Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 400. Kematian? Kau Tak Pantas Merasakan Hal Itu!


__ADS_3

Sha Shou ada seorang Praktisi Beladiri yang telah lama hidup di dunia yang kejam ini.


Dia paham dengan benar setiap penderitaan yang selama ini telah dia lakukan kepada orang lain akan mendapatkan karmanya kapan saja.


Oleh sebab itu, dia pun berani mengambil keputusan besar dengan menyerahkan lebih dari setengah harta dan kekayaan yang dimilikinya kepada seorang petinggi di Kerajaan Wilayah Tengah demi mendapatkan perlindungan darinya.


Dan pengorbanan nya itu membuahkan hasil yang sangat membuatnya mampu terus terhindar dari bahaya yang mengancam nyawanya selama lebih dari 10 tahun.


Meski tidak sedikit kekayaan yang telah ia berikan selama sepuluh tahun terakhir, itu semua tidak terlalu dipedulikannya. Yang terpenting adalah keselamatan nyawanya.


Tak terhitung lagi sudah berapa banyak nyawa yang telah ia lakukan selama ini, mungkin jika darah dari para korban pembantaian yang ia lakukan dikumpulkan, itu akan membentuk sebuah danau kecil yang sepenuhnya tercipta dari darah para korbannya.


Jika ditanya apakah dia tidak takut akan kemurkaan dewa, maka jawabannya tidak. Dia sejak kecil sudah tidak percaya yang namanya dewa, apa lagi Tuhan. Baginya mereka itu hanyalah sebuah eksistensi sebatas nama saja. Mengapa dia bisa mengatakan itu? Karena sebelum dia percaya tidak ada yang namanya dewa, dia merupakan seseorang yang percaya.


Sampai kemudian ketika ayah dan ibunya terbunuh karena sekawanan para bandit, tidak ada seorang pun yang menolong mereka. Kedua orang tuanya mati mengenaskan meski mereka setiap hari telah berdua kepada dewa.


Jadi apakah benar ada yang namanya dewa dan Tuhan itu? Bagi Sha Shou meskipun mereka benar ada, mereka hanyalah keberadaan yang hanya akan mementingkan nama dan kekuasaan mereka saja.


Pengikut miskin tidak akan dihiraukan oleh mereka. Begitulah pemikiran Sha Shou sampai dirinya dihadapkan oleh situasi seperti ini sekali lagi.


"Hahahaha!!!!! Dewa atau apapun itu!!! Aku tidak takut pembalasan dari mu!!!! Kau sendiri yang memulainya! Kau selalu menutup mata terhadap doa-doa yang telah orang-orang berikan kepadamu!!


Kau sekarang ingin aku mati, bukan?! Datanglah sendiri kesini, sialan!!! Aku tidak takut padamuuu!!!"


Sha Shou yang berlari kencang di dalam lorong gelap dan sempit terus bersungut-sungut dengan kencang, dan terus memaki-maki tidak jelas.


Weng Lou di kejauhan bisa mendengar perkataannya dengan sangat jelas meski tidak tau apakah Sha Shou sedang berbicara kepadanya, atau hanya sebatas berbicara sendiri.


Dia terus mempercepat langkahnya dan sedikit demi sedikit memperkecil jarak antara dirinya dengan Sha Shou.


Meski begitu, Weng Lou tampak sedikit terkejut karena kecepatan yang ditunjukkan oleh Sha Shou jauh diatas rata-rata orang yang berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 4, bahkan melebihi mereka yang berada di tahap 5 sekalipun.


Ternyata lama hidupnya tidaklah dia habiskan sia-sia begitu saja. Weng Lou yakin, Sha Shou setidaknya mempelajari suatu teknik yang mampu membuat kecepatan nya meningkat, atau paling tidak dia menggunakan sebuah Senjata Tingkat tinggi yang bisa menambah laju larinya.

__ADS_1


"Percuma saja, kau tak akan bisa selamat dariku. Beritahu aku, apa hubunganmu dengan Tetua Fang." Weng Lou memasukkan Qi pada setiap kata-katanya sehingga bisa dengan mudah di dengar oleh Sha Shou yang berada sekitar seratus meter lebih di depannya.


Hening sejenak, tidak ada jawaban sama sekali darinya, ketika Weng Lou mulai berpikir bahwa Sha Shou tidak ada hubungannya dengan Weng Fang Di, suara Sha Shou kembali terdengar.


"Tetua Fang?! Maksudmu si berengsek sialan Weng Fang Di?! Jadi kau di sini karena orang sialan itu?! Aku telah menyuruh anak buahku menyiksanya sampai mati! Jika saja bukan karena dia yang terus-menerus menggangguku di masa lalu, aku pasti masih bisa hidup tanpa harus terus bersembunyi seperti ini!!! Kau dengar aku, sialan?!"


Sha Shou bersungut-sungut dengan jengkel. Melalui sedikit informasi itu, Weng Lou bisa menebak jika Sha Shou dan Tetua Fang pastilah saling bermusuhan satu sama lain sejak dulu.


Dengan begitu Weng Lou bisa menarik kesimpulan mengenai misi dari Tetua Fang yang dimaksud oleh Tetua Ling, Tetua Pertama di Keluarga Utama Weng di Kota Bintang Putih.


"Hahaha...... untungnya dia sudah mati. Setidaknya orang itu tidak bisa lagi menggangguku jika saja aku bisa selamat hari ini!"


"Tidak, dia masih hidup. Dan aku disini untuk membalaskan dendamnya."


Tepat sesuai kalimat itu diucapkan oleh Weng Lou, Weng Lou menggunakan Pernapasan Pertama pada Teknik Meringankan Diri, dan dalam hitungan beberapa detik kemudian, dia telah berhasil menyusul Sha Shou, tepat ketika keduanya telah sampai di ujung lorong bawah tanah.


"Tidak perlu takut, aku tidak akan membunuhmu. Karena apa? Karena kau tidak pantas merasakan apa yang namanya kematian itu!!"


Sha Shou melihat itu dan berusaha menghindarinya, tapi dia menyadari, pergerakan pedang Weng Lou lebih cepat dari yang terlihat dan dia tidak akan bisa menghentikan itu.


Ketika dia sudah bersiap dengan rasa sakit dari kakinya yang akan segera dipotong, mendadak sebuah pedang Qi lain muncul dan menghalangi pedang Qi milik Weng Lou.


TRANGG!!!


Suara pertemuan kedua pedang menggema, dan detik berikutnya sosok seorang pemuda berusia sekitar 18 tahun muncul di hadapan Weng Lou.


Buck! Srtttttt-


Pemuda itu memukul tubuh Sha Shou menjauh dari situ, sementara pemuda itu masih menggenggam erat pedang Qi miliknya dan terus beradu kekuatan dengan Weng Lou.


"Kau cukup kuat juga, siapa kau? Aku belum pernah mendengar tentang mu di Wilayah Tengah ini." Pemuda itu bertanya kepada Weng Lou dan hanya dibalas dengan tatapan dingin oleh Weng Lou.


"Apa kau anak buahnya juga? Apa kau terlibat juga dengan semua pembantaian yang dilakukan oleh kelompok mereka?" Weng Lou balik bertanya kepadanya.

__ADS_1


Sorot mata pemuda itu tampak tajam begitu mendengar pertanyaan dari Weng Lou.


"Bukankah kau harus menjawab terlebih dahulu pertanyaan dariku sebelum mengajukan pertanyaan? Apakah ibumu belum pernah mengajari sopan santun?"


"Setauku, ibuku selalu menyuruhku untuk menghajar siapa saja yang berani mengganggu urusan ku."


Weng Lou menghilangkan pedang Qi miliknya dan membuat pemuda itu terkejut, pedang Qi miliknya terus bergerak ke arah leher Weng Lou, tapi kemudian segera ditahan oleh tangan Weng Lou yang telah ia lapisi dengan Qi yang padat.


"Ini adalah pedang yang bagus, akan sayang jika aku menghancurkannya. Aku sarankan kau mundur sebelum kesabaran ku habis." Weng Lou berbicara dengan suara dingin.


Aura pembunuh miliknya dikeluarkan semuanya dan dia gunakan untuk menekan pemuda itu. Tapi bukannya takut, pemuda itu justru tersenyum kecil.


"Baiklah, terserah mu saja."


Pemuda itu menghilangkan pedang Qi miliknya, dan kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas.


Dia segera menyingkir dari hadapan Weng Lou, dan memberinya jalan ke arah Sha Shou yang baru saja berusaha bangkit kembali berdiri setelah terlempar karena menerima pukulan dari sosok pemuda sebelumnya.


"Tu-Tuan Muda!? Itu anda bukan, Tuan Muda?! To-Tolong aku Tuan Muda!" Sha Shou menjerit panik begitu melihat ujung telapak tangan kanan Weng Lou yang bersinar berwarna biru, dan juga sebuah pedang dengan aura sangat kuat muncul di tangan kiri Weng Lou.


"Kau tidak akan bisa hidup sesuai keinginan mu lagi, segala yang kau lakukan dan inginkan tidak akan pernah saling sesuai. Kau, akan menjadi budak ku."


Weng Lou menggunakan Qi nya, dan membuat tubuh Sha Shou tidak bisa bergerak lalu kemudian menempelkan telapak tangan kanannya pada kepala Sha Shou.


Kekuatan jiwa Weng Lou melonjak dan beberapa saat kemudian, sebuah tanda muncul di kening Sha Shou. Kedua mata Sha Shou bercahaya berwarna biru terang selama beberapa saat sebelum kemudian menghilang.


Sha Shou tidak menjerit lagi seperti sebelumnya, dia juga tidak bergerak sama sekali di tempatnya.


Pemuda yang sebelumnya menyerang Weng Lou melihat hal itu dan menjadi terkejut. Dia tidak tau apa yang Weng Lou baru saja lakukan pada Sha Shou.


"Kau sekarang adalah budak ku. Kau hanya akan melakukan apa yang aku inginkan saja, mengerti?" Weng Lou bertanya dengan suara pelan kepada Sha Shou yang memiliki tatapan kosong.


"Ya, Tuan. Aku adalah budak mu."

__ADS_1


__ADS_2