Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 577. Menuju Samudera (VI)


__ADS_3

Pagi harinya, di pantai yang tersembunyi tempat kelompok Weng Lou berada.


Para awak kapal Weng Lou terlihat sibuk melepaskan tali-tali pengikat yang membatasi kapal mereka. Mereka semua sedang bersiap untuk segera kembali berlayar melewati lautan sekali lagi. Dengan Weng Lou sebagai kaptennya, tidak ada yang mereka takutkan lagi mulai sekarang.


Sementara para awak kapalnya sibuk mempersiapkan kapal, Weng Lou dan Kera Hitam Petarung memilih untuk pergi ke suatu tempat yang terletak beberapa kilometer dari pantai. Mereka saat ini berada di sebuah Padang rumput yang terletak di luar hutan pohon bakau, dengan sekelompok orang yang beberapa diantaranya tidak asing di mata Weng Lou sedang berdiri menghadap mereka.


"Jadi, apa anda ke sini untuk memberikan ucapan selamat tinggal kepada ku, Patriak? Atau hanya ingin sekedar melihatku untuk terakhir kalinya?"


Weng Lou bergurau kepada sosok pria tua di depannya. Pria yang tidak lain adalah Patriak Sekte Bambu Giok itu tersenyum dan tertawa pelan mendengarkan gurauan Weng Lou. Dia menggelengkan kepalanya dan mengatakan tujuan kedatangannya.


"Aku hanya ingin memastikan saja untuk yang terakhir kalinya. Apa kau penyusup dari salah satu Keluarga Klan Besar di daratan utama, atau hanya sekedar pemuda yang kebetulan singgah di tempat ini?" Patriak Sekte Bambu Giok berbicara dengan santai, seakan dia menganggap bahwa Weng Lou adalah orang yang setara dengannya.


Dia tidak lagi melihat Weng Lou sebagai seorang anak kecil yang merupakan murid biasa di dalam sektenya.


Weng Lou tertawa dan menggelengkan kepalanya sambil berbicara, "Tidak. Aku sudah mengatakannya padamu, aku bukan penyusup dari Keluarga Klan Besar atau apalah itu. Kedatangan ku ke sini sebenarnya ingin menyelesaikan masalah Kekuatan Jiwa ku yang tidak bisa digunakan, tapi sekarang sudah bisa dan itu semua berkat Ujian Labirin yang diadakan oleh Sekte Bambu Giok."


Mendengarkan jawaban Weng Lou, entah mengapa ada perasaan lega di hati sang Patriak.


"Baiklah kalau memang begitu, tolong terima ini sebagai hadiah dari kami, para Sekte dan Keluarga di Kekaisaran Ryuan karena sudah membantu membebaskan kami dari kekangan sang Kaisar. Chizi Ryuan memang kaisar yang kuat dan hebat, namun ambisi dan jalan yang dia ambil terlalu berbahaya dan membuat seluruh kekaisaran ikut masuk dalam bahaya yang dia perbuat."


"Entah sudah berapa banyak kami hampir mengalami krisis karena perbuatannya yang sering memprovokasi Keluarga Klan Besar di daratan utama. Untuk sekarang, kami akan membantu Keluarga Ryuan untuk membesarkan Kaisar yang baru untuk masa depan. Walau Chizi Ryuan adalah Kaisar yang kejam, namun tetap saja Keluarga Ryuan adalah Keluarga Kaisar yang memiliki sejarah panjang. Hanya mereka yang bisa menjadi kaisar di Kekaisaran Ryuan."


Weng Lou mengangguk setuju mendengarkan penjelasan sang Patriak. Keluarga Ryuan adalah penguasa sejak lama di Kekaisaran Ryuan ini. Mereka adalah pemilik hak yang sah untuk menjadi pemimpin atas kekaisaran. Jika bukan dari keluarga mereka, Kekaisaran Ryuan tidak lagi akan menjadi kekaisaran yang sama.


Setelah mengambil hadiah berupa sebuah cincin penyimpanan dari tangan sang Patriak, kelompok mereka pun pergi satu persatu dan menyisakan satu orang saja yang masih tersisa di tempat itu, dan dia adalah Meigui. Wajahnya sedikit pucat dan senyuman yang biasanya dia perlihatkan di depan Weng Lou kini tidak ada.


Meigui menatap wajah Weng Lou dalam diam selama beberapa detik, sebelum dia pun melangkah ke depan dan menyentuh wajah Weng Lou dengan lembut. Weng Lou bisa merasakan kehangatan dari sentuhannya itu, dan meilih untuk membiarkannya.


"Apa kau pernah menganggap ku sebagai Guru mu sekali saja selama ini? Atau semua panggilan Guru yang kau katakan padaku itu hanya sebagai kedok saja?" tanya Meigui pada Weng Lou.


Weng Lou menunduk. Dia kembali mengingat saat-saat ketika dia masih hanya murid dari perempuan di depannya ini. Dia sering mengajukan pertanyaan kepadanya mengenai beberapa hal yang bukan tentang beladiri seperti cara memasak dan membuat kue.


Hal ini Weng Lou lakukan karena memang Meigui tidak bisa mengajarkan apapun mengenai beladiri padanya yang waktu itu hanya bisa memiliki kekuatan fisik saja. Namun meski begitu, Weng Lou senang diajari mengenai hal-hal lain olehnya yang terasa baru. Seperti memasak menggunakan bumbu-bumbu tambahan, atau membuat kue.


Meigui berusaha sebisa mungkin untuk mengajarinya karena dia sendiri paham bahwa tidak ada yang bisa diajarkan pada Weng Lou selain memasak dan membuat kue. Untungnya dia adalah seorang perempuan yang pintar di dapur.


Dibandingkan sebagai Guru Beladiri, Weng Lou menganggap Meigui sebagai Guru Memasaknya.


"Ya, anda adalah Guru yang telah mengajariku selama dua bulan lebih. Aku menganggap mu sebagai Guru ku, bagaimana anda mengajarkan membuat masakan dan kue-kue yang lezat tidak akan pernah aku lupakan," jawab Weng Lou yang memegang tangan Meigui.


"Baguslah. Kau bisa pergi sekarang. Jika terlalu siang, kau akan kesulitan melewati ombak tinggi di pantai timur," ucap Meigui yang melepaskan tangannya dan melangkah mundur.


Mengangguk pelan, Weng Lou pun pamit kepada Meigui, lalu pergi bersama Kera Hitam Petarung memasuki hutan. Setelah mereka masuk kembali, Meigui menghela napasnya dan hendak terbang pergi, namun sosok sang Patriak telah muncul kembali di sampingnya.

__ADS_1


"Jadi kau tetap keras kepala dan tidak mau mengatakannya? Kau pikir akan mendapatkan lagi kesempatan di masa untuk pergi ke wilayah keluarga mu?" tanya Patriak Sekte Bambu Giok itu dengan pelan.


Meigui diam dan membalikkan badannya, "Jika aku membuat anak itu pergi ke wilayah keluarga ku, dia hanya mendapatkan kesulitan yang dibuat oleh keluarga ku. Keluarga ku pasti akan sangat menginginkannya melihat dari kekuatan yang ditunjukkan nya. Namun anak itu adalah perwujudan dari kebebasan yang sesungguhnya, dia tidak terikat apapun, dan bebas pergi dan melakukan apa saja yang dia inginkan."


"Ya terserah mu saja, tapi jangan lupakan mengenai silsilah yang dimiliki oleh keluarga mu. Keluarga mu adalah salah satu dari cabang utama dari Empat Keluarga Klan Besar yang masih tersisa. Anak itu, mau dilihat dari mana pun, tujuan dia selanjutnya pasti adalah Daratan Utama. Akan lebih baik menitipkan nya kepada keluarga mu, keamanan dan keselamatan nya akan lebih terjamin jika berada di bawah perlindungan keluarga mu," jelas Patriak Sekte Bambu Giok.


"Tidak, meskipun kita memberikan tawaran itu padanya, Lou tidak akan menerimanya. Hanya dari dua bulan bersama nya, aku bisa tau dirinya tidak akan mau diatur-atur oleh sebuah kelompok tertentu." Meigui dengan cepat menolak pemikiran itu.


"Kau benar.....aku lupa bahwa dia bahkan sampai membunuh Chizi Ryuan karena tidak mau menjadi bawahannya." Patriak Sekte Bambu Giok tersenyum kecut ketika mengingat pemandangan dimana Chizi Ryuan harus mati di tangan Weng Lou tanpa bisa melawan sama sekali.


Tubuhnya sampai menghilang tak bersisa dan bahkan hawa keberadaan nya semuanya lenyap tak bersisa. Seorang anak seperti Weng Lou, dia memang layak menjadi seorang petualang di dunia yang kejam ini.


***


Beberapa jam kemudian, di lepas pantai yang berada di luar hutan bakau. Kapal uap berlayar dengan kecepatan stabil melewati ombak setinggi dua meter.


Weng Lou sedang duduk santai di dek belakang kapal sambil menatap Pulau Fenshu yang kini mulai dijauhi kapal mereka.


"Pulau Fenshu, sampai jumpa beberapa tahun lagi," ucap Weng Lou sambil tersenyum kecil.


"Gu-Guru....bukannya aku sudah bisa menggunakan Tenaga Dalam? Kenapa aku harus melatih fisikku lagi seperti ini?"


Suara Du Zhe terdengar dari bawah Weng Lou yang memperlihatkan dirinya sedang melakukan push up sementara Weng Lou duduk di atas punggungnya.


Weng Lou memukul pelan kepala Du Zhe karena mendengar perkataannya itu.


"Siapa yang bilang kau tidak harus melatih fisik mu ketika sudah bisa menggunakan Tenaga Dalam? Justru dengan kau sudah bisa menggunakan Tenaga Dalam, kau harus semakin giat melatih tubuh mu agar mampu menampung Tenaga Dalam semakin banyak. Kau mungkin belum pernah mendengar ini, tetapi ada sebuah pepatah yang mengatakan 'tubuhmu adalah sumber kekuatan mu'."


"Kau lihat aku ini, Du Zhe? Menurutmu apa yang kugunakan melawan para binatang buas lautan beberapa bulan yang lalu? Hanya dengan bermodalkan kekuatan fisik, aku mampu meredam mereka, sehingga kita bisa kabur dari Lautan Mati. Tidak kah menurut mu itu luar biasa?" jelas Weng Lou pada Du Zhe yang terlihat kesusahan untuk mengangkat tubuhnya.


"Tapi....hanya dengan kekuatan fisik....aku tidak akan bisa melakukan jurus-jurus yang Guru pernah lakukan. Seperti membuat pedang, atau pun terbang-!!! Itu sakit Guru!!"


Ocehan Du Zhe segera berakhir dengan Weng Lou yang menjitaknya sedikit lebih keras dari pukulannya sebelumnya. Kedua tangan Du Zhe yang sudah lemas membuat tubuh Du Zhe terjatuh ke lantai, sementara sosok Weng Lou tetap bertahan di udara karena dia menggunakan Kekuatan Jiwa nya.


"Lihat! Itu yang aku maksudkan Guru! Jika hanya kekuatan fisik, mana bisa aku mengambang seperti mu!


"Ck! Murid tidak tau diri, kau ini baru di Dasar Pondasi tingkat 4! Praktisi Beladiri di ranah seperti mu itu harus fokus menguatkan tubuh! Ketika kau sudah berada di ranah Pembersihan Jiwa, kau akan mengalami hambatan untuk memperkuat fisik mu karena tidak memiliki waktu seperti sekarang!"


Weng Lou menggelengkan kepalanya dan memilih berdiri lalu berjalan pergi meninggalkan Du Zhe yang masih kelelahan di lantai. Dia masuk ke dalam ruangan kendali, sebelum kemudian kembali keluar sambil membawa sebuah palu latihan yang memiliki bentuk jauh lebih kecil dari yang pernah Weng Lou gunakan selama ini.


Du Zhe berkedip, dia tidak mengerti mengapa Weng Lou membawa palu itu bersamanya.


"Ini, mulai sekarang kau akan berlatih dengan ini. Pada malam hari kau akan bermeditasi untuk menyerap Tenaga Dalam Alam, siangnya kau melatih tubuh mu," ucap Weng Lou sambil memberikan palu itu pada Du Zhe.

__ADS_1


Wajah Du Zhe tampak polos ketika dia mengambil palu itu dari tangan Weng Lou. Namun wajahnya segera berubah menjadi panik, ketika tubuhnya harus ikut tertarik ke bawah karena tidak kuat mengangkat palu kecil itu.


"Apa-apaan berat palu ini?! Ini....SANGAT BERAAATTT!!!" Du Zhe sampai berseru kuat ketika dia mencoba mengangkat palu itu setinggi pinggangnya dan berakhir jatuh kembali ke lantai.


"Hahaha.....kau terlihat lucu sekali Du Zhe! Apa seberat itu palu itu? Aku tidak percaya!" Salah satu awak kapal Weng Lou yang merupakan pria dengan tubuh besar memberi komentarnya ketika dia sedang mengangkat dua buah drum berisi batu bara di pundaknya.


"Hmp! Kemarilah dan coba angkat sendiri," cibir Du Zhe sambil memancungkan bibirnya. Weng Lou tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi muridnya itu.


Pria besar itu segera menurunkan kedua drum di bahunya, lalu berjalan mendekat. Dia memandang Weng Lou yang mengangguk mengizinkannya sebelum kemudian mulai menggenggam palu itu dan segera mengangkatnya.


Wajahnya memerah ketika palu itu mulai terangkat, ototnya mulai timbul sementara palu itu sudah diangkat hingga setinggi kepala nya.


"Ka-Kau lihat, Du Zhe? Ini sangat mudah!!" Pria itu mengkertakkan giginya sebelum kemudian mulai menurunkan kembali palu itu ke lantai dan segera beranjak pergi dari situ.


Dia buru-buru membawa kedua drum yang sebelumnya dia letakkan itu dan masuk ke dalam kapal.


"Kau lihat? Bahkan orang yang hanya berada di Dasar Pondasi tingkat 6 bisa dengan 'mudah' mengangkatnya." Weng Lou bergurau pada Du Zhe.


Du Zhe tau dengan jelas pria sebelumnya harus mengerahkan semua yang dia punya hanya agar bisa mengangkat palu itu. Kekuatan mereka terpaut 2 tingkat, dan dia sudah sangat kesulitan mengangkatnya.


"Guru...tidak bisakah kau meringankan bebannya? Setidaknya kurangi seperempatnya saja." Du Zhe tersenyum manis pada Weng Lou. Dia berusaha mendapatkan simpati darinya.


"Tidak, kau akan berlatih dengan palu ini. Sekarang, lakukan kuda-kuda. Aku akan membantumu."


Weng Lou pun mulai membantu Du Zhe untuk berlatih dengan palu berat itu. Tentu saja dia tetap tidak bisa mengangkatnya hingga setinggi kepalanya, namun dia setidaknya mampu menahan beratnya hingga setinggi pinggang sedikit lebih lama dari sebelumnya.


****


Malam hari, di perbatasan perairan Kekaisaran Ryuan.


Kapal uap terus berlayar melewati lautan biru gelap dengan bintang-bintang menjadi penunjuk jalan.


Weng Lou sebagai kapten kapal, duduk di ruangan kendali sambil membagi beberapa kesadarannya menjadi beberapa bagian. Satu sedang mengawasi bintang-bintang di atas langit, satu memperhatikan lautan, dan satu lagi sedang memeriksa semua harta miliknya serta harta yang dia dapatkan dari cincin penyimpanan milik Chizi Ryuan.


Di tengah sibuknya dia, dari dalam lautan, tepat beberapa ratus meter dari kapal mereka. Beberapa kawanan hiu yang masing-masing nya memiliki besar yang menyamai kapal mereka terlihat sedang berenang bersama, berburu makan malam mereka.


Kesadaran yang Weng Lou bagi untuk memeriksa laut mendapatkan penglihatan yang tidak beres, dan kesibukan lain yang dilakukannya pun dihentikan.


Dia berjalan keluar dari kapal, dan melihat sebuah fenomena yang baru kali ini dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Astaga, jadi pusaran lautan yang mampu menghancurkan belasan kapal perang itu benar-benar ada?!"


Saat ini, terdapat sebuah pusaran air yang memiliki diameter lebih dari seratus meter dan mengarah jauh ke dalam laut. Di bagian tengah pusaran itu, hanya ada warna hitam, tidak terlihat apapun, seolah cahaya pantulan dari bulan ikut diserap oleh pusaran itu.

__ADS_1


__ADS_2