Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 576. Menuju Samudera (V)


__ADS_3

Weng Lou menatap lautan lahar panas di bawahnya selama beberapa saat.


Udara panas bertiup dan menerpa tubuhnya. Setelah menatap selama hampir satu menit penuh, Weng Lou membuka tangan kanannya dan melihat cincin yang dia dapatkan dari pertarungannya.


Cincin ini sudah membuat dirinya harus mengeluarkan harga yang cukup besar, jika isinya tidak bisa mengembalikan harga yang dia keluarkan, dia bersumpah akan menghabisi semua Keluarga Ryuan yang masih tersisa.


"Haaa....baiklah, mari kita lihat isi di dalamnya."


Kekuatan Jiwa nya mengalir ke dalam cincin itu. Selama beberapa saat, tidak ada yang terjadi, dahi Weng Lou mengerut karena dia tidak bisa melihat isi di dalamnya.


Sepuluh menit berusaha, dia masih tidak bisa melihat isinya, seakan cincin di tangannya ini adalah sebuah cincin biasa yang tidak memiliki sesuatu yang spesial.


"Tidak....itu tidak mungkin....bukan?"


Weng Lou hendak mengumpat kesal saat kemudian sosok Samsara yang masih memakai wujud Chizi Ryuan muncul di depannya dan mengamati cincin itu dengan seksama. Dia mendekatkan wajahnya dan menatap lebih teliti cincin itu selama beberapa menit.


"Menemukan sesuatu?" tanya Weng Lou padanya.


Jika Roh Senjata seperti dirinya sampai merasa tertarik dengan cincin di tangannya ini, mungkin ada sesuatu yang dia lewatkan tanpa menyadarinya sama sekali.


Beberapa menit kemudian berlalu, Samsara masih diam memperhatikan. Akhirnya, ketika Weng Lou hendak menghentikan usahanya, beberapa perubahan terjadi pada cincin itu.


Ekspresi terkejut terlihat di wajah Weng Lou. Sedikit Kekuatan Jiwa milik Chizi Ryuan dikeluarkan dari pedang kembarnya dan cincin itu pun meresponnya. Samsara dengan tenang menjentikkan jarinya, lalu Kekuatan Jiwa yang ada pada cincin itu segera terserap oleh pedang kembarnya hingga tak tersisa sedikitpun.


Akhirnya, cincin tersebut benar-benar tampak menjadi seperti cincin biasa tanpa terlihat sesuatu yang spesial padanya.


"Itu teknik penyegelan, Kekuatan Jiwa yang ditempatkan di dalam cincin bertujuan mencegah pencuri memeriksa dan mengambil isinya. Ketika Kekuatan Jiwa itu menghilang, cincin itu kembali memiliki fungsinya sebagai cincin penyimpanan," jelas Samsara dengan tenang yang segera kembali menghilang.


Weng Lou mengangguk mengerti, dia pun kembali memasukkan Kekuatan Jiwa nya dan memeriksa isi cincin itu. Senyuman lebar menghiasi wajahnya ketika melihat isi cincin itu. Tidak dia sangka Chizi Ryuan memiliki kekayaan yang sangat jauh melampauinya.


Kemungkinan cincin ini sebenarnya difungsikan untuk diberikan pada penerus sang Kaisar. Seluruh harta di dalamnya pasti untuk menunjang Kaisar selanjutnya agar bisa naik tingkat secepat mungkin dan menjaga Kekaisaran Ryuan. Cukup masuk akal untuk orang sepintar Chizi Ryuan membuat hal seperti ini. Dia pasti menyadari bahwa dia memiliki terlalu banyak musuh, dan telah menyiapkan sesuatu untuk berjaga-jaga jika seandainya dia mati.


"Tapi sayang sekali, Chizi Ryuan. Sekarang seluruh harta mu ini akan menjadi milikku, dan tidak ada satupun penerus mu yang akan menerima sedikitpun isinya .Anggap saja ini bayaran karena telah menelan banyak bawahan mu selama masih hidup," kata Weng Lou yang tampak tidak merasa bersalah sedikitpun.


Ketika dia sudah puas mengecek isi cincin itu, dia pun segera terbang pergi, keluar dari lubang besar yang berisikan lahar panas.


"Aku tidak sabar ingin memberikan beberapa sumber daya ini pada Du Zhe."


***


Di istana, seluruh bangunan kini telah runtuh dan hancur lebur oleh pertarungan yang terjadi antara Kera Hitam Petarung dan para prajurit kerajaan.


Tidak disangka, para prajurit ini memiliki kekuatan dan kerjasama yang cukup baik untuk menghadapi Kera Hitam Petarung selama beberapa waktu. Namun jelas mereka tidak bisa bertahan lama. Ketika mereka semua sudah terlihat lelah dan kehabisan napas, Kera Hitam Petarung masih berdiri dengan kokoh dan tidak terlihat lelah sedikitpun.


Kera Hitam Petarung mengangkat tinjunya, dan bersiap melepaskan nya ke arah para prajurit itu, akan tetapi gerakannya terhenti di udara ketika dia merasakan kedatangan seseorang yang tidak asing baginya.


"Akhirnya dia datang juga, huh! Memintaku melakukan pekerjaan melelahkan seperti ini, dia harus memberiku bayaran yang setimpal," ucap Kera Hitam Petarung sambil menoleh ke satu arah dimana sosok Weng Lou terbang menggunakan sebuah pedang di bawah kakinya.

__ADS_1


Di atas langit yang jingga, sosok Weng Lou perlahan mendekat dan turun ke samping Kera Hitam Petarung.


Melihat kedatangan sosoknya, para prajurit yang ada di bawah mulai saling berbisik dan menatap satu sama lain. Jika Weng Lou ada di sini dan para Jenderal yang lain tidak bersamanya, maka hanya ada satu hal. Weng Lou telah membunuh mereka.


"Hoo...jadi kalian benar-benar telah diperintahkan oleh para Jenderal bau tanah itu sebelumnya? Aku pikir dia hanya menggertak saja," ucap Weng Lou sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap satu persatu para prajurit itu.


Tidak ada tatapan permusuhan atau pun amarah darinya. Melihat kondisi Du Zhe dan awak kapalnya yang tidak terluka sedikitpun membuat suasana hati Weng Lou menjadi semakin baik setelah mendapatkan banyak harta karun.


"Satu, dua, tiga.....lebih dari seribu, huh? Lumayan sedikit juga. Kalau begitu aku akan membebaskan kalian hari ini, kalian harus bersyukur karena suasana hatiku sedang sangat baik sekarang!"


Senyum Weng Lou tampak lebar, dia pun menatap ke arah Kera Hitam Petarung dan mengajaknya untuk pergi dari situ bersama dengan Du Zhe serta awak kapalnya yang ada di pundaknya.


Para prajurit hanya bisa diam melihat kepergian kelompok Weng Lou itu. Mereka tidak memiliki niat untuk mengejar ataupun melakukan pembalasan pada mereka. Hanya ada satu hal dipikirkan mereka saat ini, siapa yang akan memimpin mereka mulai sekarang?


Kaisar telah mati, bawahan nomor satunya juga ikut dibunuh oleh Weng Lou, lalu para Jenderal yang berada tepat dibawah perintah kaisar sekarang ikut menjadi korban keganasan pemuda itu. Jika ada yang ingin mereka lakukan, maka melarikan diri adalah jawabannya.


Mereka harus segera pergi dari istana jika tidak mau berhadapan dengan kelompok pemberontak yang tidak lama lagi akan datang untuk menggulingkan kekaisaran.


***


Malam hari, di pinggir pantai tersembunyi.


Suasana bahagia terlihat dari para awak kapal Weng Lou yang saat ini sedang berpesta di pinggir pantai. Mereka membakar berbagai jenis ikan dan daging, serta membuat beberapa makanan lainnya untuk diberikan pada Weng Lou dan juga Kera Hitam Petarung yang memilih duduk agak jauh.


Saat ini, Weng Lou duduk santai di atas pasir sambil disampingnya Du Zhe dengan antusias menanyakan berbagai macam hal mengenai beladiri.


"Pertama-tama....cobalah bermeditasi, dan rasakan Tenaga Dalam mu sendiri yang ada di dalam tubuhmu." Weng Lou memberikan arahan pada Du Zhe.


Du Zhe mengangguk dan mulai melakukan seperti yang Weng Lou perintahkan. Dia melakukan meditasi, dan mencoba merasakan Tenaga Dalam nya yang sudah turkumpul penuh di dalam Dantiannya. Wajahnya terlihat sangat serius sebelum kemudian berbicara pada Weng Lou, "Aku bisa merasakannya Guru. Sekarang apa yang harus kulakukan?"


Teknik ini sudah diajarkan oleh Kera Hitam Petarung siang tadi, sehingga dia bisa dengan cepat merasakan Tenaga Dalam nya sendiri.


"Kau bisa? Itu bagus. Sekarang, bayangkan Tenaga Dalam itu adalah air, dan kau tubuhmu adalah sungai yang mengalirkannya. Bayangkan air itu kau alirkan ke satu titik yang kau inginkan, dan kumpulkan dengan jumlah secukupnya."


Keringat muncul pada kening Du Zhe ketika mendengar penjelasan Weng Lou. Ini berbeda dengan cara Kera Hitam Petarung yang memakai logika Tenaga Dalam adalah udara yang dia hembuskan. Namun menurut Du Zhe, pengertian Tenaga Dalam yang seperti air lebih masuk akal baginya. Angin sulit untuk dikontrol dibanding dengan air yang memiliki wujud.


Setelah beberapa saat merenung, Tenaga Dalam akhirnya mulai berkumpul di telapak tangan Du Zhe. Weng Lou tersenyum puas melihat hal itu, Du Zhe jelas memiliki pemikiran yang cakap sepertinya sehingga mudah mengerti penjelasan dari seseorang.


"Bagus sekali. Sekarang, cobalah membentuk Tenaga Dalam itu menjadi sebuah bola. Tidak perlu besar, cukup sebuah bola kecil seukuran bola mata."


Dahi Du Zhe mengerut, arahan Weng Lou menjadi lebih rumit lagi. Namun dia tidak akan menyerah. Fokus nya terkumpul pada Tenaga Dalam yang sudah dikumpulkannya. Tenaga Dalam itu bergerak-gerak dan mulai membentuk seperti bola, namun bentuknya masih aneh.


"Tidak apa, kau hanya harus fokus. Perlahan saja, tidak perlu terburu-buru," ucap Weng Lou menyemangati Du Zhe.


Tenaga Dalam itu pun membentuk bola utuh secara perlahan dan membuat Weng Lou mengangguk puas pada Du Zhe.


"Oke, sampai disitu saja. Kau belum bisa lanjut ke tahap selanjutnya. Kekuatan mentalmu masih lemah karena umurmu." Weng Lou menepuk kepala Du Zhe dan membuatnya membuka kembali kedua matanya.

__ADS_1


Seketika itu juga, bola Tenaga Dalam yang dibuatnya hancur dan melebur ke udara. Untungnya Tenaga Dalam itu belum dipadatkan jadi tidak menimbulkan bahaya. Du Zhe mengelap keringatnya dan menatap Weng Lou dengan mata berkaca-kaca.


"Apa? Aku sudah cukup mengajarimu hari ini. Jangan terlalu tergila-gila dengan belajar beladiri, sesekali kau harus menikmati hal yang lain."


Weng Lou tertawa melihat tatapan Du Zhe itu, dia pun bangkit berdiri dan berjalan menuju api unggun yang ada di dekatnya. Dia mengambil satu tusuk daging yang dibakar dekat api tersebut, lalu membawanya ke tempat dia duduk sebelumnya.


"Makan ini, kau harus tumbuh dengan baik jika ingin belajar lebih banyak lagi."


"Baik Guru!"


Dengan lahap Du Zhe memakan daging bakar itu sementara Weng Lou sudah mengalihkan perhatiannya ke arah kapal uapnya yang saat ini berada tidak jauh dari pantai. Kapal itu diikatkan pada empat pohon bakau besar, sehingga ketika air pasang atau pun terjadi badai, kapal itu tidak lepas.


Di dalam kepalanya, Weng Lou merenungkan banyak hal yang telah terjadi selama dia di Kekaisaran Ryuan ini. Beberapa hal menarik dan juga membosankan sudah dia lewati. Setiap peristiwa yang dilaluinya telah terekam di kepalanya yang bisa mengingat banyak hal.


"Kekaisaran Ryuan, Keluarga Klan Besar, dan Kekaisaran lama. Semuanya terhubung dengan sejarah masa lalu. Apakah Keluarga Weng juga tehubung dengan sejarah ini? Jika mengingat sejarah perang Keluarga Klan Besar, harusnya ada empat atau lima Klan yang saling berperang satu sama lain yang menyebabkan Kekaisaran lama hancur."


"Para Keluarga Klan itu sepertinya memperebutkan sesuatu yang sangat bernilai sampai menyebabkan peperangan dalam skala besar-besaran. Tidak hanya membuat hancurnya Kekaisaran lama, namun banyak wilayah yang terlepas dari Kekaisaran lama itu. Pasti ada sesuatu yang menyebabkan pemicunya."


Weng Lou tenggelam dalam pemikirannya dan terus memikirkan segala kemungkinan.


Waktu pun berlalu, pesta kecil yang dibuat oleh kelompok Weng Lou pun selesai. Mereka semua sudah pergi tidur sementara Weng Lou dengan santai duduk di atas pohon bakau sambil menikmati keindahan malam penuh bintang.


"Tidak bisa tidur, huh?" Sebuah suara membuat Weng Lou yang melamun tersadar kembali.


Di bawah, sosok Kera Hitam Petarung terlihat bersandar pada pohon dan memejamkan matanya. Weng Lou hanya menoleh padanya sejenak sebelum kembali menatap langit malam.


"Aku sedang memikirkan sesuatu yang penting," ucap Weng Lou.


"Benarkah? Jadi apa itu?"


"Rute yang akan kita ambil setelah pergi dari sini. Aku sedang memikirkan, tempat mana yang bagus untuk menjadi tempat persinggahan kita."


"Memangnya kau tau mengenai tempat ini dan sekitarnya?"


"Hehehe....tentu saja."


Sambil tersenyum lebar, Weng Lou mengayunkan tangannya. Kekuatan Jiwa keluar dari tubuhnya dan berkumpul di hadapan Kera Hitam Petarung.


Dengan kendalinya, Kekuatan Jiwa nya mulai membentuk gambaran tiga dimensi dari sebuah pulau besar di ujung dan lautan, lalu dilanjutkan dengan beberapa pulau lain yang berada di ujung lautan.


Mata Kera Hitam Petarung menatap dengan cermat peta itu, dia tidak bisa menghentikan dirinya untuk berdecak kagum menatap gambaran peta yang sangat teliti di depannya itu. Dan yang lebih terpenting, Weng Lou membuatnya dengan Kekuatan Jiwa nya, padahal seingatnya pemuda itu tidak bisa mengendalikan Kekuatan Jiwa miliknya semudah itu ketika masih berada di Pulau Fanrong.


"Darimana kau mendapatkan nya?" tanya Kera Hitam Petarung.


"Peta ini? Aku mendapatkannya dari Chizi Ryuan. Peta ini adalah salah satu dari banyaknya tumpukan harta yang dimilikinya. Aku sendiri merasa kagum pada orang yang sudah membuatnya," jawab Weng Lou dan sekali lagi mengayunkan tangannya. Peta itu pun menghilang menjadi kumpulan Kekuatan Jiwa kembali yang masuk ke tubuh Weng Lou.


Peta yang ditampilkannya dia dapat dari cincin yang diperebutkan dengan para Jenderal. Peta itu sangat lengkap menuliskan seluruh wilayah Kekaisaran Ryuan serta beberapa wilayah perbatasannya. Ada juga beberapa wilayah diluar Kekaisaran Ryuan seperti Kepulauan Huwa, dan wilayah Keluarga Tetua Meigui di petai itu yang di dapatkannya lewat perjalanannya sendiri.

__ADS_1


Dengan peta ini, Weng Lou akan pergi dari Kekaisaran Ryuan menuju tempat baru yang mungkin jauh lebih berbahaya lagi. Tapi itu yang diinginkan oleh Weng Lou. Tanpa adanya musuh yang kuat, dia tidak akan bisa berkembang. Musu yang kuat, akan membuatnya kuat juga.


__ADS_2