
Sementara Weng Lou dan yang lain sibuk menyantap makanan mereka sebelum pergi ke bangunan Arena Pertandingan, tidak terlalu jauh dari penginapan mereka, Weng Baohu Zhe yang saat ini bersama dengan murid-murid Keluarga Leluhur Weng berjalan bersama ke bangunan Arena Pertandingan.
Berbeda dengan kelompok Weng Lou yang hampir semuanya lolos ke babak semifinal, kelompok Keluarga Leluhur Weng yang lolos hanyalah Weng Baohu Zhe, sehingga mereka memutuskan untuk pergi pagi-pagi sekali. Ini karena ketika situasi sudah ramai, Baohu Zhe tidak akan bisa menjaga dengan baik murid-murid yang dia jaga karena dia harus selalu menfokuskan dirinya untuk mengikuti babak semifinal nanti.
Bisa dibilang, prioritas utamanya saat ini adalah untuk bisa setidaknya membawakan 1 hadiah setidaknya untuk dirinya bawa pulang ke Keluarga Leluhur Weng sepulangnya mereka dari Turnamen Beladiri Bebas ini.
Ini bukanlah keinginannya, melainkan keinginan dari para tetua keluarga. Bisa lolos menuju ke babak semifinal dari Turnamen Beladiri Bebas dianggap sebagai keajaiban dan kesempatan besar bagi para tetua Keluarga Leluhur Weng, oleh sebab itu mereka memerintahkan Weng Baohu Zhe untuk fokus dalam turnamen tersebut, dan harus bisa membawa pulang paling tidak 1 hadiah yang disiapkan dalam turnamen tersebut.
Meski begitu, Weng Baohu Zhe tetap ingin menjalankan kewajibannya sebagai salah satu tetua juga. Dia tetap ingin memastikan keselamatan dari murid-murid yang telah ia bawa sampai ke tempat ini, sehingga membawa mereka pagi sekali ke bangunan Arena Pertandingan agar dia tidak perlu lagi khawatir akan keselamatan mereka saat ingin ke sana lagi.
"Tetua? Apa anda yakin kami akan baik-baik saja pergi ikut menonton hari ini?" tanya salah satu murid perempuan yang bersama kelompok mereka.
"Tenang saja, kita ini berasal dari Keluarga Leluhur Weng, hanya orang bodoh yang ingin berurusan dengan keluarga kita." Weng Tie menjawab murid tersebut.
Sebagai pemimpin dari semua murid, dia harus bisa menenangkan mereka semua, setidaknya yang dia lakukan akan meringankan beban yang berada pada pundak Weng Baohu Zhe saat ini, pikirnya.
Weng Baohu Zhe pun tidak menanggapi mereka sama sekali, dirinya terus melangkah maju, memimpin jalan menuju ke bangunan Arena Pertandingan berada. Weng Tie dan teman-temannya yang lain hanya bisa terus mengikutinya dari belakang tanpa berani untuk bertanya lagi.
Selang beberapa detik, mereka semua pun telah sampai di bangunan Arena Pertandingan, dan berada di ruangan dimana sebelumnya ruangan tersebut dipakai untuk mendaftar Turnamen Beladiri Bebas 3 minggu yang lalu.
"Ok, kita berpisah di sini. Aku akan pergi ke ruang tunggu para peserta turnamen, kalian pergilah mencari tempat duduk yang menurut kalian bagus dan aman," ucap Weng Baohu Zhe yang menatap murid-murid yang bersamanya satu persatu.
Pandangannya kemudian terhenti pada Weng Tie yang merupakan murid tertua diantara yang lain.
"Ingat ini, aku tidak akan bisa membantu kalian sama sekali nantinya jika terjadi masalah, jadi kalian sebisa mungkin jangan melakukan sesuatu yang bisa menarik perhatian, emosi seseorang, atau lainnya. Cukup duduk diam dan tonton pertarungan nantinya, kalian mengerti?"
__ADS_1
Weng Tie dan murid lainnya segera mengangguk mengerti.
"Aku percayakan mereka semua padamu, Tie. Kau adalah yang tertua dari mereka semua, yang berarti tanggung jawab keselamatan mereka semua ada padamu. Sebagai salah satu murid Keluarga Leluhur Weng, kau harus mempu untuk melindungi teman-teman mu." Weng Baohu Zhe melanjutkan perkataannya sambil menepuk pundak Weng Tie.
Mendengarnya membuat Weng Tie menjadi senang bukan main. Secara tidak langsung Weng Baohu Zhe telah mengakui kekuatan dirinya, sehingga memberi tanggung jawab ini pada dirinya.
Dia menahan diri untuk tidak tersenyum dan kemudian menatap Weng Baohu Zhe lalu mengangguk sekali lagi padanya.
"Serahkan saja padaku, Tetua. Aku akan menjaga mereka semua," ucapnya.
Weng Baohu Zhe pun mengangguk pelan, lalu kemudian pergi meninggalkan mereka semua menuju ke sebuah lorong yang terletak di sudut ruangan dimana mereka berada. Weng Tie dan murid Keluarga Leluhur Weng yang lain diam melihatnya pergi, hingga akhirnya dia tidak terlihat lagi barulah mereka semua ikut pergi dari situ menuju ke tangga yang mengarah ke atas yang terletak di seberang lorong yang dilewati oleh Weng Baohu Zhe.
Tangga itu mengarahkan mereka semua ke tempat duduk penonton yang terletak di atas. Terlihat banyak tempat duduk yang sudah terisi meski waktu masih lah sangat pagi. Mereka tidak terkejut karena hal itu karena Turnamen Beladiri Bebas bukanlah turnamen yang bisa ditonton tiap tahunnya, sehingga banyak yang rela datang pagi-pagi demi kebagian tempat duduk.
"Ayo, kita cari tempat duduk yang bagus." Weng Tie berbicara pada teman-temannya yang segera diiyakan oleh mereka.
Di Rumah Obat Kota Hundan.
Sosok Yang Guang sedang menikmati secangkir teh hitamnya sambil menatap sebuah lukisan seorang wanita yang wajahnya tertutup oleh penutup wajah yang menutup hidung dan mulutnya
Srrupp....
Yang Guang menyeruput tehnya, dan terus memandangi lukisan tersebut, sampai kemudian sosok bayangan bergerak ke arahnya dari belakangnya.
"Ada apa lagi? Bukankah sudah aku katakan kemarin, aku tidak mau mengikuti apa yang dikatakan oleh para petinggi itu?" ucap Yang Guang tanpa menolehkan kepalanya sama sekali.
__ADS_1
Sosok bayangan itu berhenti di belakang Yang Guang dan tidak berbicara sama sekali, melainkan menyodorkan sebuah gulungan kertas lain seperti yang dia lakukan kemarin.
Memejamkan matanya sejenak, Yang Guang kemudian mengambil gulungan kertas itu dan segera membukanya. Seperti sebelumnya, terdapat beberapa baris kata yang ada di dala. gulungan kertas tersebut yang kemudian dibaca oleh Yang Guang.
Tak berselang lama ekspresi wajah Yang Guang mendadak berubah menjadi serius, dan dia langsung merubah posisi duduknya, dan membaca dengan lebih serius kata-kata yang ada di dalam kertas tersebut.
Akhirnya, dia pun selesai membaca, lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Apa informasi ini sudah dipastikan benar?" tanya Yang Guang.
Terlihat sosok bayangan itu mengangguk.
"Ini benar-benar tidak masuk akal. Kenapa ada seorang pemuda yang mau datang jauh-jauh ke Pulau Pasir Hitam ini hanya untuk mencari keberadaan seseorang? Apa dia waras?"
"Saya tidak tau, Tuan Muda, tapi Pemimpin dan para petinggi yang lain benar-benar menganggap serius masalah ini," balas sosok bayangan itu.
"Itu tak masuk akal. Hanya karena dia tidak berasal dari Pulau Pasir Hitam dan aku disuruh untuk menghabisinya jika memiliki kesempatan? Bagaimana jika hal itu malah menimbulkan masalah yang sangat besar, dan situasi di Pulau Pasir Hitam menjadi semakin panas dengan pulau-pulau lainnya?"
"Anda tidak perlu memikirkan hal itu, Tuan Muda. Pemimpin sendiri mengatakan, bahwa pemuda itu adalah ancaman besar bagi Pulau Pasir Hitam, sehingga memperbolehkan anda untuk membunuhnya."
Kerutan pada dahi Yang Guang semakin terbentuk.
Tidak biasanya dia diminta untuk melakukan pembunuhan seperti ini, terlebih targetnya adalah pemuda seusianya.
"Aku tidak mau bertanggung jawab jika malah muncul masalah setelah aku membunuhnya yah. Pokoknya aku tidak mau disalahkan jika hal itu terjadi nantinya," kata Yang Guang yang kemudian menghela napas panjang.
__ADS_1
"Tenang saja Tuan Muda, tidak ada yang akan menyalahkan anda setelah melakukan pembunuhan ini. Malah justru mungkin anda akan mendapatkan hadiah besar jika sanggup melakukan perintah dari Pemimpin dan para petinggi ini."