
Berjalan berdua di Kota Hundan.
Weng Lou dan Weng Ying Luan mencari tempat yang sesuai untuk menjual barang jarahan yang Weng Lou bawa bersamanya.
Meski masih kesal dengan tingkah Weng Ying Luan, Weng Lou hanya bisa diam dan mengikutinya dari belakang. Mau bagaimanapun, tidak ada alasan baginya untuk membencinya hanya karena sebuah permasalahan yang bahkan tidak merugikan siapa pun.
Tepat ketika Weng Lou pergi keluar dari Rumah Obat sebelumnya, hari telah menunjukkan waktu malam hari. Suasana Kota Hundan telah berubah dengan sangat cepat dibandingkan ketika Weng Lou masuk ke Rumah Obat.
Keramaian memenuhi seluruh kota. Banyak orang-orang yang terlihat berjalan-jalan di sepanjang jalan kota.
Toko-toko pada setiap bangunan besar telah sepenuhnya terbuka. Warna-warni cahaya mewarna kota, membuat Weng Lou dan Weng Ying Luan sejenak melupakan bahwa kota ini adalah Kota Hundan, kota dengan tingkat kejahatan yang sangat tinggi.
Kapan saja dan dimana saja, kejahatan bisa terjadi di Kota Hundan ini.
"Hei Lou, kau tau ingin menjual dimana barang-barang jarahan yang kau maksud itu?"
Weng Ying Luan yang sebelumnya masih dalam suasana hati senang, mulai bisa kembali menenangkan dirinya sendiri, dan fokus pada tujuan mereka selanjutnya.
"Aku tidak tau. Kita jalan-jalan saja dulu, sambil melihat-lihat beberapa toko yang ada. Ada banyak pastinya, tempat-tempat yang menerima jasa jual-beli barang jarahan. Jangan lupakan bahwa kota ini adalah kota kriminal, dimana kejahatan bisa terjadi kapan saja," balas Weng Lou yang menyamakan posisinya dengan Weng Ying Luan yang sebelumnya berada di depannya.
Setelah perbincangan singkat itu, keduanya pun hanya diam sambil terus berjalan menyusuri kota.
Setengah jam berlalu, dan mereka belum menemukan tempat yang mereka cari.
Selain itu, keduanya bisa merasakan bahwa mulai semakin banyak pasang mata yang menatap mereka diantara keramaian orang-orang di jalan.
Weng Lou mulai sedikit khawatir. Pada posisi mereka yang seperti ini, akan sulit jika seandainya mereka bertarung. Lingkungan yang sempit akan membuat mereka tidak bisa leluasa dalam bergerak untuk menyerang ataupun menghindar nantinya.
"Lou, menurut ku lebih baik kita pulang saja. Semakin lama kita berkeliaran di sini, semakin naik tingkat bahaya yang mengancam kita berdua. Ini hanya firasat ku, tapi aku merasa bahwa akan ada sesuatu yang buruk jika kita terus berlama-lama di sini...."
__ADS_1
Weng Lou mengangguk setuju mendengar saran dari Weng Ying Luan. Dia juga mulai merasa bahwa situasi mereka mungkin saja akan semakin berbahaya jika terus berada di luar sini.
Di saat mereka berdua akan putar balik dan pulang ke penginapan mereka, sebuah suara tak asing terdengar dari dalam kepala mereka berdua.
"Jangan berbalik Lou, Luan."
Gerakan tubuh mereka berdua pun segera terhenti begitu mendengar suara yang tidak lain adalah milik Jian Qiang.
"Paman Jiang?! " tanya Weng Lou dengan suara terkejut.
Dia yakin pada jarak tempat mereka saat ini dengan penginapan telah melewati batas maksimal dari Kekuatan Jiwa milik Jian Qiang, Jadi satu-satunya jawaban mengapa dia bisa berbicara kepada keduanya adalah, Jian Qiang berada di dekat mereka.
"Bersikap normal dan masuk ke gang di kanan kalian, aku akan ke situ dan membawa kalian ke penginapan. Ada seorang yang berada di ranah Penyatuan Jiwa sedang ikut mengawasi kalian saat ini, berhati-hati lah."
Setelah mengatakan itu, suara Jian Qiang tidak terdengar lagi di dalam kepala Weng Lou maupun Weng Ying Luan.
Walau masih berada di kondisi sedikit bingung, tapi kepala mereka segera berpikir cepat dan mencerna semua informasi yang diberikan oleh Jian Qiang sebelumnya.
Pada sebuah atap bangunan, terlihat sosok pria kurus sedang berdiri dan menatap kebarah jalan kota yang padat.
Pria itu memperhatikan sosok Weng Lou dan Weng Ying Luan yang bergerak ke arah gang jalan. Begitu mereka berdua telah masuk ke gang tersebut, sosok pria yang tidak lain adalah Jian Qiang tersebut menghilang dan beberapa detik kemudian tiba di gang yang sama dengan Weng Lou dan Weng Ying Luan.
"Kemari lah," ucap Jian Qiang yang menunjukkan dirinya di depan Weng Lou dan Weng Ying Luan.
Tanpa ragu mereka berdua segera berlari ke arah Jian Qiang. Sesampainya mereka, Jian Qiang langsung memegang kedua tangan mereka berdua, dan detik selanjutnya, sosoknya menghilang bersama dengan Weng Lou dan Weng Ying Luan yang ia pegang tangannya.
Di atas bangunan yang berjarak dua ratus meter dari gang sebelumnya, Jian Qiang bersama Weng Lou dan Weng Ying Luan muncul selang beberapa detik mereka menghilang dari gang tadi.
Mereka hanya berada di situ selama dua detik, sebelum kemudian kembali menghilang, dan muncul ratusan meter jauhnya lalu kembali menghilang selang dua detik lagi.
__ADS_1
Ketiganya terus menghilang selama beberapa kali, hingga akhirnya ketiganya sampai di penginapan tempat mereka menginap.
"Kita sampai," ucap Jian Qiang yang melepaskan pegangannya.
Tubuh Weng Lou dan Weng Ying Luan langsung terkapar di lantai penginapan begitu pegangan tangan Jian Qiang melepaskan tangan mereka berdua.
"Uhuk! Uhuk!! Uhuk!!!"
"Hooekk!!!"
Weng Lou terbatuk-batuk dengan keras, sementara Weng Ying Luan memuntahkan isi perutnya.
Berpindah tempat dengan kecepatan yang luar biasa seperti yang baru saja mereka lakukan benar-benar berbeda sensasi nya dengan teknik teleportasi yang dilakukan oleh Yi Chen.
Yang Weng Lou dan Weng Ying Luan rasakan ketika berpindah tempat dengan Yi Chen adalah kepala mereka seperti berputar dengan cepat, sementara ketika yang mereka rasakan ketika berpindah tempat bersama Jian Qiang adalah seperti isi perut mereka diaduk dalam kecepatan yang luar biasa.
Weng Lou cukup beruntung karena memiliki pernapasan ketiga dari Teknik Meringankan Diri, sehingga dia hanya sekedar kesulitan bernapas untuk sesaat. Sementara Weng Ying Luan berada dalam kondisi buruk. Dia tidak memiliki teknik pernapasan sejenis pernapasan ketiga milik Weng Lou, sehingga efek yang dia rasakan benar-benar buruk.
Tidak hanya dia merasakan isi perutnya yang terus berputar cepat, tetapi kesadarannya juga ikut terguncang.
"Benar-benar lemah, apakah dengan kekuatan seperti ini kalian ingin ikut ke Turnamen Beladiri Bebas? Sebaiknya lupakan saja, kalian hanya akan mati di sana."
Ketika Weng Lou dan Weng Ying Luan masih menstabilkan kondisi mereka, sosok kakek tua pemilik penginapan muncul dan mengkritik mereka berdua.
"Minum teh ini, ini akan membuat kondisi kalian lebih baik," ucapnya yang menyodorkan dua buah cangkir berisi teh hangat pada Weng Lou dan Weng Ying Luan.
Alis Jian Qiang terangkat melihat yang dilakukan oleh kakek tua di hadapannya ini.
Kakek tua ini sepertinya sudah memperkirakan kedatangan mereka bertiga dan menebak kondisi dari Weng Lou dan Weng Ying Luan setelah tiba. Teh yang ia berikan pada Weng Lou dan Weng Ying Luan dapat dia perkirakan telah dibuat olehnya beberapa saat sebelum kedatangan mereka.
__ADS_1
Siapa sebenarnya kakek tua pemilik penginapan ini?