
Di atas arena Ying She menatap tajam ke arah Baixue dan Weng Hua secara bergantian.
Dia tidak yakin apakah Baixue adalah seekor binatang tunggangan atau bukan, tapi yang pasti Baixue seperti nya bukanlah kabar bagus untuknya.
Benang Qi di tangannya pun menghilang, lalu kemudian dia mengepalkan kedua tangannya, dan mulai melapisinya dengan Qi.
"Aku tidak tau apakah dia binatang peliharaan mu, tapi dia tetap tidak akan bisa mengalahkan ku," ucap Ying She dengan mata menyipit nya.
Baixue dan Weng Hua saling menatap satu sama lain. Terlihat Weng Hua tersenyum canggung pada Baixue.
"Kau dengar sendiri, kan? Dia menyebut ku binatang peliharaan...." Baixue kembali mengeram marah.
"Baik baik, aku tau. Tapi kita lakukan ini bersama, oke?"
"Oke."
Tepat ketika mereka berdua selesai berbicara, Ying She langsung menerjang ke arah mereka berdua dan siap melancarkan serangannya.
Baixue pun segera mengangkat tubuh Weng Hua dan membuatnya naik ke atas punggungnya. Dia langsung melangkah maju, dan berlari ke arah Ying She.
"Tau apa yang harus kau lakukan?" tanya Baixue pada Weng Hua.
"Tenang saja, kita lakukan seperti dilatihan."
Weng Hua menyatukan dua belati Qi miliknya, dan kemudian kedua belati Qi nya itu berubah menjadi sebuah tombak dengan panjang dua meter.
Sring!
Tombak diayunkan, dan Weng Hua pun menghunuskan tombaknya ke arah Ying She.
"Haaa!!!"
Ying She pun menebaskan kedua tangannya, dan serangan energi berbentuk X melesat ke arah Weng Hua, Weng Hua menanggapinya dengan tenang, dan saat serangan energi itu sampai padanya dan Baixue, dia pun mengayunkan sekuat tenaga tombak Qi nya.
PSH!
Serangan energi itu terbelah, dan Weng Hua yang menunggangi Baixue pun sampai di sosok Ying She.
Baixue langsung membuka lebar mulutnya dan siap menerkam sosok Ying She, sementara Weng Hua sudah menusukan tombak Qi tangannya ke arah Ying She.
Menghadapi dua serangan bersamaan, Ying She hanya tertawa pelan, dia pun membungkukkan tubuhnya sedikit ke depan, dan kedua tangannya yang telah dilapisi dengan Qi langsung menahan mulut Baixue yang terbuka lebar.
Sementara tombak Weng Hua hanya dia biarkan terus bergerak dan menusuk perutnya.
Akan tetapi, tombak itu nyatanya tidak bisa menembus perut Ying She, dan hanya menabraknya saja.
Weng Hua mengkertakan giginya, dan menambah kekuatan pada pegangan pada tombaknya, dia memadatkan lebih jauh lagi tombak di tangannya, dan akhirnya berhasil menembus pertahanan pada Ying She.
"Ck, jangan senang dulu!!!"
Ying She meraung dan otot-otot pada seluruh tubuhnya langsung mengencang. Dia memantapkan kedua pijakannya, dan kemudian sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Tubuh Baixue pun mulai terangkat ke depan, dan mata Weng Hua melebar melihat itu.
"Apa-apaan?!" Dia berseru kaget dan menyaksikan Ying She yang dengan paksa mengangkat tubuh Baixue hingga dia tidak lagi menyentuh tanah.
"Hua! Lompat!" seru Baixue pada Weng Hua di atas punggungnya.
Weng Hua pun ta pa ragu segera melompat turun dan detik berikutnya, sosok Baixue pun terbanting dengan keras ke atas tanah dengan punggungnya lebih dahulu.
Baixue sama sekali tidak bisa melawan, Ying She menggenggam dengan erat mulutnya hingga dia tidak bisa melepaskan diri.
Dengan kondisi yang terbaring di atas tanah, Baixue menatap sosok Ying She dengan tajam.
__ADS_1
Cahaya kebiruan pun mulai terkumpul di dalam mulutnya, lalu beberapa saat kemudian hawa dingin pun disemburkannya dan mengenai dengan telak sosok Ying She yang masih sibuk menggenggam gigi.
Tubuh Ying She pun langsung membeku dan seluruh tubuhnya tertutup oleh lapisan es yang sangat dingin, Baixue pun segera melepaskan dirinya dari genggaman Ying She dan kembali bersama Weng Hua.
"Bajingan itu, dia membanting ku seperti sebuah benda saja," umpat Baixue dengan jengkel.
Weng Hua hanya diam mendengar nya dan menatap Ying She yang terselimuti oleh lapisan es di seluruh tubuhnya. Tombak di tangannya pun digenggamnya dengan erat, dan dia segera menusukkan lagi tombaknya ke arah Ying She.
Namun sebelum tombaknya menyentuh tubuh Ying She, tubuh Ying She yang membeku mulai bergetar hebat, dan sedikit kemudian es yang menutupinya hancur lebur dan dia segera menangkap ujung tombak Weng Hua dengan tangannya.
"Haaa.....kalian berdua sudah membuatku kesal," ucap Ying She.
Dia pun mencengkram erat tombak Qi itu dan membuatnya hancur berkeping-keping, lalu dengan cepat dia melesat ke arah Weng Hua dan mencekiknya.
Ying She mengangkat tubuh Weng Hua hingga kakinya tidak menyentuh tanah lagi. Terlihat Weng Hua yang kesulitan bernapas berusaha untuk terlepas dari Ying She, namun usahanya sia-sia. Weng Hua pun berhenti memberontak dan mencoba tetap tenang.
Matanya pun bergerak ke belakang Ying She dan melihat sosok Baixue telah tiba dengan kedua cakar depannya telah bergerak ke arah tubuh Ying She.
"Mati kau sialan!"
Cakar Baixue terlihat sedikit bercahaya saat melesat ke arah tubuh Ying She. Ying She memutar kepalanya, dan sudut mata Ying She menatap dua cakar Baixue tersebut.
Mau tidak mau dia pun melepaskan cekikannya pada leher Weng Hua dan segera menahan dua cakar Baixue.
BAM!!!
"SEKARANG, HUA!" Baixue berseru kencang tepat dua cakarnya ditahan oleh Ying She.
Manarik napasnya dengan cepat, kaki kanan Weng Hua pun mulai tertekuk, dan Qi miliknya mulai memadat di kakinya tersebut.
"Tendangan Kuda Hitam!"
Bam!!!
Kepala Ying She berhasil ditendang begitu saja oleh Weng Hua, dan membuat sosoknya langsung menghantam tanah begitu saja.
"Aargh!"
Ying She tampak terkejut dengan itu, dia tidak menyangka rencana Weng Hua akan seperti ini, membiarkan dirinya sendiri sebagai umpan dan pada akhirnya dia juga yang akan melancarkan serangan. Ini benar-benar tidak sesuai perkiraannya.
Darah keluar dari mulutnya dan mata Ying She sedikit memudar karena hantaman kepalanya ke tanah yang secara tiba-tiba itu.
Tanpa memberi kesempatan untuk Ying She membalasnya, Baixue pun segera melayangkan sapuan menggunakan cakar depannya.
Tubuh Ying She langsung terlempar dan menghantam dinding pembatas arena dengan kuat. Terlihat debu mengepul karena hantaman oleh tubuhnya tersebut.
"Kita menang?" tanya Baixue.
"Tidak, aku rasa kita sepertinya malah membuat dia semakin marah," jawab Weng Hua yang menatap ke arah tempat Ying She berada saat ini.
Prak....brukkk...
Bongkahan tanah mulai bergerak sedikit dan kemudian sosok Ying She terlihat berjalan keluar dari kepulan debu.
Darah mengalir dari kepalanya dan melewati wajahnya. Dia mengangkat kepalanya dan menatap dengan dingin Weng Hua dan Baixue secara bergantian.
"Gadis sialan.... Ketahuilah posisi mu!" seru Ying She secara tiba-tiba.
Dia melangkahkan kakinya, dan detik berikutnya dia pun telah muncul di hadapan Baixue dengan tangannya telah mencengkram erat kepalanya yang berbulu.
"Haaa!!!!!"
BAAMMM!!!!
__ADS_1
BRAACKK!!!!
Ying She membenturkan kepala Baixue ke tanah hingga membuat sebuah kawah kecil dimana kepala Baixue menjadi pusatnya.
Tidak berhenti disitu, Ying She pun mengangkat tinggi tangan kanannya dan kemudian di atas kepalanya, segera muncul sebuah bola api raksasa yang kemudian tanpa berpikir dua kali, dia pun menghantamkan bola api raksasa itu kepada tubuh Baixue.
Weng Hua Yanga dan di dekat situ pun langsung tersapu oleh kobaran api dari bola api berukuran raksasa tersebut.
Selang beberapa saat kemudian, bola api itu pun menghilang dan debu menutupi seluruh arena.
Zu Zhang yang ada di atas lapangan kemudian menjentikkan jarinya dan angin pun berhembus meniup debu-debu tersebut. Terlihat sosok Baixue yang dihantam oleh bola api raksasa milik Ying She sedang tak sadarkan diri di tanah dengan kepalanya menyangkut di lubang tanah karena benturan sebelumnya.
Sementara Ying She, dia masih berdiri di atas tubuh besar Baixue dan menatap ke satu arah dimana Weng Hua yang sebelumnya terhempas karena api miliknya sedang berdiri tegak dengan kedua tangannya sudah memegang dua belati kembar miliknya, dan pada kedua kakinya dia mengenakan sepasang sepatu yang berwarna biru gelap.
"Ada apa? Kau masih ingin melawan ku?" tanya Ying She dengan suara dinginnya.
"Tentu saja, jika tidak mana punya muka aku ketika kembali nanti," balas Weng Hua yang mengangkat belatinya.
Ying She mendengus mendengar jawabannya, dia pun mengepalkan tangan kanannya, dan kemudian Qi pun mulai menutupinya. Detik berikutnya Qi tersebut berubah dan menjadi sebuah sarung tangan logam yang terlihat sangat pas di tangannya.
"Biar kuberikan pelajaran juga padamu, biar kau mengetahui seberapa jauhnya perbedaan kekuatan diantara kita." Ying She berbicara dingin lalu mulai menarik napas dalam.
Menghembuskan napasnya dengan pelan, Ying She pun segera melakukan pergerakannya. Namun bukan menerjang dan menyerang Weng Hua, melainkan melompat tinggi ke udara dan bergerak kembali ke tanah dengan kepalan tangan kanannya yang telah dilapisi dengan sarung logam siap meninju tanah.
Weng Hua tidak diam menonton begitu saja ditempat nya. Melihat Ying She yang sudah bergerak lebih dulu, dia pun juga melangkahkan kakinya dan mendekat ke arah Ying She.
Gerakannya terlihat sangat cepat dan lincah ketika mengenakan sepatu birunya saat ini, berbeda dengan sebelumnya. Jelas sekali sepasang sepatunya itu adalah Senjata tingkat tinggi.
Pada saat Weng Hua sedang mendekati Ying She yang sebentar lagi mencapai tanah, Weng Lou di tempat duduknya sedikit mengerutkan dahinya memandangi Ying She.
"Orang itu.... jangan-jangan dia...." Weng Ying Luan di samping Weng Lou terlihat ikut berpikir bersama Weng Lou.
"Sial, Hua dalam bahaya! Aku tau apa yang akan dilakukan oleh orang bernama Ying She itu, dia pasti akan melakukan 'teknik itu'!" Lin Mei berseru panik sambil menunjuk ke lapangan arena.
Weng Lou dan Weng Ying Luan sama-sama menatap ke arahnya sejenak lalu saling bertatapan satu sama lain selama beberapa saat.
""Tidak mungkin kan?"" ucap mereka berdua bersamaan.
Pada saat yang sama, sosok Ying She pun tinggal tiga meter saja dari tanah.
Qi dalam jumlah besar mendadak melonjak dari seluruh tubuhnya dan diarahkannya pada tangan kanannya.
BUCK!!!!
Tangan kanan Ying She pun meninju tanah dan langsung tertancap hingga setengah dari tangannya.
Pada saat yang sama, tanah di sekitarnya pun langsung bergetar hebat, dan detik berikutnya ratusan duri logam berukuran raksasa langsung melonjak naik dari dalam tanah dan mengelilingi sekitar tubuh Ying She.
Sosok Weng Hua yang sedang melesat dengan sangat cepat ke arah Ying She tidak menduga hal itu, dan kemudian sebuah duri logam pun melonjak naik dari bawah tanah dimana dia sedang berpijak.
Tsak!!!
Duri logam menembus kakinya dan kemudian menarik tubuhnya ke atas. Tak lama lima duri logam lainnya pun muncul dan menusuk kedua lengannya yang menggenggam belatinya.
"Ahh!!" Weng Hua secara respon menjerit kesakitan karena hal itu.
Satu duri lainnya pun dengan sangat cepat melonjak naik dari dalam tanah dan bergerak ke arah dada Weng Hua.
Kedua mata Weng Hua menatap duri logam tersebut dan segera memejamkan matanya. Dia tidak berani menatapi kematiannya sendiri.
Tapi kemudian setelah beberapa saat, tidak ada yang terjadi, dan dia akhirnya membuka matanya, lalu melihat ujung dari duri logam yang sebelumnya bergerak menusuk dadanya, kini telah terpotong dengan rapi dan membuat diri logam tersebut tidak mengenainya sama sekali.
Weng Hua menolehkan matanya, dan melihat sebuah pisau kecil yang terbang di hadapannya.
__ADS_1
Itu adalah Pisau Pencabut Nyawa milik Weng Lou.