
Apa yang membuat Weng Lou kehidupan kesembilan puluh sembilan menjadi begitu serius adalah karena dia sudah memperhitungkan sebelumnya kapan sang Unknown God akan lepas dari segel yang mengikatnya selama ini.
Menurutnya, paling cepat Unknown God akan lepas dalam waktu sepuluh tahun lagi, dan itu sudah merupakan perhitungan yang jika keberuntungan bekerja di dalamnya. Namun mendengar bahwa beberapa orang telah melihat sosok Unknown God di dalam Gurun Pemakan Kehidupan hal itu hanya berarti satu hal, segel Unknown God sudah melemah sangat jauh dan dari kelihatannya hanya perlu waktu beberapa tahun saja untuk dia benar-benar terbangun dan lepas dari segelnya.
"Ini buruk. Sepertinya kehidupan terdahulu yang tidak mewariskan ingatannya kepada kehidupan yang lain selain kehidupan keseratus sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Sepertinya dia menyisakan beberapa kesadarannya di Desa Fenmu untuk memastikan segelnya tetap bekerja hingga saat ini. Namun itu tidak akan bertahan lama, saat diriku di kehidupan ini mencapai ranah Deva, Unknown God akan langsung terlepas dari segelnya.
Kemungkinan terburuknya, Unknown God akan langsung menyerap seperempat kehidupan yang ada di Daratan Utama begitu dia lepas dari segelnya dan melanjutkan untuk menyerap kehidupan lainnya detik berikutnya. Sialan, mencapai ranah Absolute terdengar sangat mustahil untuk dicapai dalam beberapa tahun. Bahkan dengan bantuan diriku kehidupan pertama, itu masih terdengar tidak masuk akal."
Menghela napas panjang, Weng Lou kehidupan kesembilan puluh sembilan mulia menggosok keningnya.
Perhitungan yang telah dia buat di setiap kehidupannya bisa dibilang selalu akurat. Seperti kapan dirinya akan bereinkarnasi, siapa identitas atau dimana saja rekan-rekannya di masa lalu yang juga telah bereinkarnasi di kehidupan sekarang. Bisa dibilang dia memperhitungkan semua itu dengan sangat detail. Satu-satunya masalah adalah ketika ada campur tangan dari kekuatan asing di luar dimensi asal mula, maka perhitungannya biasanya tidak pernah tepat, atau bahkan melenceng jauh.
Bahkan ayah dan ibunya yang telah bereinkarnasi di kehidupan sekarang tidak bisa dia ketahui karena ada campur tangan Zhi Juan di dalamnya.
"Haaaah......jika sudah begini satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri. Aku akan mencoba memberitahu klon ku di dalam dimensi pewarisan ingatan bahwa segel Unknown God telah melemah jauh dari perkiraan yang telah dibuat sebelumnya. Untuk sekarang, aku ingin kalian membantu orang-orang yang telah lama berada di puncak akhir Kaisar Jiwa untuk waktu yang sangat lama naik ke ranah Deva. Semakin banyak Dewa yang kita miliki, semakin siap juga kita dalam pertempuran terakhir nanti."
***
Sementara orang-orang di Pulau Pasir Hitam bersiap untuk melakukan pertempuran habis-habisan melawan Unknown God, belasan Dewa dari berbagai tingkatan berkumpul di sebuah tempat yang terlihat seperti reruntuhan yang telah ribuan tahun lamanya ditinggalkan.
Semua Dewa itu memancarkan kekuatan yang mengerikan dan mengeluarkan tekanan yang tidak bisa ditangani oleh mereka yang berada di ranah Penguasaan Jiwa, bahkan seorang Kaisar Jiwa puncak akhir sekalipun.
Belasan Dewa duduk melingkar dengan sebuah meja berbentuk lingkaran di tengah-tengah mereka. Meja itu dibuat dari marmer yang terlah berusia sangat tua. Ada banyak debu yang menutupinya, juga terdapat banyak retakan di segala sisinya.
Mereka semua adalah Dewa yang ada di Daratan Utama saat ini. Tidak termasuk Lin Nushen dan Ying She, mereka semua berasal dari berbagai kelompok yang ada di Daratan Utama, termasuk dua dari empat Keluarga Besar. Keluarga Yang dan juga Keluarga Wang.
Salah satu Dewa adalah seorang pria berambut kuning terang nyaris seperti emas. Dia duduk dengan dada terbusung dan menatap tajam pada beberapa Dewa yang dikenal olehnya. Di sampingnya, sebuah kitab berwarna emas berkedip-kedip dalam cahaya keemasan dan memancarkan aura yang terkesan seperti penegak keadilan.
__ADS_1
Dia adalah kepala Keluarga Yang, sang pemilik dari Kitab Keadilan. Orang-orang yang dia tatap adalah Dewa yang memiliki reputasi sangat buruk di seluruh wilayah Daratan Utama karena tindakan kejahatan mereka. Entah di masa lalu, ataupun sekarang.
"Bisakah kita mulai membahas tujuan dari pertemuan ini? Aku sudah cukup muak duduk di tempat yang sama dengan beberapa makhluk tak bermoral di sini," kata Kepala Keluarga Yang sambil mendengus kesal.
Dewa yang saat ini sedang dia tatap tersenyum mengejek sebagi balasan. Dia adalah seorang pria bertubuh kurus. Seluruh wajahnya pucat dan kelopak matanya hitam seperti sengaja diwarnai.
"Sepertinya penyakit mental yang diderita Saudara Yang mulai memburuk dibandingkan dengan saat terakhir kali kita bertemu satu sama lain. Mungkin kah kematian putra pertamanya membuat penyakitnya menjadi semakin parah? Astaga, aku jadi merasa khawatir padanya." Dewa itu berbicara dengan nada mengejek dan menatap Kepala Keluarga Yang dengan senyum lebar.
Kepala Keluarga Yang yang mendengarnya langsung tersulut oleh emosi. Cahaya terang terpancar darinya saat dia hendak menyerang Dewa itu. Namun kemudian, sebuah suara membuat dia menghentikan tindakannya.
"Hentikan itu. Sialan. Apa kalian benar-benar seorang Dewa? Kita bahkan belum memulai rapat kita, tapi kalian berdua sudah bertingkah seenaknya," ujar seorang Dewa yang duduk dua kursi di kanan Kepala Keluarga Yang.
Jari telunjuknya mengetuk meja dari marmer dan sebuah layar besar muncul di tengah-tengah mereka.
Layar berwarna emas transparan itu menampilkan sosok seorang pria tua yang duduk di atas kapal kayu. Beberapa Dewa yang melihat sosoknya langsung segera mengerutkan kening dan menarik napas dalam.
Dewa yang menampilkan sosok di layar emas itu mengangguk. Layar emas kemudian menampilkan gambar lainnya, dan itu adalah penampilan sosok misterius yang ditemukan di dalam lubang teleportasi yang terdapat di Gurun Pemakan Kehidupan.
Saat sosok itu ditampilkan, semua Dewa menjadi diam. Mereka semua dengan serius menatap pada sosok itu. Meski begitu, tidak ada satupun yang mengenalinya.
Karena semuanya hanya diam ketika melihat sosok itu, Dewa yang menampilkan gambar tersebut akhirnya berbicara. "Kalian pasti bertanya-tanya, apa hubungan Weng Lao De dengan sosok gambar sosok misterius di dalam jalur teleportasi yang di temukan di dalam Gurun Pemakan Kehidupan. Akan kukatakan, ini sebenarnya hanya perkiraan ku saja, sepertinya sosok misterius ini adalah alasan mengapa Kepala Keluarga Weng lima ratus tahun lalu memutuskan untuk memisahkan seluruh wilayah Keluarga Weng dari Daratan Utama."
Ini adalah sebuah teori yang dia buat setelah mendapatkan informasi bahwa perwakilan dari Pulau Pasir Hitam belum melakukan pemusnahan terhadap Keluarga Ying.
Dia mengetahui bahwa kapal kayu perwakilan Pulau Pasir Hitam sempat mengunjungi Keluarga Lin. Menurutnya, Lin Nushen pasti memberitahukan informasi mengenai kemunculan sosok misterius itu kepada Weng Lao De. Mau bagaimana pun, Keluarga Weng adalah orang yang selama ini menyelesaikan segala hal yang terjadi di Daratan Utama selama waktu yang tak terhitung lamanya.
Setelah kepergian mereka, belum ada tanda mereka akan datang kembali untuk beberapa waktu ke depan, sehingga teori ini cukup kuat.
__ADS_1
"Jadi kau ingin mengatakan, bahwa Keluarga Weng memisahkan diri dari Daratan Utama karena mengetahui mengenai sosok ini? Jadi menurut perkiraan mu mereka berusaha kabur dari makhluk ini?" Orang yang bertanya adalah seorang Dewa lain yang memiliki kitab yang melayang juga di sampingnya.
Dia adalah wanita yang terlihat berusia seperti dua puluhan tahun, namun tidak akan ada yang percaya jika umurnya hanya dua puluhan tahun. Dia jelas paling tidak telah berusia seribu tahun lamanya. Terdapat cadar berwarna merah muda yang terpakai di wajahnya.
Kitab yang melayang disampingnya memancarkan cahaya merah muda. Bayangan kupu-kupu sesekali terbang di sekitar kita itu. Pada sampul depan, terlihat nama dari kitab tersebut.
'Kitab Kenafsuan'.
Dewa yang menampilkan layar emas menatap pada wanita itu. Dia menggelengkan kepalanya.
"Bukan kabur, tapi lebih tepatnya mempersiapkan diri untuk melawan makhluk itu. Jika mereka ingin kabur, maka Kepala Keluarga Weng tidak akan repot-repot membawa satu wilayahnya untuk meninggalkan Daratan Utama. Meski jaraknya cukup jauh, namun sosok makhluk misterius itu pasti masih bisa mencapai wilayah Pulau Pasir Hitam.
Satu-satunya alasan yang cukup masuk akal adalah Keluarga Weng sedang bersiap untuk memusnahkan makhluk misterius itu. Alasan mereka memisahkan diri dari Daratan Utama menurutku adalah karena mereka tidak ingin empat Keluarga Besar yang lain membuat fokus mereka terganggu karena peperangan yang sedang bergejolak waktu itu," jelasnya dengan suara tenang.
Semua Dewa di meja itu terdiam. Mereka selama ini selalu bertanya-tanya apa alasan sebenarnya dari Kepala Keluarga Weng yang memisahkan Keluarga Weng dari Daratan Utama.
Ada beberapa yang berpikir bahwa Kepala Keluarga Weng khawatir empat Keluarga Besar akan mengincar wilayah milik Keluarga Weng setelah kematian dari sang Kepala Keluarga mereka. Namun teori ini segera ditepis dengan cepat oleh banyak Dewa berperingkat tinggi.
Pasalnya, selain Weng Lou yang merupakan orang terkuat di Daratan Utama waktu itu, sang Penasehat Kepala Keluarga Weng sendiri adalah orang terkuat kedua. Kekuatannya berada tidak jauh dari Dewa tingkat tertinggi sehingga membuat mustahil keluarga manapun mempunyai pikiran untuk berperang melawan mereka.
Setelah mendengarkan teori Dewa yang menampilkan layar emas tersebut, mereka semua menganggapnya cukup masuk akal.
"Lalu? Apa yang kau inginkan setelah memberitahu kami tentang ini?" Seorang Dewa yang mengenakan jubah hitam penuh bercak darah bertanya.
Dewa yang menampilkan layar emas tiba-tiba merubah ekspresi wajahnya menjadi serius.
"Aku ingin kita semua juga membuat persiapan terhadap hal ini. Tidak, kita harus membuat persiapan. Sejak kemunculan sosok makhluk misterius itu, tidak ada pergerakan yang ditunjukkan olehnya, sepertinya makhluk misterius itu sedang dalam keadaan yang membuatnya tidak bisa keluar dari tempatnya atau mungkin dia sedang tersegel.
__ADS_1
Itu berarti, kondisi saat ini sedang dalam masa-masa kritis. Dia pasti sedang bersiap-siap untuk keluar dari segelnya. Sebelum dia bisa keluar, aku menyarankan kita semua untuk membunuhnya sebelum waktu itu tiba."