
Pulau Dongwu sebuah pulau antah berantah dimana hidup binatang buas dalam jumlah yang sangat mengerikan.
Pulau ini memiliki luas seperempat dari luas Pulau Pasir Hitam, namun seluruhnya ditumbuhi oleh pepohonan yang lebat.
Terdapat sebuah kerajaan yang berdiri di pulau mengerikan ini, yaitu Kerajaan Singa Api, yang dipimpin oleh seorang raja yang merupakan manusia terkuat di pulau ini.
Dengan lingkungan yang keras karena banyaknya binatang buas, bisa dibilang orang-orang yang tinggal di pulau ini adalah mereka yang memang siap mempertaruhkan hidupnya setiap waktu.
Di pulau ini, manusia dan binatang buas telah sampai pada tahap dimana mustahil mereka bisa berdamai dan setiap ada kesempatan pastinya keduanya akan selalu terlibat dalam pertempuran.
Untuk bisa terus mempertahankan diri, Kerajaan Singa Api membuat peraturan wajib militer bagi semua anak yang berumur 12 tahun ke atas, entah itu perempuan atau pun laki-laki. Berkat itu, Kerajaan Singa Api tidak kekurangan pasukan untuk melawan binatang buas.
Tapi kenapa mereka saling bertarung seperti itu?
Semua bermula sekitar beberapa ratus tahun yang lalu, dimana ada sekelompok orang yang datang ke pulau ini dan mulai membangun pemukiman, padahal pulau ini sepenuhnya telah dimiliki oleh para binatang buas, dan diakui oleh pulau-pulau tetangga.
Namun karena persetujuan dari pemimpin binatang buas yang tinggal di Pulau Dongwu, kelompok itu pun diperbolehkan untuk membangun pemukiman.
Pada awalnya kelompok itu hanya membuat sebuah desa kecil yang ditinggali tidak sampai seratus orang, namun lambat lain jumlah penduduknya bertambah dan mencapai jumlah ribuan.
Desa kecil yang sebelumnya pun berubah menjadi sebuah kota, yang kemudian berkembang lebih jauh dan menjadi sebuah kerajaan di pulau tersebut.
Sang pemimpin binatang buas pun geram akan kejadian tersebut, dan memerintahkan untuk membinasakan semua manusia yang ada di pulau mereka, tapi kemudian semua itu sudah terlambat. Sosok seorang Praktisi Beladiri yang sangat kuat telah tinggal dan menjadi raja dari seluruh manusia yang ada di pulau itu, dan memimpin semua manusia untuk menerangi para binatang buas.
Hingga beratus-ratus tahun kemudian, perselisihan ini belum juga padam, dan dari kedua pihak jelas tidak ada yang mau mengalah, terutama. para binatang buas yang merasa bahwa pulau ini adalah milik mereka dan manusia hanyalah menumpang saja.
Tidak ada yang tau kapan manusia dan binatang buas yang tinggal di dalam Pulau Dongwu ini akan berdamai, tapi yang jelas karena pertarungan keduanya, banyak korban yang telah berjatuhan.
***
Di kedalaman Hutan Darah, salah satu wilayah milik para binatang buas.
Sebuah cahaya biru terang menerangi langit malam di atas hutan. Para binatang buas semuanya tampak ribut karena hal ini. Raungan, lolongan dan geraman memenuhi seluruh hutan, hingga akhirnya cahaya itu pun menghilang dan dua buah titik bayangan pun jatuh dari atas langit.
Dua bayangan itu dengan keras menabrak dan menghancurkan pepohonan yang berada di bawah mereka, dan menghasilkan bunyi dentuman yang cukup besar.
Semua binatang buas lemah yang ada di sekitar situ pun berlari menjauh, sementara binatang buas yang memiliki kekuatan besar dan kecerdasan mulai mendekat dan sampai di sebuah kawah kecil dimana terlihat di tengahnya terdapat sosok gajah raksasa dan seorang pemuda yang berbaring di atasnya.
Pemuda membuka matanya dan menoleh ke kanan dan ke kiri nya sambil sedikit menguap karena mengantuk.
"Hm? Malam hari? Bukannya tadi masih siang?" ucap pemuda itu yang kemudian bangkit berdiri dan menatap gajah besar yang dijadikannya alas untuk tidur.
Berkedip beberapa kali, raut wajah pemuda itu pun langsung berubah seketika dan segera melihat sekitarnya yang hanya ada pepohonan saja.
Dengan cepat pemuda itu memukul-mukul tubuh gajah yang ada di bawahnya, berusaha membangunkannya.
"Oi! Oi, bangun! Kita ada dimana?! Cepat bangun gajah sialan!" maki pemuda itu dengan panik.
Pada saat yang sama, beberapa sosok binatang buas pun keluar dari dalam kegelapan hutan, dan mendekat ke arah pemuda tersebut.
Terlihat seekor harimau dengan besar tubuh yang kurang lebih sama dengan besar gajah di bawah pemuda itu memimpin di depan binatang buas lainnya.
"Grrrr....manusia.....apa yang kau lakukan di wilayah kami ini...?" tanya harimau itu dengan menggeram marah.
Dia memperlihatkan taringnya yang panjang, dan cakarnya, berusaha mengintimidasi pemuda tersebut.
Pemuda itu tampak tak peduli dengan para binatang buas yang mendekatinya, dan terus berusaha membangunkan si gajah raksasa hingga akhirnya dia pun bangun dan memasang ekspresi sama terkejutnya dengan pemuda itu.
"Apa-apaan?! Dimana aku ini?!"
Gajah itu segera bangkit berdiri dan melihat sekitarnya. Pemuda yang ada di atasnya pun bergerak turun dari tubuhnya, dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Hei kau, gajah bau! Kau mengingatku, bukan? Ini aku, Ying Luan, yang ada di arena," ucap pemuda itu pada gajah tersebut.
Tampak gajah itu tidak senang dipanggil dengan kata 'bau' oleh pemuda itu tapi di saat yang sama dia ingin membuang jauh terlebih dahulu urusan yang tidak penting menurut nya.
"Aku tidak tau namamu, tapi kau kalau tidak salah teman dari gadis Phoenix itu kan?" tanya gajah itu dengan suara dalamnya.
"Gadis Phoenix...? Ah, maksud mu Mei? Ya, benar itu aku! Kau mengingatku ternyata. Kalau begitu kita ada dimana sekarang ini? Apa kau tau?"
__ADS_1
"Aku....juga tidak tau. Cahaya terang sebelumnya benar-benar membuat kepala ku pusing setengah mati, dan tau-tau sudah ada di tengah hutan seperti ini," jawab gajah itu dengan jujur.
Sosok pemuda yang tidak lain adalah Weng Ying Luan itu mengerutkan dahi nya, dan menghela napas panjang.
Dia pun mengalihkan pandangannya pada 0ara binatang buas yang telah mengepung mereka berdua.
"Hm...mungkin mereka tau kita ada dimana sekarang. Kau tunggu di sini, dan jangan kemana-mana, mengerti?"
Gajah itu hanya diam menatap para binatang buas yang ada di sekitar mereka dan tersenyum dalam hatinya.
"Hmp, anak sombong. Kau akan mati sebelum menyadari bahwa mereka semua memiliki kekuatan yang hampir menyamai ku."
Weng Ying Luan pun melangkah maju, dan mengangkat kera bajunya lalu memasang senyum tipisnya pada harimau besar yang ada di hadapannya.
"Nah, kalian ingin memberitahu aku dimana sekarang, atau menunggu aku menghajar kalian terlebih dahulu?"
***
Arena Pertandingan, beberapa dua jam setelah Weng Lou dan yang lainnya menghilang dari arena.
Terjadi kegemparan, dan banyak Praktisi Beladiri yang merupakan bawahan dari Zu Zhang diperintahkan untuk menyisir sekitar mereka, dan mencari keberadaan Weng Lou, Weng Ying Luan, Lin Mei, Ying She, serta ketiga binatang buas milik Zu Zhang kecuali si ular raksasa yang sudah mati karena menderita luka besar di perut nya.
Di ruangan kerja milik Zu Zhang, terlihat sosok Zu Zhang, Yi Chen, Hao Lang dan Feng Lang sedang berdiri dan berhadapan dengan pria tua yang sangat tidak asing dan akan dikenali oleh Weng Lou dan teman-temannya jika mereka melihatnya.
Pria tua ini tidak lain adalah si pemilik penginapan tempat Weng Lou dan kelompoknya menginap selama 3 minggu ini atau yang lebih dikenal oleh dunia luar sebagai Si Tanpa Belas Kasihan, Meiyou Lianmin.
Terlihat hawa mencekam yang dikeluarkan oleh Zu Zhang saat melihat sosoknya dan kekuatan jiwanya mulai meluap-luap di dalam tubuhnya.
Dia tidak menyembunyikan sedikit napsu membunuhnya kepada sosok Lianmin di depannya.
"Pak tua, mengaku saja, kau yang mencuri semua hadiah turnamen, bukan?! Dan juga, pasti kau yang membuat anak-anak itu menghilang!" Mengaku saja!" Zu Zhang menunjuk Lianmin yang hanya tersenyum mengejek padanya.
"Buat apa juga aku mencuri mainan-mainan seperti itu? Aku jauh lebih tertarik dengan para murid Yi Chen dibandingkan dengan hadiah yang kau maksud itu," balas Lianmin sambil mengangkat kedua bahunya.
Dia dengan santai berjalan dan kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di dalam ruangan milik Zu Zhang.
"Hei, apa aku setidak tau malu itu sampai mengambil murid orang lain?"
Yi Chen pun diam. Dia tidak tau apakah Lianmin di hadapannya ini sedang berbohong atau tidak karena dia tidak bisa membaca getaran pada kekuatan jiwa miliknya.
"Senior, anda tau kejadian ini sangatlah mendesak, dan tidak ada waktu bagi kami untuk tetap diam di sini menunggu jawaban dari anda. Jadi jika anda tau sesuatu, tolong beritahu kami." Hao Lang pun membuka suaranya.
Lianmin pun menoleh ke arahnya dan tersenyum kecil.
"Bukan aku yang mencuri hadiah turnamen, aku juga tidak terlibat apapun dalam menghilangkannya murid-murid dari Sekte Langit Utara," ucapnya cepat.
"Pembohong, aku tidak percaya kau tidak melakukan apapun!" Zu Zhang mencibir.
"Kau bisa tidak percaya dengan apa yang aku katakan, tapi itulah yang sebenarnya. Bahkan jika kau mencari sampai bagian terdalam jiwaku sekalipun kau tidak akan menemukan sesuatu yang berhubungan dengan apa yang terjadi hari ini."
Zu Zhang pun mengkertakan giginya. Semua yang terjadi hari ini begitu cepat, dan dia bahkan tidak bisa mencernanya sampai sekarang ini.
Beberapa waktu setelah Weng Lou dan teman-temannya menghilang dari arena, dia diberitahu bahwa semua hadiah turnamen yang sudah disimpan dengan baik di sebuah ruangan di bawah lapangan arena, lenyap begitu saja dari tempatnya.
Karena hal ini, Zu Zhang pun merasakan sakit kepala yang begitu buruk. Tidak hanya para peserta, sekarang malah hadiah yang bernilai ratusan ribu koin emas pun ikut menghilang. dia tidak tau harus berbuat apa lagi.
Selama dua jam yang lalu, dia bersama Yi Chen, Hao Lang dan Feng Lang telah menyisir lebih dari setengah Wilayah Tengah Pulau Pasir Hitam, namun tidak ada satupun tanda keberadaan Weng Lou dan yang lainnya sedikitpun.
Mereka semua pun kembali ke bangunan Arena Pertandingan, dan saat itulah mereka baru menyadari bahwa Lianmin telah berada di arena selama ini tanpa satupun dari mereka berempat menyadari kehadirannya.
Dan karena itu, mereka hanya bisa mencoba peruntungan mereka, dan bertanya pada Lianmin. Tapi sayangnya tidak ada yang mereka dapatkan.
"Hah....entah apa yang harus aku katakan pada ayah Weng Lou. Tidak mungkin aku pulang ke rumah dan memberitahu bahwa anak satu-satunya yang telah dititipkan padaku hilang begitu saja di depan mataku." Yi Chen mengusap wajahnya yang berkeringat.
Di sisi lain, Zu Zhang dan Hao Lang serta Feng Lang saling berpandangan satu sama lain. Mereka tidak tau bahwa Weng Lou memiliki status yang sangat tinggi seperti itu hingga Yi Chen sendiri yang akan memberitahu peristiwa ini pada orang tua Weng Lou.
"Memangnya siapa anak itu? Aku tau kalau dia berasal dari keluarga Weng, tapi mustahil kau sampai harus turun tangan sendiri karena anak itu," tanya Hao Lang pada Yi Chen.
"Hahahaha.....anak itu adalah keturunan langsung dari Kepala Keluarga Keluarga Weng saat ini. Weng Lou adalah cucunya."
__ADS_1
Bukan Yi Chen yang menjawab pertanyaan Hao Lang, melainkan Lianmin, dan itu membuat Yi Chen menjadi waspada padanya karena informasi ini sama sekali tidak pernah dia katakan kepada orang lain selain kepada Tetua Besar Ziao.
Kecurigaannya yang sebelumnya menghilang dari Lianmin pun muncul kembali.
"Tidak perlu pintar untuk mengetahui itu, Yi Chen. Anak itu memiliki sesuatu yang dimiliki oleh setiap keturunan langsung dari Keluarga Weng, kau pasti paham maksud ku."
"Ck, ya dia adalah keturunan dari orang itu. Weng Lou adalah salah satu pewaris Kepala Keluarga Keluarga Weng, dan kekuatan garis darah keturunan miliknya sudah terbangun.
Jika....jika orang itu tau cucunya menghilang dari pengawasan ku, aku pasti langsung dibunuhnya, saat itu juga."
Raut wajah Zu Zhang, Hao Lang dan Feng Lang pun berubah menjadi serius dan mulai berkeringat dingin.
Mereka bertiga ikut terlibat dalam hal ini, itu berarti mereka juga harus ikut menyelesaikan masalah ini atau jika tidak mereka akan mati dibunuh oleh Kepala Keluarga Keluarga Weng saat ini.
"Tidak perlu takut seperti itu, aku satu-satunya dari kalian yang tau seberapa kuat anak itu. Bahkan dengan sepuluh orang berada di ranah Penyatuan Jiwa mengeroyoknya, dia akan keluar sebagai pemenang," kata Lianmin dengan santai.
"Dari pada itu, lebih baik kita membahas tentang peserta bernama Ying She itu. Kenapa dia bisa ada di Pulau Pasir Hitam?"
Suasana pun mendadak menjadi serius begitu Lianmin membahas tentang Ying She. Untuk sejenak, Yi Chen diam dan mengangguk setuju mendengar ucapan Lianmin, begitu juga dengan Zu Zhang, Hao Lang dan Feng Lang.
***
Pulau Fanrong, dibalik air terjun yang merupakan tempat milik Du Zhe.
Terlihat sosok Weng Lou berbaring di atas tempat tidur milik Du Zhe dan hanya bisa diam di tempatnya karena kondisi tubuhnya yang masih memiliki Mana di dalamnya.
Weng Lou berkedip menatap sosok Du Zhe yang sibuk mengelap tubuh Weng Lou yang telah bertelanjang dada. Dia melihat tubuh anak itu yang terdapat beberapa memar pada dirinya dan menghela napasnya.
"Hei, siapa namamu?" tanya Weng Lou pada Du Zhe.
"Hm? Namaku Du Zhe, aku berumur delapan tahun." Du Zhe menjawab cepat.
"Aku tidak bertanya umurnya, kenapa dia malah memberitahuku?" pikir Weng Lou.
" Du Zhe, kau tidak perlu merawat ku seperti ini. Lebih baik kau beristirahat, kondisi tubuhmu itu jauh lebih memprihatinkan dibandingkan dengan ku," ucap Weng Lou padanya.
Du Zhe tidak berhenti sama sekali meski sudah mendengar kan perkataan Weng Lou, dia terus mengelap tubuh Weng Lou dengan kain basah di tangannya.
Weng Lou pun tak membicarakan lebih jauh hal tersebut dan memilih memejamkan kedua matanya.
Dia memasukkan Qi nya pada salah satu Cincin Penyimpanan miliknya dan mencari pil khusus yang dia buat untuk mengatasi kondisinya seperti saat ini.
Selang beberapa saat mencari, perhatian Weng Lou pun mendadak terhenti pada setumpuk barang yang ada di dalam Cincin Penyimpanan nya tersebut. Eskpresi nya seperti baru saja melihat hantu, dan berkedip beberapa kali
"Guru, Ye Lao, kenapa ada benda-benda ini di dalam cincin penyimpanan ku?" Weng Lou bertanya pada Ye Lao dan Qian Yu.
Mendadak, Qian Yu pun tertawa lepas dan membuat Weng Lou kebingungan.
"Kau beruntung, muridku. Sihir teleportasi itu memakai terlalu banyak Mana, sehingga aku bisa ikut membawa benda yang ada dalam radius sihir teleportasi. Benda-benda itu aku temukan tepat berada beberapa meter di bawah lapangan arena, dan aku pun membawanya tepat ketika sihir teleportasi diaktifkan," jelas Qian Yu.
Benda yang sedang Weng Lou lihat saat ini adalah empat buah hadiah utama dari Turnamen Beladiri Bebas yang dia ikuti. Tentu saja, salah satunya adalah hadiah dari pemenang turnamen tersebut yang merupakan salah satu bahan pembuatan Senjata Langit.
Weng Lou tidak bisa menahan dirinya dan tertawa dalam hatinya, ini benar-benar keberuntungan. Dia berhasil mendapatkan semua hadiah ini berkat sihir teleportasi yang digunakan oleh Qian Yu.
Setelah beberapa saat kemudian, dia pun melanjutkan pencariannya di dalam cincin penyimpanan. Tapi sekali lagi ekspresi nya berubah saat melihat dua benda yang tidak asing dimatanya.
Dia tersenyum menatap dua benda itu.
"Hahaha.....pemilik penginapan itu, aku bahkan tidak menyadari dia menaruh dua benda ini ke dalam cincin penyimpanan ku."
Dua benda yang dimaksud oleh Weng Lou adalah Pasir Jiwa Kehidupan dan Giok Emas Langit milik pak tua pemilik penginapan, Meiyou Lianmin.
Diantara dua benda itu terdapat sebuah kertas yang merupakan pesan singkat dari Lianmin.
'Semoga beruntung nak, anggap ini hadiah dariku karena sudah menghibur ku selama beberapa waktu ini.'
Catatan Penulis:
Mulai besok saya akan mengikuti simulasi Asesmen Nasional. Jadi update saya akan rubah dari 1k kata perchapter dan 2.chapter tiap hari, menjadi 2k perchapter dan hanya 1 saja perhari. Ini juga karena kalau buat 2 chap sehari kadang saya malah ketiduran malamnya. Jadi mohon dimengerti.
__ADS_1