
Di langit wilayah Keluarga Ying.
Lin Mei duduk bersila dengan tenang di punggung elang raksasa. Di hadapannya, tubuh wali kota gendut sedang dalam keadaan yang benar-benar mengerikan.
Tangan dan kakinya telah terpotong. Rahangnya menghilang, begitu juga dengan batang hidung dan kedua daun telinganya. Bahkan, benda berharga nya yang berada di antara kedua kakinya telah menghilang. Hanya kedua matanya yang masih ada.
Dari semua itu, yang paling mengejutkan adalah bahwa sang wali kota ternyata masih bernapas! Dia belum mati bahkan setelah kehilangan banyak darah.
Seseorang hanya akan melihat sebuah penyiksaan tanpa belas kasihan sedikitpun hanya dengan melihat kondisi sang wali kota saat ini. Namun meski begitu, cahaya dingin di mata Lin Mei sama sekali belum menghilang, seakan-akan kondisi wali kota masih belum cukup parah untuk menebus semua yang sudah dia lakukan selama ini.
"Aaah.......aaaaa.......aaaaaaa......."
Wali kota gendut itu menatap dengan tak berdaya kepada Lin Mei. Dia menyadari bahwa Lin Mei adalah pemimpin dari penyerangan para binatang buas. Jujur dia terkejut mengetahui bahwa orang yang menjadi penyebab jatuhnya kota yang dipimpinnya ternyata hanyalah seorang gadis remeh.
Biasanya, dia akan bernapsu melihat gadis seperti Lin Mei, namun saat ini tidak ada tatapan mesum yang biasanya ada di kedua matanya. Semuanya telah digantikan dengan perasaan takut akan sosok di hadapannya ini.
Dia mengingat dengan jelas semua siksaan yang telah diberikan oleh Lin Mei kepadanya dan terus menyembuhkannya dari waktu ke waktu, sehingga dia tidak bisa pingsan atau kehilangan kesadaran ketika sedang menerima siksaan darinya.
Sekarang ini dia tidak peduli lagi apakah dia bisa selamat dari semua siksaan Lin Mei, satu-satunya keinginannya sekarang adalah dibiarkan untuk mati oleh Lin Mei. Dengan semua bagian tubuhnya yang telah dipotong Lin Mei, akan jauh lebih bagus jika dia mati daripada tetap hidup dalam kondisi seperti saat ini.
Dirinya yang sekarang hanya akan menjadi bahan tertawaan anggota Keluarga Ying yang lain. Bahkan dia yakin perlindungan yang diberikan oleh leluhurnya selama ini padanya akan langsung dicabut jika tau tentang kondisinya saat ini.
"Hm? Kau ingin aku membiarkanmu mati? Tidak, aku tidak mau. Aku masih belum puas bermain dengan mu. Kau tau? Aku jarang sekali bisa melatih kekuatan penyembuhan milikku, jadi dengan adanya kau disini, kau bisa terus melatih kemampuan ku agar menjadi lebih baik," jelas Lin Mei sambil berbicara dingin.
Pedang muncul di tangan kanannya, lalu dia mengayunkannya pada bahu kanan wali kota gendut.
*Tssssstttt.....*
Dengan begitu mudahnya bahu kanan wali kota terpotong dan terpisah dari tubuhnya. Jeritan tak karuan terdengar dari sang wali kota gendut yang telah kehilangan rahang bawahnya sehingga dia tidak bisa berbicara lagi.
__ADS_1
Penglihatannya menjadi kabur dan dia hendak pingsan ketika kemudian, Lin Mei mengayunkan tangan kirinya dan api jingga mendarat di tubuh wali kota, segera menyembuhkannya dan menghentikan pendarahannya.
"Hmmm.....kemampuanku semakin bagus. Aku yakin dengan berlatih selama beberapa waktu lagi aku akan bisa mengendalikan lebih jauh tingkat pemulihan Api Phoenix ku."
Setelah Lin Mei mengatakan itu, dia langsung memotong bahu kiri wali kota yang segera dibalas dengan teriakan aneh wali kota.
Siklus itu terus berlanjut selama beberapa hari. Dalam beberapa hari itu, pasukan binatang buas memilih untuk beristirahat di reruntuhan kota yang telah mereka hancurkan.
Lin Mei masih terus berlatih menggunakan tubuh wali kota. Saat ini tubuh wali kota gendut kini telah berubah seutuhnya, dari yang sebelumnya gendut dan besar, sekarang menjadi kurus kering. Apa yang tersisa dari tubuhnya hanyalah kulit dan tulang saja. Lemak dan dagingnya menghilang.
*Tsaaat....*
Pedang di tangan Lin Mei terakhir dan menebas mata wali kota. Tidak ada jeritan seperti beberapa hari yang lalu yang dikeluarkan oleh wali kota, dia tampak biasa saja. Namun sedikit getaran pada tubuhnya jelas menunjukkan dia masih bereaksi terhadap serangan itu.
Untuk kesekian kalinya Lin Mei memberikan penyembuhan Api Phoenix nya pada sang wali kota. Kali ini apinya berfokus pada kedua matanya. Beberapa bulir keringat menetes keluar dari dahinya ketika dia menggunakan semua fokusnya dalam menyembuhkan kedua mata wali kota.
Sepuluh menit kemudian, Lin Mei berhenti menyembuhkan dengan apinya. Sebuah bekas luka terlihat di kedua mata wali kota. Mata kanan wali kota tidak terlihat, jelas hancur berantakan karena tebasan Lin Mei sebelumnya. Sedangkan mata kirinya, terlihat sebuah bola mata dengan pupil sedikit buram yang ada di situ.
Tanpa sadar kedua tangan Lin Mei bergetar untuk sesaat. Dia tidak menyangka teknik penyembuhannya akhirnya menunjukkan hasil yang diinginkannya. Itu adalah regenerasi bagian anggota tubuh! Bukan penyembuhan bekas luka belaka.
Tatapan kebahagiaan terlihat sebentar di kedua mata Lin Mei namun dengan cepat disembunyikannya.
"Aku berhasil menyembuhkan sebelah matanya....." gumam Lin Mei. Dia menarik napas dalam, lalu melepaskannya.
Dengan cepat tatap mata Lin Mei kembali seperti sebelumnya, menjadi tatapan dingin yang tak mengenal belas kasih.
Lin Mei mengangkat pedang di tangan kanannya dan siap mengayunkannya sekali lagi. Namun kali ini bukan untuk sekedar melukainya seperti sebelum-sebelumnya. "Aku sudah tidak membutuhkan mu. Matilah dan tersiksa lah selamanya di neraka."
Dalam satu gerakan lambat, dia menebas pada leher wali kota, membiarkan rasa sakit yang disebabkan pedang yang menebasnya teringat dengan jelas dalam kepalanya.
__ADS_1
Tubuh wali kota tampak seperti kejang-kejang untuk sesaat. Darah mengalir deras dari lehernya. Setelah beberapa saat akhirnya tubuhnya berhenti bergerak dan dia pun mati dengan mengenaskan.
"Kau menuai apa yang kau taburkan di dunia ini. Itu adalah karma dan sekaligus bagaimana roda takdir berkerja dalam hidup ini." Lin Mei mengayunkan tangannya dan mendorong tubuh wali kota itu agar jatuh punggung sang elang.
Elang memekik pelan. "Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, wahai Phoenix yang agung? Kami semua menunggu perintah dari mu."
Pertanyaan elang itu segera dibalas oleh Lin Mei. "Kita akan menjalan strategi yang telah aku buat sebelumnya. Kita akan mulai dengan menghancurkan kota-kota yang dikuasai oleh Keluarga Ying. Meski tidak akan terlalu berdampak pada seluruh keluarga, namun rasa takut yang diakibatkan oleh serangan binatang buas akan dengan cepat menyebar. Kita bisa membuat teror menyebar sedikit demi sedikit di dalam Keluarga Ying dan menyebabkan perpecahan di dalamnya."
Mendengarkan jawaban Lin Mei, elang itu pun hanya membalas dengan pekikan mengerti.
***
Pulau Pasir Hitam, wilayah Keluarga Leluhur Weng.
Sosok Weng Li berdiri tegap di hadapan seorang pria yang seperti berusia lebih mudah darinya. Namun itu karena kekuatan miliknya yang begitu besar sehingga membuat penampilan tuanya tetap tidak terlihat.
Pria itu duduk di samping sebuah tahta kosong, alih-alih duduk di tahta tersebut. Dia menatap Weng Li dalam diam selama beberapa saat sebelum kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
"Kenapa?!" Weng Li bertanya dengan mata memerah.
"Karena kita memiliki aturan yang harus diikuti. Kau ingin ikut dengan pasukan yang akan berangkat menuju Daratan Utama dalam rangka memusnahkan Keluarga Ying, namun aku tau kau memiliki motif lainnya. Motif mu ini yang tidak aku izinkan untuk kau lakukan," ujar pria itu dengan suara tenang.
Weng Li menggertakkan giginya. Tangannya mengepal dengan keras hingga bisa terlihat darah menetes keluar dari tangannya yang terluka.
"Dia adalah putraku.....putraku satu-satunya!!!! Kau berani menyuruhku hanya untuk duduk diam ketika ada kesempatan untuk menemukan putraku yang berharga?! Memangnya siapa kau?! Kau bahkan bukan ayahku!" Weng Li berseru marah dan melepaskan Tingkat Praktik nya yang dengan cepat menyapu seluruh ruangan tempat keduanya berada.
Helaan napas terdengar dari pria itu. Dia menggelengkan kepalanya lalu menunjuk pada Weng Li. "Aku mungkin bukan ayahmu yang sesungguhnya, namun aku telah berjanji padanya untuk merawat dan membesarkan mu. Selama kau tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk mengalahkan ku, maka kau diwajibkan untuk mengikuti semua kata-kata ku."
"Aku tidak peduli! Aku tidak akan-"
__ADS_1
"Dengarkan kata-kata ku, WENG LI! AKU ADALAH PENASEHAT KEPALA KELUARGA, DAN SEGALA HAL YANG BERKAITAN DENGAN KELUARGA WENG AKAN DIURUS OLEH KU! SUKA TIDAK SUKA, KAU AKAN MENGIKUTI KATA-KATA KU!"