Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 501. Penaklukan Wilayah Kumuh (II)


__ADS_3

Weng Lou menoleh dan menatap ke arah Du Zhe yang ada di bawah. Dia memberinya kode untuk memberitahu kepada remaja itu bahwa yang dia katakan adalah benar.


Du Zhe terdiam. Dia yang masih anak-anak merasa ragu untuk memberitahu remaja itu, seperti yang diperintahkan oleh Weng Lou.


Namun sekarang Weng Lou adalah gurunya, dan dia harus mematuhinya sebagai seorang murid yang baik.


Dengan langkah pelan dia maju dan menghadap ke arah remaja itu, laku menatap kedua matanya.


Menarik napas.


"Ya, seperti yang dikatakan oleh guruku sebelumnya. Kalian sekarang akan dibebaskan dari status budak kalian, tapi kalian harus menerima guruku sebagai pemimpin kalian yang baru.


Tenang saja, kalian tidak akan lagi disuruh mengerjakan pekerjaan berat seperti sebelumnya. Selama kalian mau mematuhi beberapa peraturan yang ditetapkan oleh guruku, maka kalian akan dibebaskannya," jelas Du Zhe dalam satu tarikan napas.


Remaja itu berkedip, lalu menoleh kembali dan melihat Weng Lou.


Mungkinkah dia yang dimaksud sebagai guru olehnya? Dia bahkan tidak jauh lebih tua dari kakak ku, apa yang bisa dia lakukan? Seorang anak seperti ku mengatakan bahwa dia ingin menjadi pemimpin di kota ini, jangan bercanda!


Dia mulai tampak tidak percaya dengan apa yang dijelaskan oleh Du Zhe, dan memiliki untuk pergi kembali.


Meski terjadi penyerangan besar-besaran di Kota 1 ini, pasti para prajurit akan segera datang dan menyelesaikannya. Hal seperti ini sudah sering terjadi, pikirnya.


"Pergilah kalian, aku sudah terlalu banyak mendengar omong kosong selama berada di kota ini. Seorang anak yang hanya beberapa tahun lebih tua dariku menyatakan dirinya sebagai pemimpin baru? Ha, jika itu benar maka dunia ini pasti akan segera berakhir!"


Dia melambaikan tangannya, lalu perlahan pergi menjauh, dan berbelok pada gang jalan yang sebelumnya dia lewati.


Weng Lou memberikan tanda pada Du Zhe, yang segera dibalas dengan anggukan olehnya.


Du Zhe melangkahkan kakinya, dia kemudian berlari dan mengejar sosok remaja itu dalam sepuluh detik. Dengan kekuatan Dasar Pondasi tingkat 2, ini sudah bisa dibilang sangatlah bagus. Tentu saja bagi Weng Lou, gerakan Du Zhe sangatlah lambat di matanya.


"Hei, berhenti! Guruku belum membolehkan mu pergi," ucap Du Zhe.


Remaja itu berbalik dan mendorong tubuh Du Zhe hingga terjatuh ke tanah.


"Menjauh dariku, kalian hanya datang dan membuat masalah saja di sini. Semua yang telah kalian lakukan pada kota ini, pastinya akan menerima balasan dari prajurit kekaisaran.


Dan kami.....para budak, yang akan menerima hukumannya, meski kami tidak melakukan apapun. Membebaskan kami? Huh, bahkan anak kecil seperti mu tidak tau apa-apa mengenai dunia yang kejam ini!" serunya dengan marah.


Dia pun kembali melangkahkan kakinya pergi, tapi kemudian tangan kecil Du Zhe segera memegang salah satu kakinya, dan membuat remaja itu berhenti melangkah.


"Aku bilang, guruku belum membolehkan mu pergi." Du Zhe berbicara dengan pelan.


Tatapan mata remaja itu tampak menjadi dingin, dia menarik kakinya yang lain, lalu kemudian segera menendang ke tubuh Du Zhe.


Namun sebelum bisa mengenai sasarannya, Du Zhe segera menarik tangannya yang memegang erat kaki kiri remaja itu.


"Huahh!!"


Buck!


Remaja itu terjatuh ke tanah, belakang kepalanya yang lebih dulu mendarat, terbentur dengan keras.


Kepalanya langsung menjadi pusing dan tatapannya sedikit kabur. Dia melihat Du Zhe tampak seperti menjadi dua hingga tiga orang.


"Ek....kepalaku..."


"Ah! Maafkan aku, aku tidak bermaksud melukai mu!"


Du Zhe buru-buru melepas genggaman tangannya, dan bangkit berdiri.


Dalam kondisi yang masih sedikit pusing, remaja itu kemudian menendang Du Zhe hingga dia terdorong mundur beberapa langkah, dan segera bangkit berdiri lalu berlari pergi meninggalkan Du Zhe.


Melihat itu, Du Zhe pun langsung mengejarnya. Dalam beberapa detik, dia pun berhasil menyusul remaja itu, dan berusaha menghentikannya lagi seperti sebelumnya.


Tapi sebelum dia bisa melakukan itu, dari depannya, sebuah tongkat kayu terayun ke arah kepalanya.


!!!!


Hap!


Dengan refleks nya yang cukup bagus, Du Zhe berhasil menghindarinya dengan menunduk. Saat itu dia melihat seorang gadis yang berusia sama dengan anak remaja laki-laki yang sedang dia kejar sedang memegang tongkat kayu yang di arahkan padanya.


Entah karena instingnya atau lainnya, kaki kanan Du Zhe bergerak cepat, dan menjatuhkan gadis itu dengan cara menendang kakinya.


"Ah!!" Gadis itu menjerit. Dia terjatuh ke tanah dan memegangi bokongnya yang mendarat lebih dulu ke tanah.


Du Zhe tidak mau membuang waktu dengannya, dia segera kembali fokus mengejar remaja laki-laki yang telah berjarak hampir dua puluh meter darinya.


"Dia cepat," gumam Du Zhe pelan.


Remaja laki-laki itu jelas bukan seorang Praktisi Beladiri, Du Zhe bisa memastikan itu meski belum lama menjadi seorang Praktisi Beladiri. Itu terbukti dari kekuatan pukulan dan tendangannya yang diberikan pada Du Zhe sebelumnya.


Sekali lagi, Du Zhe berhasil mengejarnya. Dan tidak ada gangguan seperti sebelumnya.

__ADS_1


Tangan Du Zhe bergerak cepat, dia menangkap tangan kanan remaja itu, dan dalam sekejap membantingnya ke tanah dengan keras.


"Khaackk!!!"


"Kau tidak bisa pergi lebih jauh-"


BAMM!!!


Mendadak, sebuah tangan besar memukul Du Zhe dari belakangnya. Tubuh mungil Du Zhe terlempar dan menabrak dinding bangunan hingga menimbulkan bunyi keras.


Darah dimuntahkan oleh Du Zhe. Matanya memerah, dan melihat sosok pria bertubuh besar dengan tangan terkepal berdiri di tempat Du Zhe sebelumnya berdiri.


"Jangan berani kau menyentuh anak buahku..." Pria itu berkata dengan suara dingin.


Dia memancarkan napsu membunuh dari dalam tubuhnya. Melangkahkan kakinya, dia pun berdiri di hadapan Du Zhe, lalu menggenggam erat kepala Du Zhe, dan mengangkat tubuhnya.


Kaki Du Zhe bergerak dan menendang-nendang tubuh pria besar itu, tapi terlihat pria itu sama sekali tidak bergeming sedikitpun.


Ini cukup membuatnya terkejut karena setahunya, hanya mereka yang berada di Dasar Pondasi tingkat 4 ke atas yang bis menahan tanpa bergerak sedikitpun tendangan dari Praktisi Beladiri yang berada di Dasar Pondasi tingkat 2 sepertinya.


"Hmp! Anak sombong! Hanya berada di Dasar Pondasi tingkat 2 dan kau berani macam-macam dengan anak buah ku?! Ku patahkan kedua tangan dan kaki mu, lalu melihat bagaimana kau bisa melukai anak buah ku lagi!"


Tangan kiri pria itu segera memegang erat tangan kanan Du Zhe, dan dia pun memberikan kekuatan lebih pada genggamannya, hingga membuat tangan kiri Du Zhe mengeluarkan suara retakan.


"Ack-!!"


Du Zhe meringis kesakitan. Wajahnya memerah karena marah sekaligus merasa kesakitan. Tangan kanannya yang tidak di pegang, segera dia pakai untuk memukul tangan pria itu yang menggenggam tangan kirinya, tapi sepertinya sebelumnya pria itu tidak bereaksi sedikit pun.


"Anak sialan, kau masih berani memukul ku? Biar ku lepaskan tangan kiri mu ini, dan kau akan merasakan apa yang namanya neraka itu."


Sekali lagi, pria besar itu menambah kekuatannya pada genggamannya, dan bersiap menarik tangan kiri Du Zhe.


Namun sebelum itu terjadi, sebuah siluet cahaya bergerak sangat cepat, dan melewati pergelangan tangannya.


Detik berikutnya, pergelangan tangan kanannya pun terputus dan terjatuh ke tanah. Pria besar itu kebingungan, dia butuh waktu beberapa detik untuk memproses, sebelum mengetahui apa yang telah terjadi.


"Tanganku?!"


Dia berseru kaget. Tangan kirinya yang memegang kepala Du Zhe segera dilepaskannya, dan dia pun menggenggam bekas potongan pergelangan tangannya.


Darah mengalir keluar dari lukanya, dan dia urat-urat pun muncul pada seluruh tubuhnya.


Tidak ada rasa sakit yang dia rasakan dari bekas potongan itu, namun apa yang terjadi padanya ini adalah sungguhan. Tangannya telah terpotong oleh sesuatu yang bahkan tidak dia ketahui.


Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari penyebab hal tersebut dan dia pun menemukan Pisau Pencabut Nyawa milik Weng Lou yang sedang melayang-layang di atas kepalanya.


Pada saat yang sama, sosok Weng Lou berjalan mendekat dengan perlahan dari gang yang mereka lewati. Terlihat sosok gadis yang dijatuhkan oleh Du Zhe sebelumnya sedang di bopong oleh Weng Lou dengan kedua tangan dan kakinya terikat oleh Qi miliknya.


"Yah....aku tidak menduga bahwa masih ada yang bersumbunyi di antara bangunan kota ini. Sebagai seorang Praktisi Beladiri, kau cukup hebat bisa menyembunyikan keberadaan mu di tempat ini," ucap Weng Lou dengan santai.


Tap....tap....tap....


Suasana yang sepi dan tenang membuat suara langkah kaki Weng Lou menggema di gang tersebut.


Pria itu menatap Weng Lou dengan tajam, dan dia menghadap ke arahnya dengan tangan kirinya terkepal keras.


Sebuah energi berwarna putih mulai melapisi tangan kirinya, dan detik berikutnya dia pun melesat ke arah Weng Lou. Dia memiliki kecepatan yang cukup cepat menurut Weng Lou untuk orang yang berada di Dasar Pondasi.


Selang beberapa detik kemudian, pria itu sampai di depan Weng Lou dan langsung memberikan tinjunya ke arahnya. Namun kemudian tubuh pria itu segera terdiam di tempatnya saat merasakan aura membunuh yang menjalar keluar dari dalam tubuh Weng Lou.


"Kau....monster macam apa kau ini...?"


"Entahlah, mungkin kau bisa memanggilku 'jenius'. Aku lebih suka dipanggil seperti itu."


Shu-


Pisau Pencabut Nyawa melesat dengan cepat, dan kemudian memberikan luka pada kedua kaki pria besar itu hingga membuatnya terbekuk lutut ke tanah.


"Hei, Du Zhe! Kau tidak apa-apa?"


"Aku baik-baik saja, Guru! Hanya sedikit parah tulang!" teriak Du Zhe dari tempatnya.


Weng Lou mengangguk mendengarnya. Kakinya pun segera diayunkannya, dan menedang tubuh pria besar itu hingga sampai ke tempat Du Zhe. Kaki Weng segera melangkah, dia pun tiba di tempat Du Zhe dalam sekejap.


Dia menatap Du Zhe yang sedang memegangi tangan kirinya. Senyum kecil terlihat pada wajahnya. Tangannya segera menyentuh tangan kiri Du Zhe, dan Qi nya mulai mengalir dan menyembuhkannya.


"Sepertinya hanya tanganmu saja yang terluka," ucap Weng Lou yang kemudian melepas tangannya setelah selesai menyembuhkannya.


"Terima kasih Guru."


Mampu melukai Du Zhe hingga mematahkan tangannya, jelas pria besar ini seorang Praktisi Beladiri. Tapi dia kelas bukan salah satu Prajurit di kota ini, tapi fisiknya juga tidak seperti para budak hang ada.


Termasuk kedua anak laki-laki dan perempuan yang bersamanya.

__ADS_1


"Siapa kau, paman? Kau seperti nya bukanlah budak biasa di kota ini. Aku sempat melihatmu menonton aku yang sedang menghabisi pemimpin prajurit dari balik bayangan bangunan. Jika kau tidak mau menjawab tidak apa juga, lagi pula aku akan membunuhmu karena melukai muridku."


Pria besar itu memposisikan dirinya menjadi duduk dan menatap Weng Lou dengan tajam seperti ingin membunuhnya. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang karena tendangan Weng Lou sebelumnya telah mengacaukan aliran Tenaga Dalam pada dirinya begitu saja.


Matanya menatap remaja laki-laki yang ada di tanah dan tak sadarkan diri karena dibanting oleh Du Zhe sebelumnya, lalu menatap gadis yang dibopong oleh Weng Lou dan juga tidak sadarkan diri. Entah apa yang Weng Lou lakukan padanya hingga membuatnya begitu. Dia menghela napasnya.


"Jika aku memberitahu mu, kau berjanji tidak akan melakukan apapun pada mereka berdua?" tanyanya pada Weng Lou.


"Hei, kita bukan bernegosiasi di sini. Jika kau tidak mau memberitahukan namamu maka aku tidak akan memaksamu, karena aku juga tidak peduli," jelas Weng Lou yang membuat pria itu tersedak napasnya sendiri.


"Tunggu nak, sepertinya dia bisa berguna untuk kita." Tiba-tiba Ye Lao berbicara di dalam kepala Weng Lou.


"*Maksud mu?"


"Coba kau lihat, kota ini sangat luas namun semua prajurit telah kau habisi begitu juga dnegan pemimpin nya. Para budak semuanya telah rusak mentalnya dan mustahil bagimu untuk memimpin mereka."


"Jadi kau ingin aku menjadikan orang ini pemimpin yang baru kota ini, begitu?"


"Benar."


"Tidak, itu mustahil. Kau lihat sendiri yang dia lakukan pada Du Zhe, bukan? Mau ditaruh dimana wajahku jika malah menjadikannya pemimpin di kota ini*." Weng Lou mendengus.


"Hentikan sifat mu itu, kita saat ini berencana menguasai seluruh Wilayah Kumuh. Kita memerlukan orang-orang yang cocok untuk memimpin kota-kota di dalamnya agar rencana kita selanjutnya dapat di dilaksanakan. Apa kau masih mau bertemu dengan keluarga mu?" tanya Ye Lao yang langsung membuat Weng Lou terdiam.


"Baiklah, kau menang. Akan kulakukan seperti yang kau sarankan."


Weng Lou memutar matanya, lalu melangkah ke arah pria itu setelah mengambil potongan tangannya yang ada di tanah.


Dia melemparkannya pada pria itu, lalu juga melemparkannya sebuah pil dari dalam ruang penyimpanannya.


"Aku berubah pikiran, aku akan menjadikanmu pemimpin sementara di kota ini. Telan pil itu, tangan mu masih bisa kau dapatkan kembali jika kau menelannya sekarang." Weng Lou berbicara sambil tersenyum padanya.


Pria itu mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti jalan pikiran Weng Lou. Sebelumnya dia ingin membunuhnya tapi sekarang dia kalah kau menjadikannya pemimpin baru di kota ini.


Tapi di sisi lain, dia menatap pil yang diberikan oleh Weng Lou. Dia tidak pernah mendengar tentang oil seajaib itu sebumnya. Entah pil seperti itu benar ada atau tidak, tapi jika dia tidak mencoba maka dirinya tidak akan tau apa yang dikatakan oleh Weng Lou benar atau tidak.


Setelah berpikir selama beberapa saat, dia pun memutuskan untuk menelan pil yang diberikan oleh Weng Lou.


Sensasi panas mendadak muncul pada perutnya. Seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, dan dia menatap Weng Lou dengan tidak percaya.


Dia memberinya racun?! Itulah yang dipikirkan oleh pria itu.


"Bodoh, pegang potongan tangan mu itu, dan tempelkan pada bekas potongannya, bukan menatapku seperti orang gila," cibir Weng Lou.


Entah mengapa pria itu merasakan sebuah harapan dari kata-kata Weng Lou. Dengan cepat dia pun menempelkan potongan tangannya yang telah dipotong oleh Weng Lou sebelumnya 0ada bekas potongannya.


Secara ajaib, tangannya yang sudah terpotong itu mulai menyatu kembali mulai dari dagingnya, kulitnya, hingga kemudian tulangnya.


Mulut pria itu terbuka lebar, dia tidak bisa berkata-kata melihat itu dan menatap Weng Lou dengan kekaguman yang tidak bisa digambarkan olehnya sendiri.


"I-Ini...ini....aku...terima kasih banyak..."


"Jangan dipikirkan, aku hanya mau kau mengatur dan menjaga kota ini beserta para budak yang lain sampai aku kembali lagi ke sini. Dan juga..."


Weng Lou menoleh dan melihat di ujung salah satu gang dimana ada beberapa tubuh prajurit yang sudah tak bernyawa.


"Aku mau kau mengumpulkan semua tubuh para prajurit itu dan mengumpulkan semua peralatan yang mereka pakai. Setelah itu kau mau bakar atau kubur mereka aku tidak peduli, yang jelas aku tidak mau melihat tubuh mereka saat aku kembali ke sini, apa kau mengerti?"


Pria bertubuh besar itu melihat ke arah yang Weng Lou pandang, sebelum kemudian mengangguk setuju.


"Baiklah jika itu mau mu, akan kulakukan semuanya itu dengan baik," balasnya.


"Baguslah kalau begitu."


Setelah pembicaraan singkat mereka, Weng Lou kemudian menurunkan tubuh gadis yang dia bawa, lalu berjalan ke arah Du Zhe.


"Ayo Du Zhe, kita sudah selesai di sini. Sekarang tempat kita harus kunjungi terakhir hari ini adalah Kota Heishin, lalu akan kuajari kau beladiri," ucap Weng Lou.


Du Zhe mengangguk. Mereka berdua kemudian berjalan pergi dan kembali ke Kera Hitam Petarung yang ada di bagian depan kota.


Mereka pun pergi dari kota itu, meninggalkannya dalam kondisi yang penuh dengan tubuh tak bernyawa.


Pria itu diam di tempatnya selama beberapa saat, sampai kemudian remaja laki-laki dan gadis seusia remaja itu yang merupakan anak buah pria besar itu tersadar kembali.


"Bos...? Apa yang terjadi? Dimana anak kecil itu...?" tanya remaja laki-laki itu pada pria tersebut.


"Mereka sudah pergi, sekarnag tinggal kita dan para budak yang lain di kota ini," jawabnya singkat sambil bangkit berdiri dan mulai berjalan pergi ke arah tumpukan tubuh para prajurit.


Kedua anak buahnya itu menatap nya dengan bingung. Mereka pun segera mengikutinya dari belakang.


"Sekarang....apa yang akan kita lakukan, bos?" Gadis yang bersama remaja laki-laki itu bertanya.


"Apa yang kita lakukan? Kita akan mulai mengumpulkan tubuh para prajurit itu."

__ADS_1


Pria itu menunjuk ke arah tubuh para prajurit berada.


Keduanya melihat itu dengan semakin kebingungan, tapi tidak ada komentar pagi dari mereka. Sebagai anak buah pria itu, mereka hanya harus melakukan apa yang diperintahkan oleh bos mereka.


__ADS_2