
Dari sekian banyaknya lawan yang pernah dia hadapi, Weng Lou belum pernah melawan Roh Jahat sebelumnya. Bukan karena dia tidak berani, melainkan dia memang belum berkesempatan untuk bertamu salah satu dari mereka.
Berbeda dengan binatang buas dan siluman yang bisa bereproduksi dan dikembangkan dengan mudah, sebuah Roh memerlukan beberapa kondisi yang harus terpenuhi agar bisa menjadi sebuah Roh Jahat atau Roh Pendendam. Roh Jahat atau Roh Pendendam berasal dari orang yang mati danmemiliki kebencian yang mencapai titik maksimal yang dimilikinya untuk menjadi sebuah Roh Jahat atau Roh Pendendam.
Biasanya mereka bisa ditemukan di daerah bekas pertempuran besar atau daerah yang terjadi banyak kematian. Mereka secara alami akan menyerap Roh lain dan memperkuat diri mereka sendiri hingga titik tertentu. Mereka tidak pandang bulu dan menyerang siapapun yang dilihatnya. Bahkan kecerdasan mereka biasanya berada di bawah binatang buas dan siluman yang memiliki kekuatan setara.
Jika Roh-Roh Jahat ini terus berkembang, ada kalanya mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih jahat, yaitu Ghoul. Pada wujud ini, mereka bisa berubah-ubah wujud sesuka hati dan memiliki kecerdasan layaknya manusia. Namun Ghoul hanyalah sebatas dongeng semata karena selama puluhan tahun belum pernah ada yang melihatnya secara langsung.
***
*Syyaatt!!!*
Pedang Weng Lou diayunkan dan memotong leher Roh Jahat terakhir.
*Bruk...* Tubuh Qianren langsung jatuh ke atas tanah dan napasnya tersengal-sengal. Keringat membanjiri tubuhnya dan dia terlihat seperti akan kehilangan kesadarannya kapan saja.
Weng Lou yang melihatnya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dengan lembut dia memasukkan pil yang sebelumnya ke dalam mulut Qianren. Gadis itu tidak melawan sama sekali dan memilih langsung menelan pil tersebut untuk menyerap khasiatnya. Jika saja kondisinya sedikit lebih baik, dia pasti akan menggigit jari Weng Lou yang seenaknya masukkan pil tersebut ke dalam mulutnya.
Qianren memilih untuk duduk bersila dan fokus memulihkan dirinya, sementara Weng Lou sibuk memeriksa sekeliling mereka dan mencari hadiah yang seharusnya ada di tempat itu.
Tidak perlu waktu lama untuk Weng Lou menemukannya. Dia dengan senyum lebar mengambil sebuah cincin yang berhiaskan sebuah permata merah delima yang tersangkut di dinding labirin. Kilauan dari permata itu membuat siapa saja yang menatapnya akan merasa bahwa cincin tersebut adalah benda yang sangat berharga dan akan melakukan segalanya untuk terus memilikinya.
"Teknik Ilusi, huh? Itu berarti ini adalah sebuah Senjata Tingkat 3 pusaka, benar-benar tidak terduga. Tapi sayangnya aku tidak memiliki kemampuan untuk menggunakannya karena tidak memiliki Qi, benda ini hanya akan membawa sial jika bersama ku," gumam Weng Lou.
"Aku tidak menginginkannya, kau ambil saja cincin itu," ujar Weng Lou.
Dengan santainya dia melemparkan cincin itu pada Qianren yang sama sekali tidak siap sedikitpun. Alhasil, cincin itu membentur kepalanya dan berakhir dengan Weng Lou yang mendapatkan sebuah pukulan di kepalanya.
Benjolan kecil bisa terlihat di dekat dahi Qianren yang diakibatkan benturan cincin permata itu. Wajah Qianren terlihat kesal ketika dia masih memeriksa cincin permata itu, sementara Weng Lou pergi mencari benda lainnya, mungkin saja mereka mendapatkan hadiah lain.
Namun setelah sepuluh menit mencari, dia tidak mendapatkan apapun di tempat itu. Sampai ketika dia berpikir untuk mengajak Qianren ke tempat lainnya, tanpa sengaja sebuah manik berwarna hitam kelam tertendang olehnya. Dengan cepat Weng Lou mengejar dan mengambil manik itu. Dahinya mengerut saat merasakan manik tersebut mengandung napsu membunuh dan juga beberapa Qi berunsur kegelapan yang seperti terkunci di dalamnya. Juga, dia secara samar merasakan Kekuatan Jiwa yang terkandung di dalamnya namun sangat kabur dan tipis.
"Ini....bukankah ini inti Ghoul? Kenapa bisa ada di sini?" Qianren yang juga melihat manik di tangan Weng Lou memberitahukan apa manik yang ada di tangan Weng Lou itu.
"Inti Ghoul?" Weng Lou baru mendengar sesuatu seperti itu. Karena dia belum pernah bertemu Roh Jahat di Pulau Pasir Hitam sebelumnya, jelas dia juga belum pernah melihat Ghoul. Informasi di Sekte Langit Utara tidak memberitahu apapun tentang inti Ghoul yang dikatakan oleh Qianren, oleh sebab itu dia merasa tertarik, sangat jarang dia menemukan sesuatu yang tidak dia ketahui sebelumnya.
"Kau benar-benar tidak tau? Inti Ghoul adalah inti kekuatan dari seorang Ghoul. Inti tersebut merupakan kekuatan yang telah dipadatkan oleh sang Ghoul mulai dari ketika dia masih menjadi Roh Jahat atau pun Roh Pendendam. Biasanya ukurannya tidak lebih besar dari jempol orang dewasa, tapi yang ada di tangan ku itu terlalu kecil, sepertinya berasal dari salah satu Roh Jahat yang kau telah bunuh. Untung saja kita menghabisi mereka, atau jika tidak seorang Ghoul akan lahir dan meneror seluruh labirin ini," jelas Qianren yang terlihat seperti seorang guru yang memberikan informasi kepada muridnya.
Mendengar penjelasan itu, rasa penasaran Weng Lou menjadi semakin besar dan dia ingin mengetahui lebih jauh lagi. Dia segera bertanya kembali, "Lalu? Apa kegunaannya? Apakah itu bisa membantu latihan seorang Praktisi Beladiri? Atau menjadi bahan pembuatan senjata tingkat tinggi?"
Terlihat Weng Lou menjadi sedikit bersemangat, dia selalu seperti ini ketika menemukan sesuatu yang baru, dan dia pasti ingin mengetahui sesuatu secara keseluruhan tanpa ada yang tersisa.
__ADS_1
Qianren merasa sedikit aneh dengan reaksi dan pertanyaan Weng Lou, namun dia segera menjawabnya karena tidak ingin pemuda di depannya ini melakukan sesuatu yang berbahaya kepadanya hanya untuk membuka mulutnya.
Sambil mengambil Inti Ghoul dari tangan Weng Lou, Qianren mulai menjelaskan dengan pelan, "Inti Ghoul ini berguna untuk sesama Ghoul dan Roh Jahat, biasanya para Praktisi Beladiri yang merupakan pengendali Roh Jahat memakai Inti Ghoul untuk memperkuat Roh Jahat mereka dan membuat kesempatan Roh Jahat mereka menjadi Ghoul semakin besar."
"Ada juga beberapa Praktisi Beladiri yang memakainya langsung untuk diri mereka dengan cara menyerapnya. Inti Ghoul yang memiliki kekuatan Qi berunsur Kegelapan bisa diserap oleh Praktisi Beladiri yang memiliki Dantian dengan unsur Kegelapan dan membuat Qi tersebut menjadi milik mereka. Jadi seperti cadangan Qi sebutannya."
Penjelasan dari Qianren memuaskan rasa penasaran Weng Lou, namun dia masih belum puas dan menyadari ada satu hal yang tidak dibahas oleh Qianren mengenai Inti Ghoul.
"Bagaimana dengan Kekuatan Jiwa yang terkandung di dalamnya? Apakah itu tidak bisa dipakai sedikitpun?"
"Kekuatan Jiwa? Apa yang kau bicarakan? Mana ada Kekuatan Jiwa di dalam Inti Ghoul. Meski berasal dari Roh, tapi Ghoul dan Roh Jahat sejatinya tidak memiliki Jiwa asli sama sekali yang menjadikan mereka tidak memiliki Kekuatan Jiwa." Qianren menggelengkan kepalanya, lalu memberikan kembali Inti Ghoul itu pada Weng Lou dan segera mengajaknya untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Weng Lou mengiyakannya dan berjalan bersama dengan Qianren. Akan tetapi di dalam kepalanya dia sibuk memikirkan kata-kata Qianren.
Qianren mengatakan Inti Ghoul sama sekali tidak memiliki Kekuatan Jiwa, namun Inti Ghoul yang saat ini berada di tangannya jelas memiliki hal tersebut, meski dia hanya merasakannya secara sama, namun tubuhnya yang sebelumnya pernah menjadi seorang Praktisi Beladiri di Ranah Penyatuan Jiwa yang mampu memanipulasi Kekuatan Jiwa, dirinya sangatlah peka akan segala sesuatu mengenai Kekuatan Jiwa.
Dia menggenggam erat Inti Ghoul tersebut dan mencoba merasakannya lebih teliti. Dengan menggunakan Teknik Pembersih Jiwa, dia membagi kesadarannya dan memeriksa bagian dalam Inti Ghoul.
Pada bagian terluar, dia merasakan Qi yang sedikit terkontaminasi dengan beberapa energi negatif karena emosi dendam yang sebelumnya dimiliki oleh Roh Jahat, lalu semakin dalam kesadarannya masuk dia bisa merasakan unsur Kegelapan yang sedikit beresonansi dengan kesadarannya. Weng Lou tidak terlalu memperdulikan hal itu, karena mau bagaimanapun dia tidak akan bisa menggunakan Qi itu selagi tidak memiliki Dantian.
Kesadarannya semakin menjelajahi Inti Ghoul tersebut, hingga akhirnya dia pun sampai di bagian terdalam, atau inti yang mengandung Kekuatan Jiwa.
Weng Lou sedikit terkejut saat menemukan bahwa Kekuatan Jiwa yang ada di dalam itu sebenarnya membentuk tubuh seorang manusia yang jika dia tidak salah ingat menyerupai salah satu sosok Roh Jahat yang telah dia basmi. Kekuatan Jiwa dari Roh Jahat itu telah berubah menjadi kesadaran pengganti namun tampaknya tidak sempurna karena Kekuatan Jiwa tersebut tidak melakukan apapun selain berdiri diam menatap ke arah kesadaran Weng Lou.
Ketika Weng Lou masih berpikir, mendadak Kekuatan Jiwa yang membentuk tubuh kesadaran itu bergerak mendekati kesadarannya. Perhatian Weng Lou segera kembali terarah padanya dan dia memperhatikan apa yang ingin dilakukan olehnya.
Tangan kanan dari tubuh kesadaran itu perlahan terangkat dan seperti ingin menyentuh kesadaran Weng Lou. Mulutnya bergerak dan seperti ingin mengatakan sesuatu, namun itu ada suara yang keluar. Meski begitu, hanya dengan melihat gerakan mulut, Weng Lou bisa mengerti apa yang dikatakan oleh kesadaran itu. Kesadaran Weng Lou bergerak-gerak dan membentuk satu baris kalimat yang membuat kesadaran itu diam sejenak dan tersenyum pada kesadaran Weng Lou.
Secara tiba-tiba, Inti Ghoul yang ada di tangan Weng Lou itu mengeluarkan cahaya redup, dan kemudian hancur berkeping-keping. Seutas Kekuatan Jiwa keluar dari Inti tersebut dan bergerak masuk ke dalam tubuh Weng Lou.
Tidak ada perubahan yang di rasakan oleh Weng Lou setelah sedikit Kekuatan Jiwa itu masuk ke tubuhnya, namun ekspresi wajahnya menjadi sedikit dingin begitu juga dengan kedua matanya yang memantulkan sorot cahay dingin.
Apa yang dikatakan oleh kesadaran sebelumnya adalah menanyakan apakah Weng Lou mau membalaskan dendam nya, yaitu membunuh sekawanan siluman licik yang telah merenggut nyawanya dan juga tunangannya. Jika Weng Lou mau, kesadaran itu bersedia menghilang dan membiarkan Kekuatan Jiwa nya masuk ke dalam tubuh Weng Lou untuk dimilikinya.
Weng Lou segera menerimanya. Dia tidak tau apakah Kekuatan Jiwa miliknya yang telah terkubur di dalam tubuhnya bisa bereaksi dengan memiliki Kekuatan Jiwa yang baru, namun tidak ada salahnya mencoba.
Lagi pula, dia memang berniat menghabisi semua siluman di labirin itu, jadi tidak ada untuk alasan menolak permintaannya.
***
Di dalam labirin, beberapa puluh meter dari tempat Weng Lou dan Qianren sebelumnya menghadapi para Roh Jahat.
__ADS_1
Sekawanan Siluman Rubah Api sedang berbaring manja di lorong labirin yang dipenuhi dengan lahar panas yang entah dari mana asalnya. Siluman-siluman ini berbaring dengan nyaman tanpa merasa terganggu dengan lahar yang terus meletuskan gelembung yang sangat panas. Beberapa siluman terlihat asik memakan makan malam mereka dan yang lainnya lagi sedang berendam di dalam layar itu.
Di tengah-tengah lahar, seekor Siluman Rubah Api yang berukuran sedikit lebih besar dan memiliki warna bulu yang jauh lebih gelap sedang tidur dan memancarkan kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa tahap 4 puncak. Dari prilaku para Siluman lain, jelas sekali bahwa siluman ini adalah pemimpin atau induk mereka.
Siluman tersebut sedang menikmati tidurnya saat kemudian dia membuka kedua matanya secara mendadak dan langsung bangkit berdiri sambil menatap ke satu arah.
Para Siluman Rubah Api yang lain pun ikut terbangun dan ikut menatap kemana pemimpin mereka menatap. Dari arah tersebut, dua sosok manusia terlihat berjalan ke arah mereka tanpa menyembunyikan napsu membunuh mereka.
"Grrrr...."
"Auurrrhhhh...."
Para siluman itu tampak tidak senang dengan kedatangan Weng Lou dan Qianren. Bahkan pemimpin mereka juga menggeram marah. Tanpa menunggu lebih jauh, dia langsung mengarahkan bawahannya untuk menyerang mereka.
"Kau mundurlah, pertarungan ini tidak perlu kau ikuti," ujar Weng Lou sambil menggenggam salah satu pedangnya.
"Ya terserah mu saja."
Kaki Weng Lou melangkah pelan. Tubuhnya melesat maju, dan seperti angin yang berhembus, dibergerak menebas para siluman itu dengan lincahnya.
*Syattt!!! Tesshhh!!! Splasshh!!* Dengan hanya satu serangan, Weng Lou mampu membunuh satu siluman. Tangannya terus bergerak dan dia terus memasuki lorong itu hingga sampai di bagian berlahar.
Hawa panas di situ tidak dipedulikan oleh Weng Lou, atau lebih tepatnya, dia sama sekali tidak menganggap layar tersebut sama sekali karena dia tidak merasa panas sedikit pun.
Berada di sarangnya sendiri, para Siluman Rubah Api pun mulai memanfaatkan keuntungan mereka. Dengan kekuatan unsur api yang sudah tertanam di dalam diri mereka, berbagai macam serangan berunsur api diberikan pada Weng Lou tanpa ampun.
Pedang Weng Lou diangkat, dan dengan satu ayunannya dia meniup padam semua serangan api itu. Sebuah tatapan mengerikan bisa terlihat pada wajahnya. Para siluman itu seperti mendapatkan firasat buruk, tanpa diperintahkan sama sekali mereka mulai berlarian untuk mundur menjauh dari Weng Lou.
"Ini yang kau inginkan bukan? Semoga kau masih bisa melihatnya dari sana dengan baik," ucap Weng Lou dengan suara dingin yang jarang dia gunakan.
Tiba-tiba semua disekitar Weng Lou seakan melambat, dan mata Weng Lou melihat semua gerakan para siluman yang sedang menerjang maju ke arahnya. Weng Lou menarik napasnya, dia memindahkan pedangnya ke belakang, lalu mengambil sebuah pijakan kuat menggunakan kaki kanannya.
"Teknik Pedang Original, Guguran Dedaunan."
*Ssshuuuu......tssshhh....*
Gerakan pedang Weng Lou tampak sangat pelan, namun setiap dia melewati satu siluman, tubuh mereka langsung hancur tercincang hingga berkeping-keping. Darah tidak terciprat kemanapun, dan mengalir pelan mengikuti jatuhnya setiap potongan tubuh yang telah terpotong.
Semua Siluman Rubah Api yang ada pun mati semuanya hingga menyisakan sang pemimpin yang menatap Weng Lou dengan penuh napsu membunuh yang mendalam.
"Jangan salahkan aku, kau sendiri yang tidak menyadari posisimu sebagai seekor siluman. Harusnya kau tunduk pada manusia sesuai hukum kekuatan yang berlaku," ucap Weng Lou dan dia memenggal kepala siluman itu.
__ADS_1
Sang Induk Siluman Rubah Api itu tidak melihat gerakan Weng Lou sama sekali, dalam sekejap mata tatapannya telah berubah menjadi gelap dan dia pun akhirnya mati dalam satu serangan.
Tidak ada rasa bangga atau pun senang di wajah Weng Lou setelah menghabisi para siluman Rubah Api itu. Dia menyadari para siluman ini hanya siluman kelas bawah yang ditempatkan di daerah terluar labirin. Para siluman yang sebenernya menjadi rintangan berada jauh di dalam labirin dan menunggu kedatangannya.