Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 703. Dua Absolute Melawan Seorang Unknown God


__ADS_3

Weng Lou yang bersama dengan Zhi Juan segera menjentikkan jarinya.


Kekuatan penyerapan yang dimiliki oleh Unknown God sebelumnya kini menghilang. Sebagai seorang Absolute Void, tidak ada orang lain yang bisa menggunakan penyerapan dari Kehampaan selain Weng Lou sendiri saat dia berada di situ.


Menanggapi hal ini, Zhi Juan langsung terbang dengan cepat menuju Unknown God.


Rantai berwarna perak muncul dari tubuhnya yang kemudian melesat cepat ke kedua tangan dan kaki Unknown God, mengikatnya sehingga tidak bisa bergerak.


"Hmp! Aku tidak akan kalah hanya karena hal ini!"


Unknown God mengerahkan kekuatannya dan menarik kedua rantai di kedua tangannya yang terhubung dengan Zhi Juan.


Tarikan itu membuat tubuh Zhi Juan ikut tertarik maju. Kekuatan fisiknya jelas kalah jauh dibandingkan dengan Unknown God.


Dia segera melepaskan kedua rantai tersebut dan buru-buru terbang kembali ke atas.


Weng Lou tidak membiarkan Unknown God untuk mempersiapkan serangan balasan, dia dengan cepat melesat ke arah Unknown God.


Tangan kanannya memegang Pedang Kehampaan dan siap menebas.


"Kau sepertinya sudah memulihkan cukup banyak kekuatan mu. Kenapa kau tidak mulai menggunakannya? Apa kau takut kekuatan mu akan terbuang sia-sia?" tanya Weng Lou yang kemudian tiba di hadapan Unknown God.


Pedang Kehampaan diayunkan. Pedang itu menebas ke arah leher Unknown God. Akan tetapi, serangannya segera dihentikan dengan satu tangan Unknown God yang telah berubah menjadi tameng bundar.


Pedang Kehampaan mampu menembus tangan Unknown God hingga setengahnya, sebelum kemudian berhenti karena kekuatan yang dikeluarkan Weng Lou tidak cukup kuat.


"Serangan mu tidak berarti bagiku!"


Tangan Unknown God yang lain segera memukul ke arah Weng Lou. Weng Lou yang melihatnya dengan cepat menghindar dan kemudian melakukan serangannya lagi.


*Shuuu!!!!*


Pedang Kehampaan di tangannya berubah bentuk menjadi sebuah tombak dengan tiga bilah dan memiliki panjang dua kali tingginya.


Berdiri di udara, dia kemudian mengayunkan tombak tersebut secara vertikal. Tanpa diduga, tombak itu bertambah panjang saat diayunkan oleh Weng Lou. Unknown God berniat menghindari tombak tersebut, namun dia menyadari bahwa kakinya masih terikat oleh rantai Zhi Juan.


"Bajingan, kalian hanya bermain-main denganku!"


Unknown God meraung. Rantai itu hancur berkeping-keping dan tombak yang mengarah padanya langsung terdorong kembali.


Weng Lou mendecakkan lidahnya saat merasakan dorongan yang mendorong tombaknya.


Dengan pikirannya, tombak itu segera berubah menjadi aura hitam yang kemudian bergabung dengan tubuhnya.


Zhi Juan segera tiba di samping Weng Lou dan menatap Unknown God yang berada di bawah.


Dia kemudian menyodorkan sesuatu kepada Weng Lou yang kemudian segera menarik perhatiannya. Sebelah alis Weng Lou terangkat saat melihat aoanyabg diberikan kepadanya. Itu adalah Kitab Keabadian.


"Kau baru memberikannya padaku sekarang?" tanya Weng Lou dengan jengkel.


Dia mengambil Kitab Keabadian dari tangan Zhi Juan dan kemudian memasukkannya ke dalam tubuhnya. Zhi Juan yang melihatnya hanya mengangkat kedua bahunya.


"Butuh persiapan matang untuk menyesuaikannya dengan kekuatan kehampaan. Ada sedikit masalah dengan isinya, tapi yang jelas Dantian mu sudah bisa digunakan kembali dan akan terhubung dengan kekuatan kehampaan," jawab Zhi Juan.


"Lalu dimana Pedang Naga Malam?" Weng Lou bertanya lagi.


"Dalam keadaan ini, aku menyerahkannya pada salah satu bawahanku. Aku menyuruhnya untuk menyerap kekuatan kehampaan di kekosongan di sekitar Dimensi tanpa seorang Absolute. Itu seharusnya akan siap dalam beberapa hari lagi."


"Oke, baguslah kalau begitu. Aku sempat berpikir kau akan mengambilnya."


"Aku tidak perlu pisau dapur seperti itu," balas Zhi Juan sambil mendengus.


"Benarkah? Hahahaha......ya, terserah mu saja. Aku juga memiliki sebuah senjata lain yang jauh lebih berguna dari kemoceng tua mu."


Weng Lou tertawa pelan dan kemudian mengayunkan kedua tangannya. Sepasang pedang kembar muncu di masing-masing tangannya.


Raut wajah Zhi Juan tampak tertarik saat melihat kemunculan kedua pedang itu. Dia bisa merasakan kekuatan reinkarnasi dari kedua pedang tersebut.


Sambil mengerutkan dahinya, dia bertanya pada Weng Lou, "Dari mana kau mendapatkan keduanya."


"Dari mana? Heh, tentu saja aku membuatnya sendiri!" Weng Lou tampak bangga saat dia mengatakan hal tersebut.


Zhi Juan tidak mempedulikan sikap sombong dari Weng Lou dan justru fokus pada pedang kembar itu.


"Meski memiliki aura kekuatan reinkarnasi, tapi itu agak samar. Yang lebih dominan adalah kekuatan dari sebab akibat. Ada sedikit aura kebencian dalam kedua pedang itu. Jangan bilang kau menggunakan Roh Pendendam dan Roh Jahat untuk menciptakannya?"

__ADS_1


"Benar sekali! Aku harus berterima kasih pada seseorang karena telah mengumpulkan begitu banyak Roh Pendendam dan Roh Jahat di satu tempat yang sama. Aku berhasil meyakinkan para roh itu dan menjadikan mereka sebagai Roh Senjata ku," ujar Weng Lou dengan puas.


"Benarkah? Aku tidak ingat kau meyakinkan kami waktu itu?"


Tanpa di sangka, Samsara muncul di samping Weng Lou dan berbicara dengan nada meragukan.


Weng Lou hampir tersedak napasnya sendiri saat dia muncul. Zhi Juan sendiri jugabterkejut dengan kemunculannya. Karena dia adalah seorang Absolute, melihat sebuah Roh Senjata adalah hal yang mudah baginya.


"Ehem..... sebaiknya kita melanjutkan pembicaraan ini nanti, ada seseorang yang harus kita kalahkan terlebih dahulu," kata Weng Lou dengan cepat sambil menunjuk Unknown God yang saat ini sedang menunduk dan menatap lautan.


Samsara tidak mengatakan apapun, begitu juga dengan Zhi Juan.


Weng Lou menarik napas dalam dan kemudian menghembuskannya perlahan. Kedua pedang kembarnya diputarnya. Dia merasakan keduanya mulai menyerap kekuatan kehampaan pada dirinya dan mengalami perubahan.


Akan tetapi, perubahan itu tidak terjadi secara menyeluruh. Hanya pada bagian bipahnya saja yang mengalami perubahan, sedangkan yang lainnya tidak.


Weng Lou langsung menyadari, kekuatan sebab akibat dalam Samsara tidak bisa menyatu dengan kekuatan kehampaan. Kedua kekuatan itu sangat berbeda satu sama lain, oleh sebab itu tidak bisa disatukan.


Meski begitu Weng Lou tidak terlalu mempedulikannya. Dia masih bisa menggunakan kedua kekuatan itu menggunakan Samsara, jadi dia tidak repot-repot memikirkannya.


"Ayo maju, Samsara!"


Kehampaan menyelimuti bilah pedang kembar. Dengan secepat kilat, sosok Weng Lou melesat maju.


Garis aura hitam tercipta di udara saat dia bergerak maju yang diakibatkan kehampaan di kedua bilah pedang kembarnya.


Unknown God terlihat masih menundukkan kepalanya, seolah tidak mempedulikan Weng Lou sama sekali.


"Kau melihat kemana?!" seru Weng Lou nyaring.


Pedang kembar berputar di tangannya. Lingkaran berwarna hitam tercipta. Detik berikutnya, bilah-bilah hitam dilepaskan dan bergerak ke arah Unknown God.


Bilah-bilah itu sangat cepat, seolah menghiraukan aliran udara.


Begitu bilah-bilah berada di dekat tubuh Unknown God, raut wajah Weng Lou segera berubah menjadi serius dan dia segera mengelak ke samping.


*HUSSHHH!!!!*


Pada saat yang sama saat bilah-bilah menabrak tubuh Unknown God yang masih diam di tempatnya, sebuah tangan raksasa muncul dari dalam air dan mencoba menangkap Weng Lou, begitu juga dengan Zhi Juan yang masih berada di tempatnya setelah berbincang dengan Weng Lou.


*Brak......*


"Sial! Dia memanfaatkan air laut untuk mengecoh kita!" teriak Zhi Juan.


Kuas di tangannya bercahaya dan kemudian, sebuah bola transparan muncul di depannya yang kemudian melesat masuk ke dalam laut.


Weng Lou mendesah pelan. Dia mengangkat kedua pedang kembarnya dan kemudian menyatukannya, menjadi sebuah busur.


"Kau tidak bisa lari!"


Aura Weng Lou meluas hingga tiga kali lipat dan langsung menemukan Unknown God yang saat ini bergerak cepat menuju ke satu arah yang Weng Lou kenali.


Itu adalah wilayah Kepulauan Huwa.


Wajah Weng Lou segera menjadi gelap. Dia tau apa yang direncanakan Unknown God.


Dia pasti ingin menyerap kekuatan kehidupan dari makhluk hidup yang ada di sana untuk memulihkan kekuatannya. Jika itu terjadi, pertarungan mereka saat ini akan masuk dalam titik paling kritis dan Weng Lou khawatir akan banyak yang lebih banyak yang dibunuh oleh Unknown God setelahnya.


Juga, ada beberapa kenalannya di sana. Meski dia tidak terlalu peduli pada mereka, tapi dia menghargai kenangan yang dia alami di tempat itu. Dia bertemu dengan muridnya di dalam salah satu pulau di Kepulauan Huwa, dia yakin muridnya akan sedih jika tanah kelahirannya harus hancur karena pertarungan mereka.


"Kembali kesini kau.......SIALAN!!!"


Dengan kekuatan kehampaan dan sebab akibat, sebuah senar dan anak panah muncul. Weng Lou menarik senar berwarna hitam itu. Udara tersedot masuk ke dalam senar.


Weng Lou membidik sebentar dan kemudian melepaskan senar busur.


*PHUUUU!!!!*


Anak panah ditembakkan. Kecepatan anak panah itu jauh, sangat jauh lebih cepat jika dibandingkan sebuah peluru senapan tercanggih sekalipun.


Anak panah dengan kekuatan sebab akibat itu melesat memotong udara yang kemudian menembus air laut, lalu mengenai targetnya yang tidak lain adalah Unknown God itu sendiri.


Unknown God saat ini mengambil wujud seperti seekor ikan yang mampu bergerak berkali-kali lebih cepat saat dia di udara.


Anak panah yang melesat cepat itu segera mengenai ekornya. Ekornya langsung hancur berantakan saat panah itu mengenainya. Gerakan Unknown God terhenti untuk sementara. Dia mengkertakkan giginya saat dia kemudian berubah kembali menjadi sosok menyerupai manusia.

__ADS_1


Weng Lou segera menarik kembali busurnya dan menembakkan lebih banyak anak panah.


Dalam sekejap mata, ratusan, bahkan ribuan anak panah ditembakkan oleh Weng Lou. Itu terlihat seperti hujan yang turun ke bumi.


Yang mengerikan adalah kekuatan semua anak panah itu sama kuatnya dengan anak panah sebelumnya yang menabrak tubuh Unknown God.


"Weng Lou!!!!! Kau yang memaksaku!!!"


Unknown God melompat tinggi dan keluar dari lautan.


Dia langsung berada di udara, sama seperti Weng Lou dan Zhi Juan. Kekuatan pusaran di dadanya segera berubah warna, kali ini warnanya adalah merah padam.


Wajah Weng Lou berubah menjadi jauh lebih gelap saat melihat perubahan ini. Dia juga tau apa yang mau dilakukan oleh Unknown God kali ini.


"Bajingaaaannnn!!!!! Kau masih menyimpan kekuatan miliknyaaa!!!!!!!"


Tanpa disangka, Weng Lou berubah menjadi sangat marah.


Ribuan anak panah yang sebelumnya masuk ke dalam air kini bergerak naik mengikuti Unknown God.


"Memangnya kenapa jika aku masih menyimpannya?! Aku mendapatkan kekuatan ini karena istrimu sama menyedihkannya seperti dirimu!!!!"


Detik berikutnya, kobaran api berhembus keluar dari dadanya, yang kemudian menutupi seluruh tubuh Unknown God.


Ribuan panah menembaki dirinya. Akan tetapi kobaran api dengan cepat membakar habis semua anak panah itu.


Mata Weng Lou memancarkan niat membunuh yang begitu besar saat melihat hal tersebut.


"Hahahaha!!!!!! Memang akulah yang lebih layak menggunakan kekuatan ini, dibanding istrimu!!!! Weng Lou!!!!!"


Setelah membakar habis semua anak panah, kobaran api kemudian meluas lebih jauh dan membuat laut mendidih.


Senyum mengerikan muncul di wajah Unknown God yang sudah mengerikan bahkan tanpa dia tersenyum. Kobaran api itu kemudian menyusut kembali dan kini menyatu dengan tubuh Unknown God.


Rambut merah muncul di kepalanya dan sepasang sayap merah dari api di punggungnya. Kedua matanya juga berubah menjadi mata merah membara.


Kini perubahan yang terjadi pada Unknown God membuatnya terlihat jauh berbeda dari sebelumnya. Ini adalah perubahan yang dia dapat setelah menyerap kekuatan dari Lin Mei di masa lalu. Tidak Weng Lou sangka Unknown God masih menyimpan kekuatan ini bersamanya, padahal Unknown God sempat menggunakannya juga waktu di bertarung dengannya di kehidupan kelima puluh satu nya.


Dengan kedua sayapnya terbuka lebar, Unknown God berseru nyaring.


"Musnahlah kalian semua!!!"


Sayap di punggungnya segera mengepak dan kobaran api seperti gelombang tsunami setinggi satu kilometer bergerak ke arah Weng Lou dan Zhi Juan.


Pada saat api itu akan mencapai Weng Lou, pada saat itulah bola transparan yang diciptakan oleh Zhi Juan sebelumnya kini keluar kembali dari dalam air dan langsung menghisap semua kobaran api ke dalam bola transparan.


"Kau suka mencuri kekuatan seseorang, bukan? Laku rasakan kekuatan yang kau curi ini!"


Zhi Juan melemparkan bola berisi api itu pada Unknown God yang kemudian meledak dengan kekuatan yang luar biasa.


Ledakannya membuat gelombang di lautan tercipta. Tubuh Unknown God terlihat terdorong sangat jauh karena ledakan tersebut.


Mata Weng Lou melebar saat melihat arah mana dia terdorong mundur dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengutuk Zhi Juan.


"Kau idiot!!! Kenapa kau melemparkannya ke sana?!"


Tanpa berbasa-basi lebih jauh, sosoknya terbang dalam kecepatan yang sangat menakjubkan dan tiba di lintasan yang akan dilewati Unknown God.


"Apa yang kau lakukan?! Menyingkir dari sana!" Zhi Juan bingung dengan apa yang hendak dilakukan oleh Weng Lou.


"Tidak! Kampung halaman muridku ada di sana! Tempat itu akan hancur jika Unknown God mencapainya!" balas Weng Lou.


Aura hitam membumbung tinggi dari tubuhnya yang kemudian mengambil rupa sebuah raksasa hitam tanpa wujud yang jelas.


Kedua tangan raksasa itu mengepal dan meninju ke depan. Seketika angin kencang berhembus dan mengentikan laju Unknown God yang terdorong oleh ledakan sebelumnya.


"Bodoh!!! Sejak kapan kau peduli dengan kehidupan orang-orang?!"


Zhi Juan merasa jengkel dengan apa yang dilakukan oleh Weng Lou.


Lapisan demi lapisan pelindung muncul di atas tangannya. Dia terbang dan mencapai tempat Weng Lou dengan cepat.


Lapisan-lapisan pelindung itu segera dilemparkannya menuju Kepulauan Huwa yang kemudian melindunginya dari ombak besar yang akan menenggelamkan kepulauan itu dalam satu sapuan.


"Intinya, aku tidak akan membiarkan tempat itu hancur! Salah satu orang yang memiliki bagian jiwa Lin Mei juga ada di sana! Jika dia mati, aku harus menunggu lebih lama lagi untuk melengkapi jiwa Lin Mei!"

__ADS_1


Weng Lou berkata dengan tegas. Hal ini membuat Zhi Juan terdiam seribu bahasa. Mau tak mau dia harus mengakui, Weng Lou memiliki kegigihan yang melebihi orang-orang yang dia ketahui.


Tapi tetap saja, itu menjengkelkan.


__ADS_2