
Beberapa hari kemudian, tepatnya sepuluh hari setelah utusan Kaisar sampai di Pulau Fanrong.
Kota Rengu, bengkel milik ayah Choi.
Weng Lou mengelap keringatnya dan tersenyum puas menatap sebuah kapal sepanjang tujuh puluh meter di hadapannya. Kapal dengan bahan utama dari logam ini telah sepenuhnya jadi, dan tinggal di ujicoba saja.
Setelah dua minggu proses pembuatan tanpa henti, Weng Lou dengan bantuan Ayah Choi membangun kapal ini sementara Choi membantu merancang mesin uap yang berukuran jauh lebih besar dari yang sebelumnya untuk dipasangkan pada kapal.
Hasilnya, kapal uap pertama di dunia pun jadi, meski Weng Lou sebenarnya memiliki perasaan ragu apakah kapal ini berfungsi dengan baik.
"Bagaimana jika kita mengujinya?" Sosok Kera Hitam Petarung berdiri dengan tatapan kagum saat menatap kapal tersebut.
Karena proses pembuatan kapal yang menggunakan bahan material berupa logam yang berukuran besar dan berat, Weng Lou membawa Kera Hitam Petarung untuk membantunya dalam pembuatan kapal ini. Tentu pada awalnya Choi dan ayahnya hampir mati di tempat ketika sosok besar Kera Hitam Petarung itu muncul di depan mereka.
Namun seiiring waktu, kehadirannya mulai dianggap biasa oleh keduanya.
Selama dua minggu pembuatan kapal, Weng Lou tidak kembali ke Perguruan Iblis Merah kecuali saat membawa Kera Hitam Petarung dan Du Zhe bersamanya. Dia tidak berani meninggalkan Du Zhe seorang diri, sementara dia sibuk melakukan sesuatu di tempat lain.
"Ini merupakan kapal impian semua orang pelaut. Aku berani bertaruh, bahkan ini merupakan kapal terbaik yang pernah ada di dunia," ucap Ayah Choi dengan penuh kekaguman.
Meski kapal ini merupakan hasil kerja kerasnya juga, tapi dia harus mengakui, jika tanpa Weng Lou dan Kera Hitam Petarung, mustahil dia bahkan bisa membuat kerangka kapal ini. Oleh sebab itu dia semakin menaruh rasa hormat pada Weng Lou, terutama begitu tau dia adalah penempa yang sangat hebat.
Lempengan logam yang dipakai untuk bagian badan kapal merupakan hasil tempaan Weng Lou seorang diri. Dengan dua palu di tangannya, dia menciptakan puluhan logam berkualitas tinggi.
Choi yang berada ruangan mesin kapal sibuk memberikan sentuhan terakhir pada kapal itu, dan *Shoa.....*
Baling-baling pada bawah kapal mendadak bergerak dan berputar dengan cepat layaknya sebuah kincir angin yang tertiup angin kencang. Weng Lou tersenyum puas melihatnya, mesin kapal sudah jadi dan bekerja dengan baik juga.
"Pasangkan katrol! Kita akan menurunkannya ke air!" Weng Lou berseru dan memberi tanda pada Kera Hitam Petarung.
Kera itu mengangguk mengerti. Dia mengambil rantai berukuran besar yang digulung di dinding bengkel. Rantai itu dipasangkan di kedua ujung kapal tersebut lalu kemudian di masukkan di sebuah rangkaian katrol raksasa yang ada di langit-langit bengkel.
Weng Lou kemudian menyuruh semuanya naik ke atas kapal. Ketika semuanya sudah naik, dia bersama Kera Hitam Petarung membuka lantai bawah tempat kapal buatan mereka itu berada. Setelah terbuka, dia dan Kera Hitam Petarung pun mulai mengukur secara perlahan rantai yang sudah dipasangkan pada rangkaian katrol dan terhubung pada kapal.
Kapal itu perlahan di turunkan dan setelah beberapa saat mencapai permukaan air laut.
*Splaasshhh....* Kapal itu terguncang selama beberapa detik sebelum kemudian mengapung dengan baik di atas air.
*Whush.....plashhh!!!* Sosok Weng Lou dan Kera Hitam Petarung melompat bebas dari bengkel dan meluncur ke air. Cipratan air pun tercipta saat keduanya masuk ke dalam air, terutama cipratan air yang sangat besar yang ditimbulkan oleh besarnya tubuh Kera Hitam Petarung.
"Hwuaa....." Kepala Weng Lou muncul di permukaan air, dan dia pun mulai berenang ke arah kapal.
"Ambil ini, Guru!" Du Zhe yang juga ikut naik ke atas kapal sebelumnya, melemparkan seutas tali kepada Weng Lou yang segera ditangkap olehnya.
Dengan mudah Weng Lou memanjat naik ke atas kapal, sementara itu Kera Hitam Petarung menggenggam pinggir kapal dan langsung melompat naik ke atas tanpa banyak usaha.
Kapal itu sedikit bergoyang ketika Kera Hitam Petarung naik ke atasnya, tapi segera kembali stabil tak berapa lama.
"Oke, nyalakan mesinnya! Kita akan mencoba memutari Kota Rengu sebagai ujicoba!" Weng Lou berseru sambil berjalan ke arah kemudi kapal.
Choi yang ada di dalam segera melakukan seperti yang dikatakan oleh Weng Lou, dia menyalakan mesinnya dan kemudian memasukkan batu bara ke dalam tungku.
__ADS_1
Asap mengepul dari cerobong asap kapal, dan baling-baling kapal mulai berputar seperti sebelumnya. Kapal pun mulai bergerak, dan dengan kendali Weng Lou, kapal itu bergerak keluar dari bagian bawah Kota Rengu.
Begitu mereka keluar, orang-orang yang ada di kota menatap mereka dengan mata terkejut sekaligus kagum di saat yang sama.
Sebuah kapal tanpa layar bergerak dengan cepat dan mengelilingi Kota Rengu yang memiliki keliling mencapai tiga kilometer, siapa yang tidak akan terkejut dengan itu? Bahkan beberapa tukang kayu yang sedang sibuk membuat kapal sampai tercengang bukan main menyaksikan kapal uap yang telah dibuat oleh kelompok Weng Lou itu.
"Ah....aku merasa bahwa aku bisa mati dengan tenang sekarang," ucap Ayah Choi yang air matanya mulai mengalir keluar saat menyaksikan kapal yang dinaikinya itu benar-benar bisa berlayar tanpa layar.
Kecepatan kapal uap ini jika dibandingkan dengan kapal tercepat yang ada di Kota Rengu, mungkin akan menjadi lelucon terlucu yang pernah ada. Kapal uap ini memiliki kecepatan yang jauh lebih cepat dari kapal manapun yang pernah dilihatnya dan ini bukanlah kecepatan tercepatnya.
Dengan perintah dari Weng Lou, Du Zhe pergi membantu Chou untuk memasukkan lebih banyak batu bara ke dalam tungku dan kecepatan kapal itu pun bertambah.
"Kapal ini tidak memerlukan banyak awak, dan perawatannya cukup mudah. Satu-satunya yang menjadi masalah hanyalah kapal ini memerlukan bahan bakar terus menerus untuk menggerakkan mesin. Minimal dibutuhkan seorang Praktisi Beladiri tingkat tinggi yang memiliki stamina yang cukup untuk membantu menjalankan kapal," ucap Weng Lou yang memutar kemudi kapal saat berbelok masuk melewati jembatan penghubung Pulau Gui dengan Kota Rengu.
Tanpa sepengetahuan Weng Lou, beberapa sosok sedang bersembunyi di dekat jembatan dan mengamati dia dengan sedikit risih.
Mereka semua adalah para pemimpin organisasi besar di Pulau Gui dan kini menjadi bawahan Weng Lou karena telah dikalahkan dengan telak olehnya sebelumnya. Mereka tidak pernah meninggalkan Weng Lou dan terus mengamat-amati dirinya sepanjang waktu kecuali ketika berada di Perguruan Iblis Merah.
"Dia benar-benar monster! Bahkan dia mampu membuat sebuah kapal tanpa layar yang bisa bergerak dengan sangat cepat!" Salah satu dari mereka berbicara dengan nada sedikit kagum sekaligus tercengang.
"Tidak hanya itu, dia ternyata juga seorang penempa yang sangat ahli! Aku bertaruh dia merupakan seorang Grandmaster yang mampu membuat Senjata Spiritual!" Orang yang lain berbicara dan mendecakkan lidahnya.
Mereka telah mengamati semua proses Weng Lou dalam membuat kapal uap itu, dan harus mereka akui, kemampuan Weng Lou telah jauh melampaui bayangan mereka selama ini.
Dia adalah Praktisi Beladiri yang sangat kuat di usia yang sangat muda, kejeniusannya tidak perlu lagi diragukan. Dirinya ternyata juga merupakan seorang penempa yang bahkan mampu menciptakan sebuah kapal yang tidak pernah ada sebelumnya. Mereka semua hanya bisa meratap dan tidak bisa memikirkan mengenai pembalasan kepada Weng Lou.
"Tapi....kenapa dia membuat kapal? Apakah dia berencana untuk pergi ke suatu tempat?" tanya salah satu dari mereka.
"Jika itu benar, maka....."
"Kita tidak perlu mengkhawatirkan tentang dirinya lagi!" seru seorang pria berkumis lebat diantara balik semak-semak.
Seruan itu membuat setitik harapan di hati mereka langsung menjadi sebuah lampu terang yang menerangi kegelapan dan senyuman muncul di wajah mereka semua yang ada di situ.
Namun, senyuman mereka segera memudar saat sebuah suara berbicara dan membuat mereka tampak murung kembali.
"Tunggu dulu, bagaimana jika dia hanya berniat untuk pergi ke pulau lainnya? Dia sudah sebulan lebih di Pulau Gui, akan tidak mengherankan jika dia sudah bosan di sini dan berniat ke pulau lainnya di Kepulauan Huwa untuk menjelajah seperti yang dia lakukan di Pulau Fanrong dan Pulau Gui kita," ujar sosok pria tua ringkih yang berdiri tegak di dekat tebing dan menatap sosok Weng Lou di atas kapal.
Helaan napas bisa terdengar darinya, dan dia segera berbalik untuk pergi. Karena ucapan dari pria tua itu, semua orang yang sedang bersembunyi di situ ikut merasa frustasi dan harapan mereka yang sebelumnya kini kembali sirna.
"Cih, lebih baik aku mengurus organisasi ku daripada membuang-buang waktu di sini. Paling tidak, monster berwujud anak kecil itu menepati kata-katanya dengan tidak mengatur organisasi kita," ucap pria bertopeng berwarna merah darah.
Dia melesat pergi dan tak lama satu persatu orang yang ada di situ pun pergi, terkecuali seorang pria tua yang tidak lain adalah Hong Mugui. Berbeda dengan organisasi-organisasi besar yang lain di Pulau Gui, Perguruan Iblis Merah telah mengalami penurunan yang cukup serius karena terbunuhnya banyak Praktisi Beladiri tingkat tinggi yang menjadi kekuatan tempur utama mereka saat serangan yang diberikan olehnya sebagai balasan atas aksi Tetua Kedua dan para anggota Perguruan Iblis Merah yang berada di bawah komandonya.
Saat ini, perguruannya sedang dalam masa pemulihan dan dia memanfaatkan kehadiran Weng Lou untuk diam-diam memperkuat para anggotanya dengan cara memeras organisasi lainnya menggunakan nama Weng Lou.
Namun hal ini belum lama dilakukannya sehingga perkembangan yang terjadi hampir tidak terasa sama sekali. Dia memerlukan waktu lebih banyak untuk benar-benar mendapatkan keuntungan yang layak sebelum Weng Lou pergi!
"Sial! Sial! Aku seharusnya memeras mereka lebih banyak lagi jika tau dia akan segera pergi!" kutuk Hong Mugui dengan jengkel.
Tak lama kemudian senyum jahat merekah di wajahnya dan dia mulai tertawa dengan menyeramkan, "Hehehehe.......jika dia memang akan segera pergi, maka biarlah dia pergi. Aku akan memanfaatkan waktu-waktu ini untuk menjarah para bajingan itu dan mengembangkan para anggota ku sebelum dia pergi!"
__ADS_1
Seperti kesetanan, Mugui pun pergi dari situ, tapi bukan menuju ke Perguruan Iblis Merah nya, melainkan ke organisasi lain yang lebih kecil dari perguruannya dengan maksud dan tujuan yang sudah jelas.
Dia tidak akan lagi secara sembunyi-sembunyi melakukan pemerasan seperti beberapa hari belakangan.
***
Di bawah bengkel ayah Choi, kapal uap ciptaan Weng Lou berhenti bergerak dan kembali dipasangi rantai oleh Kera Hitam Petarung yang dengan gesit memanjat tiang penyangga yang terhubung tepat di bawah kediaman keluarga Choi.
Setelah dipasang rantai, Weng Lou bersama Kera Hitam Petarung pun mulai menarik rantai yang telah dipasang ke dalam rangkai katrol raksasa. Dengan mudahnya kapal seberat lebih dari sepuluh ton itu diangkat naik ke atas bengkel.
Begitu kapal sukses diangkat, Weng Lou pun menutup kembali lantai bengkel itu dan meletakkan kapal uapnya dengan perlahan.
*Krekkk......*
"Fyiuh......harus kuakui, ini termasuk latihan yang yang cocok untuk tubuhku. Tapi mustahil untuk mengangkat kapal hanya untuk sekedar latihan belaka," ujar Weng Lou yang menghela napasnya saat kapal telah ditempatkan kembali di bengkel.
"Tadi itu benar-benar luar biasa Guru!" Du Zhe yang baru saja melompat turun dari kapal berseru gembira pada Weng Lou. Sepertinya dia benar-benar menikmati ujicoba kapal tersebut.
"Baguslah kalau begitu, untung kau tidak merasa risih atau mual sama sekali," ucap Weng Lou sambil tersenyum kecil.
Weng Lou kemudian menoleh ke arah Kera Hitam Petarung yang ada di situ dan berbicara kepadanya, "Aku ingin kau menemani Du Zhe kembali ke Perguruan Iblis Merah, aku akan menyusul kalian nanti."
Perkataan Weng Lou itu membuat Kera Hitam Petarung sedikit bingung, namun tak lama dia seperti menyadari sesuatu dan dia pun segera mengajak Du Zhe pergi lewat sebuah pintu yang menuju bagian bawah Kota. Du Zhe sedikit protes tapi setelah melihat wajah serius Weng Lou, dia pun segera pergi mengikuti Kera Hitam Petarung.
Dengan bergelantungan, Kera Hitam Petarung pun pergi sambil membawa Du Zhe bersamanya.
Di sisi lain, Weng Lou yang masih ada di situ segera berpamitan kepada Choi dan ayahnya, lalu melesat pergi keluar dari Kota Rengu lalu memasuki hutan. Setelah berlari selama beberapa saat, Weng Lou pun berhenti di sebuah tanah lapang dimana terlihat seorang wanita muda sedang berdiri dengan tenang yang sepertinya memang menunggu kehadirannya.
Mata Weng Lou menyipit melihat wanita itu dan ekspresi wajahnya cukup serius saat berjalan mendekat ke arahnya.
"Apa kau utusan dari Kekaisaran Ryuan?" tanya Weng Lou dengan suara serius.
Wanita itu berkedip saat mendengar kata-kata Weng Lou, sepertinya Weng Lou memang benar adalah orang yang dia cari.
"Sepertinya kau terlihat jauh lebih muda dari usia aslimu? Bisakah aku tau siapa kau sebenarnya?" tanya wanita tersebut.
Dia adalah utusan Kaisar. Setelah terdampar di Pulau Fanrong, dia mulai mengumpulkan segala macam informasi mengenai sosok yang dia cari itu sampai kemudian dia berkahir di tempat ini.
Dirinya telah mendengar segala macam cerita mengenai Weng Lou. Mulai dari sosok pahlawan yang telah membebaskan Pulau Fanrong dari masa-masa kelamnya, hingga cerita mengenai seekor monster yang haus darah dan menyerupai anak kecil yang telah membunuh tanpa ampun anggota-anggota Perguruan Iblis Merah dan mengendalikan semua organisasi para Praktisi Beladiri di Kepulauan Huwa dengan kebengisannya.
Wanita itu tidak habis pikir saat mendengarkan cerita-cerita itu, tapi setelah melihat sosok Weng Lou yang hanya seorang anak remaja namun memiliki pancaran kekuatan mengerikan dari tubuhnya, dia hanya bisa menyimpulkan bahwa Weng Lou adalah seorang Praktisi Beladiri yang telah merubah penampilannya menjadi muda sementara umurnya yang sebenarnya telah sangat tua.
"Siapa aku? Bukannya kau sudah tau siapa aku?" tanya Weng Lou sambil tersenyum tipis.
"Hm? Memangnya siapa kau?" Wanita itu bertanya kembali dengan kerutan pada dahinya.
"Ckckck....aku adalah penguasa Kepulauan Huwa tempat mu berdiri saat ini!" seru Weng Lou tanpa menurunkan kesiagaannya sama sekali.
Wanita itu terdiam dan kemudian menghela napasnya dan berbicara serius pada Weng Lou, "Aku tidak akan berbicara panjang lebar padamu, ikut aku ke Kekaisaran Ryuan dan menghadap sang Kaisar, atau aku akan membunuhmu."
Ancaman dari wanita itu membuat Weng Lou ingin tertawa dan segera menyerang wanita di depannya ini, tapi dia menahan dirinya.
__ADS_1
"Kau tau, bukan begitu cara bersikap pada seorang penguasa di wilayah kekuasaannya."