Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 545. Pulau Perbatasan


__ADS_3

Kalender Suci Ryuan, bulan ketujuh, tahun 576.


Enam ratus tahun setelah selesainya perang antar klan besar yang menghancurkan banyak kekaisaran besar lain hingga tak ada lagi. Kalender ini dipakai sebagai tanda lahirnya era baru dari kekuasaan Kekaisaran Agung Ryuan. Dengan begitu bisa dibilang Kekaisaran Ryuan telah berdiri selama 576 tahun lamanya, yang berarti perang antar klan besar memakan waktu sampai 24 tahun sebelum benar-benar usai.


Tidak ada yang tau dengan jelas asal usul pendiri Kekaisaran Agung Ryuan ini, namun dikatakan bahwa kaisar pertama, atau sang pendiri kekaisaran berhasil menyatukan beberapa sisa-sisa kekuatan dari kekaisaran yang telah hancur karena perang besar antar klan. Dengan kekuatan dan kepemimpinannya, dia membangun Kekaisaran baru yang dikenal sebagai Kekaisaran Ryuan.


Pada mulanya, luas wilayah kekuasaannya hanya mencakup setengah dari Pulau Fenshu, sebuah pulau besar yang menjadi salah satu bukti nyata dari dampak perang antar klan besar. Pulau ini adalah sebuah pecahan dari benua utama dari Dunia Asal Mula, namun karena pertempuran besar, pulau ini telah terpisah dan akhirnya menjadi tempat kekuasan Kekaisaran Ryuan.


Dengan kekuatannya, Kaisar Pertama mulai memperlebar wilayahnya hingga mencakup seluruh pulau besar tersebut, yang kemudian perjuangannya ini dilanjutkan oleh kaisar selanjutnya hingga kaisar saat ini.


Chizi Ryuan, Kaisar Kekaisaran Ryuan saat ini adalah pemimpin paling berpengaruh dan berkuasa sepanjang sejarah kekaisaran. Hanya dengan kekuatannya, dia telah menaklukan banyak pulau yang tersebar di Pulau Fenshu. Dengan kekuatannya ini, dia telah membasmi banyak binatang buas lautan yang menjadi permasalahan utama di setiap wilayahnya yang berada di lautan.


Namun meski dia sangat kuat, dia sendiri tidak bisa menaklukkan wilayah Lautan Mati yang menjadi sarang utama para binatang buas. Diyakini bahwa terdapat seekor binatang buas lautan tingkat Kaisar yang terdapat di dalam lautan ini, namun karena jarangnya kemunculannya hanya ada desas-desus tentang hal ini di seluruh wilayah Kekaisaran Ryuan.


Di sebuah ruangan yang terdapat di bawah tanah di Pulau Fenshu, seorang pria yang mengenakan pakaian perang lengkap sedang duduk bersila sambil melayang di udara.


Pria ini sedang bermeditasi sampai kemudian dia membuka matanya secara perlahan dan menggumamkan kata-kata dengan pelan, "Dia sudah datang."


Matanya menampakkan sebuah perasaan yang tak terbendung dan memancarkan aura yang sangat kuat dan kokoh. Wajahnya meski terlihat tidak memiliki emosi, namun bisa membuat seseorang menjadi tertarik dan ingin tunduk ke tanah begitu melihat sosoknya. Pria ini adalah Kaisar Chizi Ryuan, sang Kaisar Kekaisaran Ryuan.


Tubuhnya yang mengenakan pakaian perang tidak membuatnya merasa terganggu sedikitpun. Dia dengan tenang merubah posisi tubuhnya menjadi berdiri, sebelum kemudian dia dengan tenang berjalan keluar dari ruangan tempat dia bermeditasi tersebut.


Begitu dirinya keluar, dia langsung disambut oleh dua sosok berpakaian hitam yang langsung berlutut dengan hormat padanya. "Hormat kepada Kaisar!" seru salah satu dari kedua sosok tersebut.

__ADS_1


Pria itu tidak menatap sama sekali kepada dua orang itu dan hanya berjalan melewati keduanya sambil berkata dengan tenang, "Segera pergi ke Perbatasan Timur, orang itu sudah datang. Jangan sampai kehilangan sosoknya, aku tidak ingin ada kegagalan seperti sebelumnya."


Kata-katanya ini dengan cepat membuat kedua orang tersebut menjadi sedikit tertekan, namun keduanya segera melaksanakan perintahnya dan langsung melesat pergi.


"Mampu membunuh bawahan ku, dan bahkan melewati wilayah Lautan Mati dengan kekuatan seperti itu. Orang seperti dia layak untuk menjadi bawahan ku," ucapnya dengan tenang sebelum kemudian mulai melangkah naik ke tangga yang mengarah ke luar dari ruang bawah tanah.


***


Saat ini, di lepas pantai Pulau Perbatasan Timur, sebuah kapal berlayar dengan sangat cepat dan membuat seorang penjaga yang bertugas mengawas di menara pengawas sampai terjungkal balik dari tempat duduknya.


"Pe-Peringatan!!!! Kapal tak dikenal sedang melesat cepat di arah selatan pulau! Kapal itu bergerak cepat dan diperkirakan akan sampai di pulau sebentar lagi!!!" Penjaga itu berseru ke sebuah pipa yang membuatnya suaranya diteruskan dan dapat terdengar di seluruh menara melalui pipa tersebut.


Puluhan penjaga yang ada di menara segera keluar dan pergi ke tempat yang diyakini sebagai arah datangnya kapal yang dimaksud oleh penjaga yang menjaga di atas menara. Mereka semua terlihat seperti para prajurit kerajaan yang memakai pakaian kulit yang tahan terhadap serangan ringan.


"Semuanya! Ikuti arahan dariku! Semua yang membawa perisai, pasang formasi bertahan 3! Untuk yang membawa tombak, posisi bertahan 2! Pemanah, pasang posisi serangan udara 1! Dan penyerang utama, bersiap dibelakang dan tunggu aba-aba dariku!" Seorang prajurit yang memiliki tubuh besar dan mengenakan baju tempur dari logam gelap bersenjatakan pedang besar berseru mengatur para prajurit ini.


Para prajurit yang ada mengikuti semua arahan dari prajurit besar ini. Dia adalah seorang kapten dari prajurit penjaga pantai Pulau Perbatasan. Dengan kekuatan di puncak Dasar Pondasi tingkat 11, dia adalah sebuah kekuatan besar di pulau ini.


Terlihat dari tatapan hormat para prajurit padanya, bisa dibilang bahwa reputasinya pastilah sangat besar.


"Kapten! Kapal yang tidak dikenal itu telah masuk dalam garis pantai pulau! Diperkirakan akan sampai di sini dalam waktu satu menit!" Seorang prajurit gang memiliki jabatan dibawah kapten ini memberikan laporannya dengan tegas dan tidak terburu-buru.


Akan tetapi, laporannya ini segera membuat kapten ini menjadi terkejut bukan main. Belum pernah ada kapal yang memiliki kecepatan secepat itu didengar olehnya. Satu-satunya yang memiliki kecepatan seperti ini dipikirkannya adalah binatang buas lautan!

__ADS_1


"Kapal itu sudah terlihat!" Mendadak sebuah seruan terdengar dari seorang prajurit gang memakai perisai di barisan paling depan membuat perhatian semua orang tertuju ke depan dan melihat sebuah bayangan titik kecil yang semakin membesar seiring waktu hingga memperlihatkan wujudnya yang merupakan sebuah kapal yang sedang bergerak sangat cepat.


"Itu dia! Kapal asing yang terlihat dari menara pengawas!"


Kapten para prajurit itu menarik napas dingin. Kecepatan kapal yang sedang berlayar cepat ke tempat mereka itu jauh diluar bayangannya. Selain kecepatannya yang tidak masuk akal, kapal itu juga ternyata tidak memiliki satupun layar, dan bahkan badan kapalnya terbuat dari logam.


Kapal pada umumnya dibuat menggunakan kayu, hanya kapal-kapal perang saja yang dibuat menggunakan meterial logam. Hal ini karena penggunaan logam bisa membuat kecepatan kapal menurun drastis karena beratnya. Ada juga resiko layar yang patah karena tidak sanggup menarik kapal karena terlalu berat, dan masih banyak lagi. Akan tetapi saat ini, kapal yang dilihat olehnya tidak hanya terbuat dari logam, tapi juga bisa bergerak sangat cepat secara ajaib!


Kapten prajurit itu terpana sejenak sebelum kemudian kembali tersadar. "Apa yang kalian lamunkan?! Pasang posisi kalian, kapal itu sebentar lagi akan berlabuh di sini! Jangan sampai kalian malah mati konyol karena tidak fokus!" bentaknya pada para bawahannya tersebut. Segera semua prajurit itu tampak siap di tempat mereka dan memperlihatkan semua senjata di tangan mereka.


Sementara itu, di atas kapal kelompok Weng Lou. Sosok Weng Lou berdiri dengan tegak menatap ke arah pulau yang ada di depan mereka sambil tersenyum lebar.


Setelah sekian hari mereka berlayar, akhirnya hari ini tiba juga. Setelah melalui bahaya di Lautan Mati, mereka semua akhirnya bisa sampai di wilayah perbatasan Kekaisaran Ryuan yang tidak lain adalah pulau di depannya saat ini.


"Jadi? Apakah kita akan datang secara damai, atau....." Suara Kera Hitam Petarung terdengar dari belakang Weng Lou. Kepalanya sedikit mengintip dari balik pintu di tengah geladak kapal, tidak ingin sosoknya dilihat oleh orang.


"Secara damai? Hah.... hahahaha....setelah yang kita dapatkan karena ulah wanita bajingan itu? Mana mungkin aku akan berlabuh dengan damai....." Weng Lou menjawab dengan suara dingin. Dia ingat dengan jelas saat dirinya ditarik ke bawah air oleh gurita besar yang telah menghentikan kapal mereka di tengah wilayah Lautan Mati.


Dirinya telah memutuskan bahwa dia akan membalas semuanya itu begitu dia sampai di tempat dimana wanita yang dia lawan tersebut berasal. Tapi tentu saja, dia tidak akan melakukannya secara terang-terangan. Dia tidak akan selamat di tempat ini jika dia telah melakukan sesuatu. Oleh sebab itu, dia akan melakukannya secara tersembunyi, atau identitasnya lah yang tersembunyi.


"Kau seperti sedang merencanakan kejahatan, kau tau? Bahkan wajah pembunuh berantai tidak bisa disamakan dengan wajahmu saat ini," komentar Kera Hitam Petarung yang memandang wajah menakutkan Weng Lou.


Tentu saja wajahnya tidak mirip dengan seorang pembunuh berantai, dia lebih cocok dibandingkan dengan seorang pembantai suatu kelompok karena ide di kepalanya saat ini bisa membuat orang-orang menduga bahwa dia adalah seekor monster berkulit manusia.

__ADS_1


__ADS_2