Lou mengangkat seorang murid? Memangnya berapa umurnya saat ini?" Weng Lao De dibuat sakit kepala.


Situasi sekarang jauh diluar prediksi. Dia tidak mau sampai salah langka, mau bagaimana pun mereka tidak berada di wilayah Pulau Pasir Hitam.


Namun status Du Zhe sebagai murid Weng Lou membuatnya merasa bahwa dia harus turun tangan dalam masalah ini. Dia akan membawa Du Zhe bersama mereka kembali ke Pulau Pasir Hitam, adapun bawahan Weng Lou yang lain, dia tidak akan membawa mereka.


Kapal kayu mereka naiki tidak besar. Bahkan hanya dengan bertambahnya penumpang seperti Weng Ying Luan dan Lin Mei sebenarnya sudah membuat kapal kayu terasa seperti penuh.


"Oke, kita akan singgah sebentar ke Kediaman Keluarga Lin dan membawa murid Tuan Muda Lou," kata Weng Lao De.

__ADS_1


Kapal kayu segera mengarah ke wilayah selatan Daratan Utama. Dengan gerakan cepat kapal kayu itu meluncur di udara.


__ADS_2