Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
420. Akhir Dari Seleksi Pertama


__ADS_3

Persis setelah Weng Hua selesai mengalahkan lawannya yang merupakan seorang wanita bersenjatakan dua belati, Weng Ning sudah mulai ikut bertarung melawan dua orang sekaligus.


Dua lawan nya adalah seorang pria yang terlihat sudah berusia lima puluhan, dan seorang pria bertubuh besar dengan rambut yang botak.


Buck!!!!


Yang pertama memberikan serangan adalah pria botak. Dia memberikan sebuah tinju yang sangat kuat ke arah Weng Ning, tapi segera berhasil ditangkis olehnya menggunakan bongkahan es yang diciptakannya dalam sekejap mata.


KRACK!!!!


Bongkahan es seukuran tubuh manusia dewasa itu hancur dalam hitungan detik setelah menerima pukulan dari pria botak.


Sssss.......


Pria botak itu tidak melanjutkan serangannya, melainkan berdiri diam dan menatap tangan kanannya yang ia pakai untuk memukul sebelumnya.


Terlihat pada tangan kanannya itu mulai berubah warna menjadi pucat kebiruan yang dikarenakan oleh suhu dingin dari es yang dia tinju sebelumnya.


"Rasa dingin ini...."


Menahan dingin di tangannya, pria botak itu mengangkat kepalanya dan menatap Weng Ning yang masih berdiri diam setelah menangkis pukulan pria botak itu.


"Gadis kecil beritahu aku, apa unsur Dantian milikmu?" tanya pria botak itu dengan wajah tanpa emosi.


Weng Ning hanya diam, tidak ada niat darinya untuk menjawabnya sama sekali. Dia memilih memasang posisi siap bertarung, sebagai jawabannya.


Pria botak itu mengerutkan dahinya, sebelum kemudian tersenyum lebar.


"Jika kau tidak ingin menjawabnya, maka biarkan aku yang mencari tahu jawabannya sendiri."


Dia mengalirkan Qi miliknya pada tangannya yang berubah menjadi biru karena dingin, dan membuatnya kembali normal. Menekuk lututnya, dia pun melesat dengan cepat di hadapan Weng Ning.


"Seribu Pukulan Pengampunan Darah!"


Pukulan bertubi-tubi dilepaskan oleh pria botak itu kepada Weng Ning, akan tetapi Weng Ning masih diam di tempatnya, tidak bergerak untuk menghindarinya sana sekali.


Krack.....tsss!!!!


Pukulan-pukulan pria botak itu telak mengenai' tubuh Weng Ning, dan menguat pria botak itu tersenyum sinis. Tubuh Weng Ning hancur berkeping-keping bagai kaca setelah terkena pukulannya.


"Jadi benar, Dantian Es. Hahahaha....gadis kecil, kau adalah sebuah harta karun di tengah sampah-sampah ini!" seru pria botak itu.


Tubuh Weng Ning yang dihancurkan olehnya sebelumnya hanyalah sebuah patung es yabg diciptakan oleh Weng Ning untuk mengelabuhi nya.


"Sampah? Jika sampah yang kau maksud adalah dirimu dan Lina orang lainnya, maka ya aku berada di tengah-tengah sampah."


Tidak jauh dari situ, sosok Weng Ning muncul dengan kedua tangannya sudah mengeluarkan hawa dingin yang sangat menusuk.


"Hajar dia, Ning! Jangan beri ampun!" Weng Hua yang baru saja mengalahkan lawannya, memberi semangat pada Weng Ning dan dibalas dengan senyuman kecil olehnya.


Weng Ning melangkah maju, dan mendekati tubuh pria botak itu dengan tenang, sementara pria botak itu sudah siap untuk melakukan serangan selanjutnya.


"Ning? Itukah namamu? Cukup bagus juga. Pendeta Agung kami pasti senang jika aku bisa membawamu padanya."


"Tidak perlu repot-repot, aku tidak akan ikut dengan dirimu. Hawa Es Abadi!"


Psssss- SHUUUU!!!!!


Tiupan angin kencang keluar dari kedua telapak tangan Weng Ning yang kemudian bergerak cepat mengenai pria botak itu.


Pria botak itu terlambat bereaksi, dan detik berikutnya seluruh tubuhnya sudah membeku tanpa ia sadari. Wajahnya yang tampak tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya, tapi dia sudah tidak bisa melakukan apapun karena dirinya sudah membeku.

__ADS_1


"Hahaha.....pendeta yang sengat ceroboh, dia membiarkan dirinya lengah pada saat-saat genting."


Peserta pria lainnya yang merupakan lawan Weng Ning muncul di samping pria botak yang sudah membeku itu. Dia menendang kaki pria botak itu, dan kemudian tubuhnya hancur berkeping-keping.


"Hawa dingin ini membuatku merasa nikmat nak, bagaimana jika kau memberikan lebih banyak hawa dingin itu padaku." Peserta pria yang terlihat berusia lima puluhan itu tersenyum sambil menggenggam bongkahan tubuh dari pria botak sebelumnya yang telah menjadi es.


Bongkahan es di tangannya perlahan menghilang sedikit demi sedikit, hingga akhirnya menghilang seutuhnya. Weng Ning menaikkan sebelah alisnya melihat itu.


Es miliknya memiliki suhu yang sangat dingin karena merupakan es murni, orang biasa yang menyentuhnya bisa berubah menjadi es jika tidak berhati-hati, itulah yang terjadi pada pria botak tadi.


Pria berusia lima puluhan di hadapannya ini justru bisa meresap es miliknya yang tidak bisa mencair.


"Es ini cukup nikmat juga, bisa berikan aku lagi?"


Dalam satu menit, semua bongkahan es yang berasal dari tubuh pria botak itu telah diserap semuanya oleh pria itu, membuat wajah Weng Ning menjadi serius.


"Siapa kau sebenarnya?"


***


Dua puluh menit berlalu, 5 orang peserta yang datang semuanya telah berhasil dikalahkan oleh Lin Mei dan yang lainnya.


Yang tersisa adalah seorang pria berusia lima puluhan yang merupakan lawan kedua Weng Ning.


Saat ini, Weng Ning sedang saling beradu tapak dengan lawannya yang ternyata memiliki kelincahan yang hampir setara dengannya.


Dahi Weng Ning sudah mulai muncul keringat karena dia mulai lelah. Dua puluh menit pertarungan, dirinya yang paling banyak memberikan serangan, sementara lawannya lebih memilih untuk bertahan.


Qi miliknya sedikit demi sedikit terkuras karena setiap serangan miliknya mengandung Qi. Entah itu karena serangan tapak atau pun serangan unsur, yang jelas jika dia tidak juga memenangkan pertarungan ini, maka dia akan masuk dalam situasi sulit.


Sementara itu, lawan Weng Ning, pria yang terlupakan berusia lima puluhan tahun masih tampak baik-baik saja.


Bam! Buck!


Serangan tapak Weng Ning dan lawannya saling beradu, dan membuat Weng Ning terdorong mundur dua meter.


"Ada apa nak? Kau mulai lelah? Kenapa kau tidak menyerah saja?" tanya lawannya itu.


Weng Ning tidak menjawab, dia menarik napas dan kemudian kembali menyerang.


Lawannya hanya tertawa pelan sebelum kemudian mulai menangkis satu persatu serangan dari Weng Ning. Hawa dingin yang dikeluarkan oleh setiap serangan dari Weng Ning berhasil ia serap, sehingga keuntungan utama Weng Ning sama sekali tidak mempengaruhinya.


"Pria ini....bagaimana caranya dia menyerap hawa dingin dari es milikku?"


Pertanyaan itu terus bergema di dalam kepala Weng Ning, hingga dia kehilangan konsentrasinya dan tidak melihat sebuah serangan tapak dari lawannya.


PAAKK!!!


"Maafkan aku karena ikut campur, tapi pertarungan ini sudah berlangsung terlalu lama."


Tepat ketika tapak pria itu akan mengenai dada Weng Ning, sosok Weng Lou sudah muncul lebih dulu di hadapannya, dan menahan tapak pria itu.


"Lou?!"


"Hoo? Kau hebat juga menahan tapak ku nak."


Shuuu-


Weng Lou melompat mundur sambil membawa Weng Ning, sementara pria itu tetap di situ menatap Weng Lou dan Weng Ning.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Weng Lou pada Weng Ning.

__ADS_1


Weng Ning diam dan menundukkan kepalanya, dia merasa malu karena telah membuat Weng Lou sampai harus ikut campur tangan dalam pertarungannya, hanya karena kecerobohannya sendiri.


"Lou....aku..."


"Sudahlah, kau diam saja di sini. Jangan memaksakan dirimu, ini masih babak seleksi pertama. Lebih baik tidak membuang-buang tenaga di sini, karena pertarungan sebenarnya adalah babak seleksi kedua," ucap Weng Lou yang tersenyum padanya.


Weng Lou berbalik dan kemudian menatap lawan Weng Ning dengan senyum percaya dirinya.


"Dari senyummu, sepertinya kau mengetahui rahasia ku, nak." Pria itu berbicara dengan tenang.


Dia ikut tersenyum pada Weng Lou.


"Ya....aku harus menonton pertarungan kalian selama beberapa saat terlebih dahulu, baru bisa menemukan rahasia dari teknik menyerap mu itu."


"Benarkah? Kalau begitu ayo kita lihat, apa benar yang kau katakan."


Mendadak sosok pria itu menghilang, begitu juga Weng Lou, dirinya sudah menghilang dari hadapan Weng Ning.


Tap....


PACK! BUCK! BAM!!!


Beberapa meter dari tempat Weng Ning, terdengar bunyi pertarungan yang menggema. Debu mulai naik dan menutupi sekitarnya.


"Kau cukup cepat nak, tidak menduga ada seorang pemuda yang bisa memiliki kecepatan seperti ini di ranah Pembersihan Jiwa tahap 8 menengah," ucap pria itu.


TACKK!!!!


"Kau juga, hanya berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 9 puncak tapi memiliki kecepatan di ranah Penyatuan Jiwa tahap 2, itu cukup hebat untuk seorang pria yang hampir menjadi seorang kakek-kakek."


Bam!! Sosok keduanya muncul, dan terlihat serangan tapak mereka saling bertemu dan beradu.


"Jadi, apa rahasia ku?"


"Kau memanfaatkan Qi milikmu, dengan membentuk pusaran Qi pada telapak tanganmu. Membuat suhu dingin dari temanku tidak mengenai tubuhmu, benar bukan?"


!!!!


"Hahaha....tidak menduga seorang pemuda bisa melihat rahasiaku semudah ini.....kau adalah seorang jenius, nak. Kalau begitu kita selesaikan saja pertarungan ini, aku sudah kurang berminat lagi melanjutkannya terlalu lama."


"Yaa...aku juga, dari situasi sekitar sepertinya sebentar lagi seleksi pertama akan selesai."


Srrttt......tap.....


Weng Lou kembali muncul di depan Weng Ning, sementara lawannya muncul sekitar 10 meter darinya dengan kondisi beberapa bagian tubuhnya mengalami luka lebam ringan.


"Itu adalah pertarungan yang hebat nak, semoga kita bertemu lagi di babak selanjutnya," ucap pria itu yang kemudian bergerak pergi meninggalkan tempat itu, yang mana membuat mereka semua yang menonton menjadi kebingungan.


"Lou! Kenapa kau tidak mengalahkan orang itu?"


Lin Mei yang menonton tidak jauh dari situ berseru pada Weng Lou dengan wajahnya yang tampak jengkel.


"Tidak perlu, babak seleksi pertama sudah selesai," ujar Weng Lou.


"Huh?! Apa maksudmu? Gongnya bahkan belum berbu-"


DAAANNGGGG!!!!!!


"Baiklah semuanya, seleksi pertama selesai!"


Tepat ketika suara gong dan pria itu terdengar, semua pertarungan yang terjadi di seluruh lapangan arena pun berhenti seketika.

__ADS_1


Mulut Lin Mei menganga mendengar itu. Dia pun buru-buru menatap sekelilingnya, dan benar saja, semua peserta yang tersisa hanya 100 orang saja di seluruh arena pertandingan.


__ADS_2