
Weng Lou menarik napas dingin menyaksikan apa yang dilakukan oleh pemuda itu.
Tidak hanya dia membunuh di tempat kekuasaan orang lain, dia melakukannya dua kali, dan juga dua orang yang dia bunuh adalah bawahan dari pemilik restoran sekaligus penguasa di sini.
"Kau....apa yang kau lakukan..." Weng Lou berbicara kepada pemuda itu dengan tatapan tak percaya.
"Hm? Siapa kau ini? Aku tidak ada urusan dengan mu, pergilah." Pemuda itu tampak sama sekali tidak peduli.
Dia melangkah maju, dan menendang tubuh penjaga yang menghentikannya sebelumnya, dan membuatnya terlempar hingga menabrak dinding restoran.
Perhatian semua orang segera tertuju kepadanya. Tidak ada orang senekat dirinya yang berani membuat masalah di wilayah kekuasaan seseorang.
Pemuda itu berjalan melewati Weng Lou, tanpa menghiraukannya sama sekali dan kemudian berhenti di depan Weng Wan, Weng Hua dan Weng Ning.
Menundukkan kepalanya, dia menatap tubuh Weng Wan dari atas sampai bawah dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Dari ciri fisikmu, kau seharusnya Weng Wan, bukan? Salah satu jenius baru dari Keluarga Leluhur Weng. Ayo bertarung denganku sampai salah satu diantara kita mati." Pemuda itu berbicara sambil tersenyum menyeramkan.
Di sisi lain, Weng Wan menatap pemuda itu dengan tatapan aneh. dia menoleh dan melihat Weng Lou dan Weng Ying Luan yang juga memasang ekspresi yang sama dengannya.
Pemuda berambut hitam ini, ternyata benar-benar gila, pikir mereka bertiga.
"Ayo ikut aku. Kita akan memesan Arena Pertarungan selama satu jam. Yang kalah akan membayarnya," ucap pemuda itu lagi yang kemudian meraih tangan Weng Wan dan berniat membawanya pergi keluar dari restoran itu.
Kening Weng Lou dan juga Weng Ying Luan mengerut melihat itu. Mereka tidak tau siapa pemuda ini, tapi dia sangat arogan sekali. Jika bukan karena mereka berada di tempat asing, mereka berdua pasti sudah menyerang pemuda ini.
"JADI KAU SIALAN!!! BERANINYA MENCARI MASALAH DI WILAYAH KEKUASAAN KU!!!!"
Dari arah anak tangga, sosok seorang pria bertubuh gempal berjalan turun di dampingi dengan 10 orang bersenjata lengkap dan memancarkan napsu membunuh.
Sosok pria itu hanya memiliki kekuatan di Ranah Pembersihan Jiwa tahap 6, tapi kesepuluh orang yang bersamanya memiliki kekuatan di Ranah Pembersihan Jiwa tahap 6 puncak hingga tahap 7 puncak.
Pemuda itu berbalik dan mengangkat sebelah alisnya menyaksikan kesepuluh orang yang bersama dengan pria gempal itu itu sudah melesat ke arahnya dengan senjata di tangan mereka siap menyerangnya.
"Sekumpulan lalat tak tau diri."
Dia mengangkat tangan kanannya, dan seketika itu juga, cahaya berwarna keemasan, segera menutupi tangannya itu. Cahaya keemasan itu tampak berbeda dengan warna Qi pada umumnya.
Itu terlihat berwarna lebih terang dan terkesan seperti warna kuning, jika dibandingkan dengan warna emas.
"Unsur Cahaya." Dari dalam kepala Weng Lou suara Qian Yu dan juga Ye Lao bergema dan menarik perhatian Weng Lou yang hanya bisa mendengarnya seorang diri.
"Unsur Cahaya?! Bukankah itu sangat langka?! Apa kalian tidak salah?!" Weng Lou bertanya dengan nada terkejut.
Unsur Cahaya, atau Elemen Cahaya merupakan salah satu dari Unsur terkuat yang ada, hanya satu tingkat dibawah Qi/Tenaga Dalam tanpa unsur. Tapi meski begitu, Unsur Cahaya memiliki banyak sekali manfaat yang tidak bisa dilakukan oleh Tanpa Unsur.
Contohnya, serangan berunsur cahaya memiliki kecepatan serangan yang jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan unsur lainnya atau pun dengan yg tanpa unsur.
Bahkan kekuatan pemulihan dari unsur cahaya adalah yang terbaik dari semua unsur yang ada. Dan yang paling penting, unsur cahaya adalah unsur paling mempan dalam menyerang binatang buas yang memiliki sifat buas atau jahat, dan juga kepada para hantu.
"Elemen cahaya memiliki ciri paling menonjol dari semua elemen yang ada. Pertama warnanya yang sangat khas, dan yang kedua adalah kecepatan cahaya yang dikeluarkannya," jelas Ye Lao dengan suara serius.
__ADS_1
Mendengar itu, Weng Lou pun memfokuskan kembali kesadarannya pada pemuda di depannya dan menyaksikan pemuda itu melesat maju ke arah sepuluh orang yang menyerangnya.
"Langkah Cahaya."
Terdengar pemuda itu berbicara, dan kemudian sosoknya pun menghilang dan meninggalkan berkas cahaya pada bekas pijakan kaki nya.
Detik berikutnya, pemuda itu muncul kembali dan sudah berada di hadapan pria bertubuh gempal yang merupakan pemilik dari restoran ini.
"Kau, aku tidak akan membunuh mu karena kau adalah penguasa tempat ini. Tapi ingat ini, jika kau berani berteriak seperti tadi, maka lehermu yang akan lepas seperti mereka ini."
Tap.....krack...trrrrrrr......
Tubuh kesepuluh orang itu pun langsung terjatuh ketanah begitu pemuda itu selesai berbicara. Kepala mereka semua terlepas, dan darah mengalir keluar dari leher mereka.
Pria bertubuh gempal itu berdiri diam dengan kaku sambil menatap wajah pemuda yang berani bersikap kurang ajar di depannya. Tapi sayangnya dia tidak bisa melakukan apapun, selain hanya diam dan tak membuka mulutnya.
Dia saat ini sangat ketakutan setengah mati. Hampir saja nyawanya melayang tanpa dia sadari sedikitpun.
"Ma-Maafkan aku, Tuan Muda. Sebagai...sebagai ganti rugi akan hal ini, anda bisa memesan apapun makanan yang disiapkan oleh restoran kami tanpa harus membayar satu koin pun," ucap pria gempal itu dengan suara sedikit bergetar karena ketakutan.
Pemuda itu mendengus dan kemudian berbalik, lalu berjalan keluar dari restoran itu. Dia berhenti tepat di pintu restoran dan melihat ke arah Weng Wan.
"Suasana hatiku jadi buruk, ayo kita bertemu lain kali saja, Weng Wan," ucapnya sambil memasang senyum menyeramkan nya.
Dia pun melanjutkan langkah kakinya, tapi kemudian berhenti kembali lalu menoleh ke arah Weng Lou dan Weng Ying Luan yang masih mengamatinya dalam diam.
"Dan untuk kalian berdua. Aku belum pernah mendengar informasi tentang kalian berdua, tapi sepertinya kalian ada hubungan dengan Keluarga Leluhur Weng.
"Apa yang sialan ini katakan? Wajah polos?"
Weng Lou tampak kesal disebut seperti itu. Bukan salahnya dilahirkan dengan wajah polos seperti ini. Jika dia ada masalah, maka mereka berdua tinggal bertarung saja
"Terima saja nak, wajahmu memang polos seperti anak kecil," ejek Ye Lao dalam kepala Weng Lou.
"Pfffft-"
Di samping Weng Lou, Weng Ying Luan berusaha untuk menahan tawanya sebisa mungkin mendengar sebutan pemuda itu kepada Weng Lou, namun sayangnya karena itu terlalu lucu baginya, dia tidak bisa menahannya lebih jauh.
"Maaf Lou,apa yang dikatakannya itu cukup lucu," ucap Weng Ying Luan.
"Ah, terserah mu saja! Hei kau, kalau mau pergi pergi saja sana!" Weng Lou mengayun-ngayunkan tangannya kepada pemuda itu, seperti mengusirnya.
"Hahaha...." pemuda itu tertawa pelan sebelum kemudian kembali berjalan. Tapi kemudian berhenti, untuk ketiga kalinya.
"Namaku Yang Guang, kita akan bertemu lain kali." Setelah memberitahukan namanya, dia pun lanjut melangkah.
Kali ini dia tidak berhenti, dan terus melangkah keluar restoran, dan menghilang di belokan jalan depan restoran.
Satu menit berlalu, dan suasana masih hening. Weng Ying Luan yang melihat sekitarnya pun menghela napasnya, tidak mungkin mereka akan makan disini setelah kejadian beberapa saat yang lalu.
"Ayo cari tempat lain saja, aku kurang suka disini," ucapnya yang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari restoran.
__ADS_1
"Yah, aku juga mendadak tidak napsu makan," ikut Weng Lou.
Mereka semua pun keluar dari situ, dan meninggalkan restoran dan pemilik nya yang masih diam di tempatnya.
Begitu Weng Lou dan yang lainnya sudah tak terlihat lagi, dia pun melepaskan semua emosinya dengan menginjak kepala salah satu orang yang datang bersamanya sebelumnya.
"SIALAN!!! ANAK-ANAK KURANG AJAR!!!! AKAN KUBERI KALIAN PELAJARAN!!! LIHAT SAJA!!! JANGAN PANGGIL AKU DOU GUI!!!"
***
Sementara itu, kelompok Weng Lou berbelok begitu keluar dari restoran dan berniat untuk pergi ke tempat tujuan mereka yang lain, yaitu sebuah tempat makan juga.
Ketika Weng Lou dan lainnya berjalan, Weng Lou baru menyadari bahwa kerumunan orang yang sebelumnya ada di luar sudah tak ada lagi. Dan juga ada sosok seorang pria tua terbaring tak berdaya di dekat tangga bangunan yang semua pintunya ditutup rapat.
Weng Lou menatap pria tua itu selama beberapa saat, dia seperti mengenali pria tua itu.
Di sisi lain, pria tua itu yang sedang berbaring di dekat tangga menolehkan kepalanya dan melihat ke arah Weng Lou.
Bola matanya terbuka lebar karena terkejut. Dia berniat mengangkat tangannya dan memanggil Weng Lou tapi kemudian seorang pria muncul dan menendang perutnya dengan kuat.
Bruack!
"Ahck...." Pria tua itu tak berdaya menerima tendangan itu, semua tenaga sudah habis.
"Hei! Pria tua ini masih hidup!" Pria yang menendang pria tua itu berseru ke arah bangunan dimana pria tua itu berbaring di depannya.
Pintu bangunan itu terbuka, dan sekelompok pria lainnya pun keluar dari dalamnya dengan tampang yang garang.
"Bagus sekali! Aku masih belum puas memukulinya! Ayo bawa masuk saja dia! Biar kita liat sejauh mana seorang Ranah Pembersihan Jiwa tahap 2 bisa bertahan!" seru salah seorang pria yang memasang senyum mematikan.
"Hahahah!!!! Ide bagus! Ayo bawa dia!!"
Pria yang menendang pria tua itu pun meraih tangan pria tua itu dan mengangkat tubuhnya, lalu melemparkannya ke arah rekan-rekannya.
Saat itulah, sebuah liontin jatuh dari pakaian kumuh yang dikenakan oleh pria tua itu dan dikenali oleh Weng Lou.
WHUUUSS-!!!!
Sosok Weng Lou mendadak melesat dengan cepat dan segera mengambil liontin itu.
Dia menatapnya dalam diam tanpa mempedulikan pria yang melemparkan pria tua itu sedang menatapnya dengan ganas.
"Hei bocah, berikan liontin itu jika kau masih ingin hidup," ucapnya dengan dingin.
Weng Lou mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah pria itu sambil memasang tatapan dingin.
"Lepaskan pria tua itu, jika kalian masih ingin hidup." Weng Lou berbicara dengan nada jauh lebih dingin dan napsu membunuh keluar dari dalam tubuhnya.
Sosok Weng Ying Luan pun muncul di samping Weng Lou dan segera mengambil liontin di tangannya, lalu melihatnya.
"Ini....milik Tetua Fang," gumam Weng Ying Luan yang kemudian menatap pria tua yang sedang di pegang oleh rekan-rekan dari pria yang menendang pria tua itu yang tidak lain ada Tetua Fang yang sosoknya sudah cukup lama menghilang.
__ADS_1
"Kalian cari mati sialan."