Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 380. Kota Hundan (II)


__ADS_3

Setelah mengemasi semua barang-barang mereka, kelompok Weng Lou dan murid-murid Keluarga Leluhur Weng pun berangkat menuju ke Kota Hundan.


Kelompok Weng Lou masih menggunakan kereta kuda mereka, kecuali Lin Mei, Weng Lou dan Weng Ying Luan, ketiganya memilih untuk berjalan diantara kereta kelompok mereka, dan kelompok murid Keluarga Leluhur Weng.


Para penduduk yang sudah bangun mengucapkan selamat jalan kepada mereka semua tanpa lupa terus berterima kasih kepada Weng Lou, Pahlawan mereka.


Kali ini Weng Lou menanggapi mereka sambil tersenyum kepada mereka semua. Setidaknya Weng Lou ingin bisa menikmati pujian seperti ini sekali-kali.


Tapi sayangnya, tindakannya itu justru ditangkap salah oleh Lin Mei yang sedang bersama dengan Man Yue.


"Aku rasa kau sekarang sudah mulai besar kepala yah Lou." Lin Mei berbicara sambil menyipitkan matanya.


Alis Weng Lou terangkat mendengarnya, jangan bilang dia cemburu? Tapi tidak mungkin, bukan?


Ketika dirinya ingin mengatakan sesuatu sebagai balasan ucapan Lin Mei itu, mendadak Weng Hua dan juga Weng Ning berjalan mendekat ke arah kelompok Weng Lou dan menghampiri Weng Lou dan Lin Mei.


"Ada apa?" tanya Lin Mei kepada keduanya yang hanya diam setelah mendekati mereka berdua.


Weng Hua atau pun Weng Ning tidak menjawab pertanyaan dari Lin Mei itu melainkan hanya menatap ke arah Weng Lou.


Di tatap oleh keduanya membuat Weng Lou merasa sedikit tidak enak dan menggaruk hanya bisa mengusap leher belakangnya.


"Mmmm......kenapa kalian berdua menatapku seperti itu?" tanya Weng Lou sambil tersenyum canggung.


"Menjauhlah, kami ingin berbicara dengan gadis ini."


Buck!


Tanpa aba-aba sama sekali, Weng Hua menendang Weng Lou dan membuatnya mundur hingga mencapai Weng Ying Luan yang ada di belakangnya.

__ADS_1


Lin Mei tampak tidak peduli sama sekali melihat itu melainkan hanya menatap Weng Hua dan Weng Ning dengan tatapan datar, begitu pun dengan keduanya.


"Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Lin Mei kepada mereka.


"Tidak ada, kami hanya ingin berbincang-bincang saja, hanya diantara para perempuan seperti kita," ucap Weng Hua yang kemudian ekspresi nya berubah seratus delapan derajat.


Dia tampak tersenyum kepada Lin Mei dalam ucapannya itu, begitu pun dengan Weng Ning yang saat ini tersenyum kecil.


Lin Mei membuka mulutnya dan ingin mengatakan sesuatu, tapi kemudian dia teringat akan dirinya yang bertanya kepada Weng Lou mengenai siapa yang paling berarti baginya diantara mereka bertiga. Dia menggeleng pelan lalu membalas senyuman Weng Hua itu.


"Lalu, apa yang ingin kita bicarakan?" tanya Lin Mei kembali dengan senyumannya. Man Yue yang bersama mereka hanya bisa diam dan mengamati mereka, dia tidak mengerti sama sekali apa yang mereka bicarakan ini.


Weng Lou yang berada di belakang mereka hanya bisa bergidik ngeri melihat senyuman mereka itu.


"Senyuman para gadis itu membuatku menjadi takut," ucap Weng Lou.


"Jangan menghiraukan mereka, perempuan memang seperti itu, hanya sesama mereka saja yang bisa mengerti gerak-gerik masing-masing," kata Weng Ying Luan yang ada di samping Weng Lou.


Mereka terus melanjutkan perjalanan mereka tanpa beristirahat sama sekali, jarak antara desa dengan Kota Hundan tidak akan memakan waktu mencapai satu hari, oleh sebab itu laju kelompok murid Keluarga Leluhur Weng juga tidak terlalu cepat, mereka menyamakan kecepatan mereka dengan kereta kuda milik kelompok Weng Lou.


Namun meski begitu, sebenarnya ini adalah rencana yang disusun oleh Weng Baohu Zhe. Berhubung Weng Lou memiliki hubungan dengan murid yang ia kawal, dia akan memakai keuntungan dari hubungan mereka itu.


Perjalanan menuju ke Kota Hundan merupakan perjalanan yang sangat berbahaya, mereka tidak akan bisa menebak seberapa kuat lawan mereka nantinya, maka akan lebih mudah untuk menghadapi serangan musuh secara bersama-sama jika kelompok bisa terus bersama seperti saat ini.


Lagi pula, Jian Qiang tampak tak peduli sama sekali dengan itu.


Weng Baohu Zhe sama sekali tak tau bahwa Jian Qiang tampak acuh dan tak peduli dengan tindakannya adalah karena jika ada masalah nantinya, pasti Weng Lou atau Weng Ying Luan yang akan lebih dulu menyelesaikannya sebelum dia bisa turun tangan.


"Hei, Baicha, kau pernah masuk ke Kota Hundan sebelumnya, bukan?" Mendadak Jian Qiang yang sedang duduk di dalam kereta dengan tenang beritanya kepada Pang Baicha yang sedang mengontrol kuda kereta mereka.

__ADS_1


"Hm? Iya, kenapa? Bukankah kau juga sudah pernah pergi waktu Turnamen Beladiri Bebas beberapa tahun lalu?" tanya Pang Baicha dengan heran.


Sikapnya kepada Jian Qiang mulai seperti biasa saja sekarang, rasa benci kepadanya sudah mulai memudar dalam hatinya.


"Aku selalu tidak sempat jalan-jalan setiap kali ke kota itu, jadi tidak terlalu mengenalnya. Berbeda dengan ku, kau sering mendapatkan misi penyelidikan di kota ini, jadi kau pasti mengerti seluk-beluknya."


Pang Baicha mendengar itu. Dia tidak bisa menyangkalnya, dirinya cukup akrab dengan Kota Hundan dan mengingat cukup jelas bagian dalam dari kota itu.


Menghela napasnya, Pang Baicha pun menatap ke atas langit, itu adalah langit pagi yang cukup cerah. Kabut sedikit demi sedikit mulai menghilang seiring mereka yang menjauhi Hutan Kabut.


"Apa kau pernah mendengar nama Raja Pencuri, Gouwang Zie?"


Mendadak tubuh Pang Baicha tersentak seketika mendengar nama itu keluar dari mulut Jian Qiang. Dia pun menoleh ke arahnya dan terlihat kerutan pada dahinya.


"Kenapa kau menanyakan tentang orang sialan itu...?" Pang Baicha bertanya balik dengan penuh napsu membunuh, dia tidak peduli dirinya sedang berbicara dengan Jian Qiang saat ini.


Jian Qiang sendiri tampak biasa saja melihat sikapnya, itu adalah sikap biasa jika seseorang mendengar nama sang Raja Pencuri, Gouwang Zie.


Gouwang Zie, dijuluki sebagai Raja Pencuri bukan tanpa sebab, setiap kali dirinya muncul atau dirumorkan berada pada suatu tempat, maka apapun yang ia inginkan akan dirinya curi.


Bahkan dirinya tidak segan mencuri dari mereka yang memiliki kekuatan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan dirinya sekali pun.


Semua ini dikarenakan dia memiliki kecepatan yang luar biasa, dan cara berpikirnya bisa dibilang sulit ditebak. Kekuatannya hanyalah berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 1 terakhir kari terlihat, tapi bisa dibilang tidak ada barang yang aman jika sudah menjadi incarannya, Pang Baicha adalah salah satu korbannya. Oleh sebab itu dia sangat membenci Gouwang Zie ini.


"Ada yang kuinginkan darinya, jika kau bisa membantuku, maka akan kuserahkan dia padamu nantinya. Kekuatan mu tidak akan lama lagi menembus ke ranah Penyatuan Jiwa, jadi seharusnya tak masalah sama sekali. Sekalipun kau belum mencapainya nanti, aku akan mengunci Qi miliknya dan menyerahkan padamu," ucap Jian Qiang.


Pang Baicha berkedip beberapa kali sebelum kemudian tersenyum mengerikan.


"Baiklah, sepakat. Aku bebas melakukan apa saja padanya setelah urusannya denganmu selesai."

__ADS_1


Tidak ada kesepakatan yang jauh lebih bagus dari kesepakatan yang saat ini dirinya terima, itu adalah apa yang dipikirkan oleh Pang Baicha saat ini. Rasa dendamnya pada Gouwang Zie adalah sesuatu yang bahkan jauh melebihi rasa dendamnya pada Jian Qiang saat pertama kali dia membunuh saudaranya.


Ini merupakan kesempatan emas baginya.


__ADS_2